Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 2 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 2 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 2 Part 4

Ayah dan kakak Ja Hyeon pulang bersamaan dengan para ibu yang baru aja meninggalkan kamar Ja Hyeon. Para ibu itu memberi hormat pada ayah lalu pergi. Ayah bertanya pada kakak apa hari ini adalah hari pertemuan klub ibu? Kakak bilang nggak tahu. Ayah lalu berjalan menuju kamar Ja Hyeon. 


Ibu bertanya kenapa Ja Hyeon pulang lebih awal? Apa ja Hyeon sudah menyelesaikan pelajaran pra pernikahannya? Kenapa juga pakaiannya jadi acak-acakan? Ja Hyeon merasa sekarang bukan saatnya untuk meributkan hal itu. 


Tiba-tiba ayah dan kakak Ja Hyeon masuk ke kamar. Ibu dam Ja Hyeon panik. Ibu bersembunyi di belakang Ja Hyeon. Sementara itu Kkeutdan membereskan kartu dan menyembunyikannya di balik roknya. Ja Hyeon juga baru menyadari kalo roknya kotor. Ia pun segera menyembunyikannya. Ibu meminta ayah untuk keluar. Apa ayah nggak lihat kalo mereka nggak berpakaian? Ayah melihat rok Ja Hyeon dan Ja Hyeon segera menyembunyikannya lagi. 


Ayah melihat satu kartu ibu yang tertinggal dan menghampirinya. Ibu yang menyadari itu panik dan segera menghampirinya dan menginjaknya. Ayah nyuruh ibu buat minggir. Biar dia lihat. Ibu nggak mau ayah melihatnya, ia berusaha keras agar kakinya nggak bergeser. Tapi lama-lama ibu lelah juga dan ayah berhasil mendapatkannya. 


Ayah marah karena ibu melakukannya lagi. Ibu bilang enggak. Dia menolak tapi nyonya dari Songhyeonbang bilang hanya satu permainan. Ayah mengeluh. Ayah sudah bilang jangan main kartu di ruang utama dan sekarang ibu bersembunyi di kamar putri mereka untuk bermain? Ibu membela diri. Toh ini lebih baik daripada minum-minum. Apa ibu menjual rumah atau menjual tanah mereka? Itu hanya taruhan kecil dengan makanan ringan. Ibu hanya melakukannya untuk bersenang-senang. Apa itu sesuatu yang harus dihukum? 


Ja Hyeon menegur ibunya. Ayah juga menegur ibu. Apa ibu pikir sudah melakukan tugasnya hanya dengan mengirimkam Ja Hyeon ke pelajaran pra-nikah? Apa ibu nggak ingin Ja Hyeon  menikah? Ibu sambil berpakaian malah mengatakan kalo di takdirkan menikah, Ja Hyeon pasti menikah. Ayah tertawa mengejek, ah yang benar aja. Sementara kakak cuman bisa nyengir kuda lihat kelakuan ibu dan adiknya. 


Kang mempersembahkan hasil berburunya pada raja (lebih tepatnya hasil dia beli dari pemburu). Ada 4 ekor burung, seekor babi hutan dan seekor harimau. Hwi kagum, bahkan ada harimau juga. Nggak ada buruan yang tersisa untuk di buru sekarang. Kang merendah, dia cuman beruntung aja. Raja mengatakan Kang telah menangkap semuanya hari ini. Kang berkata bahwa tubuh yang mulia lebih lemah selama masa berkabung. Kang mengaku melakukan perjalanan ke hutan untuk mendapatkan itu agar raja lebih sehat. Raja mengatakan kalo itu terlalu banyak. Alangkah baiknya berbagi dengan ibu suri. Kang mengatakan kalo raja sendirilah yang harus memberikannya, maka beliau akan senang. Raja hanya menatap Kang dan begitupun sebaliknya. 


