Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 5 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 6 Part 1

Semua itu hanya untuk Ja Hyeon. Entah siang atau malam, Hwi hanya bisa memikirkannya. Mata Ja Hyeon mulai basah. Hwi melanjutkan. Sebelum ia mengetahuinya, ia menjadi seseorang... yang nggak bisa hidup tanpa Ja Hyeon. Hwi bertanya maukah Ja Hyeon ikut dengannya? Pergi. Ibu-ibu nyuruh sang wanita untuk mengatakan kalo ia akan ikut dengannya. Sang wanita menghampiri Hwi. Ia berkata kalo Hwi tulus, ia akan bersedia masuk ke surga. Hwi nggak merespon. Ia lagi sibuk pandang-pandangan sama Ja Hyeon. Sang wanita menambahkan atau bahkan ke neraka. Hwi bertanya bisakah Ja hyeon mempercayainya? Sang wanita merasa nggak bisa mempercayainya tapi cinta yang telah Hwi tunjukkan padanya. Nama dan kedudukannya bisa selalu berubah. Ia hanya akan mengikuti hatinya. 


Hwi kembali pada perannya. Ia bertanya meskipun ia harus meninggalkan keluarganya, kampung halamannya, dan menerima kebencian orang-orang, Hwi meraih tangan sang wanita. Ia bertanya maukah ia mempercayainya dan ikut dengannya? Ibu yang semangat banget nyuruh sang wanita untuk bilang kalo ia akan pergi. Hwi dan sang wanita berpelukan dan semua orang bertepuk tangan. Hwi dan sang wanita kembali ke dalam tirai.


Nggak lama kemudian Hwi keluar lagi. Ia melanjutkan narasinya. Wanita dari Baekje yang pemberani, Hanju, mengikuti cintanya dan meninggalkan kampung halamannya. Tapi kemudian menjadi ratu Goguryeo dan hidup bahagia selamanya. Itulah kisah Heungan, raja Anja dari Goguryeo yang mencintai seorang wanita dari baekje. Semua orang bertepuk tangan lagi. 


Gi Teuk membereskan peralatan mereka. Hwi bertanya-tanya apa mereka menonton dengan baik? Hwi bertanya pada Gi Teuk, apa masih belum ada kabar? Gi Teuk merasa Ja Hyeon pasti terpengaruh oleh itu tapu kenapa nggak memberi kabar? Hwi menghela nafas. Ia harus pergi sekarang meskipun...meskipun ia nggak mendapat maaf darinya hari ini, nggak ada kesempatan lagi. Gi Teuk bertanya haruskah ia pergi dan bertanya? 


Hwi mau ngomong sesuatu tapi mereka keburu dipanggil sama ibu-ibu. Mereka bertanya Hwi dan Gi Teuk dari mana? Salah seorang ibu ngasih tahu kalo minggu depan adalah hari ulang tahun ibu mertuanya. Ia meminta mereka datang dan memperdengarkan cerita ini. Ibu yang di sebelahnya nggak terima. Berani-beraninya dia. Dia yang harus duluan. Ibu yang ini nanya berapa biayanya? Ia nfasih uang ke Hwi sebagai uang muka. Sebentar lagi ulang tahun cucunya. Satu kali di siang hari, dan satu kali di malam hari. Ia pikir dua kali sudah cukup. Ibu yang pertama mengatakan kalo ia punya syarat. Nggak bisakah mereka berdua nggak menggunakan topeng? Mereka sangat tampan. Kenapa menyembunyikannya dengan topeng yang mengerikan? Ibu yang kedua menyela. Nyonya Jeong sama sekali nggak mengenal seni. Mereka berpura-pura sebagai perempuan, itulah sebabnya mereka melakukan itu. Ibu yang pertama menyampaikan kalo ia nggak membutuhkan peran wanita. Apa nggak ada cerisa yang banyak prianya? Para ibu di belakangnya lalu tertawa. Ada-ada saja. 


