Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 3 Part 3
“Hei, Kim Dan!” Jae In datang ketika Kim Dan sedang kesakitan. Sang Goo melihat ke pistol Kim Dan yang ada di meja dan ingin mengambilnya. Tapi Jae In menendangnya lebih dulu. Mereka berdua berkelahi dan saling berebut pistol.


Jae In berusaha mengarahkan pistol ke tali Kim Dan. Dan dia berhasil. Tali itu terputus dan Kim Dan terjatuh.


Kim Dan jatuh terduduk dan tidak sadarkan diri.


Jae In berhasil memojokkan Sang Goo dengan menodongnya dengan pistol. “Han Sang Goo..” kata Jae In. Mendengar suara itu, Kim Dan membuka matanya dan berusaha menyadarkan dirinya.


Kim Dan: “Jangan tembak!”
Sang Goo: “Polisi tidak boleh menembak warga sipil. Bertindaklah sesuai hukum.”
Jae In: “Hukum? Aku tidak yakin bisa menegakkan hukum, karena itu aku berhenti jadi Polisi. Kau tidak punya kesempatan untuk mendapatkan keringanan. 2 Maret, 2 tahun lalu. Setelah kau keluar dari Kantor Polisi, kau membunuh adikku yang tidak berdosa!”


“Adikmu… Kantor Polisi… Mengenakan mantel putih.. Dia juga menggigit tanganku. Aku naik pitam dan memukulinya beberapa kali,” kata Sang Goo yang membuat Jae In menghajarnya. “Tolong aku. Dia mengatakannya sekali padaku. Kukatakan semuanya akan segera berakhir.”


Jae In menyuruh Sang Goo memohon padanya agar diampuni. “Bebaskan aku, kumohon. Kau pikir aku akan bilang begitu? Hahaha..” kata Sang Goo. 


Terdengar dua kali suara letusan pistol. “Tidak!”


Ternyata itu adalah suara letusan tembakan peringatan yang dikeluarkan salah satu detektif di tim Kim Dan. “Apa yang kau lakukan, Chun. Jae In?!”


Jae In menoleh dan Sang Goo tertawa terkekeh. “Jadi dia adikmu?” Jae In terkejut, karena Sang Goo tidak tahu kalau So In adalah adiknya. Detektif menyuruh Jae In menyingkir, tapi ia meminta waktu 5 menit. Detektif menyuruh rekannya yang lain untuk membawa Jae In keluar.


Jae In mengangkat Sang Goo dan menodongkan pistolnya pada detektif. Ia mengancam akan membunuh Sang Goo dan juga dirinya sendiri jika mereka mendekat. Ia bilang sudah 2 tahun ia mencari Sang Goo dan melepaskan segalanya. Sekarang ia hanya meminta waktu 5 menit.


Sang Goo berusaha merebut pistol di tangan Jae In, lalu mematikan lampunya. Mereka kembali berkelahi dan terdengar letusan pistol. Ketika lampu dinyalakan kembali, Jae In melihat bahu Kim Dan tertembak. Ia menangkap Kim Dan yang hampir jatuh, “Dan.. Kim Dan!” Kim Dan bersyukur karena Jae In masih hidup. “Tidak, Dan!”


Sementara itu, Sang Goo berhasil ditangkap.


Perlahan Kim Dan membuka matanya. “Kau sadar Kim Dan!” panggil Jae In. Kim Dan mengenalinya. “Ya, ini aku.” Kim Dan bertanya apa dia masih hidup. “Pelurunya menyerempetmu.” Kim Dan memegang lukanya dan bersyukur. “Kau tidak mau mati, tapi malah menahan todongan pistol tanpa mempedulikan apapun.”


“Sepertinya kau mengkhawatirkanku,” kata Kim Dan. Jae In bilang ia hanya tidak ingin hutang budi. “Tipe idamanku. Bukan apa-apa, kau hutang nyawa dan aku melihatnya. Mau kemana? Kau ingin bayar hutangmu?” Jae In bilang ia akan mencicilnya, lalu pergi.


Ho Ki datang dan sangat mengkhawatirkan Kim Dan. Kim Dan bilang ia hanya memar sedikit. Sekilas, Jae In melihat mereka lalu pergi.


Di ruang interogasi, Jae In bertanya apakah benar Sang Goo tidak tahu kalau So In adalah adiknya. “Aku bilang begitu? Iya, mungkin,” kata Sang Goo. Jae In menanyakan alasannya. “Begini.. Aku hanya mengikuti suara di kepalaku.” Jae In tidak percaya. “Orang buta nada sepertimu akan sulit mengerti. Ini bisa dibilang… wahyu.”


Jae In berkata, “Separuh benar, separuh bohong. Kau tidak puas dengan interogasi saat itu, jadi kau membalas dendam padaku dengan membunuh adikku. Tapi setelah kupikirkan, bagaimana kau tahu alamatku? Hari itu, kau mendapat wahyu? Apa itu bukan wahyu dari surge?”


