Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 5 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 5 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 5 Part 4

Kang menaiki kudanya sementara Na Gyeom naik tandu. Mereka sudah sampai. Na Gyeom turun dari tandu demikian juga dengan Kang. Mereka berdiri bersebelahan. Na Gyeom bertanya apa ini istana Myeong Rae? Kang mengiyakan. Itu adalah tempat dimana ia tinggal sendiri saat ia masih kecil. Dengan janji untuk nggak pernah kembali ke rumah ini ia meninggalkan tempat itu. Na Gyeom menghadap Kang. Sekarang ia ada disisinya. Sekarang ia nggak sendirian lagi. Kang menghela nafas lalu menatap istrinya. Kang mengaku nggak tahu apa itu pernikahan atau apa itu keluarga. Karena orangtuanya adalah raja dan ratu, ia adalah pangeran. Ia belum pernah melihat pasangan suami istri sebelumnya. Jadi ia nggak tahu bagaimana cara bersikap terhadap istrinya. Na Gyeom tersenyum dan nyuruh Kang untuk hidup seperti pangeran. Ia sendiri akan mengurus sisanya. Kang menghela nafas lalu masuk. Na Gyeom pun melakukan hal yang sama. 


Hwi datang ke rumah Ja Hyeon. Gi Teuk memperkenalkan pangeran Eunsung pada pelayan. Mereka datang untuk mengunjungi putra sulung dan sarjana Konfusius, Seong Deuk Sik. Pelayan itu nggak tahu apa yang harus dia lakukan karena tuan muda sudah pergi. Hwi langsung nengok ke Gi Teuk. Gi Teuk nanya maksudnya yang mulia mesti jalan kesini untuk yang kedua kalinya? Hwi menyarankan untuk menunggu. Kalo menunggu, dia pasti datang, kan? Tanpa menunggu lagi Hwi bilang ke pelayan kalo dia akan menunggu di wisma. Pelayan mengiyakan dan mempersilakan mereka untuk masuk kedalam. 


Hwi dan Gi Teuk langsung masuk. Hwi tampak sangat gugup. Gi Teuk mengingatkan Hwi yang katanya akan menemuinya sendiri. Hwi menjelaskan ada strategi militer yang di sebut Wi-Wi-Ku-Jo (???). Jika lawanmu kuat, kau mungkin butuh pembimbing. Apa Gi Teuk nggak tahu itu? Gi Teuk yang berjalan di samping Hwi mengiyakan aja. 


Hwi tiba-tiba berhenti dan menghembuskan nafasnya. Dia menatap Gi Teuk dan menanyakan dimana kamar Ja Hyeon Nang-ja? Gi Teuk menuduh Hwi akan menyelinap ke kamarnya. Ia lalu menasehati bahwa Hwi nggak boleh melakukannya. Hwi nggak terima dituduh seperti itu. Gi Teuk pikir dia apa? Hwi menunjuk-nunjuk Gi Teuk. Dia nyuruh Gi Teuk untuk pergi dan bilang ke Ja Hyeon kalo ia akan menunggu di kebun belakang. Gi Teuk mengiyakan. Sebelum pergi ia mengepalkan tangannya bermaksud memberi semangat pada Hwi. Hwi juga ikutan mengepalkan tangannya. 


Hwi menghela nafasnya setelah Gi Teuk pergi. Dia gugup dan cemas. Ia bersandar di pohon sambil bergaya. Tapi ia rasa posenya nggak tepat. Dia lalu pindah. Ia berdiri sambil bergaya. Ah, nggak tepat juga. Habis itu Hwi duduk. Dan begitulah dia berpindah-pindah sambil menunghu Ja Hyeon. Tapi ujung-ujungnya dia kembali ke posisi semula. Bersandar di pohon. 


Tapi ternyata yang datang bukanlah Ja Hyeon melainkan Deuk Sik. Deuk Sik berjalan dengan terburu-buru menghampirinya. Hwi kecewa. Deuk Sik bertanya kenapa Hwi datang ke rumahnya tanpa memberi kabar terlebih dahulu? Ia bergegas dari Sungkyunkwan begitu dia menerima kabar itu. Gi Teuk baru datang setelahnya. Dia berdiri di brlakang Deuk Sik dan prlayan. Gi Teuk ngasih kode Hwi melalui gelengan. Ya... Hwi kecewa berat, nih. Tapi saat melihat Deuk Sik, dia tiba-tiba tertawa. Deuk Sik juga ikutan ketawa. Begitu juga dengan Gi Teuk dan pelayan (dan aku). 