Hwi dan Gi Teuk berjalan pulang. Gi Teuk mengikuti Hwi dengan menggendong kotak peralatan mereka. Ia mencoba menghibur Hwi agar nggak terlalu kecewa. Hatinya mungkin sedikit melunak. Jadi kalo Hwi menulis surat untuknya besok, ...


Hwi tiba-tiba berhenti. Ia melihat seseorang di depan yang sedang melihatnya juga. Ia membuka penutupnya dan terntata dia adalah Ja Hyeon. Hwi tersenyum. Ah, jadi baper.


Mereka bicara berdua. Hwi bertanya kenapa Ja Hyeon jadi sangat kurus? Ja Hyeon membalas kalo Do-ryongnim, eh nggak, yang mulia  juga jadi sangat kurus. Hwi meminta maaf. Awalnya ia nggak punya alasan untuk mengungkapkan identitasnya. Lalu Ja Hyeon terus mengatakan bahwa ia membenci keluarga kerajaan. Jadi sulit bagi Hwi untuk mengatakannya. Hwi tahu seharusnya ia memberitahu Ja Hyeon. Tapi ia malah terus menunda sampai Ja Hyeon mengetahuinya sendiri. 


Ja Hyeon jadi merasa malu dan mengalihkan dengan menanyakan sejak kapan Hwi mulai melakukan Jeongisu (bentuk cerita tradisional)? Hwi seharusnya memerankan peran Hanju, ia pasti terlihat mirip perempuan. Hwi menatap Ja Hyeon. Ia bertanya apa Ja Hyeon sudah memaafkannya? Ja Hyeon mengaku nggak bisa memaafkan Hwi tapi... dia pikir akan bisa memahaminya. Hwi sedikit tersenyum. Nggak papa kalo Ja Hyeon nggak bisa memaafkannya. Tapi selama sisa hidupnya, ia minta tolong agar ia bisa di samping Ja Hyeon dalam ketenangan. Mereka bahkan berpegangan tangan dan berciuman. Apa Ja Hyeon berencana menikahi pria lain seolah nggak ada yang terjadi? Ja Hyeon menegur, yang mulia! Hwi tersenyum dan hal itu membuat Ja Hyeon jadi merasa malu. Hwi lalu mengatakan Ja Hyeon sudah menjadi wanitanya. Ja Hyeon jadi makin tersipu. Ia memalingkan wajahnya. Hwi maju dan menmegang kedua lengan Ja Hyeon. Ia menatap wajah Ja Hyeon lekat-lekat. Orang-orang memanggilnya sebagai pangeran tapi Hwi merasa nggak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa. Sebagai suami dan kekasih seseorang, itulah satu-satunya  kehidupan yang bisa Hwi jalani. Jadi, daripada pernikahan yang diatur oleh para tetua, ia menginginkan  sebuah pernikahan yang menjadi miliknya sendiri. Ja Hyeon. Ja Hyeon tersenyum dan mengiyakan. Hwi melanjutkan, memanggil nama masing-masing... mari hidup seperti itu. Teman tapi mesra (???) seperti itu. Ja Hyeon tersenyum dan kembali mengiyakan. Hwi mempersilakan Ja Hyeon untuk memanggil namanya. Ja Hyeon malah terdiam. Hwi bertanya apa Ja Hyeon nggak tahu namanya? Ja Hyeon lalu memanggil Hwi. Ia sangat bahagia sampai terus memanggil. Saat ia memanggil nama Hwu, itu seperti suara bersiul. Hwi tersenyum. Ia bersumpah padanya, bahwa Hwi akan selalu melindungi Ja Hyeon selama sisa hidupnya. Bahwa ia hanya akan mencintai Ja Hyeon. Ja Hyeon sendiri nggak bisa berkata-kata. Hwi maju dan mencium Ja Hyeon mesra (aww... akhirnya Hwi dapat maaf dan dapat ciuman pula dari Ja Hyeon). 


