Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 3 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 3 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 3 Part 4

Ja Hyeon sedang bersiap-siap dibantu oleh Kkeutdan. Kkeutdan terkejut. Maksudnya...tuan muda di toko perlengkapan seni itu telanjang? Ja Hyeon mengatakan nggak melihat semuanya, tapi hanya bagian atas. Kkeutdan bertanya apa yang akan Ja hyeon lakukan? Astaga, sekarang kesempatannya untuk menikah sudah hilang. Ja Hyeon mengelak. Bukannya dia mau melihatnya. Dia nggak tahu kalo Ja Hyeon ada disana saat melepaskan pakaiannya. Kkeutdan mengingatkan Ja Hyeon seharusnya menjerit. Seharusnya Ja Hyeon menghentikannya. Ja Hyeon mengaku sangat terkejut, jadi dia nggak bisa memikirkan apapun. Kkeutdan menghela nafas lalu nanya gimana? Gimana apanya maksudnya? Kkeutdan memuji Hwi yang sangat tampan. Apa dia juga punya tubuh yang bagus? Ja Hyeon mengomel, Kkeutdan sangat nggak sopan. 


Ja Hyeon pindah dan duduk dibalik meja. Kkeutdan duduk dihadapannya. Siapa yang nggak sopan? Siapa yang melihatnya? Apa Kkeutdan nggak boleh nanya? Jan Hyeon mengatakan kalo dia nggak mau melihat Hwi lagi. Dia harus melupakannya. Ja Hyeon akan menghapusnya dari ingatannya. Kkeutdan menatap Ja Hyeon, meskipun mereka nggak sengaja bertemu, bukankah itu takdir? Ja Hyeon menatap Kkeutdan. Dia merasa Kkeutdan berlebihan. Jika sudah takdir, Kkeutdan sudah bertemu mereka tiga sampai empat kali. Kkeutdan menyahut, kalo gitu Ja Hyeon akan tahu nanti. Ja Hyeon bilang dia bermain gyeokgu, maka dia akan datang nanti ke pesta. Ja Hyeon malas. Entah dia datang atau enggak kenapa juga Ja Hyeon harus menemuinya? 


Ja Hyeon tersenyum menatap bayangannya di cermin. Kkeutdan membantu memakaikannya hiasan rambut. Ja Hyen mengatakan mereka bisa bertemu itulah takdir. Kalo gitu Kkeutdan melarang Ja Hyeon untuk menikah. Kkeutdan merasa tersentuh sebelumnya jadi ia akan terus melayani Ja Hyeon sepanjang hidupnya. Ja Hyeon membalas kalo yang dikatakan Kkeutdan kedengarannya bagus, jadi jangan nikah juga, ya. Kkeutdan nggak mau. Dia masih bisa melayani Ja Hyeon meakipun dia udah menikah. Ih, dasar penghianat! Maki Ja Hyeon. Kkeutdan bilang mari lihat siapa yang akan berhianat lebih dulu. Ja Hyeon tersenyum. 


Ibu masih sibuk menyiapkan menu buat pangeran. Beberapa gerobak datang mengantarkan belanjaan. 


Ja Hyeon melukis di kamarnya. Dia membayangkan kuda yang ia lihat di pertandingan sebelumnya. Tapi habis itu ia ingat apa yang dikatakan sama Hwi. Melukis kuda beda sama melukis anggrek. Untuk ekor kuda, Ja Hyeon harus menggunakan kuas kasar untuk melukisnya. Ja Hyeon lalu mengganti kuasnya. Dia tersenyum melihat hasilnya. 


