Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 2 Part 4
Dalam penglihatan Kim Dan, Jae In menembak mati Han Sang Goo, lalu menembak kepalanya sendiri.


“Ingat yang kukatakan. Jangan tembak. Kalau dia mati… kau.. tak bisa menerima kenyataan, lalu bunuh diri,” pesan Kim Dan. Jae In sangat terkejut.


Ah Hyun bangun dari mimpi buruknya dan benar-benar ketakutan.


Ah Hyun mengingat kembali saat ia sadar dari pingsan dan sudah berada di dalam gendongan seorang pria sebelumnya memukulnya dengan kayu. Dengan suara lemah, Ah Hyun meminta pertolongan. Si pelaku adalah Sang Goo.


Seorang mahasiswi yang sebelumnya dilaporkan hilang dan darahnya ditemukan di gaun Ah Hyun berusaha meminta tolong, lalu Sang Goo menghampirinya.


“Kau ingin aku menyelamatkanmu?” tanya Sang Goo sambil menyembunyikan tali kabel di belakang tubuhnya.


Jae In masih menganggap apa yang dikatakan oleh Kim Dan hanyalah sebuah prediksi. Ia  kemudian ia bertanya apakah ia menembak Sang Goo dan Sang Goo terlibat dalam kasus Ah Hyun. Kim Dan mengangguk.


“Bagaimana akhir ceritanya? Bagaimana akhir fantasimu? Biasanya tokoh protagonis akan mengalahkan tokoh antagonis dan hidup bahagia selamanya,” kata Jae In masih tidak mempercayai Kim Dan. “Jangan anggap aku anak berusia 6 tahun yang terkesima oleh seorang putrid cantik. Tapi aku 36 tahun. Aku tak bisa mempercayaimu.” Kim Dan bilang ia tidak akan memaksa Jae In untuk mempercayainya. “Penculikan putri chaebol itu dilakukan dengan cermat. Dia hidup kembali. Itu bukan gaya Han Sang Goo!”


Jae In menyuruh Kim Dan membuat cerita yang lebih rapi, lalu pergi. Kim Dan agak kecewa.


Di rumah, Ho KI bertanya apa yang terjadi karena Kim Dan tidak juga makan. Kim Dan mengelak. “Ayah tahu dari caramu menggerakkan sumpit. Apa karena lonceng?” tanya Ho Ki.Kim Dan bilang ada seseorang yang dia kenal mati. Ho Ki bertanya apakah itu tentang penculikan putrid chaebol. Kim Dan bilang ia tidak tahu, tapi tetap saja ia tidak bisa lepas tangan.


“2 tahun lalu, kulihat keluarga pria itu mati. Meskipun aku melihatnya, aku tidak bisa menghentikannya. Sekarang, aku tidak bisa melihatnya mati,” cerita Kim Dan. Ho Ki mengingatkan agar Kim Dan tidak mendahului takdir.


Kim Dan menatap loncengnya dan menceritakan tentang apa yang dikatakan oleh peramal gelandangan, bahwa lonceng itu adalah jimat. Kim Dan merasa itulah yang membuatnya bisa melihat masa depan orang. Kim Dan merasa itu takdir.


Ho Ki: “Memangnya kau tukang sihir?! Apa yang membuatmu mencampuri kehidupan orang lain?!”
Kim Dan: “Aku berbeda dengan orang lain. Ayah yang bilang begitu. Aku terlahir menjadi Polwan. Ayah yang selalu menguatkanku.”
Ho Ki: “Ayah takut kau terluka. Berhati-hatilah dan dengarkan ayah kali ini. Ayo makan.”


Jaksa Joo menyampaikan pesan bahwa kesepakatan dimulai. Tapi Tuan Baek meminta agar Ah Hyun disembuhkan lebih dulu. Tuan Baek bilang selama ia masih bisa, maka apapun bisa ia janjikan. “Untuk persyaratannya, tunggu sampai urusan putrimu selesai baru dibicarakan lagi,” kata Jaksa Joo.


