Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 4 Part 1
Jaksa Jo menginterogasi A Hyun tentang kejadian penculikan yang dilakukan Sang Goo terhadapnya. A Hyun menjawab dengan malas-malasan, karena menurutnya itu hanya formalitas. “Jawab saja. Siapa yang menikam mahasiswi itu?” tanya Jaksa Jo.


“Aku,” kata A Hyun jujur. Tapi Jaksa Jo malah mengetik nama ‘Han Sang Goo’ sebagai pelaku penimakan terhadap Eun Yoo. Jaksa Jo bertanya bagaimana situasinya saat itu. “Aku harus tetap hidup. Semacam permainan di antara 2 hanya 1 yang hidup.”


Sang Goo meletakkan pisau di antara Eun Yoo dan A Hyun. “Kuangkat pisaunya. Kalau hanya 1 yang hidup, dibandingkan gadis di ruangan itu, nyawaku lebih mahal. Han Sang Goo bilang dia membuat orang lain merasakan apa yang dia alami,” kata A Hyun.


Jaksa Jo bilang manusia akan terluka ketika belajar melukai orang lain. A Hyun meminta Jaksa Jo tidak meremehkannya.


Kim Dan dan Jae In datang ke Kantor Jaksa Jo, dan mereka melihat A Hyun baru saja keluar dari ruangan Jaksa Jo. “Kau sudah dibebaskan. Berikan rahasianya padaku,” kata Jae In. A Hyun membuka kacamatanya dan berkata dengan angkuh ketika dia akhirnya mengenali Jae In sebagai orang yang pernah menemuinya di rumah sakit.


Jae In: “Dengan apa kau membeli Choi Eun Yoo?”
A Hyun: “Aku membeli masa depan wanita itu, Sebetulnya hanya beberapa ribu won saja. Tentu saja bukan berarti yang kulakukan salah.”
Jae In: “Kau... mengetahui Han Sang Goo akan mati.”


A Hyun tidak peduli dan mengatakan agar Jae In bereinkarnasilah sebagai orang kaya. Ia lalu pergi. “Seonbae,” panggil Kim Dan pada Jae In.


Jae In masuk ke ruangan Jaksa Jo dan langsung bertanya apakah perlakuan istimewa diberikan karena A Hyun adalah putri Grup Songha. Kim Dan ingin memberitahu siapa Jae In. “Tidak apa-apa, aku tahu siapa dia,” kata Jaksa Joo. Jae In berkata bahwa A Hyun adalah tersangka percobaan pembunuhan tapi kenapa tidak ditahan.


Jaksa Jo bilang itu karena pernyataan Eun Yoo dan A Hyun sama dan tersangkanya mati. Ia juga mengatakan bahwa Jae In memiliki fantasi tentang hukum. Ia bilang analisis fungsi trigonometri yang dilakukan Jae In terhadap darah di gaun A Hyun sangat rinci, tapi ia hanya mengerti sebagian.


Jaksa Jo mengatakan bahwa jika Jae In ingin A Hyun dipenjara, maka Jae In harus membawa bukti lain. Jae In bilang Jaksa Jo orang yang berprinsio, tapi jalan mereka berbeda“Polisi berbakat yang gagal, yang pernah menjadi legenda, menganggap kematian keluarganya sebagai kesalahannya sendiri, menyia-nyiakan waktu 2 tahun.Dan kau disini menceramahi seorang jaksa,” kata Jaksa Jo. Ia lalu mempersilakan Jae In keluar, karena ia ingin bicara dengan Kim Dan.


Jae In meminta maaf karena sudah melakukan kesalahan. “Minta maaf itu gratis,” kata Jaksa Jo. Jae In bilang bahwa dia sudah sadar bahwa apa yang dia hadapi lebih mengerikan daripada yang ia pikirkan, kemudian pergi.


Jaksa Jo mendengar bahwa Kim Dan menangkap Sang Goo. Kim Dan bilang itu hanya kebetulan. Jaksa Jo bertanya apa yang dikatakan Sang Goo di saat terakhirnya, karena dia sangat ingin menyelesaikan kasusnya.