Kang sudah sampai. Dia dibimbing sama Deuk Sik. Deuk Sik menyampaikan kalo makanannya belum disiapkan. Kalo dia tahu Kang akan datang pagi ini, dia... Kang mengingatkan kalo dia akan mengurus semuanya. Karena ini nggak direncanakan sebelumnya, mereka hanya perlu menyediakan tempat. Deuk Sik merendah. Merupakan suatu kehormatan untuk memiliki tamu terhormat seperti Kang. Gimana bisa dia menemui Kang dengan tangan kosong. Kang berhenti melangkah dan menatap Deuk Sik. Ia mengaku datang lebih awal untuk meminta maaf tentang kejadian tadi siang. Kang meraih bahu Deuk Sik dan nanya gimana bahunya? Kang mengaku sedikit kasar. Deuk Sik menjawab enggak. Kang tersenyum lalu meninggalkan Deuk Sik. Deuk Sik juga tersenyum dan menyusul Kang. 


Kang duduk bersama dengan Deuk Sik. Ia menyampaikan kalo di area permainan tadi, dia melihat adik perempuan Deuk Sik  berada di ruang tunggu. Deuk Sik sedikit terkejut karena Kang melihat Ja Hyeon. Kang meminta Deuk Sik untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan sekarang. Deuk Sik bilang enggak. Adiknya hanya ingin menemuinya. Kang tersenyum, dia nggak tahu. Lalu, selagi mereka menunggu, Kang bertanya kenapa Ja Hyeon nggak menuangkan teh untuk mereka? Deuk Sik kembali terkejut. Apa? Deuk Sik nggak tahu mesti ngomong apa. Itu... Kang menanyakan apa permintannya terlalu sulit? 


Ja Hyeon menatap lukisannya yang sudah jadi. Tiba-tiba Kkeutdan membuka pintunya dan mengatakan kalo Ja Heon harus segera keluar. Ja Hyeon santai bilang kalo Kkeutdan mengejutkannya. Kkeutdan mendekat dan mendesak Ja Hyeon agar bergegas. Ja Hyeon masih santai. Sekarang? Kkeutdan bahkan nggak mengetuk pintu dulu. Kkeutdan ngasih tahu kalo ini bukan waktunya untuk melukis. Seseorang memanggilnya. Ja Hyeon nanya siapa? Siapa lagi selain tuan muda itu? Ja Hyeon sedikit malas. Kkeutdan ngasih tahu kalo kakak Ja Hyeon sefang bersama dengan pangeran dan ingin agar Ja Hyeon untuk membawakan teh. Ja Hyeon enggan kenapa harus dia? Kkeutdan menjawab karena dia adalah tamu kehormatan. Ja Hyeon mengingatkan kalo oraboeni menyuruhnya untuk tetap diam dirumah dan nggak membiarkan orang di luar melihatnya. Kkeutdan nanya apa Ja Hyeon nggak penasaran seperti apa wajah pangeran? Ja Hyeon bilang nggak sama sekali. Tapi Kkeutdan merasa sangat penasaran. Inilah satu-satunya kesempatan Ja Hyeon untuk melihat seperti apa pangeran itu. Kkeutdan menghampiri Ja Hyeon dan menariknya. Kalo Ja Hyeon nggak pergi, maka dia nggak akan bisa melihatnya lagi. Ja Hyeon nggak mau. Kenapa dia harus pergi kesana? 


Ja Hyeon berjalan bersama dengan Kkeutdan yang membawa nampan. Ja Hyeon mengambil nampan itu dan melihat pangeran yang sedang bersama dengan kakaknya. Ja Hyeon ingat kalo dia adalah orang yang berpapasan dengannya saat selesai membalut luka Hwi. Ja Hyeon lalu berbalik dan menghadap Kkeutdan. Kkeutdan yang nggak ngerti menanyakan kenapa? Ada apa? Ja Hyeon nanya apa Kkeutdan yakin kalo dia adalah pangeran? Kkeutdan ngasih tahu kalo para pelayan menjadi g*la dan bilang kalo dia adalah  pangeran Jinyang. 


Deuk Sik menoleh dan nanya apa yang Ja Hyeon lakukan disana? Kalo dia datang, maka perkenalkan dirinya. Dengan berbalik badan apa yang Ja Hyeon lakukan? Itu sikap yang nggak sopan. 


