Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 6 Part 1

Kim Dan masih menggaruk tangannya yang gatal. Jae In menyuruhnya masuk ke penginapan lebih dulu, sedangkan dia akan pergi ke tempat lain. “Mau kemana?” tanya Kim Dan, tapi Jae In tidak memberitahunya.


Jae In ternyata pergi ke gudang tempat Dong Hee ditahan. Dong Hee menanyakan keperluannya. Jae In membuka kedua sarung tangannya dan berkata, “Kalau kau tidak keberatan,  bisa kau lepaskan bajumu?”


Dong Hee merasa khawatir dan berusaha melindungi dirinya. “Kau mau apa?” Jae In bilang ia bukan orang semacam itu. Dong Hee masih cemas.


Di penginapan, Kim Dan menelepon ayahnya dan memberitahu bahwa jaringan komunikasi bermasalah dan dia baru akan kembali ke Seoul besok. Ia ingin menanyakan sesuatu, tapi tidak jadi. 


Jae In mendengar pembicaraan Kim Dan, lalu pergi lagi.

“Sebenarnya aku ini siapa, ayah?” tanya Kim Dan setelah menutup teleponnya.Ia menarik napas berat.


Jae In pergi ke sawah untuk mencarikan tanaman untuk gatal-gatal yang dialami Kim Dan, tapi ia malah menemukan hal lain.


Ia menemukan dus yang dikubur para wanita desa siang tadi. Dan melihat tumpukan uang kertas di dalamnya. Ia berteriak.


Jae In datang ke kamar Kim Dan membawakannya tumbukan tanaman. Kim Dan merasa terharu karena Jae In menggali dan menumbuk tanaman itu untuknya. Jae In masuk dan berkata, “Baru saja aku melihat...” Ia menceritakan apa yang terjadi tadi.


“Sebetulnya siapa yang kita lawan?” tanya Kim Dan penasaran. Jae In bilang ia juga tidak tahu, tapi pasti lebih besar dari dugaan mereka. Ia lalu mengajak Kim Dan memainkan sesuatu.


Pulai Jami-do hari ke-3.


Seorang dukun pura-pura kesurupan. “Aigoo, kepalaku, pinggangku, kakiku. Kau pulanglah. Ambil bubuk obat di rumah,” katanya pada Kim. “Hei, tunggu apa? Aku harus mencari rumput laut.”


Pak Kim meminta ibunya tidak pergi ke laut lagi dan sudah saatnya pergi ke tempat yang lebih baik. Akhirnya dukun itu setuju untuk pergi.


“Tunggu sebentar. Nenek tahu aku kan?” kata Jae In. Dukun itu kebingungan. “Kemarin Anda mengambil sepatuku, lalu kabur.” Pak Kim mendorong Jae In pergi. “Tunggu. Baru kali ini aku melihat orang kerasukan. Nenek, siapa yang membunuh Anda? Katakan apa yang terjadi sebelum nenek meninggal. Siapa pelakunya? Biar aku yang menangkapnya.” Pak Kim menarik Jae In menjauh.


Kepala Desa lalu memberi kode pada dukun untuk melanjutkan acara.


Dukun itu lalu menunjuk ke arah gudang untuk menunjukkan siapa pembunuhnya.


Jae In pergi ke arah yang ditunjuk dukun, lalu membawa Dong Hee keluar. “Orang ini?” tanya Jae In. Kepala Desa memintanya berhenti mempermainkan orang mati. “Bukan begitu. Karena itu bukan arwah nenek.” Ia bilang Dong Hee bukanlah pelakunya.


Kim Dan lalu mengambil alat ritual dan memainkannya. Ia pura-pura bicara dengan arwah nenek yang tidak terlihat oleh orang lain. “Ya, nenek. Dingin ya? Bukan laut? Tapi sumur?” Kim Dan memulai dramanya. “Kepala Anda dibenamkan di sumur? Oleh siapa? Hei, mana mungkin. Tidak mungkin.”


Jae In ikut bertanya siapa pelakunya. “Dia.. nenek bilang, orang itu,” tunjuk Kim Dan pada Pak Kim. Warga yang lain tidak percaya. “Coba saja buka bajunya. Akan terlihat kulitnya mengalami alergi.”


Jae In membuka lengan baju Pak Kim dan menemukan ruam disana. “Sepertinya kau ke sumur itu da terjatuh,” kata Jae In. Pak Kim bilang ia hanya mengambil air dan terjatuh.