Ibu mau menemui ayah yang sedang membaca di ruangannya. Ayah mengiyakan dan mempersilakan ibu untuk masuk. Ibu masuk sambil mrmbawa air hangat. Ayah bertanya apa itu? Ibu mengatakan kalo ia mdlihat ayah tampak lelah malam ini jadi ia menyiapkan air panas untuknya. Ayah merasa ibu bisa menyuruh pelayan untuk melakukannya. Kenapa ia harus melakukannya sendiri? 


Ibu bangkit dan menghampiri ayah. Ia lalu duduk di samping ayah. Harus ada hal-hal yang ibu lakukan sendiri untuk ayah. Ibu memijit bahu ayqh dan mengatakan ia hanya menerima dari ayah setiap hari. Ayah hanya berdehem. Ibu menyinggung tentang hari ini yang terasa sangat menyenangkan baginya. Ia sudah merasa sedih dengan melemahnya hubungan pernikahan, tapi ibu tahu ketulusan ayah sekarang. Ibu tersenyum sedangkan ayah seperti nggak paham dengan maksudnya. Ibu melanjutkan kalo sebelumnya, ia sangat senang saat mendengar kisah cinta yang di ceritakan oleh pendongeng itu. Ayah memalingkan wajahnya lalu mengatakan karena ibu sangat menikmatinya, ibu bisa sering-sering memanggil mereka sebagai hobinya. Ibu menyahut, alih-alih berjudi,...ah, enggak, ini sanfat mendebarkan seperti perjudian. Eh..eh...ledek ayah. Ibu mengaku hanya ungin mengatakannya. Ibu lalu membuka pengikat pakaian ayah. (Ckck... episode ini banyak banget ya adegan giniannya? Nggak cuman Kang aja? Sampai ibu sama ayah juga?) Ayah mengaku masih ada buku yang harus ia baca. Ibu nggak peduli dan membuang buku itu. Ha...ha..ha..


Sungai Pajeo, di perbatasan
Para prajurit menjaga benteng. Tiba-tiba ada beberapa orang yang mengintai. Mereka melempar tombak pada para prajurit itu. Setelah berhasil menewaskan beberapa prajurit, mereka maju dan menyerang yang lainnya. Jendral yang ada di atas benteng memberi perintah pada para prajurit agar mengirim sinyal cahaya api. Serang para penyusup dan kirim pesan ke istana. Sementara itu keadaan di bawah sangat kacau. 


Pengawal Kang sudah kembali. Ia berhenti di depan istana. Ia turun dari kudanya dan menghadap Kang dan juga paman. Kang merasa lega dia kembali. Apa dia nggak terluka? Pengawal mengatakan kalo itu nggak penting. Paman lalu menanyakan bagaimana dengan tugas yang ia berikan padanya? Pengawal menyampaikan saat ia kembali, semuanya pasti sudah dimulai. Nggak lama lagi, kabar tentang medan perang akan tiba. Paman merasa mereka pasti akan meminta sesuatu. 


Pengawal mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Sebuah surat. Ia lalu memberikannya pada Kang. Kang membukannya dan membacanya. (Jangan tanya isi suratnya apaan, nggak bisa baca TT dan nggak di terjemahin juga TT). Kang menatap paman setelah selesai membaca surat itu, lalu memberikannya pada paman. Paman tampak marah setelah membacanya.


Du luar Na Gyeon berdiri di depan pintu bersama pelayannya. 


