Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 2 Part 1
Ah Hyun dibawa masuk ke dalam ambulance. Para reporter sibuk mencari tahu apa yang terjadi.

Jae In bersama sekelompok gelandangan ada disana dan menyaksikan kejadian itu. “Sang Putri sudah kembali,” kata Jae In.


Jaksa Joo Ha Min, yang menangani kasus Ah Hyun, tampak masih tidak percaya atas apa yang dilihatnya itu.


Kim Dan masih shock dan dia secara tidak sadar berdiri di belakang reporter yang sedang melakukan peliputan. Reporter mengatakan bahwa Bae Ah Hyun kembali setelah menghilang selama sekitar 4 bulan, padahal sebelumnya diduga dibunuh oleh tunangannya.


Melihat Kim Dan ada di telivisi, Ho Ki menjatuhkan piring yang dipegangnya dan kakinya terkena pecahan beling. Kemudian Kim Dan pulang.


“Dan, apa yang terjadi? Ayah baru saja melihat berita. Bagaimana kau bisa ada disana?” kata Ho Ki khawatir. Kim Dan bilang itu perintah atasannya. Ia lalu bertanya apakah mereka pernah ke gereja. “Apa maksudmu? Kita tidak pernah ke gereja ataupun ke kuil.”


Kim Dan kemudian melihat pecahan piring dn menyadari kalau kaki ayahnya terluka. Ho Ki bilang ia baik-baik saja dan menyuruh Kim Dan berdiri. Kim Dan lalu mengajak ayahnya duduk dan mengobati kakinya.


Kim Dan bertanya seperti apa dia waktu kecil. “Memangnya bagaimana lai? Ya, seperti sekarang, baik, pintar, dan cantik. Kenapa kau bertanya?” kata Ho Ki. Kim Dna bilang ia kadang merasa bosan karena tidak bisa mengingat masa lalunya. “Kau pernah demam tinggi. Kau bertahan hidup adalah keajaiban. Dan anak lain juga tidak bisa mengingat kejadian saat mereka berusia 7 tahun.”


Saat Ho Ki memintanya tidak menangani kasus itu, Kim Dan menanyakan alasannya. Ho Ki beralasan bahwa ia tidak terlalu nyaman dengan keluarga chaebol yang tidak punya nurani, darah, atau air mata. Kim Dan bilang ayahnya terlalu banyak menonton drama, lalu mereka tertawa bersama.


Tuan dan Nyonya Baek sangat beryukur karena putri mereka masih hidup.


Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Ah Hyun membuka matanya dan tatapannya sungguh misterius.


Jae In menggunakan tangga stasiun subway sebagai tempat berolahraga. Ia berjalan dengan langkah lebar, lompat jongkok, dan juga push up. Ia lalu membaca koran yang digunakan seorang gelandangan untuk penutup kepalanya saat tidur.


Koran itu memberitakan tentang Ah Hyun yang ditemukan selamat setelah 128 hari. “Sejak awal aku merasa ada yang aneh dengan hilangnya dia. Aku tahu akan begini. Mereka langsung menuduh tunangannya sebagai pembunuhnya. Kalau begini, keadilan tidak bisa ditegakkan di negara kita!” kata Jae In.


Ucapannya membuat seorang gelandangan terbangun. Ia memohon agar diizinkan untuk tidur lebih lama lagi. Jae In bilang sudah waktunya bangun dan bertanya tentang Sang Goo yang pernah tidur bersama gelandangan itu,


“Kau sudah bertanya berkali-kali! Dia bersamaku hanya 3 hari! Aku sudah menceritakan semua yang kuingat!” kata gelandangan itu. Jae In bilang ingatan manusia itu bagaikan ingatan, dan jika  dilatih maka mereka bisa mengingat kembali ingatan yang terlupa. Gelandangan itu tidak peduli dan pergi.


Atasan Kim Dan, yang sebelumnya merupakan rekan sesama detektif dengan Jae In, mengatakan di depan bawahannya bahwa korbannya bukan orang sembarangan karena merupakan putri Grup Songha. Ia lalu menanyakan petunjuknya.


Gaun berlumuran darah milik Ah Hyun sedang diperiksa.


“Apa-apaan ini?” kata seorang di laboraotorium forensik yang mengecek hasil pemeriksaan gaun Ah Hyun.


Sung Ki berlari menuju timnya dan mengatakan bahwa hasil pemeriksaan bukti sudah keluar. Sung Ki bilang pada gaun Ah Hyun ditemukan darah dari 3 orang yang berbeda. “1 belum teridentifikasi dan 2 lainnya adalah milik wnaita yang hilang 4 bulan lalu,” kata Sung Ki. Atasan lalu memerintahkan mereka semua melakukan penyelidikan kembali.


Kim Dan dan Sung Ki menemui Ah Hyun. Mereka bertanya dengan hati-hati apa yang sudah terjadi padanya. Ah Hyun diam saja dan maish tampak terpukul.


Kim Dan lalu menunjukkan foto beberapa wanita pada Ah Hyun dan bertanya apakah Ah Hyun pernah melihat mereka. Ah Hyun tetap tidak bereaksi.


Nyonya Baek datang dan memarahi mereka. Ia menangis dan berkata bahwa ia hanya ingin putrinya sadar kembali. Sung Ki mengajak Kim Dan pergi saja. Kim Dan lalu bertanya apakah Ah Hyun diam sejak dibawa ke rumah sakit.


