Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 4 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 4 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 4 Part 3

Kang dan paman bersama-sama meninggalkan area memanah. Tiba-tiba di depan ada seorang wanita yang memakai penutup baju. Kang melihatnya. Wanita itu membuka penutupnya dan dia adalah Na Gyeom. Ia menatap Kang dan memberi hormat. Paman dan Kang sama-sama memalingkan wajsh mereka. 


Paman meninggalkan Kang dan Na Gyeom agar bisa bicara berdua. Paman bertanya pada pelayannya. Apa itu adik perempuannya Ja Joon? Pelayan paman membenarkan. Paman tersenyum dan memuji Na Gyeom yang menurutnya cukup berani. Paman lalu melanjutkan kembali langkahnya. 


Kang berdiri membelakangi Na Gyeom. Ia bertanya gimana bisa Na Gyeom tahu ia ada disana? Na Gyeom memberitahu kalo kakaknya datang dan pergi ke rumah pangeran Yang Ahn (paman). Ia mendengar kalo mereka berdua akan pergi bersama hari ini. Kang tersenyum mendengarnya, jadi Na Gyeom sudah memiliki orang yang memperhatikannya? Na Gyeom tampak menahan emosinya. Ia mengaku datang karena ada sesuatu yang harus ia katakan pada Kang. 


Kang berbalik. Ia siap mendengarkan apa yang ingin Na Gyeom katakan. Na Gyeom ingin mereka membatalkan pernikahan mereka. Na Gyeom merasa ia telah melanggar pertunangannya dengan Kang. Kang tersenyum percaya diri. Dengan tenang ia bertanya apa Na Gyeom sudah nggak menyukainya sekarang karena Na Gyeom sudah tahu kalo calon suaminya suka bersikap kasar? Na Gyeom menjawab karena Kang nggak mempercayainya maka pernikahan itu nggak ada artinya. Alih-alih hidup dalam pernikahan dengan kesalah pahaman, ia akan hidup dan membuktikan bahwa dia nggak bersalah. Kang mengingatkan kalo itu sudah diputuskan oleh keluarga kerajaan. Mereka nggak bisa mengubahnya. Na Gyeom juga Pasti sudah tahu hal itu. Na Gyeom menunjukkan dengan cara yang rumit bahwa Kang telah melukainya. . 


Na Gyeom menghela nafasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam pakaiannya. Ia mengarahkan benda itu ke lehernya sambil berkata, alih-alih membatalkan pernikahan, haruskah ia membuktikannya dengan kematiannya? Na Gyeom membuka penutupnya dan ternyata itu adalah sebuah pisau. Kang menatap Na Gyeom lalu meraih tangannya dan mendorongnya. Kang mengambil pisau itu. Ia mengatakan akan mengembalikan pisau itu pada Na Gyeom pada malam pertama mereka. Ia mengulurkan tangannya pada Na Gyeom dan membantunya berdiri. 


Kang bilang ke Na Gyeom kalo dia nggak perlu membuktikan apapun. Pernikahan mereka sudah diputuskan. Tapi apa yang ingin Na Gyeom tunjukkan padanya sekarang? Na Gyeom mengatakan nggak ingin menutup mata dan telinganya, dan langsung menerima sesuatu yang telah diputuskan. Dia sendirilah yabg telah memilih Kang. Dan ia ingin hidup dengan mengikuti impian Kang dalam hubungan bshagia suami istri. Kang tersenyum dan bertanya apa Na Gyeom tahu impiannya? Dengan yakin Na Gyeom menjawab akan mengetahuinya di masa depan. Kang mengatakan sampai bertemu di pernikahan mereka. Ia cukup mengerti dengan niat baik Na Gyeom. Kang lalu meninggalkan  Na Gyeom. Na Gyeom membalikkan badannya dan melihat kepergian Kang. Ia lalu menghela nafas. 


Gi Teuk kembali setelah memberikan bingkisan kepada Ja Hyeon. Hwi bertanya Gi Teuk nggak memberitahu Ja Hyeon tentang siapa dia, kan? Gi Teuk tersenyum mengiyakan. Ja Hyeon berpikir Hwi adalah tuan muda dari keluarga bangsawan biasa. Hwi bertanya lalu apa jawabannya? Gi Teuk mengatakan Js Hyeon nggak mengatakan apapun. Hwi sedikit kecewa tapi ia juga senang Ja Hyeon sudah menerima pemberiannya. Hwi menyesalkan. Seharusnya Gi Teuk menunggu dan menerima jawabannya. Gi Teuk mengaku sudah menunggu tapi dia nggak mendengar apapun jadi dia langsung pulang. Hwi menggela nafas kesal. 