Kim Dan: “Tidak ada yang spesial. Nama. Memintaku mengingat sebuah nama.”
Jaksa Jo: “Nama apa?”
Kim Dan: “Nama Apollo.”


Jaksa Jo tampak terkejut, tapi kemudian dia bertanya, “Apa itu?” Kim Dan bilang ia tidak tahu. “Dia memintamu mengingat nama itu?” Kim Dan mengiyakan.


Jae In melepas foto daftar buronan Sang Goo dan sketsa wajah lainnya. Ia melemparkan itu semua, bahkan membanting meja yang ada di depannya. Ia melemparkan semua berkas sampai napasnya tersengal-sengal karena menahan amarah.


Jae In menemui teman-teman gelandangan dan berpamitan. Peramal sudah mendengar kalau pembunuh adik Jae In sudah mati. Jae In berterima kasih. Gelandangan tua berkata bahwa Jae In bisa datang kapan saja. Gelandangan wanita memberikan sayuran untuknya.


Gelandangan berkacamata memaksa memberikan dan memakaikan jaket emas miliknya kepada Jae In. Ia tidak peduli walaupun Jae In menolak. Ia juga mempersilakan Jae In untuk memberikan sambutan perpisahan.


“Usahakan selalu bertemu. Hutang Negara terus bertambah. Pertumbuhan ekonomi China tengah melemah. Ketidakpastian di dalam negeri, di luar pun resikonya besar,“ kata Jae In. Gelandangan wanita memberikan plastic sayurnya ke tangan Jae In dan mempersilakannya pergi.


Jae In memberikan sebuah ponsel kepada gelandangan peramal dan memberitahu bahwa nomor ponselnya ada di panggilan cepat. Ia meminta gelandangan peramal untuk menghubunginya kapanpun jika ada orang yang mengganggu mereka lagi.


“Olala.. Kalau butuh apa-apa, minta saja. Berhati-hatilah. Kulihat kau punya keberuntungan bagus bulan ini. Kau harus hati-hati dengan air,” kata gelandangan peramal itu. Jae In berpamitan dan pergi. “Usahakan jangan dekat air. Mengerti?” kata gelandangan itu lagi.


Jae In hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


Seorang bawahan Jaksa Jo datang dan memberikan sebuah berkas informasi pribadi yang diminta.


Jaksa Jo lalu memperhatikan foto Kim Dan dan data yang ada di hadapannya.


Seorang Polisi yang menjabat Pimpinan Universitas Kepolisian menyayangkan penampilan Jae In yang kumal dan mengajaknya agar kapan-kapan mereka berziarah bersama ke makam ayah Jae In. Ia juga sudah mendengar kalau Jae In membuat keributan di Kantor Polisi.


“Aku bilang tersangkanya bukan Han Sang Goo saja, tapi tidak ada yang percaya. Polisi Korea tidak melakukan penyelidikan,” kata Jae In. Pimpinan bilang itu karena mereka ingin melindungi organisasinya. “Anda sudah tua. Anda berbeda dari sebelumnya, dulu Anda suka mengamuk.”


Pimpinan mengakui bahwa umurnya sudah tua, kemudian menanyakan kasus So In. Jae In bilang ia baru menemukan satu bukti dan sudah tahu kalau So In sedang menyelidiki sesuatu. Pimpinan bilang saat terakhir kali bertemu, So In sangat gelisah tapi tidak memberitahukan ada apa. 


Jae In berkata, “Tidak ada petunjuk. Karena itu…”


Kim Dan datang ke tempat pembakaran mayat dan disana sudah ada Jaksa Jo. Mereka saling bertanya kenapa mereka datang. Jaksa Jo bilang tidak ada keluarga yang datang dan itu bukanlah pemakaman, tetapi hanya dicatat sebagai mayat. Karena itulah dia suka datang ke tempat itu.


Kim Dan berkata bahwa dia sendiri tidak tahu apa alasannya datang kesana. Ia mengakui bahwa hingga mati pun, ia tidak bisa memaafkan Sang Goo.


Kim Dan mengingat saat-saat terakhir Sang Goo yang berkata, “Popeye… menunggumu.”


