Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 3 Part 1
Do Hoon membaca berkas yang baru diterimanya. Sung Ki bertanya apakah Do Hoon sudah mendapatkannya. “Ayo, sunbae,” ajak Do Hoon pada Sung Ki.


“Chun sunbae, kenapa kau bersamanya?” tanya Do Hoon ketika bertemu dengan Jae In dan Kim Dan di persimpangan jalan. Jae In menyuruhnya menyingkirkan dulu rasa ingin tahunya. Sung Ki menggerutu heran karena Jae In bukan Polisi lagi. Jae In memintanya melupakan semua gossip yang beredar dan mengatakan kalau dia adalah milik masyarakat.


Kim Dan bertanya apakah kotoran itu milik Sang Goo. Do Hoon bilang itu adalah milik seorang pengangguran berusia 24  tahun. Ketika sampai di rumah tersangka, Sung Ki meminta Kim Dan dan Jae In menunggu di luar.


“Yoo Seong Woo?” sapa Do Hoon sambil tersenyum. Seong Wo yang sedang asyik membaca buku terkejut. Ia berusaha bersikap biasa saja, tapi kemudian melarikan diri. Semua orang langsung mengejarnya, kecuali Jae In.


Jae In memeriksa kotak surat.


Setelah berputar-putar, Seung Woo akhirnya tertangkap di depan rumahnya sendiri. Sung Ki menunjukkan foto Eun Yoo. Ia menuduh Seung Woo mengintip Eun Yoo melalui jendela dan juga buang air besar di bawah pohon. 


Seung Woo: “Aku mengaku salah.” 
Sung Ki: “Dimana gadis itu sekarang?”
Seung Woo: “Ahjushi?”
Sung Ki: “Apa?”
Seung Woo: “Aku… ingin buang air besar.”


Sung Ki ingin memukul Seung Woo, tapi Jae In melarangnya. Jae In berkata, “Bukan dia. Dia tidak sanggup melakukan kejahatan ber-IQ tinggi. Dia idiot. Kalau dites, paling tidak harus lebih dari level 3.” Ini dikirim oleh Pusat Dukungan Disabilitas.” Jae In memberikan suratnya pada Sung Ki.


Seung Woo bermain origami dengan bahagia. Sung Ki mengeluh, “Sia-sia saja berlari. Ayo. Informasimu sama sekali tidak membantu.” Kim Dan juga akan pergi, tapi ia menemuka origami berbentuk katak di tanah dan mengembalikannya pada Seung Woo.


Kim Dan bertanya apakah Seung Woo suka katak. “Ya, aku suka katak. Katak,” kata Seung Woo ceria. Kim Dan bilang ia bisa melipat katak dan memberikannya. Seung Wo bertepuk tangan senang, “Katak, katak.”


Seung Woo memainkan katak itu dan Kim dan berpura-pura menangkapnya dan bertanya apakah Seung Woo melihat gadis yang diintipnya dibawa pergi. Tapi Seung Woo diam saja. Kim Dan meminta maaf, lalu mengembalikan kataknya. Ia pun akan pergi.


Seung Woo: “Seung Woo melihatnya.”
Kim Dan: “Kau melihatnya? Apa kau ingat wajah orang itu?”


Seung Woo ketakutan. Kim Dan bilang jika orang itu datang maka para ahjushi tadi akan menangkapnya. Seung Woo semakin ketakutan dan menutupi wajahnya. Kim Dan masih berusaha membujuknya. Seung Woo melepaskan tangannya dari wajahnya.


Ia berbisik pada Kim Dan, “Monster. Monster datang. Monster… mengambil wanita itu.” Kim Dan bingung.


Jaksa Joo sedang mengamati papan penyelidikan Polisi dan bergumam, “Dimana mayatnya disembunyikan?” Kim Dan lalu datang dan melarangnya menyebut kata mayat, karena korban mungkin masih hidup. “Ada 4 orang hilang. 4 lawan 1, sepertinya terlalu sulit ditangani.”


Do Hoon dan Sung Ki menyusul kemudian dan memastikan bahwa tersangka tadi IQ-nya bermasalah dan bicara ngelantur. Jaksa Joo bertanya tentang 3 korban lain. Do Hoon bilang 3 korban hilang di rumah, kecuali yang 1 itu karena pekerjaan, usia, tempat tinggalnya berbeda. Ia ingin mengatakan sesuatu tentang Ah Hyun, tapi Jaksa Joo memotong ucapannya dan berkata bahwa itu tidak ada kaitannya.


