Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 4 Part 4
Nenek pemilik penginapan ditemukan tewas di tepi laut.


“Hidungnya berbusa. Pergelangan tangannya memar. Dadanya membengkak. Ini ciri-ciri mati tenggelam,” kata Jae In. Kim Dan bertanya apakah itu karena terpeleset. “Belum dapat dipastikan.”


Wanita 1 mengatakan bahwa nenek sering ke tepi laut untuk bermain air. Kim Dan bertanya apakah nenek seorang penyelam. Pak Kim, anak nenek, mengatakan bahwa nenek melakukannya sejak kecil dan setiap pagi selalu pergi keluar. Jae In lalu menemukan luka di kaki nenek yang terjadi setelah kematian.


Wanita 2 membawa kepiting batu yang suka mencapit binatang lain atau orang yang sudah mati. Jae In mengambil kepiting itu, lalu mencapitkannya ke tangannya sendiri.


Jae In menyamakan bekas luka di tangannya dengan yang ada di kaki nenek. Ia kemudian bertanya dimana kepiting batu itu hidup. “Kalau siang bersembunyi. Saat laut surut baru keluar. Dengan begitu, bisa mudah ditangkap dan dimasak sup. Juga dibuat gejang,” kata wanita 2.


Kim Dan yang pertama kali menemukan mayat satu jam yang lalu dan dia pergi masuk ke air untuk menunjukkan lokasi tepatnya dia menemukan mayat nenek. “Seonbae! Disini! Disini!” Jae In hanya menoleh sebentar, lalu sibuk lagi dengan mayat nenek. “Sialan.”


Wanita 1 mengatakan bahwa pasang mulai sekitar jam 4 pagi. Ia lalu menunjukkan lokasi yang pasangnya paling tinggi.


“Air pasang. Nenek terpeleset? Tubuhnya mungkin sudah terbawa ombak, tapi tubuhnya tetap ada disana. Kemungkinan nenek mati sekitar jam 4 pagi.,” Jae In berpikir dalam hati.


Jae In lalu mengamati kaki nenek. Ia lalu menarik kaki Kim Dan berkata, “Sepatunya tidak ada.” Ia menduga bahwa tubuh nenek dipindahkan. Ia lalu bertanya pada Pak Kim apa yang dilakukannya setelah jam 4 pagi.


“Tentu saja tidur. Lampu ahjumma itu kuperbaiki. Pulang jam 11. Lalu memastikan ibu sudah tidur apa belum ,” kata Pak Kim. Jae In menanyakan dimana penduduk lain saat itu.


Kepala Desa: “Menurutku dia tenggelam. Maksudmu kau meragukan kami?”
Jae In: “Ini prosedur umum.”
Kepala Desa: “Setelah minum makgeolli aku tidur.”
Wanita 1: “Aku besoknya kerja di ladang.”
Wanita 2: “Aku juga tidur.”


Jae In berpikir bahwa walaupun ia sudah menanyakan alibi mereka, tapi ia belum bisa memastikan kebenarannya. “Aku mau melakukan otopsi. Ada hal yang membuatku khawatir,” kata Jae In pada Pak Kim. Kim Dan bilang mereka hanya berusaha membantu. Kepala Desa setuju untuk otopsi karena dia bilang semua warga disana sudah seperti keluarga, termasuk si nenek. Warga lain juga setuju.


Hujan turun dengan lebat, ketika mayat nenek dibawa naik ke kapal, tapi tidak sengaja kain penutupnya terbawa angin. Saat akan menutupnya lagi, Kim Dan melihat ada sesuatu di mulut nenek. Ia mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah potongan kertas.


Jae In mengeluhkan sinyal yang hilang kemarin. Kepala Desa mengatakan bahwa antena pemancar disana memang tidak bagus dan dia sudah menghubungi pihak yang terkait yang harusnya datang siang nanti. Kim Dan lalu memanggil Jae In dan menyuruhnya segera naik ke kapal. Jae In bilang ia tidak akan pergi.


Kim Dan tetap menyuruhnya pergi, karena sinyal ponsel dan kapal juga tidak ada. Jae In bilang akan ada yang memperbaiki pemancar sinyalnya nanti siang. Kim Dan berbisik bahwa dia tidak mau berada disana. Jae In bilang nenek ingin memberitahu kenapa dia mati dan jika itu ada pembunuhan, maka pelakunya masih ada di pulau itu.