Hwi mengaku hanya lewat. Seperti saat mereka bertanding dan pernikahan kakaknya. Kapan pun sesuatu terjadi di istana, kontribusi Deuk Sik sangat besar sehingga ia ingin memberinya sebuah pengakuan (???). Deuk Sik menatap Hwi dan memanggilnya. Sampai sekarang ia belum memberitahunya tapi Hwi tahu kepribadian pangeran Jinyang yang kerasa, bukan? Nggak mudah untuk menyenangkan hatinya. Hwi bilang tentu saja dia tahu. Dia kan adiknya, dan di merasa sedih. Deuk Sik meraih tangan Hwi dan menggenggamnya. Tapi setelah tahu ada seseorang yang mengerti hatinya, kesedihannya mencair. Hwi mengangguk sambil senyum. Ia berusaha menyingkirkan tangan Deuk Sik tapi tangannyx nggak mau lepas. Deuk Sik melanjutkan karena Hwi melakukan perjalanan yang sulit, ia mempersilakannya masuk ke dalam. Masih banyak yanv ingin ia beritahukan padanya. Hwi sebenarnya mau menolak tapi Deuk Sik malah menariknya dan nggak ngasih kesempatan untuk bicara. Gi Teuk hanya menatapnya sambil senyum. 


Ja Hyeon sendiri ada di kamarmya. Lagi baca buku. Kkeutdan yang sefang menjahit di sampingnya menasehati agar sebaiknya Ja Hyeon menunjukkan wajahnya karena Hwi datang untuk menemuinya. Dia masih belum pergi, lho. Dia sedang minum dengan Do-ryongnim. Apa karena dia ingin terus minum? Dia mungkin masih menunggunya. Ja Hyeon sama sekali nggak merespon. Dia terus menatap bukunya. Nggak membaca tapi melamun. Kkeutdan melanjutkan, tapi tetap saja seorang bangsawan berpangkat tinghu tergantung pada Ja Hyeom seolah-olah dia nggak punya harga diri. Kkeutdan menghadap Ka Hyeon dan bilang jangan kayak gini. 


Ja Hyeon menatap Kkeutdan. Ia bertanya apa dia harus pergi jika keluarga kerajaan memanggilnya? Apa dia harus menemui mereka meskipun ia nggak menyukainya? Kkeutdan menyahut, setidaknya Ja Hyeon harus mendengarkan alasannya. Kkeutdan menilai Ja Hyeon nggak berperasaan. Ja Hydon membantah. Hwi memiliki jalan sepanjang hidupnya jadi dia pikir orang lain harus mengikuti keinginannya. Dia menjadilam orang lain sebagai lelucon dan menipunya. Ia merasa jika merekavtetap dekat dengan orang-orang seperti itu, hanya meteka yang terluka. Mereka seharusnya nggak bergaul dengan orang-orang itu. Tapi Keutdan menilai kalo Hwi sangat menyukainya. Ja Hyeon mengatakan dia mungkin menyukai wanita lain selain dirinya. Kkeutdan terkejut dan menatap Ja Hyeon. 


Deuk Sik yang lagi minum bersama Hwi bertanya Hwi juga berpikir begitu, kan? Saat meteka makan malam terakhir kali, ia bilang padanya terlalu dingin di luar tapi dia nggak mau mendengarkan. Paman Jinyang duduk sendiri. Deuk Sik sampai mencontohkan cara duduknya. Dia berpura-pura kedinginan dan semacamnya. Hwi sendiri malas mendengarkan. Ia sengaja memalingkan wajahnya. Deuk Sik bertanya padanya, benar, kan? Hwi menatap Deuk Sik dan bertanya, apa? Karena nggak ngerti, dia asal mengangguk. 


Deuk Sik lalu menuangkan arak untuk Hwi. Ia merasa Hwi nggak terlalu suka minum. Hwi bilang nggak papa. Deuk Sik lalu menyarankan agar Hwi memakan makanan pembuka. Ia bahkan menyuapi Hwi segala. Hwi sendiri merasa nggak tenang karena Ja Hyeon nggak mau menemuinya. 


Paman dan Kang berada di gibang. Seperti biasa Yoo Kyung yang menjamu mereka. Kang menghela nafas. Ia merasa nggak seharusnya ia mengirim pengawalnya sendiri. Ia bertanya-tanya apakah Eo Eul Woon baik-baik saja dalam perjalanan kesana? Paman berpendapat malah akan berbahaya jika mereka mengirim banyak orang. Kang mengatakan meskipun dia kembali dengan selamat, mereka nggak bisa berhasil dengan cara politik saja. Paman menatap Kang dan merasa merdka perlu membawa tentara bayaran. Jika anggota kerajaan mengumpulkan orang, dia akan menimbulkan kecurigaan. Kang membutuhkan orang-orang yang akan bertindak berdasarkan perintahnya. Kang tampak memikirkannya. 


