Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 4 Part 2
Pria berjas biru sudah mulai membakar barang-barang Sang Goo.


Kim Dan lalu datang dan bertanya apa yang terjadi. Pria berjas itu menunjuk tong besi yang digunakan sebagai tempat pembakaran. Kim Dan langsung menendang tong itu. Dibantu Jae In, Kim Dan berusaha mengeluarkan semua barang yang ada di tong itu.


“Save!” kata Kim Dan ketika berhasil menemukan buku So In.


Buku berjudul Kenapa aku mencintaimu karya Alain de Botton milik So In sudah sebagian terbakar cover-nya.


Jae In membuka halaman buku itu, dan selembar kertas jatuh dari dalam buku itu.


Ia lalu mengambil kertas yang terjatuh itu dan melihat sayembara berhadiah 50 juta won jika berhasil menemukan anak perempuan bernama Lee Soo Yi. Jae In ingat bahwa rekan kerja So In mengatakan bahwa So In sedang mencari anak hilang. “Anak hilang?” tanya Kim Dan.


Jae In membalik kertas itu dan terdapat tulisan ‘Byeol temukan Popeye. Apollo’.


Jae In mengingat saat Sang Goo yang sekarat berkata pada Kim Dan, “Byeol, jangan lupa. Namanya… Popeye menunggumu.”


Jae In bergumam bahwa Popeye benar-benar ada. Sementara itu, Kim Dan melihat selembaran anak hilang itu dan berkata, “Ini aku.” Ia mengeluarkan foto masa kecilnya.


Jae In: “Kenapa So In mencari anak yang wajahnya mirip sepertimu? Ada lagi. Bagaimana kau tahu tentang nama Apollo? Siapa Popeye? Sebenarnya kau ini siapa?”
Kim Dan: “Aku tidak tahu. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Jae In: “Saat usia 7 tahun, apa kau pernah hilang?”


“Tidak! Bukan… Sebetulnya, aku tidak ingat sama sekali,” kata Kim Dan bingung.


Jaksa Kook bertemu dengan Pastor Wang dan Tuan Baek di sebuah kedai sederhana. Tuan Baek bertanya apakah pemilihan Jaksa Kook berjalan lancar, karena dimana-mana ia mendengar orang membicarakan Jaksa Kook. Jaksa Kook merendah dan mengatakan bahwa ia hanya ingin memenuhi keinginan orang. Rupanya ia sudah beralih menjadi politisi.


Tuan Baek bertanya kenapa Jaksa Kook memilih tempat yang sederhana, padahal tadinya ia mau mengundangnya ke hotel mewah. Jaksa Kook bilang tidak masalah, karena tempat itu sudah berdiiri 40 tahun.


Pastor Wang bertanya bagaimana keadaan A Hyun. “Baik, berkat Anda semua,” kata Tuan Baek tidak seceria sebelumnya. Pastor Wang lalu menanyakan tentang kakak gadis yang mati yang ia dengar sudah menjadi gila. “Iya, Chun Jae In. Seorang Polisi. Dia mengejar Han Sang Goo selama 2 tahun. Selain itu, dia sudah kembali bertugas di kepolisian,” kata Tuan Baek.


Jaksa Kook bilang mereka tidak perlu menghalangi Jae In menjadi Poliis lagi, karena ia yakin Jae In akan hancur dengan sendirinya. Tuan Baek bertanya bagaimana jika Jae In menggali tentang masa lalu mereka.


Pastor Wang berkata bahwa jika mulut tertutup rapat, maka orang bisa bertahan dan yang tidak bisa menutup mulutnya akan binasa. Ia meminta Tuan Baek menjaga bicaranya.


Kim Dan pulang ke rumah dan langsung membuka album fotonya. “Ayah, apa aku pernah hilang?” tanyanya. Ho Ki bertanya apa maksudnya. “Tadi aku melihat iklan anak hilang. Dia mirip aku. Namanya… So Yi”


Ho Ki sangat terkejut dan terpaksa berbohong  dengan berkata berkata bahwa itu mungkin hanya mirip. Ia menambahkan bahwa Kim Dan hanya pernah hilang satu kali di kolam renang.  Kim Dan sangat lega mendengarnya.


Kim Dan lalu bertanya apakah dulu dia selalu dipakaikan baju laki-laki karena ayahnya ingin anak laki-laki. Ho Ki bilang ada pepatah ‘ganti kelamin agar bisa hidup’ dan ia ingin Kim Dan tumbuh sehat. Kim Dan bilang hal semacam itu hanya takhayul.


Ho Ki bilang kalau Kim Dan sakit-sakitan sejak lahir, jadi entah takhayul atau tidak, dia harus ettap melakukannya. Kim Dan meminta Ho Ki menceritakan masa kecilnya. “Kalau kau minum susu, kau muntah dan menangis. Semua foto yang diambil waktu itu hanya boneka dekil. Sangat disayangkan hilang ketika kita pindah,” kata Ho Ki.


