Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 3 Part 2
Jae In bilang ia akan melakukan percobaan sendiri dan objeknya adalah gaun Ah Hyun.


Sambil menjelaskan bahwa darah manusia lebih kental 4 kali lipat dari air, Jae In mengambil darahny sendiri. Ia bilang karakteristik itu menentukan kecepatan dan arah percikan darah, sehingga membuat noda darahnya berbeda.


Jae In memercikkan darahnya sendiri ke kain putih dengan cara yang berbeda-beda. Ia bilang dari darah yang ditemukan, jarak Eun Yoo sangat berdekatan dengan Ah Hyun. Ia lalu berkata, kalau Ah Hyun lah yang menikam Eun Yoo.


Ah Hyun menikam Eun Ho dan Sang Goo menyaksikannya dari luar. Setelah menikam Eun Yoo, Ah Hyun mengelap bekas darah di pisau itu ke gaunnya dan pergi. Tapi Eun Yoo menarik kakinya dan berkata, “Tolong. Selamatkan aku juga.” Tapi Ah Hyun tidak mempedulikannya.


Ah Hyun terkejut, lalu Kim Dan dan Jae In berjalan perlahan menghampirinya.


“Entah apa alasanmu menikam mahasiwi itu dengan pisau. Dan kau kembali dalam keadaan hidup. Ah Hyun menggelengkan kepalanya dan mengelak kalau dia tidak melakukan itu. “Nona Baek Ah Hyun, berdoalah mahasiswi itu masih hidup. Kalau tidak, kau akan dituntut melakukan pembunuhan.”


“Katakan dimana dia?” tanya Kim Dan sambil memegang bahu Ah Hyun. Ah Hyun menatapnya.


“Di seberang pom bensin! Tidak jauh dari gereja.” kata Kim Dan di ponselnya. Ia dan Jae In berjalan dengan terburu-buru.


“Keberadaan Han Sang Goo ditemukan!” kata Do Hoon dan timnya mulai bergerak.


Kim Dan menahan Jae In dan menyuruhnya berjanji agar tidak menggunakan pistol, apapun yang terjadi. “Aku mengerti. Aku bahkan tidak punya pistol,” kata Jae In lalu kembali berlari tapi Kim Dan tidak mengikutinya. “Kau tidak ikut?!”


Kim Dan bilang ada hal yang harus ia pastikan lebih dulu dan akan menyusul nanti. Ia mengingat percakapannya terakhir dengan Ah Hyun.


Saat menyentuh bahu Ah Hyun, lonceng Kim Dan berbunyi. Ia ‘melihat’ saat Ah Hyun menikam Eun Yoo dan Jae In menodongkan pistol ke kepalanya sendiri.


“Bukan disana,” kata Kim Dan lalu berbalik arah.


Sambil membawa pipa besi yang ditemukan di jalan, Jae In pergi mencari sekeliling dan akhirnya berhasil menemukan Eun Yoo. Ia mendobrak kunci pintu dengan pipa yang dibawanya. Dia lega karena Eun Yoo masih hidup. Suara sirine Polisi mulai terdengar. Jae In mendengar suara dari sudut lain dan merasa curiga.


Kim Dan sendiri kembali ke rumah Eun Yoo. Ia mengecek peluru di pistolnya dan dengan berhati-hati masuk ke kamar Eun Yoo. Ia lalu menemukan bola lampu hias di meja Eun Yoo dan menyalakannya. Ia terkejut.


Sinar lampu itu sama dengan sinar lampu yang ia ‘lihat’ saat Jae In meletakkan pistol di kepalanya.


Jae In menyusuri ruangan itu lebih dalam, tapi ia hanya menemukan seekor kucing disana.


Kim Dan yang masih terkejut disadarkan dengan getar ponselnya. Ia mengangkat telepon dari Jae In itu, “Tunggu dulu. Ya, Han Sang Goo.” Ternyata Sang Goo bersembunyi di bawah tempat tidur.


“Kau sekarang dimana? Jawab.” tanya Jae In. Dan terlihat beberapa Polisi sedang mengurus Eun Yoo. Kim Dan tidak mau memberitahunya karena ia tidak akan membiarkan Jae In mati. Ia menutup ponselnya.


Sang Goo membekap mulut Kim Dan.


Jae In panik, “Hei, Kim Dan! Sial!”


Kim Dan berusaha melepaskan diri, namun akhirnya ia tidak sadarkan diri.


Jae In masih berusaha menghubungi Kim Dan dan dia meminta Do Hoon untuk melacak keberadaannya.


Kim Dan mulai sadarkan diri dan ada tali kabel yang menjerat lehernya. Ia melihat ke arah depan dan Sang Goo sedang menatapnya.


Sang Goo: “Kau sadar. Dong-dong-dong-dong ayah Gi kenapa bisa meninggal? Karena menginjak ‘emas’. Hahaha… Kenapa kau tidak tertawa? Dulu kalau aku bilang begitu, kau akan tertawa.”
Kim Dan: “Apa maksudmu? Lepaskan aku.”
Sang Goo: “Pura-pura tidak tahu ya, Byeol. Kenapa? Karena sekarang wajahku seperti ini? Aku tak punya pilihan. Aku tidak mau dipenjara.”


Sang Goo lalu mengingat saat dirinya kecil yang kesakitan karena disiksa, kemudian bernyanyi lagu pujian.


Sang Goo kecil dan teman-temannya dipaksa berkelahi agar bisa makan.


Kim Dan berusaha melepaskan diri, tapi tangannya juga terikat tali kabel. Dan jika tidak berhati-hati, ia bisa jatuh dari kotak penyangga di kakinya, lalu lehernya akan tercekik tali. “Jadi kulakukan. Aku disuruh,” kata Sang Goo. Kim Dan bertanya apa itu. “Balas dendam. Supaya mereka melakukan hal yang sama. Aku hebat, kan? Hanya satu orang yang akan selamat. Dan berhasil. Dia mengambil pisaunya.”


Kim Dan: “Balas dendam? Motifmu melakukan kejahatan ini adalah balas dendam?”
Sang Goo: “Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau selalu berlagak bodoh. Menyebalkan sekali.”
Kim Dan: “Kau salah orang. Aku…”
Sang Goo: “Kau janji! Tumbuh dewasa dan jangan lupa. Kita bertiga. Tapi.. kau lupa padaku?”


Kim Dan sekilas mengingat janji jari yang dibuatnya bersama dua sahabatnya yang lain.


Kim Dan: “Benar. Gambar.”
Sang Goo: “Kau ingat, kan? Katakan namaku.”
Kim Dan: “Nama?”


Sang Goo berteriak kesal. Tapi kemudian dia bertanya, “Byeol, kenapa kau kembali? Bukankah kubiarkan kau lari? Tidak. Kalau orang itu mencarimu bagaimana? Aku akan menyelamatkanmu, Byeol. Jangan sampai kau tertangkap.”


Sang Goo menendang kotak penyangga kakinya, dan Kim Dan mulai tercekik.