Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 6 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 5 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 6 Part 2

Hwi keluar dari kamar ibu suri dan melihat raja sedang berjalan bersama menteri, para dayang dan para kasim. Tiba-tiba raja oleng dan roboh. Semua orang khawatir dan memanggil-manggilnya. Hwi brrlari menghampiri dan memangku kepala raja. Ia bertanya kenapa ini bisa terjadi? Hwi menyuruh kasim untuk memanggil tabib kerajaan. Beberapa kasim mengiyakan dan segera pergi. Hwi terus memanggil raja tapi raja sama sekali nggak merespon. 


Dayang masuk ke kamar ibu suri dan memintanya untuk segera ke istana negara. Raja nggak sadarkan diri. Ibu suri terkejut. Ia pun segera bangkit.


Raja tengah di periksa oleh tabib dengan di temani oleh Hwi disampingnya. Ibu suri datang. Dia langsung menghampiri anak sulungnya. Ibu suri menanyakan apa yang terjadi? Tabib memberitahu kalo berita yang mengejutkan membuat penyakit raja kambuh. Penyakit raja semakin parah selama musim dingin. Hwi bertanya kapan raja akan sadar kembali? Tabib menjelaskan kalo raja baru saja menerima akupuntur dan melewati masa kritis. Ia akan menyiapkan tonik agar raja memiliki tenaga. Ibu suri mengatakan raja harus segera sadar. Situasi politik sangat mengerikan karena konflik di wilayah utara. Raja nggak bisa terbaring seperti ini. Hwi menatap raja dengan sedih dan khawatir. 


Seorang pria berlari memasuki istana. Dia memberi kabar pada paman dan Kang. Paman terkejut mendengar raja nggak sadarkan diri. Kang malah nanya apa raja sekarat? Mata-mata Kang memberitahu kalo tabib kerajaan sedang berusaha menyembuhkannya. Paman merasa surga membantu mereka. Surga ada bersama Kang, keponakannya. Kang menyimpulkan orang-orang Barbar menyerang dari utara, dan raja nggak sadarkan diri. Paman berkata meskipun ibu suri mengggantikannya, saat ini mereka sedang berperang. Ini bukan masalah yang bisa diatasi oleh wanita dan anak-anak. Anak buah Kang menanyakan kelanjutannya. Dengan percaya diri paman menjawab mereka butuh pemimpin yang kuat untuk mengatasi masalah ini. Kang meminta anak buahnya untuk segera mengumpulkan pasukan untuk menyerang mereka. Paman berkata jangan khawatir lalu mengangguk. 


Para menteri sedang rapat. Karena raja nggak sadarkan diri, Jurchens menyerang mereka dari utara. Mereka perlu memulai kembali rencana untuk menunjuk adik raja sebagai putera mahkota agar mereka bisa memobilisasi kekuatan yang mereka butuhkan untuk menghadapi masalah ini. 


Menteri yang lain nggak setuju. Ia  berpendapat kalo mereka harus pergi dan segera menghentikan orang-orang Barbar itu. Ini bukan waktunya untuk menunjuk putera mahkota. Menteri yang pertama menjelaskan saat ini nyawa rakyat sedang dipertaruhkan tapi mereka mengadakan rapat tanpa raja. Apa menurutnya mereka akan bisa mengatasinya dengan cara ini? Siapa yang akan meminpin pasukan di medan perang? Jika mereka mengirimkan pasukan ke utara, lalu siapa yang akan melawan perampok dari Jepang di selatan? 


Menteri yang ke dua menepuk meja sambil mengatakan jika merela menghabiskan waktu untuk mengumpulkan pasukan, rakyat akan kelaparan dan mati di musim dingin ini. Mereka harus segera mengirim pasukan. Menteri yang pertama mengatakan kalo gitu dia bisa pergi sendiri. Sontak semua menteri kanan menatap menteri itu. Menteri tadi menambahkan bukankah ia yang memiliki pengalaman dalam berperang diantara mereka semua? Ia memperluas perbatasan utara setelah berperang disana selama beberapa dekade. Kenapa dia nggak pergi dan melindunginya sekali lagi? (Wah, songong nih member menteri kiri, mentang-mentang pro sama Kang sampai perkataannya juga ngeselin seperti Kang). Menteri yang disudutkan terdiam dan nggak bisa berkata-kata. 