Jae In masih membaca buku harian Eun Yoo dan menduga ada sesuatu yang berubah darinya. Peramal mengatakan bahwa semakin banyak dipikrikan, maka akan semakin realistis. Ia menyarankan agar Jae In segera memohon pertolongan roh para jenderal atau lainnya. Jae In mendapatkan sesuatu dari perkataan peramal.


Yang membuatku tersenyum tanpa syarat?


Jae In mengingat bungkus tisu yang ia pakai saat membersihkan tangannya di rumah Eun Yoo. Disana tertulis “Mengundang Anda ke Gereja Cheon In”.


“Benar! Tisu yang dibagikan di gereja!” kata Jae In.


“Apa? Agamanya?” Kim Dan menerima telepon dari Jae In. Ia lalu meminta rekannya utnuk menghubungi keluarga korban lain dan menanyakan kegiatan agamanya. Mereka kemudian memastikan bahwa korban lain pergi ke gereja. Jae In meminta mereka menanyakan nama gerejanya.


Sung Ki: “Cheon In.”
Do Hoon: “Cheon In.”
Kim Dan: “Choi Eun Yoo juga! Ketiganya pergi ke gereja yang sama.”


Jaksa Joo menatap Kim Dan denga tatapan mengernikan. Ia lalu menganggukkan kepalanya.


Kim Dan yang pergi ke Cheon In bersama Jae In mengatakan bahwa tempatnya sangat besar Jae In bilang  banyak tokoh dari kalangan politisi dan pengusaha datang kesana. Itu membuat Kim Dan minder, tapi ia tetap bertekad masuk kesana.


Kim Dan masuk dan melihat Pastor Wang baru selesai mencuci kaki salah satu jemaatnya. Pastor Wang melihat Kim Dan menanyakan keperluannya. Tampaknya Pastor Wang juga tidak mengenali Kim Dan sebagai Byeol. Mereka lalu pergi ke ruangan Pastor Wang.


Pastor Wang bilang ia juga sangat khawatir pada orang-orang beriman itu yang tiba-tiba tidak datang ke gereja. Kim Dan bertanya apakah ketiga orang itu saling mengenal. Pastor Wang bilang jemaatnya sangat banyak, jadi sulit untuk saling mengenal.


Kim Dan: “Jadi, tidak ada orang yang mengenal Baek Ah Hyun dan ketiga orang lainnya secara bersamaan?”
Pastor Wang: “Maksudmu aku? Haha.. Kenapa kau begitu takut? Aku jadi ikut gugup.”
Kim Dan: “Ah, maafkan aku.”


Pastor Wang mengembalikan kartu identitas Polisi Kim Dan dan melihat lonceng di tangannya. Ia berkata, “Kau memakai sesuatu yang menarik.” Kim Dan menduga pastor tidak menyukai hal semacam itu. “Dulu, sebelum percaya Tuhan. Pernah dirasuki oleh roh jahat dan akhirnya aku diselamatkan. Jadi jangan percaya pada hal mistis.”


Kim Dan mengerti, lalu pamit pergi. “Ya.. tapi apa kita… pernah bertemu sebelumnya?” tanya Pastor Wang. Kim Dan bilang itu mungkin saat ia menghadiri acar peringatan Ah Hyun. “Oh, disana ternyata. Hahaha..”


Pastor Wang menatapnya curiga.


Kim Dan keluar dar ruangan Pastor Wang sambil menjawab ponselnya. Disana ia melihat seseorang yang tampak mencurigakan. Kepalanya bergerak-gerak seperti yang biasa Sang Goo lakukan. Tapi ada bekas lka di wajahnya.


Di rea parker, Jae In bertanya pada seorang pria berjas biru tentang mobil van yang baru saja pergi. Pria itu bilang van itu akan menjemput jemaat yang tinggal di pinggiran kota. Jae In bergumam bahwa harusnya berisi 3 orang. Kim Dan lalu datang menghampirinya dan bertanya siapa supirnya. 


Pria itu bilang supirnya adalah mantan gelandangan dan memiliki bekas luka di wajah yang cukup besar. Kim Dan mengingat perkataan Seung Woo tentang monster.


“Jangan-jangan… Di Han Sang Goo! Cepat!” kata Kim Dan pada Jae In. Kim Dan langsung masuk ke mobil, tapi Jae In masih tidak mengerti. Jae In tetap masuk mobil dan Kim Dan menyetirnya mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Kim Dan berhasil mengejar van itu, tapi supirnya bukanlah Sang Goo atapun orang lain yang memiliki bekas luka di wajah. Pria itu berkata, “Sebetulnya aku tidak sedang bertugas. Tapi dia datang dan memintaku ganti shift. Dia tinggal di ruang serba guna gereja” Kim Dan dan Jae In kembali ke gereja.


