Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 5 Part 1
Jae In dan Kim Dan akhirnya sampai di tempat yang dulu dijadikan gereja dan sekarang menjadi panti jompo.


Jae In melihat ada CCTV di gerbang itu. Mereka kemudian masuk ke dalam gedung.


“Seperti panti jompo biasa,” kata Kim Dan setelah melihat beberapa orang jompo sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jae In tidak setuju, karena ia melihat ada 5 CCTV yang bisa ia lihat dari tempatnya berdiri.  


Seseorang mengawasi mereka berdua dari ruang pengawas.


Pengawas itu melarang mereka masuk karena itu adalah area pribadi. Ternyata dia adalah orang yang sebelumnya pergi ke gunung sambil membawa senjata. Kim Dan menceritakan tentang nenek penginapan yang meninggal. “Apa hubungannya denganku?” tanya pria itu. Jae In lalu bertanya tentang gereja yang dulu ada disana.


“Sudah lebih dari 20 tahun tempat ini beralih fungsi,” kata pria itu. Jae In lalu bertanya kenapa banyak sekali CCTV padahal tempatnya kecil. “Untuk situasi darurat. Panti jompo dan rumah sakit kan berbeda. Tenaga medis tidak bisa sewaktu-waktu membantu.” Pria itu menolak Jae In masuk dengan alasan ketenangan para jompo.


Kim Dan bilang mereka tidak punya surat penangkapan atau perintah, jadi tidak bisa memaksa masuk. Tapi Jae In lebih memperhatikan cara berjalan pria tadi. “Tunggu sebentar,” kata Jae In dan pria itu pun menoleh.


Jae In menyebut cara jalan pria itu unik karena panjang kedua kaki berbeda. Ia bilang cara berjalan terkadang bisa seperti sidik jari. Ia bilang ia bertemu dengan orang dengan cara berjalan yang sama tepat sebelum dan sesudah pembunuhan.


Jae In menunjukkan rekaman pria berjas hujan yang ada di ponselnya dan mengatakan bahwa cara jalannya sama dengan pria itu. Pria itu bersikeras bahwa semalam dia ada di panti jompo. Jae In bilang ia bisa membuktikannya dengan CCTV yang ada disana.


Jae In menanyakan alasan pria itu pergi keluar pada waktu tersebut. Ria itu tampak menahan amarah. Ia juga menanyakan alasan kenapa pria itu berbohong tadi. Jae In bertanya apakah pria itu yang membunuh nenek. 


Pria itu bilang bukan dia pelakunya, tapi dia tidak mau mengatakan alasannya datang ke penginapan. Kim Dan berusaha membujuknya dengan mengatakan bahwa nenek itu meninggal dengan cara yang tidak adil, tapi tidak berhasil.


Jae In bilang ia punya bukti bahwa pria itu membunuh nenek. Pria itu berusaha merebut kertas yang ada di tangan Jae In, namun tidak berhasil.


Jae In bilang hasil otopsinya akan segera keluar, dan mereka akan bertemu lagi nanti. Mereka berdua lalu pergi.


Kim Dan merasa penasaran bukti apa yang Jae In tunjukkan tadi, karena robekan alkitab ada padanya. Jae In mengeluarkan kertas tadi yang ternyata adalah tiket kapal.


Kim Dan menyebutnya tidak tahu malu, tapi Jae membela dirinya dengan mengatakan bawha itu manajemen mengatasi keadaan kritis. Jae In bilang pria tadi adalah tersangka pertama.


Dokter memberitahu bahwa penyebab kematian nenek penginapan adalah tenggelam. Do Hoon bertanya apakah nenek itu tenggelam di laut, lalu mati. Dokter bilang walaupun nenek tenggelam, tapi tidak ada air di paru-parunya.


Jae In dan Kim Dan sedang sibuk mencari sinyal. Jae In mengeluh bahwa walaupun di desa terpencil seharusnya sudah ada sinyal, karena ini sudah abad 21. Kim Dan juga merasa bingung, karena seharusnya menara jaringan sudah diperbaiki. Jae In menyadari sesuatu, lalu mengajak Kim Dan pergi.