Kang berjalan bersama dengan Hwi. Hwi protes. Apa-apaan itu? Mereka memberinya semuanya tapi nggak ada sup yang tersisa untuk Hwi. Kang tersenyum dan menyindir Hwi. Hwi seharusnya pulang terlambat kayak Kang atau mungkin nggak usah pulang aja sekalian. Hwi membalas pulang larut malam seperti ini, apa Kang mau dihukum? Kang tersenyum dan memberikan obat pada Hwi. Ia bilang kalo itu dari tabib. Ia mendengar kalo Hwi dipukuli karena membela anak buahnya. Hwi mengaku cuman dipukul sekali. Dia nggak membutuhkan obat. Kang tersenyum mengejek. Tapi meski begitu, Hwi akan menerimanya. Kang tersenyum melihatnya. Hwi bertanya bukankah hyung takut? Kang balik nanya, takut apa? Hwi mengatakan menikah dengan seseorang yang belum pernah di temui. Kang menghela nafas. Apa bedanya? Siapa yang ia nikahi? Mendiang raja menjodohkannya dengan keluarga yang nggak berkuasa. Niat tulusnya, itu hanya sesuatu yang harus ia terima. 


Kang menepuk bahu Hwi dan bertanya siapa yang akan adiknya nikahi? Hwi mengatakan kalo dia mengatakan pada ibu kalo dia ingin memilih pasangannya sendiri. Kang menyimpulkan jadi ada wanita yang Hwi pikirkan? Bilang gih siapa wanita itu? Atau apa dia seorang selir di dalam istana? Hwi bilang nggak ada siapa-siapa. Nggak ada wanita yang menarik perhatiannya. Kalo Hwi nggak menemukannya, ia akan melajang saja. Bahkan kalo keluar dari istana, semua gadis-gadis itu nggak... Kang menyimpulkan kalo Hwi belum pernah bertemu dengan seseorang yang membuatnya berpikir begitu. Ya... nggak gitu juga, sih. Kang merangkul Hwi. Hwi nggak bisa bohong padanya. Bilang gih sekarang. Hwi kekeuh, dia kan udah bilang kalo nggak gitu. 


Permausuri Hyo naik tandu yang tadi di naiki oleh dayang ibu suri. Ayah permaisuri Hyo berkata bukankah lebih baik kalo dia melahirkan bayi sebelum kembali? Dayang mengatakan itu adalah cucu kerajaan. Anak itu perlu dilahirkan di istana. Suami permaisuri Hyo meminta dayang untuk menjamin keselamatan permaisurinya. Dayang menyampaikan jika kepulangannya dan tempat persalinannya dipersiapkan secara rahasia. Sampai bayi lahir dengan selamat, hanya yang mulia dan ibu suri yang akan tahu hal ini. Dayang meminta mereka agar jangan khawatir. Dayang meminta pengawal untuk pergi sekarang. Ayah dan suami permaisuri Hyeo tampak berat melepas kepergian permaisuri Hyo. 


Ibu suri terkejut. Adik raja menggantikan tahta? Berani-beraninya mereka mengatakan itu. Raja mengatakan keluarga kerajaan sudah lama nggak memiliki penerus. Itu hal yang biasa bagi para tetua untuk khawatir. Ibu suri akan menutup mulut mereka saat pangeran lahir. Raja bertanya apa ibu suri berencana untuk mencalonkannya sebagai ratu setelah melahirkan? Ibu suri me.benarkan kalo dia melahirkan seorang pangeran. Raja tampak termenung memikirkannya. Ibu suri mengatakan kalo mereka ingin menghentikan pemikiran omong kosong ini, cegah Jinyang (Kang) agar nggak sering bergaul dengan pamannya. Raja mengatakan kalo dia dewasa di bawah asuhannya, akan sulit menghentikannya nanti. Ibu suri mewanti-wanti agar mereka berhati-hati. Anak kerajaan akan menjadi satu-satunya harapannya. Semua pembicaraan tentang saudara raja menggantikan tahta mungkin ide pamannya. Dia bisa saja merencanakan semua ini, mengambil keuntungan dari keponakannya. Raja mengatakan apapun niatnya, nggak papa selama Jinyang nggak goyah. Ibu suri mengatakan kalo Jinyang adalah anak yang serakah. Dia nggak seperti Eunseong. Raja sendiri hanya terdiam. 


Dayang yang mengangkut permaisuri Hyo sampai di gerbang istana. Dayang memperlihatkan kartu ijin masuk. Penjaga menanyakan apa tandu itu kosong? Dayang membuka pintu tandu dan penjaga melihat tandu itu benar-benar kosong. Dayang mengatakan kalo pembawa tandu pasti kelelahan. Ia merasa akan berjalan dari sini saja. Penjaga mempersilakan mereka untuk masuk. 