Kim Dan terpaksa turun dan membiarkan kapal itu kembali ke Seoul tanpa dirinya. 


Jae In menghubungi seseorang, “Dermaga Namjok. Ada mayat yang dikirim. Mati tenggelam. Kukirim untuk diotopsi. Tolong pastikan kepekatan plankton di paru-paru. Hubungi aku di nomor ini.” Kim Dan bertanya apakah Jae In memikirkan sesuatu. “Aku melihat seseorang secara kebetulan, saat aku mencari sinyal ponsel.”


Kim Dan melihat video orang memakai jas hujan dan payung berjalan di bawah hujan. “Wajahnya tidak terlihat. Siapa, ya?” kata Kim Dan. Jae In bilang waktu pembunuhan bertepatan dengan itu.”


Jae In melihat kerumunan warga yang sedang berkumpul. Ia yakin pelakunya ada di antara orang-orang itu. Kim Dan lalu mengingat sesuatu. Ia bilang ia menemukan potongan kertas di mulut nenek dan menunjukkannya pada Jae In.


Jae In: “Alkitab. Ini potongan Alkitab.”
Kim Dan: “Apa mungkin ini pesan kematian?”
Jae In: “Kau kira kita lagi main film ‘The Da Vinci Code’? Itu dari novel misteri. Kalau terjadi apa-apa, masuk akalnya menghubungi 119 dulu.”


Mereka berdua kemudian pergi ke kamar nenek untuk mencari Alkitab, tapi mereka tidak bisa menemukannya dimanapun. Jae In mengeluh kenapa nenek itu memakan banyak permen karet. “Oh, ini harus dimiliki penyelam. Permen karet? Kau tidak tahu? LIhatlah. Dikunyah seperti ini, lalu disumpalkan ke telinga sebelum masuk ke air. Supaya air tidak masuk ke telinga,” kata Kim Dan.


Jae In lalu heboh sendiri, ketika menemukan bubuk putih dan menduga itu heroin. “Oh, ini obat saat menyelam. Saat lama menyelam, karena stres, kepala akan pusing. Jadi minum obat ini agar baik-baik saja,” kata Kim Dan. Jae In bertanya darimana Kim Dan tahu. “Lihat di TV.”


“Ah, ini guci putih, hahaha..” kata Jae In tidak mau kalah. “Ya, zaman dulu ini jadi simbol umur panjang. Terlihat seperti karya amatir. Harganya pasti 7000 sampai 10..000 won.” Ia lalu mengetuk-ngetuk guci itu.


Pak Kim datang meminta Jae In tidak menyentuh guci itu, lalu mengambilnya. Ia bilang itu adalah guci dewa milik ibunya. Jae In bertanya apa itu guci dewa. “Semacam kepercayaan masyarakat yang tinggal di pulau ini. Semacam penjaga dan pelindung rumah,” lagi-lagi Kim Dan lebih tahu. Jae In merasa heran. “Ada di komik.”


Kim Dan lalu bertanya apakah keluarga Pak Kim punya Alkitab dan suka pergi ke gereja. “Tidak punya. Disini tidak ada gereja. Lagipula ibuku tergila-gila dengan takhayul. Semua di rumah ini didedikasikan untuk dewa. Ibu rutin melakukan ritual,” kata Pak Kim. Jae In ingin melihatnya.


“Yang ini adalah Jo Wang (Pelindung api),” tunjuk Pak Kim.


Mereka membukanya dan isinya adalah air dalam baskom yang dibungkus kain.


Mereka lalu menuju ruangan lain dan melihat ada jimat terpasang di dinding atas.


“Ini Sam Shin (Dewa  pelindung kesehatan anak-anak), dewa yang melindungi kesehatan dan umur panjang,” kata Pak Kim.


“Yang ini Teoju. Secara harafiah, itu adalah Dewa pelindung rumah,” kata Pak Kim di luar rumah.


Jae In membuka jerami itu dan menemukan sebuah kendi yang ditutup batu cukup besar.