Hwi kembali melukis, eh, bukan ding, menulis. Nggak lama kemudian, tulisannya sudah sampai di tangan Ja Hyeon. Hwa Baek Yok Seong Shi. Pil Sue Hak No Sa. Oh Sim Hwan Yeok Heo Jeon Gok Eee Jjok. Ja Hyeon lalu tersenyum. Kkeutdan yanv bingung kayak aku nanya apa yang dia katakan? Ja Hyeon menjelaskan kalo dia ingin melukis kuda-kuda perang, ia harus datang ketempat berkuda. Hwi bilang akan jadi gurunya Ja Hyeon. Kkeutdan yalin niatnya sangat jelas. Lukisan itu hanya sebuah alasan. Niatnya yang sebenarnya adalah pergi dengan Ja Hyeon, jadi Ja Hyeon nggak boleh pergi. Ja Hyeon bertanya, meskipun hanya belajar melukis? Kkeutdan memperjelas, apa menurut Ja Hyeon itu yang dipikirkan orang lain? Ja Hyeon bulanlah wanita penghibur. Kalo Ja Hyeon pergi dan bertemu pria di siang bolong, gimana dengan reputasinya? Ja Hyeon menghela nafas. Kkeutdan menyarankan agar Ja Hyeon menemuinya diam-diam di malam hari. Apa harus ia membantunya? Ja Hyeon meledek, Kkeutdan bisa nggak lebih konsisten? Dia membuat hidup Ja Hyeon jadi lebih rumit. 


Beberapa kuda berlarian di padang. Hwi tersenyum menyaksikan mereka sambil tersenyum menantikan Ja Hyeon. Ja Hyeon melangkah menggunakan pakaian pria dan Hwi terkejut menyaksikannya. Tapi habis itu dia malah tersenyum.  Ja Hyeon menghampiri Hwi. Hwi memalingkan wajahnya. Ja Hyeon maju selangkah sambil tersenyum. Hwi memperhatikan Ja Hyeon dan baru nyadar kalo dia adalah Ja Hyeon. Ja Hyeon melihat kuda-kuda itu dan terkagum-kagum. Dia nanya ke Hwi apa mereka masuk kedalam tempat berkuda? Hwi rupanya masih memperhatikan pakaian  Ja Hyeon. Dia bertanya ada apa dengan penampilan Ja Hyeon? Ja Hyeon menjelaskan kalo pria dan wanita berbeda. Kalo dia pergi dengan Hwi disiang bolong, akan ada rumor yang nggak menyenangkan menyebar. Dan bagaimana dengan reputasinya nanti? Hwi meledek, Ja Hyeon khawatir dengan reputasinya tapi dia membiaarkan pergelangan tangannya di pegang pria lain. Ja Hyeon bersikap kasar pada pria dari keluarga kerajaan, tapi tampaknya Ja Hyeon punya rasa malu, ya? Ja Hyeon menyangkal. Dia nggak bersikap kasar tapi menyingkirkan pengganggu. Meskipun dia memiliki tunangan, tapi dia nggak punya prinsip. Ja Hyeon jadi kesal sendiri. Ja Hyeon bertanya dimana mereka akan melukis? Hwi hanya menghela nafas. 


Pengawal Kang melihat Hwi dan Ja Hyeon dari kejauhan. 


Hwi dan Ja Hyeon berjalan mencari tempat untuk melukis. Hwi ngasih tahu kalo mereka pergi kesana, ada tempat untuk melukis. Ja Hyeon dan Hwi melewati pengawal Kang. Mereka sama sekali nggak sadar kalo lagi diperhatikan. 


Hwi mulai melukis kuda yang berkerumun. Ja Hyeon memperhatikan lukisan Hwi. Dia lalu tersenyum dan memujinya. Hwi bahkan nggak menggambar garis terlebih dahulu dan langsung melukis. Hwi menjelaskan kalo itu metodemelukid bentuk saat objek muncul. Ja Hyeon mrngatakan Hwi bisa merasakan kecepatan kuda dalam lukisan. 


Hwi menatap Ja Hyeon lalu tersenyum. Ia ngasih tahu kalo ingin melukis seperti ini, Ja Hyeon harus memperhatikan benda yang akan dilukis dengan sangat cermat. Jika ia mampu menangkap makna yang nggak bisa mereka lihat dengan mata mereka, ...Hwi menatap wajah Ja Hyeon dan jadi lupa buat melanjutkan kalimatnya. Dia terpukau. Ja Hyeon jadi canggung dan bilang akan mencoba melukisnya. Hwi juga mengangguk canggung. 


