Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 2 Part 3
Kim Dan membuka berkasnya dan melihat foto sofa yang sudah terbakar. Kim Dan membayangkan dirinya berada di TKP.


Jae In bilang disana ada benda yang janggal. Ia meminta Kim Dan menganggapnya sebagai permainan mencari perbedaan. Kim Dan mulai mencari-cari, tapi ia tidak menemukan apapun. Ia meminta petunjuk. Jae In bilang ia bahkan akan memberikan spoiler. Ia berkata bahwa ia sadar bahwa tangan manusia bisa bercerita banyak.


Kim Dan mengingat saat menonton rekaman kegiatan Ah Hyun di panti asuhan dan Ah Hyun memakai cat kuku. Ia menemukan cairan pembersih cat kuku, tapi itu aneh karena Ah Hyun merawat kukunya di salon kuku profesional, jadi Ah Hyun tidak perlu membawa cairan pembersih. Komposisi cairan itu adalah aseton.


Jae In mendekat dan mengambil minuman beralkohol seharga 3 juta won dengan aroma istimewa, padahal tubuh Ah Hyun terlihat tidak sanggup menerima alkohol. Kim Dan menyimpulkan bahwa ada dua barang yang bisa mempercepat pembakaran.


Ah Hyun dengan sengaja menumpahkan minuman beralkohol dan juga cairan pembersih kukunya.


Ia lalu mengirimkan pesan pada ibunya yang berisi ketakutannya jika menolak lamaran tunangannya.


Kemudian, Ah Hyun melemparkan ponselnya ke sofa dan mengambil lilin. Dengan sengaja, AH Hyun menjatuhkan lilin itu ke genangan alkohol. Api menyala seketika, lalu Ah Hyun bersembunyi.


Ketika melihat tunangannya, masuk untuk mencarinya. Ah Hyun malah keluar dan melarikan diri.


Kim Dan menduga bahwa Ah Hyun ingin merampas semua yang dimiliki oleh tunangannya itu. Jae In mengatakan bahwa balas dendamnya tidak berhasil, karena ia malah diculik.


Jaksa Joo masih ada di kamar rawat Ah Hyun. “Istirahatlah. Aku akan datang lagi,” kata Jaksa Joo. Ia kemudian bicara di dekat telinga Ah Hyun, “Oh ya, satu hal lagi. Pada saat yang tepat, akhiri sandiwara ini.” Jaksa Joo lalu pergi.


Ah Hyun mengingat saat dirinya melarikan diri dari villa, tapi tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang. Lalu membawanya pergi.


“Tolong..” kata Ah Hyun yang sadar saat dia berada dalam gendongan di penculik.


Ah Hyun terbangun dan berdoa meminta pertolongan. Ia sangat ketakutan.


Jae In kemudian meminta Kim Dan menceritakan kejadian dua tahun lalu. Kim Dan khawatir Jae In tidak akan bisa memahaminya dan dia bingung harus mulai darimana. Jae In bilang ia sudah bertekad untuk menerima semuanya.


Kim Dan: “Sebenarnya aku..”
Jae In: “Iya, kau?”
Kim Dan: “Jika mau diungkit, aku adalah...”
Jae In: “Adalah...”
Kim Dan: “Aku bisa melihat itu!”


Jae In sangat terkejut.


“Olala, ini tidak mungkin,” kata si peramal gelandangan sambil membuka buku primbonnya. “Ya Tuhan, kenapa bisa ada takdir orang seperti ini?”


Jae In masih shock dan tidak merespon sama sekali. Kim Dan duduk di sampingnya dan mengatakan bahwa sejak dia melihat itu kejadian di sekitarnya terasa sangat familier, bahkan ada perasaan jika dia sudah mati. Kim Dan bertanya apakah Jae In mendengarkan ceritanya. “Teruskan,” kata Jae In datar dan pandangannya masih kosong. Kim Dan lalu mengatakan bahwa ia juga bisa melihat kasus Han Sang Goo dua tahun lalu.


Jae In akhirnya bicara. Ia masih tidak percaya dan menganggap apa yang Kim Dan alami adalah dejavu atau gangguan delusional. Ia meminta Kim Dan memahami mentalnya sendiri sebelum menangkap penjahat. “Jika kata-katamu benar, kenapa pelaku kasua Baek Ah Hyun tidak tertangkap? Kekuatan super yang berada dalam jangakauanmu tidak kau gunakan, tapi malah bengong disini,” kata Jae In.