Na Gyeom bertanya pada pelayan, apa pangeran belum pulang? Pelayan ngasih tahu kalo pangeran hari ini tidur di luar. Na Gyeom menanyakan apa dia dirumah paman? Pelayan agak bingung menjawabnya, tentang itu... dia sedang rapat di gibang (lah, gimana? Situ kan istrinya? Masa nggak tahu? Malah nanya sama pelayan? Hadeuh, tepok jidad). Na Gyeom mengiyakan dan meminta agar pintu masuk tetap terbuka untuk jaga-jaga. Pelayan mengiyakan. Ia lalu pamit pergi. Na Gyeom tampak kesal setelah pelayan pergi. Seperti biasa ia meremas roknya. 


Hwi sedang di perpustakaan. Dari tadi dia terus mencari buku. Gi Teuk minta Hwi mengatakannya. Buku macam apa yang ia cari? Hwi mengaku kalo dia juga nggak tahu. Gi Teuk terusengikuti Hwi dan bertanya apa yang akan ia lakukan sekarang? Hwi bicara sendiri, bukankah mereka mengatakan ada jalan di dalam buku? Hwi terus mencari. Ia lalu menemukan sebuah buku yang menarik. Samguk Sagi (Sejarah Tiga Kerajaan). 


Hwi mengambilnya dan membacanya. Gi Teuk yang berdiri dibelakangnya merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Hwi dengan buku itu. Setelah membaca, Hwi tampak memikirkan sesuatu. Dia lalu tersenyum. Ia punya ide. 


Teman-teman ibu datang ke rumah. Mereka datang bersama pelayan mereka. Ibu-ibu itu bertanya-tanya apa benar keluarga raja akan mengadakan acara untuk mereka? Ibu menjawab dengan gurauan, itulah kenapa ia tinggal dengan suaminya alih-alih mengusirnya. Sontak ibu-ibu pada ketawa. Ibu menambahkan kalo dia tampak kasar di luar tapi dia baik hati di dalam. Salah satu ibu mengoreksi, itu bukan baik hati tapi perhatian. Ibu tertawa lalu mempersilakan mereka untuk masuk. 


Ibu bertanya pada pelayannya, ia sudah menyiapkan makanan? Pelayan mengiyakan. Ibu menyuruhnya untuk mengeluarkan semuanya dan ibu juga nyuruh buat ngasih tahu Ja Hyeon untuk ikut bergabung juga. Jadi mereka bisa menyaksikan cerita itu bersama-sama. Pelayan ibu mengiyakan. 


Rupanya Ja Hyeon nggak mau pergi. Kkeutdan berusaha menariknya yang pegangan sama meja. Kkeutdan bertanya apa Ja Hyeon nggak sakit karena mengurung diri dikamar? Ibunya sedang memanggilnya. Ja Hyeon kekeuh nggak mau. Kalo Kkeutdan ingin melihatnya dia kan bisa pergi sendiri. Kkeutdan nggak mau, Ja Hyeon sendiri nggak pergi gimana dia bisa pergi? Kkeutdan membujuk Ja Hyeon. Mereka bisa prrgi sebentar dan langsung pulang. Kkeutdan menarik Ja Hyeon lagi. Ibunya mengkhawatirkannya. Ja Hyeon mengatakan kalo ia harus membaca semua buku itu. Kkdutdan mengaku tahu itu adalah halaman yang sama dari buku ity selama berhari-hari. Apa Ja Hyeon pikir dia nggak tahu karena ia buta huruf? Kkeutdan berhenti. Ia merasa itu nggak akan berhasil. Ia lalu menggelitiki Ja Hyeon sampai pegangannya terlepas. Ja Hyeon menyerah. Ia akan pergi. Ia keluar lebih dulu. Kkeutdan bangkit dan memanggilnya. 