Ayah Ja Hyeon mengatakan kalo itu nggak mungkin. Dia kembali dengan luka parah akibat berperang, mereka nggak bisa mengirim sesepuh kembali kesana lagi. Perang akan sangat sulit bagi rakyat, mereka harus memberikan biji-bujian sebagai isyarat niat baik mereka dan meminimalkan dampaknya pada mereja. Menteri yang pertama berkata orang-orang Barbar nggak akan puas dengan hal itu. Mereka perlu menggunakan kebijakan yang lebih tegas. Menteri yang lainnya berkata yang mulia raja sedang sakit, siapa dari mereka yang akan menjadi sukarelawan untuk memimpin? Semuanya tiba-tiba memalingkan wajah. Nggak ada yang berminat. 


Menteri yang kedua mengingatkan, inilah kenapa mereka membutuhkan putra mahkota. Inilah sebabnya mereka nggak bisa mencari solusi untuk mengatasi masalah ini. Menteri yang lain lagi menambahkan mereka nggak bisa memutuskannya disini. Alih-alih raja, mereka harus membahasnya dengan ibu suri. Menteri yang pertama menggebrak meja lagi. Ia memutuskan ialah yang akan pergi. Semua orang menatapnya. Ia menambahkan karena meteka semua adalah sarjana yang nggak kompeten dalam strategi berperang, meskipun dirinya sudah tua, ia akan menawarkan diri, dan menghancurkan orang-orang Barbar itu. Ia yang sangat emosi lalu bangkit dan meninggalkan ruang rapat. Semua orang khawatir dan memanggilnya, Daegam! Sementara itu para menteri kiri tersenyum puas. Hanya ayah Ja Hyeon yang tampak khawatir. 


Menteri yang tadi menyatakan akan maju ke medan perang berjalan dengan marah. Anaknya melarangnya melakukan hal itu. Sang ayah berhenti dan berkata para politisi busuk itu! Jika rakyat dalam bahaya, yang mereka pikirkan seharusnya menyelamatkan rakyat, tapi mereka menggunakan kesempatan ini untuk keuntungan merdka sendiri. Sang anak mengingatkan kalo ia bahkan nggak bisa tidur karena tubuhnya sakit, tapi isvnalah akan pergi berperang? Menteri itu nggak peduli. Meskipun ia mati dalam perjalanan, Kim Chu nggak akan mundur. Anak itu menegur ayahnya. Menteri itu mengatakan mereka memiliki ibu suri dan wonja (yang akan ditunjuk sebagai putera mahkota). Demi mereka, ini sesuatu yang harus dilakukan oleh ayahnya. Ia lalu pergi meninggalkan anaknya. Sang anak hanya bisa memanggil ayahnya. 


Seorang pria (sepertinya mahasiswa) membacakan pemberitahuan di depan banyak orang, orang-orang Barbar berkuasa di utara tapi penyakit yang mulia raja semakin parah. Karena pewaris tahta belum ditentukan, para menteri terpecah, pemerintahan nggak berjalan baik,...


Sementara itu di tempat lain para sarjana juga sedang berkumpul membahas masalah itu. Kayaknya mereka melakukan demo. Seorang yang berdiri di barisan paling depanenhatakan orang-orang merasa nggak tenang dan melihat ke langit dari hari ke hari. Mereka para sarjana nggak bisa hanya berdiri dan menyaksikannya, mereka akan mengumpulkan para sarjana untuk mengajukan petisi kepada raja. Mereka ingin menunjuk putra mahkota sesegera mungkin dan melanjutkan pemerintahan. Mereka memohon agar para petinggi menerima petisi mereka. Paman menatap mereka sambil tersenyum. 


Permaisuri Hyo menangis menghadap ibu suri. Ia memohon agar ibu suri jangan mengirimkan ayahnya. Dia bukan seorang jendral seperti sebelumnya. Dengan tubuhnya yang sakit dan kelelahan, gimana dia bisa pergi sejauh itu? Dia telah kehilangan penglihatan dan pendengarannya, jadi dia nggak bisa menembakkan panah dengan baik. Apa yang bisa ayahnya lakukan di medan perang? 