“Foto sebelum 7 tahun hanya ini. Apakah kebetulan album fotonya hilang?” tanya Kim Dan dalam hati. Tapi kemudian ia tertawa, agar ayahnya tidak khawatir.


Keesokan harinya Jae In bertanya apa yang dikatakan ayah Kim Dan. “Jelas bukan aku. Penculikan, diculik, hilang, sama sekali tidak pernah. Dan tentang foto yang mirip itu adalah Doppelganger,” kata Kim Dan dengan sangat yakin.


Jae In: “Maksudmu di belahan dunia lain, ada seseorang yang mirip sepertimu?”
Kim Dan: “Ya. Kau tahu Goethe? Seorang penulis dari Jerman. Ketika masih muda, dia bertemu dengan doppelganger-nya. Kubaca di autobiografinya. Tapi katanya jika 2 doppelganger bertemu, maka salah satunya akan mati.”


Jae In bilang bisa diperiksa DNA-nya dan dia tidak mau saat Kim Dan menyodorkan aplikasi untuk menemukan doppelganger. Kim Dan yakin anak yang hilang itu berasal dari keluarga kaya, karena imbalannya 50 juta won pada tahun 1993.


“So In mencari anak hilang. Kenapa anak itu mirip denganmu? Kim Dan,” kata Jae In dalam hati. “Ayo!” Kim Dan bertanya kemana mereka akan pergi. “Menyelidikinya.”


Kim Dan dan Jae In menuju tempat yang sangat jauh, sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah Kantor Polisi kecil. Petugas setempat mengambil berkas, tapi catatan penyelidikan yang diminta mereka tidak ada.


Jae In mengecek bahwa halaman terakhir berkas itu disobek.


Jae In menanyakan dimana Polisi bernama Kang Cheol Gu yang menangani kasus itu. Petugas itu bilang Cheol Gu sudah meninggal beberapa tahun lalu.


Kim Dan menghubungi nomor Kim Seon Ja yang tertera di berkas itu, namun nomor itu tidak bisa dihubungi. Jae In meminta alamat wali Kim Seon Ja pada petugas itu. Petugas mencatat namanya, lalu pergi ke ruang arsip.


Jae In menunjukkan bekas robekan itu pada Kim Dan. Kim Dan merasa heran karena ada yang berani menyobek catatan penyelidikan.


Polisi kembali dan memberikan alamatnya. Tertulis di kertas itu Jollanamdo, Namdong-gun, Jami-myeon, Pulau Jami-do.


Jae In: “Terima kasih. Ah, apa mungkin 2 tahun lalu, ada reporter wanita kesini? Dia mencari anak yang sama.”
Polisi: “Ah, aku ingat reporter itu, Dia bilang mau ke pulau itu.”


“So In, sebetulnya apa yang kau lakukan?” gumam Jae In yang sudah berada di atas kapal. Ia menyesal, karena saat itu tidak mau mendengarkan So In .


Jae In lalu muntah karena mabuk laut, sedangkan Kim Dan menatap laut dengan sangat tenang.


Pulai Jami-do, hari ke-1


Jae In sangat lega, karena sudah mencapai daratan. Ibu-ibu setempat meminta bantuannya untuk menurunkan barang dari kapal. Kim Dan juga ikut membantu. Jae In lalu menanyakan tentang Kim Seon Ja pada mereka.


Seorang wanita mengatakan bahwa Seon Ja dari Wolguk sudah bertahun-tahun tinggal disana. Wanita di sebelahnya mengatakan bahwa Seon ja berselingkuh dengan suami orang, jadi tidak tahu ada dimana. Mereka mengatakan bahwa Seon Ja tidak punya anak dan dia mati otak setelah menyelam mencari kerang.


Kim Dan menunjukkan foto Soo Yi, tapi mereka bilang tidak pernah melihatnya. Jae In bertanya dimana pemukiman Wolguk. Wanita berbaju hijau menunjukkan arahnya dan memberitahu rumahnya beratap merah, tapi pasti sudah kosong. 


Seorang pria mengatakan bahwa itu kapal terakhir hari ini, jadi mereka harus segera naik. Jae in bilang jika tidak ada kapal lagi, maka mereka akan menginap. Pria itu mengatakan bahwa tempat itu tidak akan nyaman bagi anak muda, tapi Jae In bilang itu tidak masalah.


Jae In bilang ia sedang menguji reaksi penduduk setempat. Ia melarang Kim Dan menoleh ke belakang dan berjalan saja.


Benar dugaan Jae In. Ekspresi ketiga orang itu berubah menjadi sangat serius.