Ja Hyeon mulai melukis sambil sesekali melihat ke arah kuda. Hwi mengawasi sambil tersenyum. Mereka sama-sama melukis tapi sepertinya hasil lukisan Hwi lebih bagus dari punya Ja Hyeon. Hwi membantu mengarahkan. Ja Hyeon kesal dan berhenti melukis. 


Hwi menghampirinya dan mengambil kertas Ja Hyeon. Ia menggantinya dengan yang baru. Ia menyerahkan kuas ke tangan Ja Hyeon dan menggenggamnya. Hwi menuntun tangan Ja Hyeon untuk melukis lagi tapi Ja Hyeon malah ngelihat Hwi mulu (^_^). Hwi mrmberitahu saat menggambar seekor kuda dengan kencang penuh, Ja Hyeon harus melukis garis kepala dan kaki. Untuk ekornya, Ja Hyeon harus menampakkan bulunya, maka ia bisa merasakan energi angin yang bertiup. Seperti itu. Apa Ja Hyeon bisa merasakannya sekarang? 


Ja Hyeon menyindir, ia pikir Hwi mengatakan untuk nggak membiarkan pergelangan tangannya di pegang oleh seorang pria? Hwi mendekat dan bertanya apa Ja Hyeon melihatnya sebagai laki-laki? Hwi mengatakan kalo dia berusaha jadi guru Ja Hyeon hari ini. Ja Hyeon meletalkan kuasnya. Menurutnya Hwi bisa mengajarinya dengan kata-kata. Hwi mengulangi, dengan kata-kata? Hwi menatap wajah Ja Hyeon dan ia merasa sepertinya nggak bisa melakukannya hanya dengan kata-kata. 


Hwi meraih tangan Ja Hyeon dan menggenggamnya. Ia menarik Ja Hyeon untuk menunggang kuda. Tapi Ja Hyeon sangat takut dan malah memeluk kudanya. Hwi menyuruhnya untuk meluruskan punggungnya, kudanya nggak akan jalan jika Ja Hyeon seperti itu. Ja Hyeon mengingatkan kalo ia hanya bisa menonton. Disini terlalu tinggi. Hwi menertawainya, dengan begitu kuda bisa berjalan. Ia mencoba menenangkan Ja Hyeon dengan bilang kalo ia yang akan memegang kendali. Ja Hyeon minta dibiarkan untuk turun, ia belum pernah menunggang kuda sebelumnya. Ja Hyeon meringis ketakutan. 


Hwi mendekat dan tersenyum. Ia bertanya apa hasrat Ja Hyeon untuk belajar begitu kecil? Untuk melukis kuda-kuda perang, Ja Hyeon pura-pura jadi pelayan dan menyelinap ke dalam tempat pertandingan. Dimana hasrat Ja Hyeon yang besar itu? Gimana Ja Hyeon akan bisa melukis kuda saat ia nggak tahu bagaimana rasanya menunggang kuda? 


Ja Hyeon menghela nafas panjang, memejamkan matanya dan perlahan-lahan mulai menegakkan badannya. Ia membuka matanya dan mendapatkan kembali semangatnya. Hwi bilang ke Ja Hyeon agar jangan takut. Kuda bisa tahu kalo Ja Hyeon takut, dan akan mengejeknya. Ja Hteon terkejut. Ia lalu mengangguk. Hwi juga ikutan mengangguk tapi habis itu dia tersenyum. 


Hwi hendak menarik kudanya tapi nggak jadi pas dia lihat tangan Ja Hyeon gemetaran. Hwi menghela nafas. Ia lalu ikutan menunggang kuda di belakang Ja Hyeon. Ia menarik kendali dan menepukkan kakinya ke badan kuda. Kuda mulai berjalan. 


Kang mengelap pedangnya. Pengawalnya yang melihat Hwi melaporkannya kepada Kang. Hwi di tempat berkuda? Tanya Kang. Pengawal Kang mengangguk. Kang berkata mungkin Hwi mencari kuda lain untuk mengganti kudanya yang terluka saat pertandingan. Pengawal menambahkan kalo Hwi bersama orang yang nggak dikenal. Seketika tangan Kang berhenti. Dia nyuruh pengawalnya untuk mengirim pesan ke Jo Hwi Gyeong. Katakan kalo Kang memberinya kesempatan lain dan kali ini dia harus berhasil. Dan untuk mengetahui identitas pria yang menemani Hwi. Pengawal Kang mengerti. Ia lalu bangkit dan memberi hormat pada Kang lalu pamit. Selepas itu Kang tampak berpikir.