Dayang dan para pembawa tandu telah memasuki istana. Beberapa pelayan berdatangan dan berdiri berjajar di depan tandu. Dayang membuka tandu itu. Dan ternyata pemaisuri Hyo bersembunyi di balik tirai. Dayang membantunya keluar dari tandu. Para pelayan itu mengapit permaisuri Hyo menuju istana. 


Hwi masuk ke kamarnya. Gi Teuk membukakan pintu untuknya. Tanpa bilang apa-apa Hwi langsung menyerahkan obat yang tadi dikasih sama Kang. Gi Teuk menerimanya. Hwi melarang Gi Teuk untuk memintanya memakainya. Habis itu Hwi meninggalkannya. Gi Teuk tersenyum melihat kebaikan hati tuannya. 


Hwi duduk di ruang melukisnya. Hwi menghela nafas lalu mengambil warna biru. Melihat itu mengingatkannya pada Ja Hyeon. Hwi jadi bertanya-tanya apa yang akan dia lukis dengan Sim Jung Cheong? 

Flashback...


Ja Hyeon berebut Sim Jung Cheong dengan penjual. Dia mengaku sudah menunggunya berbulan-bulan. 


Hwi mencium aroma sim jung Cheong di tangan kiri Ja Hyeon dan Ja Hyeon heran gimana bisa Hwi tahu kalo dia seorang pelukis. 

Flashback end...


Hwi bilang nggak berguna. Hwi lalu meletakkannya. Tapi matanya sama sekali nggak mau pergi dari warna itu. Akhirnya Hwi menggunakannya untuk melukis. Hwi menggunakan kuasnya dengan hati-hati. Nggak seberapa lama kemudian mulai tampak apa yang dilukis sama Hwi. Sekuntum bunga. Hwi tersenyum melihat hasilnya. 


Tiba-tiba bunganya berubah jadi hidup. Bunga itu jadi objek Ja Hyeon. Ja Hyeon juga melukis bunga itu di temani sama Kkeutdan. Kkeutdan melihat tangan kiri Ja Hyeon yang ikut kotor padahal dia melukis pakai tangan kanan. Dia meledek apa Ja Hyeon benar-benar ingin membiarkan semua orang tahu kalo dia melukis dengan seluruh tubuhnya? Saat yang mulia dan guru menulis, atau saat seorang pria menukis mereka melakukannya tanpa membuat kekacauan atau kebisingan. 


Ja Hyeon ngasih tahu kalo mereka semua ingin pamer. Kkeutdan menghela nafas. Ja Hyeon menambahi, sibuk menjaga penampilan mereka saat melukis daripada seni itu sendiri. Itu yang namanya pamer, tahu? Tapi menurut Kkeutdan nggak gitu. Ja Hyeon menoleh padanya. Coba lukis. Dia mau lihat seberapa bagus lukisannya. Saat Ja Hyeon fokus, dia akan lupa ada dimana. Kkeutdan menyimpulkan kalo itu terdengar seperti pamer. Ja Hyeon kembali menoleh ke Kkeutdan. Dia emang pandai dalam segala hal tapi dia nggak ngerti apa-apa tentang seni. Ja Hyeon sampai geleng-geleng. Kkeutdan meremehkan. Seni nggak bisa memberinya makan atau nasi. Sebaiknya dia menggunakan waktunya untuk memetik lebih banyak sayuran liar atau jamur. 


Ja Hyeon mengangkat lukisannya dan membandingkannya dengan bunga yang asli. Nggak mirip sama sekali. Ja Hyeon lalu meremas kertas itu. Kkeutdan mengambilnya lagi. Sayang banget. Dia kam udah bilang, berikan saja lukisan Ja Hyeon yang hancur padanya. Ja Hyeon nggak peduli dan merebahkan tubuhnya. Dia mengaku ingin melukis sesuatu yang hidup. Kkeutdan ngasih tahu kalo itu hidup. Itu nggak mati. Bukan itu maksud  Ja Hyeon. Dia ingin sesuatu yang hidup dan bergerak. Kkeutdan mengingatkan, anak ayam, kupu-kupu, kucing, anjing, Ja Hyeon sudah menangkap semuanya. Ja Hyeon menjelaskan kalo dia menginginkan sesuatu yang besar dan ganas. Seperti harimau, lembu dan kuda. Kkeutdan memuji Ja Hyeon yang memiliki mimpi luar biasa kayak gitu. 