Ibu sudah duduk bersama teman-temannya menunggu pertunjukan sambil makan-makan. Salah seorang teman ibu berterima kasih, mereka menikmati jamuan hari ini berkat dirinya. Ja Hyeon datang. Ibu menyapanya dan memperkenalkannya pada teman-temannya. Ja Hyeon malas dan langsung duduk dengan wajah di tekuk


Tiba-tiba terdengar bunyi gong yang dipukul pertanda bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Ibu nyuruh semua orang untuk diam. Semua orang tampak senang. Hanya Ja Hyeon yang tampak nggak semangat. Seseorang di balik tirai bernarasi. 
Dahulu kala di era tiga kerajaan (Goguryeo, Baekje dan Silla). Pangeran Goguryeo, Hwungah menyelinap ke Beakje. Meski menjadi pangeran, dia jatuh cinta pada Hanju, wanita dari kerajaan musuh. Ibu-ibu pada terlena, omo, mereka jatuh cinta. Ibu berpendapat, pria dan wanita bersama, itu hebat. 


Gong kembali dipukul. Orang itu keluar dari tirai. Ia memaka topeng dan memegang kipas. Ia melompat lalu menunjuk orang-orang menggunakan kipasnya mengikuti ketukan. Ia lalu berputar dan melipat kipasnya. Ia berkata, cintaku, Anju Nang-ja. Dia nggak tahu kalo ia bukan dari kerajaan ini. Atau ia adalah seorang pangeran. Sebelum ia pergi, ia merasa harus mengatakan yang sebenarnya. Pangeran itu ingin memberitahu kekasihnya untuk pergi bersamanya. Tapi apa yang harus ia lakukan jika dia nggak menyukainya? Orang itu membuka kipasnya dan berputar. Kali ini ia membelakangi penonton. Ia bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan? 


Lalu seseorang keluar. Ia memakai topeng wanita. Dengan genit ia memanggil Do-ryongnim. Ia melangkah dan memanggil sekali lagi sambil menggoyangkan p*ntatnya. Sontak ibu-ibu pada ketawa melihatnya. Ja Heon mulai menikmati pertunjukan. Sang wanita menanyakan apa yang sang pria khawatirkan? Sang pria berbalik. Ia melipat kipasnya. Ia memanggil Nang-ja. Nggak masalah apa ia atau siapa ia, apakah perasaannya ngdak akan berubah? Sang wanita bangkit. Ia bilang kalo hati yang ia berikan bukan lagi miliknya. Iaendekati sang pria dan melanjutkan hatinya milik sang pria. Sang pria bertanya meskipun ia nggak berasal dari kerajaan ini? Sang wanita bertanta jika Do-ryongnim nggak berasal dari kerajaan ini lalu berasal dari mana? 


Sang pria menjawab ia bukan dari Baekje tapi Goguryeo. Para penonton  terkejut. Sang wanita bertanya gimana bisa seorang pria dari Goguryeo bisa datang kesini? Sang pria bangkit. Ia mengaku bukan dari rakyat biasa Goguryeo, tapi ia pangeran. Ia datang untuk menggali rahasia Baekje. Sang wanita kecewa. Gimana bisa dia menipunya? Mendekatinya, membohonginya, dan mempermainkannya? 


Sang wanita menyingkir. Sang pria menghampirinya. Dia terus mengatakan nggak gitu. Ia hanya takut. Sang wanita nggak mau di dekati. Ia lari. Sang pria mengalu jatih cinta pada sang wanita sebelum bisa mengatakan yang sebenarnya. Ia selalu merasa sangat takut. Wanita itu mendorong sang pria lalu berjalan menjauh tapi malah terjatuh. Ia menangis. Sang pria mendekat tapi sang wanita nggak mau di dekati. Ia pergi. 


Sang pria nggak berdaya. Ia menjatuhkan kipasnya dan berlutut menghadap penonton. Perlahan-lahan ia membuka topengnya. Dan dia adalah...Hwi. Ia menatap Ja Hyeon. Mata Ja Hyeon jadi berkaca-kaca. Hwi berkata, jangan percaya apa yang Ja Hyeon lihat. Percayalah pada waktu yang telah mereka habiskan bersama. 


Sejak pertama kali mereka ketemu; jantungnya gemetar. Lalu kita dibawa kembali ke saat-saat pertama kali Hwi ketemu sama Ja Hyeon. 
Meski Hwi kasar, Ja Hyeon menanggapi dengan simpati dan hati yang hangat. 


Habis itu kita diajak nginget pertemuan selanjutnya. Saat Ja Hyeon membalut luka di lengan Hwi. 


Hasrat yang Ja Hyeon miliki saat ia menyamar sebagai pria untuk bisa keluar dan belajar. 


Keingintahuannya yang membuatnta ingin pergi ke tempat terlarang (gibang). 


Ja Hyeon percaya padanya dan dengan berani mempertaruhkan hidupnya.