Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 4 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 3 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 4 Part 2

Ja Hyeon berjalan pulang setelah mengantar Na Gyeom dan Seol Hwa. Tiba-tiba Kang muncul di hadapannya. Ja Hyeon memberi salam lalu hendak berlalu lewat samping. Tapi Kang kembali menghadangnya. Ja Hyeon bertanya kenapa Kang melakukan itu. Kang mengatakan kalo dia keluar karena Ja Hyeon memanggilnya. Tapi ia malah bertemu wanita lain. Ja Hyeon berpikir Kang akan senang bertemu calon pengantinnya. 


Kang mendekat dan bertanya begitukah persahabatan para wanita? Ja Hyeon bilang kalo Na Gyeom adalah yang paling pintar diantara teman-temannya. Kang nggak pantas mendapatkan mempelai wanita seperti dia. Kalo ja Hyeon jadi Na Gyeom, ia akan melarikan diri dan nggak melihat ke belakang. Kang maju beberapa langkah lagi dan membuat Ja Hyeon terpaksa mundur. Kang mengatakan kalo Ja Hyeon nggak hanya peduli dengan kakaknya, tapi dia juga sangat peduli dengan temannya. 


Kang maju lagi dan Ja Hyeon juga jadi mundur lagi. Ja Hyeon bertindak sembrono dan memandang rendah keluarga raja, hanya demi seorang teman? Apa Ja Hyeon nggak menghargai hidupnya sendiri? Ja Hyeon menatap Kang tajam. Apa dia mengancamnya sekarang? Kang mencibir. Mengancam Ja Hyeon? Ja Hyeon nggak lihat kalo ia menunjukkan belas kasihan kepadanya? Ja Hyeon bisa dibunuh disini karena penghinaannya pada keluarga raja. Kang membiarkannya tetap hidup seperti ini. Ja Hyeon pamit pergi dan hendak melewati Kang. Tapi Kang malah memegang tangannya dan menahannya. Jika Ja hyeon benar-benar nggak suka kalo temannya dijodohkan dengannya, bagaimana dengan ini? Ja Hyeon bisa menggantikan temannya. Maksudnya ja Hyeon harus menikah dengannya. Ja Hyeon menatap Kang dengan mata berkaca-kaca. Ja Hyeon berkata kalo Kang benar-benar g*la. 


Hwi membuka pintu dan melihat Ja Hyeon bersama dengan Kang. Kang dan Ja Hyeon juga menatap Hwi. Ja Hyeon menarik tangannya. Kang menatap Hwi dan bertanya ada masalah apa? Hwi hanya diam. Kang menghampirinya. Hwi menatap Hyungnya dan ngasih tahu kalo ada masalah yang terjadi di istana. Kang harus kembali ke istana. Kang nggak bilang apa-apa dan menengok ke Ja Hyeon. Ja Hyeon menunduk. Kang berjalan meninggalkan Hwi. Hwi melihat Ja Hyeon, begitu juga dengan Ja Hyeon. Habis itu Hwi juga ikutan pergi. Ja Hyeon merasa nggak nyaman. 


Kkeutdan sedang mengepel lantai saat Ja Hyeon kembali ke kamar. Kkeutdan nanya apa Teman Ja Hyeon sudah pergi? Ja Hyeon nggak menjawab. Wajahnya tampak sedih. Kkeutdan bertanya ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi diluar? Ja Hyeon bilang enggak dan duduk. 


Ja Hyeon teringat kejadian tadi. Sambil melangkahkan kaki  Kang mengatakan kalo Ja Hyeon bisa dibunuh disini karena penghinaannya pada keluarga raja. Kang meraih tangan Ja Hyeon dan bilang kalo Ja Hyeon harus menikah dengannya. Hwi melihatnya dengan tatapan aneh. Ja Hyeon menghela nafas dan menyembunyikan wajahnya. 


Kang berjalan bersama dengan Hwi. Hwi mengatakan kalo paman datang untuk mengajak mereka pulang. Kang bertanya ada masalah apa? Hwi bilang bukan masalah tapi ada kabar bahagia. Keluarga kerajaan memiliki bayi baru. Kang berhenti melangkah dan menatap Hwi. Hwi memperjelas kalo permaisuri Hyo yang tinggal dirumah keluarganya benar-benar hamil. Dia kembali ke istana sekarang dan telah melahirkan. Kang tampak tercengang. Permaisuri Hyo Bin hamil? Hwi mengatakan kalo selir raja telah kehilangan semua bayinya. Untuk memastikan hal itu nggak terjadi lagi, kehamilannya dirahasiakan. Kang nampak memikirkannya.