Ja Hyeon bangkit. Apa Kkeutdan tahu apa tema dari ujian masuk sekolah menukis? Kkeutdan cuek. Dia bahkan nggak tertarik. Ja Hyeon menghela nafas. Dia lalu mendekat dan ngasih tahu Kkeutdan. Aroma sepatu kuda yang membentang di atas bunga. Kkeutdana masih nggak peduli. Omong kosong. Ja Hyeon menatap Kkeutdan. Semua orang yang melukis bunga dan kuda gagal dalam ujian. Kkeutdan mulai tertarik dia menoleh kearah Ja Hyeon. Bukankah seharusnya mereka melukis kuda? Ja Hyen tersenyum. Dia lanjut ngasih tahu kalo mereka yang lulus ujian itu melukis gerombolan kupu-kupu terbang bersama angin dengan tinta hitam. Kkeutdan menangkap kalo mereka nggak tahu cara menggambar kuda. Ja Hyeon menghela nafas. Bukan itu yanv ingin dia katakan. Giamanapun juga untuk menjadi imajinatif, ia harus terlebih dahulu belajar melukis semuanya. Kkeutdan memotong. Jadi maksudnya Ja Hyeon ingin pergi mengamati kuda di kandang kuda? Ja Hyeon membenarkan. Itu bukan kuda. Itu keledai. 


Ja Hyeon mulai malas. Kkeutdan mulai mengerti. Jadi maksud Ja Hyeon nggak semua keledai adalah kuda. Masih ada kesempatan. Kakak Ja Hyeon akan berpartisipasi dalam pertandingan gyeokgu, kan? Ja Hyeon bisa menyemangatinya dan bersenang-senang dengan kuda-kuda itu. Nggak ada tempat yang lebih bagus untuk melihat kuda terbaik di bangsa ini. Ja Hyeon senang bukan main. Dia bahkan sampai mencium Kkeutdan. Kkeutdan marah. Dia kan udah bilang jangan melakukan itu lagi. Dia lebih memilih pria yang menciumnya. Ja Hyeon mengatakan apa yang akan ia lakukan tanpa Kkeutdan? Bertemu dengannya adalah takdirnya. Ja Hyeon kembali meraih tangan Kkeutdan. Tapi bagi Kkeutdan itu adalah nasib buruk. Ja Hyeon berusaha meraih Kkeutdan lagi. Haruskah ia melakukannya lagi? Haruskah? Kkeutdan nggak mau dan nyuruh nonanya berhenti. Ja Hyeon memuji Kkeutdan yang sangat cantik. 


Hari saat pertandingan gyeokgu hampir tiba. Hwi menunggangi kudanya dengan sangat mahir. Kang dan temannya memperhatikannya. Ia pikir Hwi hanya berbakat dalam puisi dan seni. Nggak disangka dia juga pandai berkuda. Kang nggak menjawab. Matanya nggak lepas dari memandang Hwi. Rekan Kang meralat, mereka juga bisa. Kang adalah yang terhebat dalam seni bela diri. Hwi berhenti dan melambai pada hyungnya. Kang tersenyum dan balas melambai. Kang bilang kalo tetap saja mereka harus mengambil tindakan. 


Diluar suasananya udah rame banget. Orang-orang datang dari berbagai arah ingin melihat pertandingan. Beberapa orang sedang mempersiapkan kuda untuk pertandingan. Mereka ngasih makan dan menyisir kuda. Tiba-tiba ada seseorang yang mencurigakan. Ia menunggu pengurus kuda lengah. 