Paman mengatakan kalo keserakahan mereka berlebihan. Kang mengangguk dan nyuruh untuk memberikan lebih dari apapun yang mereka inginkan. Paman menatap Kang. Kang balas menatap paman lalu mengatakan mereka nggak bisa memilikinya. Meskipun ada sedikit rasa kecewa atau menyimpan dendam. Mereka harus benar-benar di pihaknya. Paman berkata entah itu biji padi atau kekayaan, paman merasa bisa memberi mereka. Tapi wilayah bukanlah masalah yang bisz mereka tanggapi dengan mudah. Kang mengatakan kalo untuk aaat ini, ia akan mengatakan kalo akan memberikannya kepada mereka. Kim Yu Shin dari Shilla melakukan negoisasi dengan teman-temannya untuk mempersatukan ketiga kerajaan itu, tapi begitu tujuannya tercapai, dia menjadikan teman-temannya sebagai musuh. Paman mengangguk. Diluar Na Gyeom terus menguping pembicaraan antara paman dan Kang. Kang mengatakan orang-orang Barbar itu, mereka bisa menghancurkannya nanti. Paman tersenyum mendengar rencana keponakannya. Ia menyampaikan seperti yang Kang katakan, mereka akan memikirkan masalah yang akan datang di masa depan. Begitu mereka mencapai impian mereka, maka jalan lain akan terbuka. Kang terdiam memikirkannya. 


Hwi menemui ibu suri dengan perasaan bahagia. Ibu suri tersenyum dan menanyakan apa ada hal baik yang terjadi? Ia khawatir karena Hwi tampak kurus, tapi hari ini, corak pakaiannya cerah. Hwi tersenyum. Ia ingin meminta tolong pada ibu suri. Ia pernah meminta ibu suri untuk membiarkan ia memilih sendiri pasangannya. Sejujurnya, ada seorang gadis yang ia sukai. Ibu suri terkejut. Hwi menambahkan asa pemilik baru di Gyotaejeon (tempat tinggal ratu) dan kakaknya sudah menikah. Hwi mengaku ingin menikah juga. Ibu suri tadinya ingin mencarikan calon istri untuknya. Siapa yang ada dalam pikiran Hwi? Hwi memberitahu kalo dia adalah putri Seong Eok, kepala sekretaris kerajaan dari kantor sastra dan penasehat khusus. Putrinya? Tanya ibu suri. Hwi mengiyakan. Ibu suri bertanya bagaimana Hwi bisa mengenalnya? Hwi menjelaskan, itu...ia bermain gyeokgu dengan putranya. Saat mengunjungi rumahnya bersama hyung, ia juga pernah melihatnya sebelumnya. Ibu suri menanyakan, Hwi pernah melihatnya satu atau dua kali dan ia ingin menikahinya? Hwi mengangguk sambil tersenyum. Dia memberitahu kalo Ja Hyeon memiliki hati yang hangat. Dia pemberani dan juga sangat baik. Mereka berdua suka melukis. Mereka akan lebih bahagia jika melukis pemandangan indah bersama. Ibu suri mengatakan akan menemuinya sebagai calon pengantin Hwi. Hwi menyampaikan ia ingin menghindari proses seleksi pengantin formal yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi masyarakat. Ibu suri tersenyum. Ia akan mengundangnya  ke istana dan mengenal mereka dengan baik. Hwi tersenyum dan memastikan ibu suri akan menyukainya. Ibu suri tersenyum dan meledek, dia bwlum menyetujuinya. Hwi tersenyum.


Seorang menteri berlari dengan sangat terburu-buru. 


Raja sedang menimang puteranya sementara permaisuri Hyo duduk di sampingnya. Raja tersenyum. Menurutnya ini sangat menarik. Dia sangat kecil tapi memiliki segalanya. Mata, hidung, bibir, dan wajah. Tangan kaki dan lengan. Gimana bisa dia sangat kecil? Ini sangat menarik. Permaisuri Hyo melarang raja mengatakan hal-hal seperti itu. Meskipun dia kecil, bagaimana jika ada yang hilang? Apa yang akan terjadi? Dia harus memiliki semuanya. Raja berpesan agar puteranya harus tumbuh dengan cepat. Tumbuh dan jadilah wonja, lalu menjadi putera mahkota. Ia harus menjadi raja yang lebih baik darinya. Permaisuri menghela nafas dan mengatakan raja harus kuat dan sehat. Raja mengiyakan. Ia harus berada di samping anaknya untuk waktu yang lama agar keluarga kerajaan menjadi damai. Permaisuri Hyo menghela nafas.