Kim Dan: “Karena.. aku tidak bisa melihatnya kapanpun aku mau. Kenapa bisa melihat? Kapan aku melihat. Aku juga..”
Jae In: “Kalau penasaran, cobalah cek ke rumah sakit. Dokter akan menjelaskannya padamu.”


Ketika Jae In ingin pergi, Kim Dan berkata bahwa dia sudah pernah memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Ia tahu kalau Jae In berpikir dirinya gila. Ia bilang lebih baik gila, karena itu bisa disembuhkan. “Orang sepertimu tidak akan tahu neraka apa yang kurasakan,” kata Kim Dan.


“Kau bilang neraka? Dua tahun yang lalu kau juga begitu. Tidak ada petunjuk sama sekali. Hanya membuat keributan kalau kau akan membunuhnya. Kenapa tidak kau bunuh? Padahal kau sudah tahu apa yang akan dia lakukan. Jika aku tidak menahanmu saat itu, apakah adikku akan tetap hidup? Jika memang benar demikian, apakah aku sanggup membuang rasa bersalah ini? Inilah yang namanya neraka,” kata Jae In. 


Kim Dan berkata bahwa apa ia alami bukanlah fantasi. Jae In memegang tangan Kim Dan dan memintanya membuktikan. “Apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Apa yang akan kulakukan kepadamu?” kata Jae In. Kim Dan memintanya dirinya dilepaskan.


Lonceng berbunyi.


“Han Sang Goo!” kata Jae In lalu menembak Han Sang Goo. Terdengar dua kali bunyi tembakan.


“Dengarkan baik-baik!” kata Kim Dan setelah menyaksikan mimpinya. “Sama sekali tidak boleh menembak. Jangan tembak. Dia akan kembali. Han Sang Goo, si pembunuh berantai.” Jae In marah dan melarang Kim dan menyebut nama itu.”Mungkin... dia sudah kembali.”


Ah Hyun terbangun dari mimpi buruk.


Dan yang menculik Ah Hyun adalah Han Sang Goo!


Ah Hyun menangis ketakutan.


Sementara itu di Kantor Polisi, Sung Ki dan Do Hoon melaporkan bahwa salah satu darah lagi yang ditemukan di gaun Ah Hyun adalah milik mahasiswi yang hilang di tempat Kim Dan menemukan kotoran manusia. Do Hoon menduga mahasiswi itu belum meninggal, tapi akan berbahaya jika tidak dibawa ke rumah sakit dalam 24 jam.


Mahasiswi yang hilang itu disekap di suatu tempat.


Sang Goo memperhatikannya di luar jeruji.36


Dalam keadaan terluka gadis itu berusaha menuju pintu, “Tolong... Tolong...” Sang Goo lalu membuka pintunya. “Tolong!” Sang Goo bertanya apakah gadis itu ingin diselamatkan. Gadis itu mengangguk.


Sang Goo menyembunyikan tali kabel di belakang tubuhnya.


Jae In: “Dimana orang itu? Dimana? Aku mempercayaimu, kau harus bicara. Dimana orang itu?!”
Kim Dan: “Baek Ah Hyun.”
Jae In: “Baek Ah Hyun?”


Ah Hyun turun dari kasurnya dan memakan kue dari kulkas dengan rakus dan terburu-buru.


Tuan Baek menemui Pastor Wang dan berkata, “Aku kemari untuk membuat kesepakatan. Putriku...Ah Hyun.”


Pastor Wang: “Aigoo, begitukah? Takdir kita... bagaimanapun juga tidak sama.”
Tuan Baek: “Sungguh tidak dapat diputuskan. Sudah lebih dari 20 tahun.”
Pastor Wang: “Saat itu.. kita berada di kapal yang sama. Dan sekarang kapal itu berlayar. Dimana kapal berlabuh, Tuhan yang menentukan.”


Kim Dan: “Kau harus ingat yang kukatakan. Jangan menembak. Kalau kita membunuhnya...” 
Jae In:”Kalau dibunuh...”
Kim Dan: “Kau...”


“Tidak akan bisa menghadapi kenyataan dan bunuh diri,” lanjut Kim Dan.