“Sebetulnya apa maksudnya?” tanya Kim Dan dalam hati.


Jaksa Jo dan Kim Dan lalu melihat abu Sang Goo ditaruh di tempat pengumpulan abu. Lalu petugas itu pergi


Saat meninggalkan krematorium, Kim Dan menyebut Jaksa Jo lebih manusiawi dari perkiraannya, karena sering datang kesana hanya untuk melihat mayat yang tidak diklaim dikremasi. Jaksa Jo bilang itu karena saat kecil, ia pernah mengalami kelaparan.


“Salju turun,” kata Kim Dan. Jaksa Jo bilang ia selalu merasa lapar begitu melihat salju turun, karena butiran salju seperti nasi. “Benar, alangkah senangnya kalau ini nasi.” Jaksa Jo menatap Kim Dan.


“Jadi, kapan kau ada waktu? Ayo makan malam,” ajak Jaksa Jo. Kim Dan terdiam.


Seorang berpakaian Polisi datang dan beberapa orang memberi salam padanya. Ia kemudian masuk ke ruangan tim Kim Dan.


Sung Ki dan lainnya sangat terkejut, karena Jae In datang dengan pakaian resmi Polisi. Jae In melepas kacamatanya, lalu berjalan mendekati Atasan. Kim Dan juga hampr tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Hanya Do Hoon yang terlihat senang saat melihat Jae In. “Seonbae..” sapanya.


“Aku Chun Jae In. Hari ini kembali ke Tim Bareskrim,” kata Jae In kepada Ketua Tim lalu memberi hormat. Detektif lain bertanya kepada Ketua Tim kenapa Jae In ada disana. “Aku juga tidak tahu. Surat pengunduran diriku tidak diterima.”


Jae In: “Karena itu.. aku ingin menangkap orang itu. Aku ingin kembali. Tolong bantu aku kembali.”
Pimp: “Kalau itu aku tidak bisa bantu. Tak terlena dengan kenyamanan, itu prinsip. Tapi.. surat pengunduran dirimu belum diterima. Untuk jaga-jaga. Haha..”


Jae in mengatakan pada yang lainnya bahwa kasus Sang Goo akan kembali diselidiki oleh tim itu. “Tim ini? Tim kita?” tanya Sung Ki pada Kim Dan. Detektif lain memprotes bahwa kasus sudah ditutup. Jae In mengatakannya bahwa ia sudah melaporkannya pada atasan.


“Hei, Chun Jae In. Jangan berlebihan,” kata Ketua Tim. Jae In bilang kelinc yang terusik pun akan menggigit. Dia juga mengatakan bahwa dia akan bekerja selayaknya Polisi. “Bocah sombong.”


“Seonbae, aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi,” kata Do Hoon. Sung KI berkata bahwa sangat disayangkan jika bakat hebat Jae In terkubur begitu saja. Jae In hanya tersenyum dan mengajak timnya bekerja dengan baik.


Kim Dan terus menatap Jae In dan belum mengatakan apapun sejak Jae In datang. Jae In melihat Kim Dan menatapnya dan pura-pura sibuk, tapi tidak bertahan lama.


Jae In: “Apa? Kenapa?”
Kim Dan: “Pakai seragam begini, dibilangnya apa, ya? Aku ya begini ini.”
Jae In: “Aku sering dengar orang bilang begitu  Bahwa ketampananku tidak terbantahkan. Kuharap kau bisa membedakan urusan pribadi dan pekerjaan.”


Kim Dan bilang kulit Jae In terlihat kuning dan menduga livernya terganggu.  Jae In tidak peduli dan meminta berkas Sang Goo. “Ya!” jawab Kim Dan.


Jae In bilang apa hanya itu saja berkas tentang Sang Goo. “Ada di kamarnya. Aku akan mengambilnya,” kata Kim Dan.


Pria berjas biru membereskan semua barang Sang Goo yang ada di kamarnya.


Kim Dan membanting teleponnya dan berkata, “ Kamarnya Han Sang Soo baru saja dibersihkan!” Jae In bertanya dimana tempatnya. “Tempat pembakaran di gereja!” Mereka berdua bergegas pergi.