Paman minum bersama ayah Ja Hyeon. Ayah mengucapkan selamat. Sepertinya ia harus masuk istana besok pagi untuk memberi ucapan selamat. Paman tersenyum lalu gantian menuangkan minuman untuk ayah. Paman mengatakan apakah bayi itu sehat atau apakah ibunya baik-baik saja, belum diketahui. Ayah merasa ini adalah kabar yang menggembirakan bagi keluarga kerajaan yang sepi. Bagi rakyat yang telah lelah karena berkabung panjang, itu akan membawa kebshagiaan seolah ity hujan yang sangat didambakan. Paman mengangguk. Ayah melanjutkan hanya akan ada hal baik yang akan datang. 


Paman dan ayah sama-sama meneguk minumannya. Paman mengatakan kalo ayah adalah kepala sekretaris yang setia pada raja yang sebelumnya. Ayah membalas meski ia lemah, tapi ia tetap setia pada raja yang sekarang. Paman bertanya pada ayah, apa nggak masalah dengan siapapun yang menjadi raja? Selama itu adalah raja Joseon, apakah itu penting baginya siapa yang akan menjadi raja? Seketika senyum ayah menghilang. Dengan berat ayah mengatakan selama seseorang yang berhak naik tahta, tugas rakyat adalah melayani dan setia pada raja. Paman tersenyum. Ia memuji ayah yang memang kepala sekretaris kerajaan. Ayah selalu memiliki jawaban yang tepat. Tapi orang-orang yang setia seperti ayah, apakah itu benar-benar untuk keluarga kerajaan? Ayah menatap paman dan menanyakan maksudnya. Ayah bertanya apa yang ayah impikan bukan sebuah bangsa yabg dipimpin oleh keluarga Lee tapi bangsawan yang berkuasa. Ayah nggak bialng apa-apa dan hanya menatap paman. Hwi diluar. Ia memanggil pamannya  dan ngasih tahu kalo dia udah menemukan Kang. Ayah menatap paman tersenyum dan meneguk minumannya.


Ayah dan Deuk Sik mengantar kedua pangeran dan pamannya sampai pintu gerbang. Kang berterima kasuh karena telah merepotkan ayah hari ini. Ayah bilang nggak papa. Merupakan kehormatan besar untuk bertemu Kang hari ini. Kang mendengar kabar baik saat berada di rumahnya, itu juga merupakan kehormatan. Paman tersenyum dan mengatakan dihari berikutnya, mereka akan mengundang kepala sekretaris sebagai balasannya. Ayah juga tersenyum dan bilang kalo paman nggak perlu melakukannya. Paman dan kedua keponakannya pamit. Ayah menatap kepergian mereka lalu menghela nafas. 


Para pelayan dan para kasim berdiri di luar kamar ibu suri. Paman, Kang dan Hwi mengucapkan selamat pada raja dan ibu suri. Ibu suri mengatakan kalo itu adalah anugrah terbaik. Syukurlah para anggota keluarga kerajaan bisa berkumpul. Hwi tersenyum sedangkan paman dan Kang enggak. Kang menyela, tapi...kenapa mereka nggak dikasih tahu dari awal tentang kabar gembira itu? Raja menjawabnya dengan tersenyum. Karena mereka belum lama ini berkabung. Raja ingin berbagi kebahagiaan setelah berkabung berakhir. Ibu suri menambahi, karena banyak kemalangan, mereka harus berhati-hati. Besok pagi, keluarga kerajaan akan menggelar upacara ucapan selamat. Saat itulah pengumuman kerajaan akan diberikan. 


Hwi tersenyum dengan gembira menanyakan apa sibayi cantik? Apa dia mirip dengan yang mulia? Ibu suri ngasih tahu kalo Hwi akan melihat bayi itu setelah bayi berusia 21 hari. Dia sangat mirip dengan raja. Kang dengan wajah serius mengatakan ia benar-benar ingin melihat si bayi. Ibu suri langsung merasa nggak nyaman. Begitu pula dengan Hwi dan raja. 


Hwi kembali ke kamarnya bersama dengan Gi Teuk. Tiba-tiba Hwi nyuruh Gi Teuk untuk pergi ke ruang cuci. Gi Teuk nggak ngerti kenapa dia harus pergi ke ruang cuci? Hwi mengatakan ada sesuatu yang bisa ditemukan disana. Gi Teuk menurut meskipun nggak ngerti juga apa yang harus dia ambil. Hwi menghela nafas ia sangat berharap Gi Teuk bisa menemukannya.


Paman sedang bicara berdua dengan Kang. Paman berkata, raja mengenakan pakaian berkabung, berpuasa dan sedih saat masa berkabung. Tapi diam-diam dia membawa pergi permaisuri yang hamil ke rumah keluarganya agar mempunyai anak. Kang mengatakan kalo tubuh raja adalah bangsa. Itu bukan keinginannya tapu harapan terbesarnya. Paman membalas kalo ibu suri sudah tahu. 