“Kau mau menghentikan nyawaku?” tanya Tuan Baek. Jaksa Joo bilang kemurahan hati lebih efektif dari ancaman terhadap nyawa dan Tuan Baek-lah yang mengajarkan itu padanya. Tuan Baek tertawa dan berkata, “Kau sudah pandai bicara rupanya. Anjing kecil ini ternyata tumbuh setiap harinya. Sekarang kau bisa berbohong tanpa mengedipkan mata?” Tuan Baek menepuk-nepuk pipi Jaksa Joo. Jaksa Joo bilang ia ingin bicara sebentar dengan Ah Hyun. Tuan Baek pun pergi.


“Kau senang kembali dalam keadaan hidup?” tanya Jaksa Joo dan Ah Hyun hanya diam saja. “Aku senang kau tidak mati. Apa yang terjadi selama 128 hari kau menghilang? Aku harus tahu. Saat kau dewasa, belajarlah mengubah aturan permainannya. Rebut perhatian dunia. Diam saja tidak akan berhasil. Katakan. Aku di pihakmu. Hanya aku yang bisa berada di pihakmu.”


Ah Hyun akhirnya menoleh dan menatap Jaksa Joo.


Bibi pemilik kedai menyapa Jae In karena mereka sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya ada apa dengan pakaian Jae In dan bertanya dimana adiknya, padahal mereka sebelumnya selali minum bersama dan bertengkar. Ia bertanya apakah adik Jae In sudah menikah. “Ah.. hampir,” kata Jae In.


Pemilik kedai ingin mengambil lagi gelas yang tadinya untuk adik Jae In, tapi Jae In melarangnya. Pemilik kedai lalu pergi. Jae In mulai minum.


Jae In sudah mulai mabuk dan mendengarkan percakapan dua orang wanita di belakangnya yang akan pergi bersama keluarganya. “Ternyata orang biasa hidupnya seperti itu. Mengambil hal-hal kecil, lalu disimpan seolah bagai permata,” gumam Jae In lalu ingin menuangkan minumnya lagi.


Seorang wanita mengambil botol itu dan menuangkannya ke gelas Jae In. Wanita itu bertanya, “Adikmu yang bagai permata, kenapa tidak kau perlakukan dengan baik semasa dia hidup?”


Jae In menoleh dan melihat adiknya duduk di hadapannya. “So In…” kata Jae In terkejut. Wanita itu tersenyum. “Kapan kau datang? Aku pesan tulang iga. Kesukaanmu.” So In meminta soju. “Kau.. cepatlah makan. Oppa sudah kenyang.” 


Jae In mulai bertengkar dengan So In. So In mengeluh kakaknya yang sudah 36 tahun itu masih saja ingin menang saat mereka bertengkar. Ia bilang Jae In selalu mengancam dan menganiayanya. “Sebagai kakak, tidak ada yang lebih baik dariku,” kata Jae In.


So In: “Oppa memang orang baik. Sampai membiarkanku mati.”
Jae In: “Ya… Pasti ketakutan… sendirian… hari itu.”
So In: “Aku takut.”
Jae In: “Kau pasti membenciku. Sangat membenciku.”
So In: “Ya, aku sangat membenci oppa.”


Jae In sangat sedih dan minum lagi. “Oppa menangis?” tanya So In. Jae In mengelak dan mengatakan bahwa di hari kematian So In ia tidak menangis sama sekali. “Benarkah? Sama sekali tidak menangis? Wah, yang benar saja.” Jae In bilang terpuruk dalam kesediah, bukanlah gayanya.


So In melihat botol sojunya sudah kosong dan akan pergi. Jae In berkata, “Jangan pergi. Aku belum minta maaf. Setelah menangkapnya, baru aku akan meminta maaf. Jadi, jangan pergi seperti ini.” So In menangis dan tetap pergi.


“So In!” panggil Jae In dan mengejarnya. Tapi ia malah bertabrakan dengan bibi pemilik kedai dan terjatuh. Bibi khawatir dan bertanya bagian mana yang sakit. “Sakit..” Bibi mengelus punggungnya dan menyuruh Jae In menangis agar dia lega. Jae In pun menangis tersedu-sedu.


Do Hoon menjelaskan bahwa ada tiga darah korban lain ditemukan di gaun Ah Hyun. Dia juga menampilkan gambar tinja yang ditemukan did ekat rumah korban yang terakhir hilang, tapi DNA yang ditemukan hanya 50 persen.


