Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 2 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 2 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 3 Part 1

Hwi dan Kang mulai memasuki lapangan. Mereka mengarahkan kuda mereka ke arah yang berlawanan antara tim biru dan tim merah. Ja Hyeon melihat kakaknya melintas dan ia bersembunyi. Ja Hyeon mengelus dadanya. Hampir aja. 


Kedua tim sudah selesai mengelilingi lapangan. Bedug di tabuh pertanda permainan akan di mulai. Seorang wanita memasuki lapangan. Ia membawa bola. Semua pemain melihatnya. Wanita itu melemparkan bolanya keudara. Para pemain segera menghampiri bola itu. Hwi mendapatkan bolanya dan melemparkannya ke rekan timnya. Hampir aja mereka bisa memasukkan bola. Kini bola dipegang oleh tim merah. 


Ja Hyeon mengeluarkan lukisannya. Ia melihat kuda-kuda itu dan mendapatkan bayangan akan apa yang akan ia lukis. Ja Hyeon tersenyum. 


Bola masih dipegang oleh tim merah. Hwi berusaha merebut. Tapi Kang udah melemparkannya ke lubang sehingga mendapatkan nilai untuk timnya. Para penonton bersorak untuk nilai yang di dapatkan oleh Kang. 


Permainan kembali berlanjut. Kali ini gantian tim biru yang menguasai bola. Tim merah berusaha merebut tapi mereka kewalahan mengalahkan tim biru. Dan akhirnya tim biru mampu mengimbangi tim merah dan mendapat nilai 1. Hwi mengangkat tongkatnya dan menatap ibu suri. Kang sendiri tampak tal suka melihat Hwi. 


Permainan di lanjutkan kembali. Kali ini tim merah mulai main kasar. Mereka melakukan segala cara agar dapat memperoleh bola. Bahkan mereka nggak segan-segan mendorong pemain tim biru agar terjatuh. Kang semakin kesal melihat Hwi. Ia menatap pemain lainnya dan mengangguk memberi kode. Pemain itu mengerti dan segera memacu kudanya mendekati Hwi. Dia sengaja mendorong Hwi agar terjatuh. Semua penonton terkejut melihat apa yang terjadi. Ibu suri pun tampak khawatir menyaksikan anak kesayangannya terjatuh. Apalagi Hwi nggak bisa segera bangun. Ia mengerang sambil memegangi lengannya. 


Nggak lama kemudian Hwi berhasil bangkit. Ja Hyeon melihat wajahnya dan ingat kalo Hwi adalah orang yang ia temui saat hendak membeli Sim Jung Cheong. Tapi Ja Hyeon nggak bisa memastikannya karena Hwi keburu ketutupan sama kuda kakaknya. Kakak Ja Hyeon melihat Ja Hyeon dan Ja Hyeon pun segera melarikan diri. 


Deuk Sik turun dari kudanya dan mengejar adiknya. Ja Hyeon berusaha berlari cepat agar nggak ketahuan sama kakaknya. Ja Hyeon berbelok. Deuk sik memutuskan untuk memotong jalan. 


Sementara itu di tempat pertandingan, Hwi menarik kudanya dan mengangkat tongkatnya pertanda ia siap untuk kembali bermain. Para penonton bersorak menyemangatinya bahkan ibu suri juga tersenyum. Kang adalah satu-satunya yang tampak nggak suka melihat itu. 


Seol Hwa mengelus dadanya. Ia sangat khawatir terjadi hal buruk padanya. Na Gyeom nanya, kenapa? Apa Hwi udah memenangkan cintanya. Seol Hwa nggak ingin dia terluka? Seol Hwa mengaku sudah mendengar tentang bakatnya dalam puisi dan seni...tapi dia benar-benar tampan. Dia sosok yang sempurna. Na Gyeom meledek, tapi kenapa Seol Hwa nggak tahu kepribadiannya? Seol Hwa mengatakan kalo kepribadiannya sama baiknya dengan penampilannya. Lihat aja dia. Orang-orang menyukainya karena dia cantik dan kepribadiannya juga baik. Na Gyeom hanya tersenyum. Benarkah? Seol Hwa meminta Na Gyeom nggak membahasnya lagi. Pertandingan dilanjutkan. 