Sementara itu, Kim Dan bertanya pada Kim apakah tidak ada yang mencurigakan. Pak Kim bertanya a pakah ibunya benar-benar dibunuh, tetapi Kim Dan bilang itu belum dapat dipastikan. Kim Dan lalu bertanya kenapa saat ia datang pertama kali, Pak Kim memberinya peringatan agar pergi dari pulau itu. “itu karena… Itu tak ada kaitannya dengan ibuku. Maaf, nanti kau akan tahu,” kata Pak Kim sambil melihat warga yang berkumpul di depan rumahnya.


Beberapa warga berkumpul dan berdiskusi di dinding luar rumah Pak Kim.


Jae In bertanya seperti apa Kepala Desa mereka. Pak Kim bilang tidak mungkin Kepala Desa berbuat jahat, karena dia selalu memberi makan lansia tiga kali sehari. “Kim Sajang,” panggil Kepala Desa dari luar dinding. Pak Kim memberitahu Jae In bahwa mereka sudah sepakat untuk mengadakan pemakaman ibunya besok.


Jae In heran mereka tidak punya Alkitab, tapi malah ada sobekan Alkitab di mulutnya. Kim Dan yakin nenek tahu tentang Soo Yi.


Jae In: “24 tahun lalu, cucu dari dukun menghilang. Nenek yang ingin memberitahu keberadaan gadis itu dan adikku yang mencari keberadaan gadis kecil itupun mati.”
Kim Dan: “Dan ahjumma walinya hilang.”
Jae In “Dan gadis itu… mirip denganmu.”
Kim Dan: “Oh, itu… Ayo kita pergi ke desa. Aku akan pinjam peta.”


Jae In bertanya apakah warga sedang menggali kuburan untuk nenek. “Semakin keras tanahnya, maka makin berat persiapannya,” kata Kepala Desa yang mengingatkan warganya agar segera menyelesaikan penggalian karena matahari akan tenggelam.


Kim Dan lalu datang dan menunjukkan peta desa yang sudah lama. Jae In bilang semakin banyak populasi disana. “Lihat ini. Ada gereja. Aku tanya pemiliknya katanya sekarang menjadi panti jompo,” kata Kim Dan. Jae In mengajaknya pergi kesana.


Dalam perjalanan mereka melihat sebuah reruntuhan. Kim Dan bilang ia dengar bahwa seseorang menghancurkan Dangjib, tempat memuja dewa, itu. Ia bilang tempat itu digunakan untuk persembahan saat panen dan banyak tempat yang dipilih sebagai cagar budaya. Jae In bertanya darimana Kim Dan tahu tentang itu. Kim Dan bilang itu ada di pelajaran sejarah dan geografi saat sekolah.


Kim Dan lalu melihat anak-anak bermain Ggodaegak Sinuli, yaitu permainan rakyat dimana yang berdiri di tengah akan kerasukan hantu dan meramal.


Soo Yi lalu membuka penutup matanya, karena teman-temannya menyebutnya berbohong dan hantu tidak datang. Ia kemudian mulai mendengar suara-suara. 


“Nak, kau bisa melihatku? Nak, mainlah denganku. Kau bisa melihatku? Ayo, main dengan ahjussi. Nak.” Soo Yi mendengar suara-suara tertawa dan membuatnya sangat ketakutan.


Nenek Soo Yi datang dan melemparkan kacang, sehingga anak-anak dan hantu pergi. Nenek melarang Soo Yi bermain permainan yang berhubungan dengan hantu. Soo Yi bilang anak lain boleh melakukannya. Nenek membelai rambut Soo Yi dan berkata bahwa Soo Yi tidak boleh melakukan itu.


Nenek: “3 hantu sudah datang. Kalau ada hantu merasukimu, akan ada bencana besar.”
Soo Yi: “Tamu hantu itu apa?”
Nenek: “Arwah penasaran yang mengharapkan kematian.”


“Seperti itu,” kata nenek sambil melihat Dangjib yang dulu masih utuh. Soo Yi lalu memeluk neneknya.


Jae In bertanya apa yang Soo Yi pikirkan dan bertanya apakah loncengnya berbunyi.  Dalam hatinya Kim Dan berpikir bahwa lonceng itu tidak berbunyi. “Tunggu sebentar. Mungkin… Gadis yang hilang itu… Bukan apa-apa. Ayo pergi,” kata Kim Dan.


2 komentar

Terima kasih sinopsisnya. Ditunggu kelanjutannya

dibtunggu kelanjutan ny min,,,