Di ruang serbaguna, terlihat poster film kartun yang disukai Sang Goo. Jae In sangat kesal, karena ia tidak berhasil menangkap Sang Goo. Ia membanting barang-barang yang ada disana.


Reporter menyiarkan, “Seorang pembunuh berantai bersembunyi setelah membunuh. Han Sang Goo muncul kembali setelah sempat bersembunyi. Ketika Polisi menyelidiki, dia sengaja membakar wajahnya untuk menyembunyikan identitasnya. Menyamar sebagai seorang supir di gereja.”


Di kamar rawatnya, Ah Hyun menonton berita itu.


“Telponkan aku seseorang,” kata Ah Hyun yang membuat dokter terkejut karena akhirnya Ah Hyun bicara. “Hubungi Polwan yang waktu itu datang. Sekarang.”


“Apa? Aku akan segera kesana,” kata Kim Dan lalu menutup ponselnya. Ia memberitahu Jae In, “Baek Ah Hyun. Baek Ah Hyun mau bicara.”


Kim Dan bertanya apakah Ah Hyun mencarinya. Ia berkata bahwa Jae In adalah seorang konsultan. Jae in bilang ia dulunya Polisi dan menangani kasus Han Sang Goo. “Han Sang Goo?” gumam Ah Hyun. Kim Dan bertanya apakah Snag Goo yang menculk Ah Hyun. “Benar. Si pembunuh berantai Han Sang Goo.” Jae In bertanya kenapa sebelumnya, Ah Hyun tidak bicara apa-apa.


“Aku takut orang itu mendatangiku. Menemukanku dan membunuhku. Aku takut,” kata Ah Hyun dan mulai menangis. Jae In bertanya apa yang terjadi pada Ah Hyun selama 128 hari menghilang. “Dia jahat. Aku benci sekali dengan tunanganku. Dulu aku mempercayainya. Mempercayainya lebih dari siapapun.”


“Tapi dia memperlakukanku seperti tiket lotre. Bagaimana jika aku tiba-tiba menghilang dari dunia ini? Aku ingin dia terluka sepertiku. Itu sebabnya aku melakukannya. Tapi pria itu ada disana. Seolah dia sudah menunggu.”


Kim Dan bertanya dimana Ah Hyun setelahnya. “Aku tidak tahu. Ruangannya gelap. Dimana-mana hanya terlihat dinding.” Ah Hyun mundur ketakutan, ketika melihat Sang Goo menyalakan lilin di sudut ruangan, lalu berjalan ke arahnya.


“Kau mau apa? Apapun yang kau inginkan, bisa kuberikan padamu. Kau pasti tahu siapa aku, makanya kau menculikku. Kalau ayahku tahu aku diculik, kau tidak akan dilepaskan. Ayahku Pimpinan Grup Songha,” kata Ah Hyun ketakutan.


Sang Goo menyuruh Ah Hyun diam dan mendekat. Tapi Sang Goo tidak mengatakan apa-apa. Ia melemparkan sesuatu ke dekat Ah Hyun. Ia juga menyalakan lilin di dekat Ah Hyun, lalu menyalakan lagu pujian untuknya, kemudian pergi.


“Aku pikir 1-2 hari hal ini akan berakhir. Jika membayar uang tebusan, aku pasti akan dilepaskan. Tapi ternyata tidak. Itu baru permulaan.”


“Tolong! Tolong! Apa ada orang?! Tolong!” Ah Hyun berteriak, namun tidak ada satupun orang yang datang. 


Sang Goo melemparkan roti untuknya dan dia memakannya dengan lahap. Semakin hari, ia semakin terlihat depresi.


Kim Dan bertanya apakah ada wanita lain disana dan jika ada kenapa mereka tidak keluar. “Kau tanya bagaimana aku kembali hidup-hidup?” tanya Ah Hyun. Kim Dan bertanya apakah yang lainnya masih hidup. “Sepertinya sudah mati. 2 orang yang lain tidak pernah kulihat. Gadis yang terakhir…”


Ah Hyun bercerita bahwa Sang Goo menikam Eun Yoo dengan pisaunya. Mereka berencana melarikan diri bersama, tapi Eun Yoo menyuruhnya lari dan Eun Yoo menarik celana Sang Goo. Ah Hyun bilang ang ada di pikirannya hanya melarikan diri, jadi dia terus berlari. Ia kemudian menangis, karena seharusnya ia menyelamatkan Eun Yoo.


“Aku minta maaf sebelumnya. Tapi aku penasaran akan satu hal. Apa kau suka sains?” tanya Jae In sambil menyodorkan tisu pada Ah Hyun.