Dokter mengatakan bahwa itu terjadi karena tekanan yang disebabkan oleh penculikan dan penyekapan jangka panjang. Dokter juga bilang memar di kepalanya menyebabkan Ah Hyun mengalami gegar otak.


Kim Dan bertanya berapa lama Ah Hyun akan pulih, tapi dokter juga tidak bisa memastikan. Sung Ki yang melihat Nyonya Baek kesal, lalu mengajak Kim Dan pergi.


Kim Dan berhenti melangkah, ketika mendengar Ah Hyun bersenandung. Itu adalah nada yang sama dengan siulan Sang Goo dulu di mimpi Kim Dan, tapi Kim Dan tidak mengingatnya. Kim Dan langsung menghampirinya dan bertanya dimana Ah Hyun mendengar nada itu. Nyonya Baek menangis marah dan Sung Ki langsung menarik Kim Dan.


Di luar, Sung Ki menegur Kim Dan dan mengatakan bahwa Ah Hyun adalah korban VVIP yang harus diaggap dan dipuja bagai Tuhan. Kim Dan menyanyikan nada yang disenandungkan Ah Hyun dan bertanya apakah Sung Ki tahu lagu apa itu. Sung Ki hanya bilang bahwa Kim Dan buta nada dan tidak mempedulikannya. Ia lalu pergi untuk menemui dokter.


Jaksa Joo datang dan mengatakan bahwa itu adalah lagu pujian di Gereja Cheon Guk. Kim Dan berterima kasih. Jaksa Joo mengingatkan bahwa mereka pernah bertemu. Kim Dan berhasil mengingatnya.


Jaksa Joo: “Dimana kau mendengar lagu itu? Apa ada kaitannya dengan kasus ini?”
Kim Dan: “Tidak. Aku hanya penasaran. Jaksa juga mungkin pernah mengalamainya. Misalnya judul film yang kau lupa-lupa ingat, dan kau jadi penasaran.”
Jaksa Joo: “Itu saja.”
Kim Dan: “Ya.”


“Yang lain-lain aku tidak tahu, tapi satu hal yang aku tahu pasti, kau tidak pandai berbohong,” kata Jaksa Joo lalu memberikan kartu namanya dan meminta Kim Dan menghubunginya untuk penyelidikan kasus itu.


Saat Jaksa Joo akan pergi, Kim Dan bertanya kenapa kemarin Jaksa Joo tertawa. Ia mengingatkan Jaksa Joo agar mempertimbangkan perasaan korban dan keluarganya. “Mungkin kau salah,” kata Jaksa Joo. Ia jua menyarankan agar Kim Dan mendengarkan lagu itu lagi.


Kim Dan lalu mendengarkan lagu yang berjudul’ Jalan ke Surga’ itu secara online.


Pastor Wang bersama paduan suaranya dan jemaatnya juga menyanyikan lagu yang sama.


Seorang pria berjas biru tampak bernyanyi bersama jemaat lainnya.


Seorang pria menggunting koran tentang kasus Ah Hyun. Ia menggerak-gerakkan kepalanya. Sepertinya itu adalah Han Snag Goo.


Sekelompok gelandangan memanggil Jae In dan melaporkan bahwa ada teman mereka yang dipukuli. Jae In memerika lukanya dan bertanya apa yang terjadi. Pria itu bilang tangannya tergores tempat sampah, tapi seorang gelandangan lain mengatakan bahwa ia berseteru dengan pemilik restoran, lalu ada seorang pemuda turun dari mobil impor dan berkata bahwa gelandangan itu tua dan dekil, lalu langsung dipukuli.


Pria yang sebelumnya pernah tidur bersama Sang Goo meletakkan tangannya seolah pistol di kepaa dan menirukan perkataan orang itu, “Berduit tak bersalah. Tak berduit pasti salah.” Gelandangan tua itu bilang ia tidak apa-apa dan rasanya tidak terlalu sakit.


Jae In bilang bukan masalah para atau tidak lukanya, tapi tetap tidak bisa dibiarkan. “Dimana restorannya?” tanya Jae In.


Jae In dan teman-teman gelandangannya datang ke restoran itu, tapi seorang pelayan melarang mereka masuk. Jae In bilang mereka sudah memesan meja untuk 8 orang. Pelayan itu mengecek daftar dan pesanan itu memang ada, tapi dia tetap melarang mereka masuk.


Pelayan bilang mereka tidak boleh masuk dengan pakaian kumal, karena pelanggan lain akan merasa tidak nyaman. Jae In bilang ia yakin kalau tidak ada dress code untuk makan disana.


Jae In menunjukkan reservasi di ponselnya dan tidak ada alasan bagi pihak restoran untuk menolak mereka. Ia dan rombongannya langsung berjalan masuk ke dalam restoran dan tidak mempedulikan pelayan itu.


Mereka lalu duduk dan membuat beberapa pelanggan lain heran. Jae In menjetikkan jarinya memanggil pelayan, lalu memesan wine. Seorang gelandangan pria bahkan mengucapkan ‘toilet’ dan ‘thank you’. Gelandangan lain menyebutnya berpendidikan.


Jae In lalu mengajak mereka semua bersulang. Walaupun tidak mengerti, mereka meniru semua gerakan Jae In, lalu minum. Mereka tampak sangat gembira.