Permaisuri Hyo menangis di hadapan ibu suri dan raja yang sedang nggak sadarkan diri. Ibu suri dengan tenang mengatakan nggak ada menteri yang memiliki pengalaman berperang seperti ayahnya. Permaisuri Hyo bertanya apa hanya ayahnya yang menjadi menteri? Ia meminta tolong agar jangan membuat ayahnya meninggal jauh dari rumah. Tolong pikirkan kontribusi ayahnya sebelumnya. Ibu suri hanya menghela nafas. 


Raja mengulurkan tangannya dan memanggil permaisuri Hyo. Ibu suri menggenggam tangan raja. Raja  mengangguk pada permaisuri Hyo. Permaisuri Hyo menangis. 


Di luar istana para sarjana masih berunjuk rasa meminta penunjukan putra mahkota. Mereka ingin pihak kerajaan menerima permohonan mereka berdasarkan keinginan para cendekiawan dan rakyat. Mereka bersujud di depan istana. Kang menatap mereka dan tersenyum. 


Na Gyeom berbicara dengan kakaknya. Ia merasa sepertinya pangeran Lee sedang merencanakan hal besar dengan pamannya. Ia bertanya apa Oraboeni mengetahui tentang hal itu? Kakak Na Gyeom diam dan nggak berkata apa-apa. Na Gyeom mengatakan kalo pasangan yang sudah menikah seharusnya berpikir dan bertindak selaras. Gimana bisa dia mendukung suaminya dalam masa-masa sulit ini tanpa tahu apa-apa? Kakak Na Gyeom mengangguk mengerti. Na Gyeom mengaku ada sesuatu yang ingin ia lakukan saat ia menikah dengan keluarga kerajaan. Bahwa ia akan bekerja sama dengan oraboeni-nya untuk membantu pangeran Lee untuk mewujudkan impiannya. Ia nggak akan tinggal di rumah tanpa tahu apa yang sedang terjadi, hanya bertanggung jawab atas tugas dapur. Kakak na Gyeom luluh dan memberitahu mereka mencoba menunjuk putra mahkota sebelum Wonja tumbuh dewasa. Na Gyeom terkejut, putera mahkota? Kakak Ns Gyeom menambahkan, wonja masih sangat muda, dan raja sedang sakit. Jika dia menjadi putera mahkota sebagai adik raja, dia bisa menjadi pewaris tahta dan menjadi raja Joseon di masa depan. Jika itu terjadi, keluarga mereka akan mempunyai ibu ratu. Na Gyeom tersenyum dengan percaya diri. 


Ibu suri tampak sangat marah sampai meremas roknya. Ia akan mewujudkan keinginan mereka untuk menunjuk adik raja sebagai putera mahkota. Menteri yang tadi melapor menegur ibu suri. Ibu suri menyuruhnya untuk memanggil pangeran. Menteri melarang ibu suri untuk melakukannya. Ibu suri berpendapat semakin lama mereka mereka menunggu, maka semakin banyak orang yang akan menderita. Dan akan lebih sulit bagi putera mahkota juga. Menteri bertanya bagaimana ibu suri akan menangani ini di masa depan? Ibu suri mengatakan maka mereka perlu memberikan tahta pada seseorang yang bisa mereka tangani. Menteri tampak memikirkan siapa orangnya yang pantas. 


Ibu suri berbicara dengan Hwi. Saat ini para sarjana SungKyunKwan melakukan Hogokgwandang (demonstrasi) dan para politisi berada di ruang pertemuan menteri. Hwi mengaku mengetahui hal itu. Tapi itu sama sekali nggak masuk akal. Menurutnya jika mereka khawatir dengan raja dan memikirkan kerajaan ini, ini nggak mungkin terjadi. Ibu suri menyampaikan ink semua karena mereka belum menunjuk pewaris tahta. Hwi mengatakan mereka butuh waktu. Bagi wonja (putra raja yang usianya nggak bisa dinobatkan sebagai pangeran) untuk tumbuh dan menjadi putera mahkota. Ibu suri berkata mereka seperti wonja (adik raja). Mereka nggak percaya bayi yang belum genap berusiabsatu tahun dapat mengambil tanggung jawab. Ibu suri menegaskan Hwi harus menjadi Sae Jae (adik raja yang lebih muda sebagai putera mahkota). Ibu suri bertanya apa Hwi siap? 