Sang Goo bilang dia tidak berbohong. Jae In berusaha memojokkannya, dan kepala Sang Goo mulai bergerak-gerak. Jae In bilang Tuhan tidak menyukai perbuatan buruk. Sang Goo menutup telinga, tapi Jae In menarik tangannya.


Sang Goo: “Tidak! Hanya satu kali…”
Jae In: “Begitu rupanya. Benar ada seseorang di belakangmu. Katakan. Siapa1 Waaaaa?!”
Sang Goo: “Tak bisa kukatakan. Aku tak akan pernah masuk penjara. Waaaa.. Waaa…”


Polisi datang dan membawa San Goo pergi. Dia tersenyum licik.


Seseorang menemui Sang Goo di sel.


Jae In dikejutan dengan kedatangan Kim Da padahal seharusnya masih berada di rumah sakit. Ia tahu kalau Jae In berbuat onar di ruang interogasi, lalu mengajak Jae In ikut bersamanya.


Ah Hyun berada di ruang interogasi, tapi ia tetap diam ketika Do Hoon memberikannya pertanyaan.


Atasan: “Aish.. orang itu menggunakan hak diamnya. Bagaimana keadaan korban?”
Sung KI: “Kemarin dia menjalani operasi. Masih belum sadar.”
Atasan: “Ah.. Kalau begitu, kita harus membuatnya bicara.”


Kim Dan dan Jae In terkejut, karena Sang Goo sudah dipindahkan ke Kejaksaan, padahal harusnya bar bisa dilakukan 4 hari lagi. Petugas bilang karena kasusnya menyedot perhatian publik, jadi jaksa menjadi tidak sabar.


Beberapa Polisi mengawal kepindahan Sang Goo ke Kantor Kejaksaan.


“Bukan aku,” kata Ah Hyun yang akhirnya bicara. Do Hoon terkejut. “Han Sang Goo yang melakukannya. Semuanya” Do Hoon bilang Han Sang Goo juga punya mulut untuk membela dirinya. “Han Sang Goo tak mau bicara?” Do Hoon tidak mengerti.


Ah Hyun lalu mengecek jam tangannya.


“Sudah ditransfer. Baru saja. Reaksi Baek Ah Hyun seperti itu?” kata Kim Dan di ponselnya. Jae In bilang firasatnya tidak enak.


Di dalam mobil, Sang Goo pura-pura batuk dan mengeluarkan sesuatu dari mulutnya dan disembunyikan di tangannya.


“Iya, dimana?” tanya Jae In di ponsel dan akan mengejark mobil yang membawa Sang Goo.


Sang Goo mulai menyerang para Polisi dan menyebabkan supir kehilangan kendali mobilnya. Mobil Polisi yang mengawal di belakangnya, mulai curiga dan merasa khawatir jika Sang Goo melarikan diri. Di belakangnya, Kim Dan juga sudah berhasil menyusul.


Sang Goo keluar dari mobil dan menggunakan seorang Polisi sebagai sanderanya. Secara diam-diam, seorang Polisi berusaha menyergap Sang Goo dari belakang. Tapi Sang Goo melawan. “Jangan tembak!” kata Jae In yang baru turun dari mobil, tapi terlambat.


Polisi lain sudah menembak Sang Goo. Sang Goo ambruk seketika. Jae In dan Kim Dan langsung menghampirinya.


“Jangan mati! Kau tak boleh mati! Katakan! Siapa dia? Sadarlah, keparat! Siapa yang menyuruhmu membunuh?” kata Jae In.


Sang Goo menatap Kim Dan dan mengangkat tangannya. Kim Dan meraih tangan Sang Goo. “Jangan lupa, Byeol. Namaku…”


“Byeol, lihat  ini…” kata Sang Goo kecil.


“Apollo,” gumam Kim Dan.


Yang ada di depan mata Kim Dan adalah Sang Goo kecil. “Terima kasih, Byeol. Janjimu kau tepati,” kata Sang Goo.


Kim Dan: “Jangan mati.”
Sang Goo: “Popeye menunggumu. Aku… “


“Popeye? Siapa dalangnya?! Jangan mati! Han Sang Goo! Han Sang Goo!” kata Jae In histeris.


Ah Hyun sudah selesai diinterogasi dan Jaksa Joo menjemputnya. “Perintah penangkapan ditolak. Noda darah yang didapatkan tidak bisa dijadikan bukti,” kata Jaksa Joo. Ah Hyun bertanya bagaimana hasilnya. “Dia mati.” 


“Aku.. melihatnya barusan,” kata Kim Dan. Jae In bertanya apa yang dilihatnya. “Adikmu. Sebelum dia mati. Adikmu mengirim pesan padamu.”