Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 5 Part 2
JaeIn mengejek gambar yang ada di dinding seperti lampu merah anak-anak, tapi kemudian Kim Dan memberitahunya bahwa itu adalah gambar Apollo, Byeol, dan Popeye. “Han Sang Goo dan Popeye tinggal disini?” kata Jae In. Kim Dan mengiyakan. “Kita datang ke pulau ini bukan kebetulan. Semua ada kaitannya. Semuanya ada disini.”


“Aku tahu.. gadis kecil itu siapa,” kata Kim Dan. Jae In terkejut dan bertanya siapa dia. “Anak perempuan itu... Soo Yi..” Tiba-tiba ada yang menembak ke arah mereka. Mereka berdua buru-buru melarikan diri.


“Dimana kalian,detektif?! Hadapi aku!” kata si penembak. Jae In menyadari bahwa suara itu adalah suara staf panti jompo, tersangka pertama mereka. Ia menyuruh Kim Dan mengeluarkan pistolnya.


Tapi ternyata peluru pistol mereka kosong. Mereka penasaran siapa yang melakukannya. Sementara itu, tersangka menyuruh mereka keluar dengan alasan ingin mengatakan sesuatu. Ia bertanya siapa yang menyuruh mereka datang ke pulau itu dan menembak lagi.

Jae In mengatakan bahwa tersangka menembak dengan senapan angin berjarak tembak 80 meter dan sudah menembak sebanyak 5 kali, tapi jarak dekat seperti itu, penembak terus meleset. Kim Dan mengambil kesimpulan bahwa tersangka sebenarnya tidak bisa menembak. “Atau dia hanya main-main. Sekarang, lari!” kata Jae In.


Staf gereja mulai mengumpulkan donasi dari para jemaat.


Ayah Ah Hyun memasukkan amplop ke kotak donasi dan terlihat tulisan ’12 juta won. BAek Do Gyu.’


Jaksa Jo memperhatikan Pastur Wang yang berharap Politisi Kook akan menjadi presiden. Ia juga melihat Tuan Baek bersalaman dengan Pastur Wang.


Amplop-amplop berisi uang tunai itu dikumpulkan menjadi satu oleh staf gereja, dihitung, lalu disimpan dengan rapi dalam dus.


Dus berisi uang itu kemudian dipindahkan dengan menggunakan mobil. Tapi kemudian mobil itu mengalami kecelakaan dan uang kertasnya berhamburan keluar. Masyarakat yang melihat itu, langsung memungut uang-uang itu.


Jaksa Jo melihat kejadian tiu. “Apel paling manis di dunia. Buah yang baik dan jahat,” gumamnya. Uang itu ternyata disimpan dalam dus bertuliskan Apel Taman Eden.


Tersangka berhasil menghadang Jae In dan Kim Dan, lalu menodongkan senapannya ke arah mereka. Jae In berusaha membujuk tersangka. Ia juga bilang bahwa jika ada polisi terbunuh, maka masalah akan semakin besar. Tersangka tidak peduli.


Tiba-tiba, Pak Kim datang dan menyerang tersangka dari belakang. Hingga akhirnya tersnagka dapat tertangkap. Kim Dan bertanya bagaimana Pak Kim bisa datang dengan cepat. “Staf panti jompo menelepon dan mengatakan salah satu staf membawa senapan dan mengejar 2 orang,” kata Pak Kim.


Para wanita yang mengenal tersangka sebagai staf panti jompo, merasa heran karena pria itu ditangkap.


Para wanita itu tampak sedang menanam, namun terlihat sebuah dus bertuliskan Apel Taman Eden, sama persis dengan dus uang milik gereja.


Polisi datang dan berusaha mengamankan TKP. Mereka bingung karena uang itu bukan berasal dari bank. Tapi tidak ada logo lembaga di mobilnya dan supirnya pun terluka parah.


Kim Dan mengikat tersangka di sebuah gudang. Kepala desa datang bertanya apa yang terjadi. “Dia pembunuh nenek. Dan kami pun hampir mati,” kata Jae In. Kepala desa bertanya kenapa etrsangka melakukan hal mengerikan itu.


Tersangka itu diam saja, walaupun kepala desa-lah yang menyuruhnya menembak Jae In dan Kim Dan.


Pak Kim datang dan mengabarkan bahwa Polisi akan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai disana karena ombak terlalu besar. Jae In bilang mereka harus menunggu kapal sampai besok. Jae In bertanya apakah ada yang menghubunginya. Karena Pak Kim bilang tidak ada, Jae In yang akan menelepon.


“Hasil otopsinya sudah keluar! Ya! Ya!” kata Do Hoon dengan suara keras karena disana sangat berisik. “Paru-parunya tidak ada air.”


“Bahannya apa? Ferium, Silikat, Fluorida Karbonat. Oke. Kami menangkap pelakunya. Kalian sibuk?,” kata Jae In.


Beberapa warga memperhatikan Jae In yang sedang menelepon.


Do Hoon bilang mereka sibuk karena ada mobil tidak teridentifikasi yang membawa uang kertas. “Saat aku tak ada disana, aku nomor 1,” kata Jae In.


Kim Dan bertanya pada Kim apakah ada baju ganti untuk mereka. Pak Kim lalu pergi untuk mengambilnya. “Aku tidak mau pakai kolor bunga-bunga! Tidak mau!” kata Jae In.