Sung Ki menjelaskan bahwa Ah Hyun masih belum bisa memberikan pernyataan. Atasan lalu meminta mereka menyelidiki 3 wanita yang hilang itu terlebih dulu.


Kim Dan berhenti berlari, ketika ada suara Jae In yang mengatakan bahwa jika seperti itu maka Kim Dan tidak akan bisa menjadi Polisi. Kim Dan bertanya apa yang sedang Jae In lakukan disana.


“Oh?! Detektif Kim?” kata Jae In pura-pura terkejut. “Aku hanya lewat.” Kim Dan mengatakan Kantor Polisi bukanlah komplek perumahan, jadi Jae In bisa langsung masuk. “Kau mau kemana? Terburu-buru?” Kim Dan bilang ia ingin menangkap Sang Goo dan mempersilakan jika Jae In mau menertawakannya, lalu pergi.


“Aku ikut denganmu!” kata Jae In yang membuat Kim Dan menoleh karena terkejut. “Mungkin saja aku bisa membantumu. Aktor utama biasanya bilang begitu.” Kim Dan bilang ia sudah berganti peran, lalu berjalan pergi.


Jae In mengejarnya dan mulai mengoceh tentang tema drama. Kim Dan bertanya apakah Jae In sudah percaya padanya. “Bukan perkara percaya atau tidak percaya. Aku ingin memastikan tentang Han Sang Goo dan kata-katamu itu salah,” kata Jae In.


Kim Dan bilang akan berbahaya jika Jae In ikut campur dalam kasus itu. “Tidak masalah. Semua yang kau tahu, katakan padaku. Aku tidak mau menyesal lagi. Seperti 2 tahun lalu,” kata Jae In.


Kim D an menyerah dan menunjukkan berkas kasusnya pada Jae In. Ia lalu menunjukkan lokasi kotoran yang ia temukan dulu. Jae In bertanya apakah pelaku mengawasi lebih dulu.


“Selain kotoran, tidak ada jejak yang tertinggal, baik sidik jari maupun rambut,” kata Kim Dan. Mereka lalu masuk ke rumah korban.


Kim Dan menjelaskan bahwa yang tinggal disana adalah korban terakhir yang hilang dan berstatus sebagai mahasiswi


“Karena dia juga tutor, dia pulang sebelum kuliahnya berakhir. Lalu menghilang,” kata Kim Dan saat masuk ke kamar korban. Jae In mengamati barang-barang yang ada disana dan ditemukan buku kedokteran. “Hutang untuk biaya pendidikan dan biaya hidupnya banyak. Saat kuliah, sulit untuk menjadi tutor. Dia tidak punya teman.”


Sambil membersihkan tanganya yang baru saja memeriksa tempat sampah, Jae In menanyakan keluarga korban. Kim Dan bilang korban putus kontak dengan ayahnya sejak orang tuanya bercerai dan ibunya tinggal di Daegu.


Kim Dan: “Aku dengar ia banyak mengeluarkan darah. Apa mungkin dia masih hidup?”
Jae In: “Kalau dia masih sadar, maka itu mungkin saja. Ini tanda dia praktek menjahit.”


Mahasiswi yang diculik berhasil menemukan jarum dan mulai menjahit lukanya sendiri. 


Walaupun menurut Kim Dan tidak berguna, Jae In tetap membaca buku harian korban.


“18 November. Karena jadi tutor, sulit mengejar materi kuliah. Apa jalan yang kuambil ini benar?”


“19 November. Hari ini makan kimbab segitiga. Besok hidupku akan seperti pengemis.”


“Choi Eun Yoo semakin depresi. Ada yang mulai aneh dari sini. Catatan hariannya terhenti selama sebulan,” ujar Jae In.


“28 Desember 80ribu won.”
“28 Desember. Belakangan ini memikirkannya membuatku tertawa. Dunia terasa begitu indah.”


“Pria itu? Dia punya pacar?” tanya Jae In sambil menunjuk isi buku hariannya. Kim Dan bilang ia tidak punya informasi jika Eun Yoo punya pacar.


“Orang berubah begitu cepat. Pasti ada sesuatu,” kata Jae In.