Hwi terkejut dan bertanya apa maksud ibu suri? Sae Jae? Kenapa harus dia? Ibu suri mengatakan kalo Hwi harus melakukannya. Hwi masih menolak. Ibu suri mengatakan kalo itu (Kang) bukan kakaknya. Jangan anggap dia. Hwi nggak percaya ibu suri berkata seperti itu. Sejak lahir dan belajar berbicara, begitu ia belajar cara berjalan, kata-kata yang selalu ia dengar adalah jangan menginginkan tahta demi menaikkan statusnya mengingini apa yang kakaknya punya. Tapi skarang ibunya malah mengatakan padanya untuk menjadi pewaris tahta berikutnya. Ibu menyangkal perlakuan ibu padanya dulu? 


Ibu suri mengaku hanya menempatkan posisi putera mahkota di tangan Hwi sampai anak raja tumbuh dewasa. Hwi meninggi, lantas bagaimana setelah itu? Apa yang harus ia lakukan saat ia dianggap metebut posisi keponakannya? Hwi meminta tolong agar jangan menyeretnya ke dalam politik keluarga kerajaan. Ia akan mengikuti jalannya sendiri dan menikah, lalu tinggal jauh dari istana. Ibu suri tampak kecewa dengan penolakan Hwi. Tapi ia juga nggak bisa memaksakannya. 


Hwi keluar dari kamar ibu suri. Gi Teuk menanyakan apa yang dikatakan ibu suri? Apa ibu suri akan menunda pernikahan karena penyakit raja? Hwi tanpa sekangat mengatakan ibu suri akan mewujudkannya apapun yang terjadi. 


Ibu suri berbicara dengan dayang. Dayang menasehati agar ibu suri memberikan waktu pada pangeran Eunsung agar bisa menerimanya. Karena dia adalah anak yang tulus dan berbakti, pangeran Eunsung akan segera mengikuti keinginan ibu suri. Ibu suri menyahut kalo mereka nggak punya banyak waktu. Ada sesuatu yang Eunsung inginkan. Yang bisa mereka lakukan adalah membuat kesepakatan dengannya. Obi suri lalu mrnyuruh dayang untuk memberitahu Ja Hyeon untuk datang ke istana. 


Na Gyeom meletakkan semangkuk darah di hadapan sebuah tulisan. Ia mundur beberapa langkah lalu membungkuk beberapa kali seperti saat ia menikah. Kang lewat di belakangnya dan menatapnya. Dia seperti heran dengan apa yang dilakukan oleh istrinya kali ini. 


Setelah Na Gyeom selesai, ia pun mendekat dan menanyakan apa yang sedang Na Gyeom lakukan? Na Gyeom menghadap Kang dan memberi hormat seperti saat pernikahan. Na Gyeom menjelaskan kalo itu adalah janji kesetiaan yang ia tawarkan kepada Kang. Kang hanya tersenyum. Apa Na Gyeom belum puas dengan mengacungkan pisau peraknya sebelum pernikahan. Kang menanyakan keributan apa lagi ini? 


Na Gyeom mengambil selembar kertas di atas meja lalu memberikannya pada Kang. Kang membacanya. Yoon Na Gyeom, istri pangeran Jin yang berani mengumumkan kepada dewa langit, leluhur kerajaan dan para dewa dari pegunungan dan sungai, ia akan membantu suaminya dalam mewujudkan tujuan utamanya. Dengan saling setia dan saling menyayangi, ia akan mencintai darah dagingnya dan ia akan menunjukkan kekuatan seperti batu dan logam. Na Gyeom tersenyum menyebutkan sumpahnya. Kang menatap wajah istrinya. 


Na Gyeom lalu mengambil semangkuk darah yang juga ada di atas meja. Ia meminumnya tanpa rasa ragu sedikitpun. Setelah meminumnya, ia kembali menghadap Kang. Na Gyeom mengatakan kalo mulai hari ini dan seterusnya, ia bukan istri Kang lagi tapi pengikutnya. Sejak Periode Negara Berperang, orang menjanjikan kesetiaan kepada tuan mereka dan mereka menjadi saudara dengan minum darah hewan bersama. Alih-alih menjadi istri tercinta yang nggak tahu apa-apa, ia ingin menjadicpengikut setia Kang. Ia akan mempertaruhkan hidupnya dan nasib keluarganya demi tujuan Kang. Kang mengangguk sambil tersenyum lalu berkata hari ini tampaknya menjadu hari pernikahan sejati mereka. 