Setelah berganti pakaian, Jae In merasa sedang berada di jaman 80-an. Ia mengeluh, karena Kim Dan tampak normal-normal saja dengan pakaian itu. Kim Dan tertawa dan bertanya kenapa Jae In pakai topi segala. Jae In bilang ia khawatir hujan akan turun. “Aku tahu dimana TKP-nya,” kata Jae In yang kemudian menutup pintu.


Jae In: “Kau lebih dulu. Katanya kau tahu siapa anak perempuan ini?”
Kim Dan: “Byeol. Dikenal sebagai Byeol.”
Jae In: “Byeol itu nama panggilan? Seperti halnya Han Sang Goo yang dipanggil Apollo.”


“Itu nama camilan. Byeol, Apollo, Popeye. Semuanya,” kata Kim Dan. Jae In bertanya bagaimana Kim Dan bisa tahu. “Itu aku. Anak perempuan itu mungkin aku.”


Jae In terkejut. “Cucunya dukun? Sekarang jadi terbuka jelas. Tapi aku tidak sepenuhnya mempercayaimu,” kata Jae In. Kim Dan bilang Popeye harus ditemukan. “Diakah yang mengendalikan Han Sang Goo?” Kim Dan bilang ia belum tahu. “Tapi kenapa ayahmu berbohong? Bukankah dia bilang gadis itu bukan kau?”


Kim Dan mengingat mimpinya dimana ayahnya mencekik lehernya, tapi ia tidak menceritakannya pada Jae In. Ia hanya bilang kalau ayahnya pasti punya alasan. Ia lalu mengajak Jae In ke TKP yang tadi akan disebutkannya.


Ho Ki berusaha menghubungi Kim Dan, namun tidak ada jawaban.


Jae In mengajak Kim Dan ke sebuah sumur dan memberikannya minum dari sumur itu. Kim Dan bilang airnya agak bau, tapi lebih dingin dari air keran. Jae In bilang itu karena asam karbonat yang terproduksi secara alami ketika air melewati batu granit.


“Firium, Silikat, Fluorida Karbonat. Itu semua hasil dari otopsi,” kata Jae In. Saat tahu bahwa di sumur itu nenek tenggelam, Kim Dan berusaha mengeluarkan lagi air yang diminumnya. “Hei, bukan air yang kau minum, tapi air di sumur ini.”


Kim Dan lalu menemukan rambut nenek di dalam sumur. “Jadi, dibunuh disini. Lalu dibawa ke laut untuk disamarkan,” kata Kim Dan. Jae In bilang saat itu matahari hampri terbit, jadi tidak sempat untuk mengubur mayatnya.


Mereka mulai mencari-cari bukti yang lain. Jae In bilang jejak kaki dan sidik jari tidak berguna, karena itu fasilitas umum. “Belum pasti. Mungkin saja nenek menarih baju orang,” kata Kim Dan. Jae In memanggil Kim Dan mendekat. Ia meminta Kim Dan membenamkan kepalanya ke sumur itu. “Apa?”


“Anggap ini simulasi. Jangan bercanda, yang profesional. Yang kasar, meskipun aku meronta, jangan lepaskan,” pesan Jae In. Kim Dan bertanya apakah itu tidak masalah. “Kalau begini saja, tubuhku tidak akan terluka. Ayo.”


Kim Dan benar-benar membenamkan kepala Jae In tanpa ampun. Jae In meronta. “Aku tak peduli pada Sunbae!” kata Kim Dan. Jae In berhasil memberontak dan melepaskan diri sampai Kim Dan terlempar.


Jae In terbatuk dan mengatur napasnya. Ia kesal karena seharusnya Kim Dan melakukan itu setelah menghitung. Ia bilang ia dapat kesimpulan.


Dalam perjalanan kembali ke penginapan, Kepala Desa mengajak Kim Dan dan Jae In makan malam bersama. Kim Dan menolak dan akan pergi. Wanita 2 mengatakan bahwa penginapan berantakan dan tak ada yang bisa dimakan. “Beri aku makan,” kata Jae In lalu masuk lebih dulu.


Kedua wanita menyebut Polisi Seoul luar biasa setelah Jae In menceritakan penangkapan tersangka pembunuh nenek tadi. “Apa orang-orang ini mengetahui masa kecilku? Hal itu tidak ada dalam ingatanku” tanya Kim Dan dalam hati. Jae In menyuruhnya makan. “Sejak minum air tadi, tubuhku gatal-gatal.”


Wanita 2 melihatnya dan langsung tahu bahwa Kim Dan menyentuh ranting yang ada di sekitar sumur. “Ya, aku terjatuh. Karena seseorang mendorongku,” kata Kim Dan. Jae In menjauh karena takut tertular. Kim Dan malah mendekatinya. “Kenapa pohon itu ditanam disana?”


Kepala desa bilang pohon pernis itu adalah pestisida alami untuk membunuh serangga. Wanita 2 bilang Kim Dan cukup mencuci tangannya dan memberikan tumbukan rumput.


Jae In dan Kim Dan berterima kasih atas makan malamnya, lalu pergi. Mereka berpesan agar kedua detektif itu berhati-hati, karena sudah sangat gelap. Tapi kemudian mereka berubah menjadi serius.


Wanita 1: “Anda membiarkan mereka hidup?”
Kepala Desa: “Seperti yang dikatakannya, mungkin akan menyebabkan masalah besar. Biarkan berhenti di tangan Dong Hee. Kita bereskan saja.”