Kang bangkit. Ia berkata meminta seorang gadis keluarga bangsawan untuk membawakan teh. Ini pertemuan pertama mereka dan ia merasa nggak hprmat. Ja Hyeon menghela nafasnya. Kkeutdan menasehati agar Ja Hyeon pergi kesana. Tapi Ja Hyeon malah menyerahkan nampan itu ke Kkeutdan. Habis itu dia mau melarikan diri tapi malah terjatuh gara-gara roknya keinjak. Kkeutdan mengeluh, bisa mati dia. 


Kang lalu menghampirinya. Kkeutdan mengelus-elus lutut Ja Hyeon. Apa dia baik-baik aja? Kang dan Deuk Sik menghampirinya. Kang bertanya apa Ja Hyeon baik-baik aja? Bagian mana yang sakit? Ja Hyeon menatap Kang dan bilang kalo dia baik-baik aja. Ja Hyeon buru-buru bangkit. Deuk Sil memarahinya. Seharusnya Ja Hyeon lebih berhati-hati. Apa yang dia lakukan di depan yang mulia? Ja Hyeon lalu mengambil kembali nampannya. Deuk Sik hanya bisa menghela nafas melihat tingkah adiknya.


Hwi sampai dengan ditandu. Dia turun dari tandu dan berjalan masuk. 


Ja Hyeon menyajikan tehnya untuk Kang dan kakaknya. Kang bilang ke Deuk Sik kalo dia nggak tahu Deuk Sik punya adik yang sangat cantik. Deuk Sik mengulangi, cantik? Dia seperti pria dan keluarganya sudah menyerah padanya. Kang tersenyum. Jadi itu sebabnya bajunya sangat berbeda hari ini. Deuk Sik menjelaskan, itu karena mereka melarangnya pergi keluar dan hanya itu yang bisa dia pakai. Kang tertawa. Dia tahu seperti apa kepribadiannya. Jika dia ingin melakukan sesuatu, dia harus melakukannya. Deuk Sik mengatakan kalo Ja Hyeon terlahir sebagai laki-laki, nggak akan ada yang pusing karena dia. Karena dia perempuan dan seperti itu, ia jadi sangat khawatir. Kang tersenyum, siapa yang tahu? Jika Ja Hyeon diberi sayap, dia mungkin bisa jadi kupu-kupu yang cantik. Kang menatap Ja Hyeon dan melanjutkan kalo sampai sekarang dia hanya seekor ulat bulu yang bel keluar dari kepompongnya. Ja Hyeon hanya menatap Kang dan merasa nggak nyaman. 


Hwi sudah sampai dan melihat Ja Hyeon bersama dengan Kang dan juga Deuk Sik. 


Kang mengatakan Deuk Sik berpikir begitu karena sifat tomboinya. Tapi Kang melihat dia sangat lembut. Deuk Sik tersenyum dan mengatakan kalo Ja Hyeon hanya berpura-pura bersikap begitu karena ada Kang disini. Ja Hyeon kesal mendengarnya dan membuat air yang ia tuang menjadi tumpah. Deuk Sik memperlihatkannya pada Kang. Begitulah dia. Ja Hyeon mengatakan jika Oraboeni berhenti mengomentarinya, dia bisa lebih berkonsentrasi. Dia memberikan mangkuk minum milik kakaknya. Kang tersenyum melihat dua kakak adik itu
Hwi memutuskan untuk  bersembunyi dan menguping. 