Paman mendesah dan mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya. Ia bertanya apa Kang tahu apa itu? Paman membukanya di depan Kang. Ia memberitahu kalo itu adalah obat dari wilayah barat. Itu obat yang menghentikan rasa sakit dan menyebabkan jaringan granulasi terbentuk. Wanita hamil nggak boleh meminumnya. Bahwa ketidaktahuan keluarga kerajaan bukanlah kehendak surga. Dia pasti sudah tahu itu. Itulah sebabnya dia mengambil permaisuri dari selir istana yang mereka beli untuk berada dipihak mereka. Kang yang khawatir menanyakan apa yang akan terjadi padanya sekarang? Apa dia harus hidup dengan tenang seperti adik raja? Paman melotot menatap Kang. Apa ada jaminan kalo bayi itu akan tumbuh dengan sehat? Meskipun dia tumbuh menjadi pangeran yang sehat, masih butuh waktu yang panjang untuk menjadi raja. Paman nyuruh Kang untuk melihat dirinya. Ia menyerahkan tahta kepada adik laki-lakinya. Siapa yang tahu kalo dia akan hidup lebih lama dari adiknya. Rencana paman untuk menjadikan Kang sebagai raja nggak akan berhenti. Kang memotong. Baginya keadaan sekarang berbeda dari masa lalu. Keluarga kerajaan sekarang memiliki pewaris tahta. Kang dan paman tampak memikirkan rencana mereka selanjutnya. 


Hwi melukis bunga menggunakan sim Jung Cheon. Di tengah-tengah proses melukis dia malah teringat akan Ja Hyeon yang sedang bersama dengan Kang. Hwi lalu menghela nafas. Ia kembali melukis.


Raja mengumpulkan para menteri dan pangeran. Ia membacakan pengumuman. Beritahu semua orang di 8 wilayah negara. 

Dengan anugerah dari surga dan pertolongan nenek moyang, seorang pangeran yang mereka harapkan telah lahir. Mereka membagikan kebahagiaan ini secara luas, yang sebelumnya nggak ada. Untuk membalas surga dan rakyat. 

Paa menteri dan pangeran membungkuk memberi hormat. Mereka berterima kasih pada kemurahan yang mulia. 

Raja melanjutkan, dengan ini ia memberikan amnesti kepada penjahat dan mereka sekarang dimaafkan. Pajak bagi rakyat kecil akan ditiadakan dan kerja paksa akan berhenti selama dua bulan.
Para menteri dan pangeran kembali memberi hormat dan berterima kasih. 


Raja berjalan bersama dengan ibu suri. Diikuti oleh para kasim. Setelah itu Kang juga keluar dan melihat kepergian raja dan ibu suri. Wajahnya tampak suram. Habis itu dia pun berjalan ke arah yang berlawanan. Hwi keluar setelahnya. Ia melihat ekspresi kecewa Hyungnya.


Para menteri saling mengucapkan selamat. Sekarang tinggal permaisuri Hyo Bin untuk menjadi ratu. Mereka tertawa bahagia. Nggak jauh dari sana paman dan para menteri yang berada di pihaknya mendengarkan dengan wajah sinis. 


Kang melampiaskan kekesalannya dengan memanah bersama dengan paman. Tapi anak panahnya nggak mengenai sasaran. Paman memberikan anak panah pada Kang. Kang menghela nafas sebelum menarik busurnya. Paman menanyakan apa Kang merasa cemas? Kang nggak jadi memanah dan menoleh ke arah paman. Kang mengatakan kekuatan menteri pengadilan lemah. Ia membutuhkan mertua yang kuat yang bisa mendukungnya. Paman menyahut, kekuatan itu bisa dengan mudah hilang seperti angin. Apa mereka tampak banyak? Apa mereka tampak kuat? Jika Kang melemparkan umpan, mereka akan mendekat seperti anjing liar. Jika arah angin berubah, mereka akan ikut terbawa. Itulah sifat kekuasaan. Kang mendengarkannya sambil berpikir. Kang berkata kalo mereka membutuhkan umpan itu. Paman menyatakan kalo bayi yang baru lahir itu nggak bisa menjadi lawan Kang. Apa yang bisa dilakukan bayi itu? Paman bercerita saat orang-orang barbar dari China merampok Jepang, mereka nggak bisa memasrahkan nasib bangsa di tangan bayi yang baru lahir. Sejak dulu, jika pewaris tahta terlalu muda, sudah menjadi kebiasaan untuk melakukan penanggulangan selama krisis. Kang harus mendapatkan kuda yang bagus. Paman menoleh ke arah pengawal Kang dan bilang kalo dia akan mengirim Eol Eul Woon (oh, baru tahu namanya ^_^) ke wilayah utara. Paman memberikan anak panah pada Kang. Kang sudah merasa lebih tenang. Ia menarik busurnya dengan optimis. Dan kali ini anak panahnya tepat mengenai sasaran. 