Dayang diluar memberitahu kalo sekretaris kepala kerajaan Shim Jeong telah tiba. Raja menatap permaisuri Hyo lalu bertanya ada apa? Shim Jeong memberitahu Jurchen dari lembah sungai Pajeo telah melintasi perbatasan. Permaisuri dan raja terkejut. Raja segera keluar. Orang-orang Barbar itu menjarah lagi? Shim Heong memberikan laporan pada raja. Raja mengambilnya dan membacanya. Ia tampak shock. 


Dayang juga menemui ibu suri. Ibu suri menanyakan apa yang terjadi? Dayang menyampaikan telah terjadi bencana di wilayah utara. Kepala sekretaris kerajaan telah menyampaikan laporan tersebut kepada raja. Ibu suri bertanya bencana? Apa orang-orang Barbar itu menimbulkan masalah lagi? Hwi mengatakan akan mencari tahu lebih  banyak informasi. Hwi lalu bangkit dan meninggalkan ruangan ibu suri. Ibu suri sendiri tampak khawatir. 


Raja keluar bersama Shim Jeong dan para kasim juga para pelayan. Shim Jeong memberitahu kalo mereka bilang itu bukan perampokan biasa. Mereka sudah memvakar rumah-rumah dan menculik rakyat. Mereka saat ini menghadapi tentara kerajaan. Raja menyuruhnya untuk memanggil menteri istana. Dan kirimkan Ho Bae (tanda pengenal) kepada anggota keluarga kerajaan. Shim Jeong mengiyakan. 


Hwi keluar dan melihat raja. Ia hendak menghampiri. Raja oleng lalu terjatuh. Semua orang terkejut. Hwi berlari menghampiri. Ia memangku kepala raja sambil memanggil-manggil. 

Bersambung...

Komentar :
Agak sebel sama Na Gyeom, tapi kasihan juga, sih. Udah resmi jadi istri Kang tapi suaminya malah masih suka nginep di gibang. Wajar dia agak geram.

Suka sama caranya Hwi buat meluluhkan hati Ja Hyeon. Dan nggak tahu kenapa aku juga ikutan nangis pas Hwi ngingetin Ja Hyeon ke masa-masa mereka pertama ketemu, pas Ja Hyeon mengobati lukanya Hwi, pas mereka belajar melukis kuda, pas di gibang. Bukannya baper atau terharu atau apa tapi aku keinget perjuangan aku nulis drama ini. Wah, perjuangan banget, deh. Dari yang namanya mood yang naik turun sampai terserang males akut sampai bisa selesai di lima episode pertama.  Hadeuh, tepok jidad. 

Ini adalah sesuatu yang bagus. Secara aku adalah orang yang gampang bosan. Ini aja aku udah pingin nulis dorama, ada satu dorama yang aku suka bulan ini tapi ya udah lah. Oh iya aku juga pingin minta maaf karena kemarin nggak bisa nerusin drama That Man Oh Soo. Dan buat yang ini semoga aja bisa namatin sampai kelar. Walaupun jarang ada yang komen juga, sih. Okey, sampai ketemu di Grand Prince di lima episode kedua. ^_^

6 komentar

Tetp smngat ya mba nulis sinopsisnya drama ini n that man oh soo nya jg pensran beut soalnya.. aku suka gaya nulisnya mba jels bgt soalnya...trimaksh mba bwt sinop smuanya....dtggu slnjtnya :)

Lanjut mbak...

Semangat ya kak nulisnya, tulisan kakk bagus n jelas lho... 😆😆😆

Tetep semangat nulis nya ya,, aq mantengin recapnya karena kangen sama Kim tak gu, hehehe

Baru nemu sinopsisnya..bagus kak..
Makasih dah buat sinopsisnya.