Ja Hyeon mengatakan kalo teh itu bukan untuknya tapi untuk kakaknya. Deuk Sik menegur Ja Hyeon, apa yang dia katakan? Ja Hyeon melanjutkan. Karena kakaknya yabg belum dewasa, dia nggak setia dan diperlakukan seolah-olah dia seekor binatang. Kang ingin orang-orang yang ada di bawah Kang takut padanya, daripada menghormatinya. Kang menghukum kesalahan menggunakan cambuk. Kang tersenyum dan Deuk Sik merasa nggak nyaman atas protes adiknya. Kang mengatakan kalo dia harus disalahkan untuk itu. Dia nggak bisa menjadi orang yang menghibur seseorang karena kesalahannya. Jika mereka harus memilih sesuatu, Kang bisa disebut jenderal yang pemberani. Ja Hyeon menatap Kang dengan berani ia menyampaikan kalo kekejaman bukanlah salah satu kualitas seorang jenderal yang baik. Deuk Sik yang udah nggak tahan lagi menyuruh Ja Hyeon untuk diam. Apa yang Ja Hyeon tahu untuk mengatakan omong kosong seperti itu? Hwi terdiam mendengarkan dari tempatnya. Kang menghela nafas. Deuk Sik punya adik yang baik. Dedikasinya pada Deuk Sik sangat mengagumkan. Deuk Sik sendiri hanya tersenyum kecut. 


Kang meneguk tehnya. Dia lalu meminta maaf pada Ja Hyeon dan bertanya apa lagi yang harus ia lakukan? Ja Hyeon bersyukur Kang mau minta maaf. Kang nanya apa Ja Hyeon mau memaafkannya? Ja Hyeon mengatakan kalo bukan dia yang perlu memaafkan Kang tapi kakaknya. Deuk Sik menatap tajam Ja Hyeon. Apa dia g*la? Dia bangkit dan menarik Ja Hyeon. Ja Hyeon nggak tahu sedang bicara dengan siapa. Keluar! Deuk Sik mendorong Ja Hyeon. 


Deuk Sik meminta maaf pada Kang. Ini salahnya yang nggak mengajari adiknya dengan benar. Ia minta Kang jangan tersinggung dengan kata-kata seorang gadis yang b*doh. Deuk Sik meringis merasakan bahunya yang masih sakit. Kang meneguk tehnya lagi. 


Ja Hyeon berjalan bersama Kkeutdan. Kkeutdan ngasih tahu kalo itu tadi pangeran, lho. Apa Ja Hyeon nggak takut? Ja Hyeon nanya balik, emangnya kenapa kalo dia seorang pangeran? Dia seorang algojo yang mencambuk orang. Kkeutdan menyayangkan, Kang tampan dan sangat tinggi. Menurut Ja Hyeon keluarga kerajaan hanya bisa bersikap sangat kasar.... 


Ja Hyeon berhenti karena di depannya ada Hwi. Kkeutdan sampai menabraknya karena Ja Hyeon tiba-tiba berhenti. Akibatnya dia terdorong dan menabrak Hwi. Tapi biarpun gitu Ja Hyeon nggak segera memisahkan diri. 


Ja Hyeon menanyakan apa yang membawa Hwi kerumahnya? Kkeutdan mengatakan Hwi mungkin disini untuk pesta. Hwi mengatakan Ja Hyeon bisa bicara banmal padanya karena mereka sepakat untuk berbicara banmal sampai akhir. Ja Hyeon menghela nafas. Jika Hwi tetap bersikap sopan, ia juga akan melakukannya. 


Hwi tersenyum. Ia berterima kasih untuk tadi siang. Ia minta maaf karena bersikap kasar di pesta. Dan bersikap kasar di toko. Hwi mengakui kalo dialah yang salah, tapi dia nggak bisa segera minta maaf. Pria terkadang bersikap sombong seperti itu. Ja Hyeon membalas bukankah menjadi pria sejati berarti mengetahui kapan untuk mengakui bahwa mereka salah. Hwi bilang kalo sepertinya dia bukan pria sejati. Bolehkah dia meminta maaf pada Ja Hyeon? Ja Hyeon tersenyum. Kayaknya Hwi adalah pria sejati sekarang. Hwi tersenyum menatap Ja Hyeon. Ja Hyeon juga kelihatannya terpesona gitu sama Hwi. Dia sampai gugup waktu mempersilakan Hwi untuk masuk. Kakaknya sedang menunggu Hwi. Ja Hyeon lalu permisi meninggalkan Hwi. 