“Cepat angkat teleponmu, Sunbae,” kata Do Hoon cemas.


Jae In melihat kabel jaringan yang terpotong. Kim Dan tadinya mengira jaringan terganggu karena hujan. Jae In bilang pelakunya bisa jadi komplotan pembunuh yang bisa berasal dari staf panti jompo. Ia bilang mereka harus memberi tahu warga.


“Maaf, aku tak mengira akan ketahuan. Iya, tidak, tidak. Aku tidak bilang apa-apa,” kata tersangka di telepon.


Ternyata tersangka itu sedang bicara dengan kepala desa yang kemudian menyuruh tersangka untuk menembak Jae In dan Kim Dan.


Tersangka buru-buru pergi ke gudang dan mengambil senapannya.


Kepala desa ternyata membuat lubang kuburan untuk Jae In dan Kim Dan. Ia menyuruh warganya untuk menyelesaikan lubang itu, karena matahari akan segera terbenam.


Saat hampir sampai di sekolah yang mereka tuju, Kim Dan melihat seorang anak kecil berbaju merah, Soo Yi. Tapi, Jae In tidak melihat apapun dan bilang bahwa tidak ada anak kecil di pulau itu. Kim Dan ingin memastikannya sendiri. Mereka lalu masuk ke bangunan bekas sekolah itu.


Ketika Kim Dan melihat Soo Yi lagi, dia mengikutinya. Sedangkan Kim Dan masih melihat-lihat bagian dalam gedung.


Kim Dan kemudian berhasil menemukan Soo Yi yang berdiri di depan sebuah dinding dan menoleh ke arahnya. Setelah beberapa saat bertatapan, Soo Yi menghilang.


Di sudut lantai koridor kelas, Jae In menemukan sesuatu.


Kim Dan membersihkan ranting dari dinding itu dan menemukan tiga gambar anak kecil dengan nama Apollo, Byeol, dan Popeye.


“Salib ini pernah kulihat dimana ya? Apa mungkin...” gumam Jae In.


Kim Dan bermimpi melihat Popeye selalu memberi Soo Yi camilan bintang yang rasanya enak. “Camilan ini manis. Air mata dan ingus rasanya asin,” kata Soo Yi alias Byeol.


Popeye menghapus air mata Soo Yi dan berkata bahwa jika sudah besar, Soo Yi akan selalu manis setiap hari. Soo Yi menanyakan alasannya. “Karena aku akan menjadi master super,” kata Popeye.


“Aku akan jadi kartunis,” kata Apollo yang tiba-tiba datang. Mereka bertiga lalu makan camilan bersama lalu menggambar.


Ternyata yang menggambar semuanya adalah Apollo alias Han Sang Soo, dan kedua sahabatnya ikut membantu mewarnai. Sedangkan, yang memberi nama adalah Popeye


Kim Dan menyadari sesuatu. “Itu semua...ingatanku?” gumamnya. Jae In lalu datang menghampirinya.


Jae In menunjukkan salib yang sama dengan yang ada di persembunyian Han Sang Goo.


Pastur Wang sedang mengisi khotbah di gereja. Ia mengatakan bahwa orang-orang yang akan mendapat berkah dari Tuhan adalah orang yang suka berbagi. Ia menceritakan tentang jas yang dipakainya sejak 23 tahun lalu yang jika melihat harganya pada waktu itu adalah 100.000 won saja.


Tapi kemudian, Ah Hyun berbisik pada Jaksa Jo bahwa sepatu Pastur Wang adalah buatan tangan dan harganya 20 juta won.


Melihat Jaksa Jo terus melihat sepatu Pastur Wang, Ah Hyun menawarkan akan membelikannya untuk Jaksa Jo. “Aku akan membelinya sendiri. Aku akan menunggu berkahku sendiri,” kata Jaksa Jo.

2 komentar

Semangat unnie, dramnya bagus... Seru banget.... 😆😆😆😍😍😍

Lanjut mba makin penasaran critanyah.... :)