Ibu suri berbicara dengan menterinya. Saat ini permaisuri Hyo Bin sudah pulih dari melahirkan. Meskipun mereka nggak bisa segera menjadikannya ratu, mereka perlu memberinya Myungho (gelar dan pangkat). Kalo gitu setelah dia benar-benar pulih, dia bisa berada di kediaman ratu. Menteri itu adalah kakak dari ibu suri. Ia menanyakan bagaimana dengan pangeran yang masih bayi? Ibu suri mengatakan akan menjadikan permaisuri Hyo Bin sebagai ratu dan pangeran yang masih bayi akan menjadi wonja (calon putera mahkota). Kakak ibu suri mengatakan akan membahasnya  dengan para menteri. Ibu suri mengangguk. 


Gi Teuk membawa sebuah bingkisan dan mengetuk sebuah rumah. 


Kkeutdan membuka bingkisan yang tadi dibawa sama Gi Teuk. Isinya adalah Sim Jung Cheon dan saputangan Ja Hyeon yang waktu itu. Kkeutdan sangat kagum. Ia mengambilnya. Itu adalah Sim Jung Cheon yang mahal. Salah satu yang sangat sulit untuk di dapatkan. Ka Hyeon heran kenapa Hwi memberikan itu padanya? Kkeutdan menduga kalo tuan muda itu pasti menyukainya. Ja Hyeon agak tersipu. 


Kkeutdan sebenarnya merasa aneh kenapa Hwi memberikannya. Kkeutdan bertanya-tanya apa dia mencoba membuat Ja Hyeon bertanggung jawab karena melihat tubuh telanjangnya? Ja Hyeon menegur Kkeutdan agar nggak membahasnya lagi. Kjeutdan malah menepuk tangannya dan membenarkan kalo ini pasti sogokan buat tutup mulut. Hwi juga pasti merasa malu karena Ja Hyeon melihat seluruh tubuhnya. 


Ja Hyeon jadi kesal sama Kkeutdan. Dia ngasih tahu kalo Hwi hanya melepas bajunya. Lagian juga Ja Hyeon nggal melihatnya dengan baik karena mereka berdebat. Kkeutdan menggaris bawahi, Ja Hyeon bahkan berdebat dengannya? Lalu apakah Ja Hyeon melakukan "ini" dan saling menyentuh? Ja Hyeon jadi makin kesal, rasanya pingin nimpuk. Dia nyuruh Kkeutdan buat berhenti mengatakan hal yang nggak pantas. 


Ja Hyeon mengambil benda yang lain lagi. Sebuah lukisan yang dibuat Hwi tempo hari. Ja Hyeon terkejut Hwi melukis bunga yang sama dengan yang ia lukis. Kkeutdan memujinya yang sangat cantik. Dia nyuruh Ja Hyeon buat membalas suratnya dan bilang kalo Ja Hyeon udah menerimanya. Ja Hyeon nanya, apa harus? Kkeutdan malah balik nanya, apa Ja Hyeon hanya akan menerima semua ini? Ja Hyeon bilang enggak. Dis ngasih tahu kalo sapu tangan itu awalnya miliknya. Hwi cuman melukisnya dan memberikan Sim Jung Cheon itu. Jadi dia harus membalas apa? Kkeutdan menghela nafas. Menurutnya mustahil Hwi nggak meminta mereka untuk membayar Sim Jung Cheon itu. Itu Sim Jung Cheon asli. Kkeutdan menyarankan untuk memberi uang aja karena ini yang Ja Hyeon cari. Ja Hyeon cuman menghela nafas dengar saran pelayannya.

Bersambung...

Komentar:
Kang kecewa banget dengan kelahiran putra mahkota. Nambah saingan. Dia nggak berubah, ya? Kalo lagi ada masalah pasti memanah. Dan paman juga nggak berubah, dia menyemangati Kang dengan hasutan saat Kang sedih. 

Dan setelah kita berkesal ria melihat Kang mulu di menit-menit awal, akhirnya kita bisa melihat Hwi mulai bertindak yang bikin Ja Hyeon senyum-senyum mulu. Akhirnya kita juga tahu kalo saputangan yang dilihatin mulu sama Ja Hyeon di awal episode adalah pemberian Hwi. 

Dan tentang rumor kalo ratu dan selir yang bisa hamil tapi nggak bisa melahirkan, tahu deh sekarang kalo itu adalah ulahnya paman. Hadeuh, tepok jidad.