Kkeutdan menyusul Ja Hyeon. Dia nanya apa itu pria yang Ja Hyeon lihat bertelanjang? Ja Hyeon panik dan menutup mulut Kkeutdan. Memang benar bukan. Dia nggak mengada-ada. Ja Hyeon nyuruh Kkeutdan buat diam. Apa Kkeutdan mencegahnya untuk menikah? Ja Hyeon berjalan dan Kkeutdan mengikuti. Ja Hyeonlah yang bilang kalo dia nggak ingin menikah. Ja Hyeon memperjelas. Maksudnya nggak mau. Itu berbeda dengan nggak bisa. Kkeutdan menyimpulkan itu takdir baik karena sudah bertemu sampai tiga kali. Ja Hyeon mengingatkan agar Kkeutdan nggak menyimpulkan dengan mudah. Hwi tersenyum menatap kepergian Ja Hyeon dan Kkeutdan.


Seorang pria masuk ke istana dengan  tergesa-gesa. Di sebuah ruangan, paman memimpin sebuah rapat. Dia mengatakan pada empat orang di hadapannya, sekarang setelah pembahasan tentang penerapan sistem perpajakan telah dimulai,... Wakil perdana menteri Boo Kyung memotong. Menurutnya paman harus memperlihatkan pengaruhnya. Jika anggota keluarga kerajaan mencoba ikut campur, mereka harus mengajukan banding. Paman (pangeran Yang An) meminta mereka jangan khawatir. Dia menunggu gilirannya. Wakil perdana menteri bilang kalo mereka nggak hati-hati dan meneruskannya, mereka mungkin dianggap sebagai pemberontak. 


Menteri pemerintah pusat: Jung Yeon mengatakan kalo anggota keluarga kerajaan harus tampil dengan hati-hati. Paman menyahut, untuk pewaris kerajaan, bahkan sang raja pun bisa menyerah. Jika dia memberikan nasehat pada keluarga kerajaan, siapa yang akan menentangnya? Paman tertawa. Menteri yang lain mengatakan kalo paman harus menyerahkan keputusan pada ibu suri. Sesuatu yang besar telah terjadi. Pria yang tadi berlari masuk istana masuk ke kamar paman. Paman bertanya apa sesuatu itu? Pria itu Yoon Ja Joon, menyampaikan kalo dia dengar ada masalah diistana. Semuanya langsung menatap kearahnya. 


Di istananya ibu suri sedang menggendong anak raja. Ia memperlihatkannya pada Raja. Akhirnya yang mulia raja memiliki ahli waris. Raja mengulurkan tangannya dan melihat wajah bayinya. Ibu suri bertanya apa raja ingin menggendong bayinya? Ibu suri menyerahkan bayi itu kepada Raja. Ibu suri aja sampai menangis. Raja lalu menatap permaisuri Hyo. Dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Permaisuri Hyo. Ia berterima kasih. Permaisuri Hyo telah memenuhi harapannya yang sangat berharga. Ibu suri memangis dan mengatakan bahwa permaisuri Hyo telah melakukannya dengan baik. Permaisuri Hyo menangis terharu. Begitu juga dengan Raja. 
Bersambung...

Komentar: 
Mohon maaf, baru bisa nulis lagi. Agak jenuh belalangan ini jadi berhenti dulu. Menjauhkan diri dari ponsel dan segala tetek bengeknya. Dan sekarang udah mulai ada mood lagi jadi udah bisa lanjut lagi.
Kang menunjukkan ketertarikannya pada Ja Hyeon. Tapi nggak tahu juga dia tulus atau hanya untuk kekuasaan. 

Akhirnya raja memiliki penerus yang telah lama diharapkan. Ia dan ibu suri tampak sangat bahagia dengan kelahiran putra dari permaisuri Hyo.