Hwi mengelus kudanya. Tiba-tiba ia melihat darah menetes dari tubuh sang kuda. Hwi membuka pelana kudanea dan melihat melihat kuda itu terluka. Ia jadi khawatir. Ia merasa nggal bisa melanjutkan pertandingannya. Dia ngasih kode ke wasit dan wasit mengumumkan kalo tim biru ganti pemain. 


Hwi menarik kudanya keluar dari lapangan. Penonton khawatir. Apa yang terjadi? Bahkan ibu suri juga tak senang melihatnya. Kang tampak lega. Pemain baru memasuki lapangan.  Kang baru menyadari kalo  Song Deuksik (kakak Ja Hyeon) nggak ada. 


Ja Hyeon masih terus berlari. Kakaknya tiba-tiba datang dari arah depan. Ja Hyeon panik dan berbalik arah. Ia terus berlari dan kakaknya terus mengejarnya. Ja Hyeon masuk kesebuah rumah. Ia terus berjalan dan akhirnya masuk ke sebuah ruangan. Kakaknya sampai dan memanggilnya, Seong Ja Hyeon! Ia mengaku tahu kalo Ja Hyeon ada di sini. Dia nyuruh Ja Hyeon keluar. Nggak mau keluar, ya? Dari arah belakang terdengar seseorang menutup pintu. Kakak Ja Hyeon panik. Dikiranya itu Ja Hyeon. Ia pun segera keluar. Ja Hyeon mengintip dan merasa lega. 


Ja Hyeon kembali menutup pintu dan menghela nafas. Ja Hyeon melihat sekeliling dan terpukau. Ia meletakkan lukisannya dan melihat-lihat. 


Hwi memperlihatkan luka kudanya pada pengurus kuda. Pengurus kuda bertanya-tanya gimana ini bisa terjadi. Hwi menghela nafas. Ia langsung menaikinya. Dia mengaku nggak tahu dan terus berjalan. Pasti dia kesakitan. Pengurus kuda merasa nggak mungkin kalo itu suatu kebetulan. Ia menduga kalo seseorang pasti telah menikamnya. Hwi membantahnya. Itu hanya kecelakaan selama pertandingan. Ia meminta bantuannya. Pengurus kuda membungkuk memberi hormat. Ia mengerti. Hwi lalu pergi. Gi Teuk melihat pengurus kuda lalu menyusul Hwi.


Ja Hyeon masik asik dengan benda-benda di ruangan itu. Hwi dan Gi Teuk masuk ke rumah itu. Gi Teuk merasa Hwi nggak bisa mengabaikan itu. Hwi bisa terluka. Hwi berbalik dan tersenyum menghadap Gi Teuk. Ia nyuruh Gi Teuk untuk menonton pertandingannya. Gi Teuk harus pergi dan melihat gimana pertandingannya tanpa Hwi. Gi Teuk nggak mau. Siapa peduli sama pertandingannya? Hwi bisa aja jatuh dan terinjak-injak. Hwi bisa mati. Hwi santai. Apa Gi Teuk nggak mau menaati perintahnya? Gi Teuk hanya bisa menghela nafas. 


Hwi meraih topinya yang dibawa oleh Gi Teuk. Ia menepuk pundak sahabatnya itu alu meninggalkan Gi Teuk. Gi Teuk yang kesal menggebrak Dinding. Ja Hyeon terkejut merasakan keberadaan  orang lain. Hwi yang sudah berdiri di depan pintu hanya bisa menghela nafas. Ia membuka pintu. Di dalam Ja Hyeon panik. Gimana nih? Namun saat Hwi membuka pintu dan masuk, Ja Hyeon udah nggak ada lagi disana. Dimana dia sembunyi?