“Katanya kau membaca Alkitab? Lalu kalian bertengkar?” kata Kim Dan. Pak Kim mulai ketakutan.
Flashback


“Kenapa belum datang juga?” kata nenek. Pak Kim lalu memanggil ibunya dan menyuruhnya mengikat rambutnya agar tidak terlihat seperti hantu.


Saat nenek akan mengikat rambutnya, Pak Kim membenamkan kepala nenek ke dalam sumur. Nenek yang lemah sama sekali tidak bisa melawan.


Kepala nenek sudah terbenam di air.


“Untuk menebus dosa kami dan terhindar dari api neraka. Lindungi jiwa kami. Lindungi pula jiwa-jiwa yang diabaikan,” Pak Kim membaca Alkitab.


Tiba-tiba, nenek sadar lagi dan merebut Alkitab dari tangan Pak Kim dan mulai merobek dan memakannya. “Ah, dasar. Kalau mau masuk ke dalam air. Sumpal dulu kupingku.” Pak Kim ketakutan dan menyerang nenek lagi.


Pak Kim tetap mengatakan kalau dia bukan pelakunya. Kim Dan berpura-pura kalau arwah nenek mengatakan sesuatu. “Ya, nenek. Disana?” Ia bertingkah seolah alat ritual yang dipegangnya membawanya ke suatu tempat. Jae In menyuruh semua warga mengikuti Kim Dan.


Kim Dan pergi ke pojok penginapan tempat nenek menyimpan salah satu jimatnya.


Kim Dan membukanya dan menemukan sebuah Alkitab yang disimpan dalam kendi berisi beras. Jae In yakin ada sidik jari Pak Kim di Alkitab itu.


Jae In kembali menemui Dong Hee dan menanyakan alasannya pergi ke penginapan. “Karena aku khawatir,” jawab Dong Hee takut-takut. Jae In bertanya kenapa Dong Hee harus mengkhawatirkan nenek. Kim Dan menjawab bahwa itu karena Dong Hee adalah nenek yang sebenarnya.


“Ada apa dengan reaksi kalian? Kalian semua mengetahuinya? Kenapa seluruh warga desa melakukan permainan ini?” tanya Jae In.
Flashback


Jae In berkata pada Kim Dan bahwa Dong Hee sengaja menembakkan senapannya.


Ia lalu menunjukkan data pribadi Dong Hee.


Mereka lalu mengecek salah satu jimat yang dipasang oleh nenek dengan nama Lee Dong Hee dengan aksara China disana. Jae In menduga kalau nenek pasti mendoakan Dong Hee.


Kim Dan bilang yang didoakan adalah keluarga, sedangkan nenek hanya punya satu anak. Ia bertanya jika Dong Hee adalah anak nenek, lalu siapa Pak Kim. “Tersangka kedua.Kita harus temukan Alkitabnya. Disembunyikan dimana? Apa sudah dibakar?” kata Jae In. Kim Dan bilang itu pasti tempat yang tidak boleh mereka sentuh.


Mereka berdua menemukan Alkitab itu.


“Tahun 2011, di sebuah ladang di desa ini. Dikubur uang tunai senilai 1 milyar won. Nampaknya aku beruntung sekali. Kutemukan uang tunai di ladang itu,” kata Jae In lalu melemparkan uang itu.


Melihat uang itu beterbangan, lonceng Kim Dan berbunyi. Alat ritualnya pun ikut bergerak. Ia memejamkan matanya. Sementara itu, Jae In bertanyauang apaitu.


Kepala Desa memungut uang itu dan mengatakan bahwa itu adalah uang warga desa dari penjualan hasil laut.


Kim Dan membuka matanya dan berkata dengan lantang, “Bohong!” Jae In bingung. Kim Dan mendekati Kepala Desa.


Kim Dan mencium aroma tubuh Kepala Desa dan berkata, “Kau sudah menggali beberapa liang lahat. Kau akan dikubur di dalamnya. Kau... tidak bisa hidup melewati tahun ini.” Jae In merasa bingung, karena itu tidak ada di rencana mereka.


Kim Dan: “Brengsek!”
Wanita 1: “Brengsek?”
Kim Dan: “Demi punya anak, aku rajin berdoa pada 3 dewa, tapi kau malah membakar Dangjib! Dan suamiku mati karenamu!”


“Gongsu.. Itu Gongsu!” kata wanita 2 menyebut nama nenek, lalu mundur ketakutan.

1 komentar:

Bagus unnie, semangat ya.. .
Gak nyangka pelakunya pak kim
...