Ayah, ibu dan kakak Ja Hyeon bersama-sama mau meninggalkan rumah. Ja Hyeon dan Kkeytdan datang mau ikut. Ayah nanya Ja Hyeon mau kemana? Apalagi? Ya mau menonton pertandingan. Ibu bilang kalo Ja Hyeon harus tinggal di rumah. Ayah ngasih tahu kalo itu bukan tempat untuk seorang wanita. Ja Hyeon memotong, apa maksud ayah? Ada larangan baru-baru ini. Saat ibu masih lajang, wanita juga ikut serta. Ia hanya akan menonton. Ibu memberitahu kalo Ja Hyeon dikeluarkan dari pelajaran pranikah. Ibu dengar Ja Hyeon bolos. Ja Hyeon bertekad melakukannya jadi jangan pernah bermimpi untuk bisa keluar. Ja Hyeon menjelaskan pada ibu kalo itu adalah kesalahpahaman. Dia nggak bolos. Kakak juga ikutan marahin Ja Hyeon. Berhenti bikin alasan! 


Ja Hyeon merengek, oraboeni!!! Ayah tersenyum lalu mengajak kakak dan ibu untuk segera pergi. Ja Hyeon menarik tangan ayah dan memohon untuk diijinkan ikut dengannya. Ja Hyeon janji pada teman-temannya kalo akan datang. Ia harus pergi. Ibu menghempaskan tangan Ja Hyeon dari lengan ayah. Ia lalu mempersilakan suami dan anak sulungnya untuk jalan duluan. 


Ja Hyeon memanggil ibunya. Tapi ibu malah bilang kalo dia bukan ibu Ja Hyeon hari ini. Ja Hyeon nggak mau nyerah. Ia meraih tangan ibu sambil memelas, nyonya!!! Ibu melotot menatap Ja Hyeon, aish..!!! Terpaksa Ja Hyeon melepaskan tangannya. Ibu melenggang pergi meninggalkan Ja Hyeon.


Kkeutdan mengucapkan salam pada ayah dan ibu. Hati-hati dijalan. Kkeutdan menghampiri Ja Hyeon. Ia menasehati agar Ja Hyeon masuk dan menggambar bunga. Ja Hyeon memperhatikan Kkeutdan. Dia lalu tersenyum saat mendapat ide. Ja Hyeon nyuruh Kkeutdan untuk melepaskan pakaiannya. Apa? Ja Hyeon mengulangi kata-katanya. Lepaskan pakaiannya. Kkeutdan shock. Apa Ja Hyeon harus melakukan sejauh itu? Ja Hyeon tersenyum. Kkutdan menggeleng, dia nggak mau. Ja Hyeon menarik Kkeutdan. Ayo pergi. 


Raja dan ibu suri menempati tempatnya dan semua orang memberi hormat padanya. Ibu suri tersenyum melihat antusiasme orang-orang.


Seol Hwa duduk disamping Na Gyeom. Ia mengingatkan Na Gyeom yang sudah berjanji. Ia akan memilih satu pemain dan Na Gyeom akan melakukan perkenalan. Na Gyeom bertanya apa Seol Hwa tahu siapa saja mereka? Seol Hwa menyebutkan kalo ketua tim merah adalah mempelai pria Na Gyeom dan ketua tim biru adalah pangeran Eunseong. Yang lainnya adalah anak-anak dari keluarga bangsawan. Na Gyeom hanya perlu membuka mata lebar-lebar dan memastikannya. Na Gyeom tersenyum dan bilang pilih yang Seol Hwa suka. Seol Hwa membenarkan. Biarkan dia mendapatkan keuntungan memiliki teman yang menikah dengan seorang keluarga kerajaan. Na Gyeom menatap Seol Hwa lalu tersenyum. 


Ja Hyeon yang memakai pakaian Kkeutdan berjalan diantara kerumunan orang dan terkagum-kagum melihat sekitarnya. 


Di tempat lain, Hwi sedang memakai pakaian untuk bermain gyeokgu dibantu oleh Gi Teuk. Hwi tersenyum lalu menghela nafas. 


Pertandingan akan segera di mulai. Para pemain mulai memasuki lapangan. Ja Hyeon menerobos para penonton agar dapat tempat di depan. 

Bersambung...

Komentar :
Ha..ha..ha.. Ja Hyeon ini bandel banget, ya. Ada aja idenya. Gimana nanti kalo dia ketahuan sama ayahnya? Tapi kayaknya sifat Ja Hyeon menurun dari ibunya, deh. Emang ya, yang namanya buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Hadeuh...tepok jidad.

Dan pria yang menyelinap di ruang kuda... sepertinya adalah pria yang sama saat Kang berusaha menyuap para biksu dengan uang. Apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan mensabotase kuda Hwi?