Ja Hyeon mengatakan kalo tingginya berbeda tapi itu mirip dengan tandu. Hwi dan Ja Hyeon tertawa. Hwi lalu memeluk erat perut Ja Hyeon dan mempercepat laju kudanya. Ja Hyeon berteriak. Dia nyuruh Hwi buat nunggu bentar tapi Hwi sama sekali nggak menghiraukannya. Setelah beberapa lama Ja Hyeon sudah nggak takut lagi. Dia senang sampai nggak berhenti tertawa. 


Ja Hyeon melihat hasil lukisannya. Hwi bertanya apa Ja Hyeon melukisnya sendiri? Ja Hyeon menunjukkannya di sekujur tubuhnya. Ja Hyeon menatap Hwi. Ia nggak tahu kenapa ia melakukan itu. Mungkin karena ia belajar melukis secara diam-diam. Ja Hyeon mengaku orang tuanya nggak suka melihatnya melukis. Karena itu Ja Hyeon mulai melakukannya secara diam-diam sejak awal. Mungkin kebiasaan buruknya mulai terbentuk. Kapanpun ia ingin melukis, tintanya selalu menumpahinya. Hwi pikir mungkin karena Ja Hyeon nggak sabar. Ia menasehati agar jangan terburu-buru untuk hasil. Kalo Ja Hyeonenikmati prosesnya, secara alami ia akan memperbaiki kebiasaan itu. 


Ja Hyeon tiba-tiba berhenti berjalan. Ia mengingat Hwi bilang kalo dia Lee dari distrik Gwanggbang. Ia tersenyum lalu memperkenalkan diri. Namanya Seong Ja Hyeon. Hwi nggak merespon apa-apa. Ia hanya melihat Ja Hyeon. Ja Hyeon jadi nggak enak. Ia memperjelas, maksudnya karena mereka berdua pelukis, ia rasa meteka harus bertukar nama. Oh... Hwi mengoreksi. Pelukis apanya? Maksud Ja Hyeon guru dan murid? Ja Hyeon mengiyakan dengan terpaksa. Ia bertanya siapa nama gurunya? Hwi tersenyum dan menyebutkan namanya. Hwi. Ja Hyeon kurang jelas lalu menanyakannya lagi. Hwi mengucapkan namanya sekali lagi. Namanya Hwi. Ja Hyeon tersenyum dan menyebutkan nama Hwi berulang kali. Ia tersenyum dan bilang kalo ia bersiul, itu akan jadi nama Hwi. Hwi terpaku menatap Ja Hyeon yang terus-terusan menyebutkan namanya sambil tersenyum. 


Ja Hyeon melihat seorang wanita di depan dan nanya ke Hwi, siapa dia? Hwi melihat arah mata Ja Hyeon. Yoo Kyung menghadap Hwi dan memberi hormat. Ja Hyeon bertanya apa Hwi kenal wanita itu? Hwi nyuruh Ja Hyeon buat nunggu di tempatnya sementara dia menghampiri Yoo Kyung. 


Hwi bertanya kenapa Yoo Kyung datang? Yoo Kyung mengatakan kalo gari ini ia ingin melayani Hwi. Hwi memalingkan wajahnya. Dia nyiruh Yoo Kyung buat menjaga bicaranya. Hari ini Hwi ada urusan, jadi ia bepetgian dengan menyamar. Yoo Kyung tersenyum dan menilai sangat menarik. Bahwa pangeran... oops, Yoo Kyung mengaku nggak tahu kalo Hwi punya hobi seperti itu. Hwi menegaskan kalo dia nggak punya hobi untuk pergi ke Gibang (tempat tinggal gisaeng), jadi ia menolak permintaan Yoo Kyung. Hwi hendak berbalik, Yoo Kyung menahannya dengan bilang kalo dia ingin mengajak Hwi melihat lukisan. 

Bersambung...

Komentar :
Cckk..cckk.. Na Gyeom ini agresif banget, ya? Dia menemui Kang, bilang mau memvatalkan pernikahan tapi ujung-ujungnya malah mau membantu Kang mewujudkan mimpinya.

Hwi benar-benar udah mulai bertindak. Pakai alasan melukis buat mendekati Ja Hyeon, menunggang kuda, guru dan murid? Hmm.. tapi Ja Hyeon masih belum ngerti kalo dia adalah pangeran meski Hwi udah menyebutkan namanya yang sebenarnya.