Hwi meletakkan helm dan tongkatnya dan melepaskan pakaiannya. Hwi yang kesal mulai mengamuk. Ja Hyeon di tempat persembunyiannya gemetaran. Takut kalo ketahuan. 


Gi Teuk kembali menonton pertandingan seperti yang di perintahkan oleh Hwi. Gi Teuk yang kesal hanya bisa menghela nafas. 


Kakak Ja Hyeon kembali. Ia bertanya-tanya gimana bisa Ja Hyeon ada di sana? Dia lalu melihat jalannya pertandingan. Nggak lama kemudian, tim merah kembali mencetak angka. Hwi mendengarnya dari tempatnya. Hwi menghela nafas lagi. Ia lalu melepas pakaiannnya. 


Di tempat pertandingan, dayang membisikkan sesuatu kepada ibu suri. Ibu suri menatap raja lalu bangkit. Raja ikutan bangkit dan bersama ibu suri ia pergi dari tempat duduknya. Kang yang melihatnya dari lapangan merasa kecewa. 


Seol Hwa menyayangkan, kalo pangeran Eunseong (Hwi) terus bermain, ia yakin tim biru pasti akan menang. Na Gyeom tertawa. Sayang sekali Seol Hwa nggak bisa membuktikan kalo dia akan menang. Seol Hwa jadi sinis, apa Na Gyeom memihaknya karena dia calon suaminya? Na Gyeom mengatakan kalo Seol Hwa memihak pangeran Eunseong meskipun nggak punda hubungan dengannya, kenapa dia nggak bisa memihak calon suaminya? Seol Hwa memalingkan wajahnya. Tapi...Seol Hwa nggak melihat Ja Hyeon. Kakaknya sedang ikut pertandingan. Na Gyeom yakin Ja Hyeon pasti sedang dihukum. Dia dikeluarkan dari pelajaran pra-nikah. Seol Hwa yakin lingkungan kelas akan lebih baik sekarang. Dia mungkin nggak akan bisa menemukan keluarga yang layak untuk dinikahi. Na Gyeom menenangkan, dia adalah putri kepala sekretaris kerajaan. Dia akan baik-baik saja. Seol Hwa berkata waktu sudah banyak berubah. Keluarga Na Gyeom nggak punya apa-apa selain calon istri pangeran. Mereka hanya melihat Na Gyeom. Ja Hyeon nggak akan memiliki kesempatan. Na Gyeom nggak sependapat. Apa hanya itu yang bisa Seol Hwa katakan tentang temannya? Seol Hwa mwngaku mengatakan itu karena khawatir. Na Gyeom tampak kesal menyaksikan Seol Hwa. 


Hwi melepaskan pakaiannya dan terlihat lengannya terluka. Hwi membasuhnya dengan air. Ja Hyeon mengintip dan terkejut melihat ada pria nggak berpakaian. Hwi menoleh karena merasakan kehadiran orang lain di ruangan itu. Ja Hyeon berusaha menutup mulutnya. 


Tanpa sengaja Hwi melihat tempat lukisan Ja Hyeon. Ia pun mengambilnya dan melihat isinya. Sebuah lukisan kuda. Hwi lalu melihat rok Ja Hyeon di balik tirai. Ia meletakkan lukisan itu lalu pelan-pelan mengambil pedangnya. 


Perlahan-lahan Hwi mendekat dan menarik pedangnya. Hwi menyingkirkan pakaian olahraganya lalu merobek kain itu dengan pedang. Hwi melihat Ja Hyeon membelakanginya. Ja Hyeon berbalik dan melihat Hwi. Mulutnya menganga. Hwi ingat Sim Jung Cheong? Ja Hyeon mengingat Hwi sebagai Lee dari keluarga Gwangwangbang. Mereka saling menatap satu sama lain.

Bersambung...

Komentar :
Hwi mengamuk? Barangkali dia tahu kalo kudanya emang di sabotase seperti yang dibilang sama pengurus kuda. Hanya saja dia nggak berani menduga kalo emang hyungnya yang melakukannya.