Kang lalu memgambil mangkuk yang berisi darah tadi dan meminumnya. Dia menghela nafas lalu menatap Na Gyeom. Kang menghampirinya dan menciumnya. 


Ja Hyeon memilih baju bersama Kkeutdan dan ibu. Kkeutdan mengatakan pada ibu Ja Hyeon kalo yang dipakai Ja Hyeon ini cukup bagus. Tapi menurut ibu itu sama sekali nggak bagus. Ia merasa  Ja Hyeon harus memakai yang lebih bagus. Ibu memilihkan untuk Ja Hyeon dan menyuruhnya untuk mencobanya. Ja Hyeon malas, itu sudah yang ke lima kalinya. Ia akan lelah berdandan sebelum memasuki istana. 


Ibu mengingatkan apa Ja Hyeon pikir ia akan menemui orang biasa? Ia akan bertemu dengan ibu suri. Jika Ja Hyeon gagal, maka ia akan menjadi hantu perawan. Ja Hyeon terpaksa mengambil baju itu dan menegaskan kalo hal itu nggak akan terjadi. Ja Hyeon mengembalikan baju itu dan memilih yang lain. Ia bertanya pada ibu apakah ia menginginkan menantu yang boros atau yang hemat? Ibu menjawab hanya ingin menantu perempuan yang memperlakukannya dengan baik. 


Ja Hyeon lalu menghadap ibunya. Ia ingin ibu juga berpakaian yang sederhana dan elegan, mengerti? Ja Hyeon nyuruh ibu untuk melepaskan cincin emas dan cincin batu gioknya. Ibu menyerah. Ia menyadari nggak akan sepemikiran dengan Ja Hyeon. Jadi ia nggak akan berpikir cukup jauh dan boros. Kalo gitu Ja Hyeon pergi aja sendiri! Baca aja bukunya! 


Ja Hyeon mengatakan kalo bukan itu maksudnya. Ibu mengeluh, bisa-bisanya Ja Hyeon nggak tahu apa yang ibunya rasakan. Ibu berusaha membuatnya terlihat pintar kalo-kalo Ja Hyeon membuat malu dalam pertdmuan yang langka itu. Lakukan saja sesuka Ja Hyeon! Ibu yang kadung kesal pergi meninggalkan Ja Hyeon. Kkeutdan memanyakan apa yang ingin Ja Hyeon kenakan? Ja Hyeon mengambil satu dan menanyakan pendapat Kkeutdan. Kkeutdan merasa itu cantik sekali. Ibu menoleh dan jadi tambah kesal. 


Anak buah Kang (kakaknya Na Gyeom juga) terkejut, menteri kanan? Paman mengatakan jika penunjukan putera mahkota tiba-tiba semakin besar, bisa jadi sulit untuk ditangani. Mereka akan mulai dengan ini. Paman merasa menyesal tapi ia akan menepatinya nanti. Anak buah Kang merasa nggak enak dan menolaknya. Setelah ia kehilangan ayahnya lebih awal, ia direndahkan karena jabatan yang ia terima. Ia berterima kasih pada mereka berdua, ia sangat terhormat hari ini. Paman dan Kang hanya tersenyum. Kang mengatakan kalo hyung-nim harus mengamankan posisinya sendiri. Begitulah caranya untuk bisa membantu Kang. Anak buah Kang menatap Kang. Ia berjanji akan melakulan apapun yang Kang perintahkan padanya. Kang mengambil sebuah kotak dan memberikannya pada kakak iparnya. Kalo dia naik jabatan, ia perlu mengeluarkan banyak uang. Kang menyuruhnya untuk menyimpan itu. 


Kakak ipar Kang membuka kotak itu. Isinya adalah uang (kayaknya). Ia sangat terkejut melihat saking banyaknya. Paman memintanya jangan berhemat. Setiap bulan paman akan memberikannya uang. Entah itu pemimpin serikat pedagang atau prajurit, ia harus mendapatkan kesan yang baik. Kakak ipar Kang menutup kotak uang itu dan meminta paman agar jangan khawatir. Ia akan mengumpulkan ratusan pria. Kang menyahut kalo ratusan pria nggak cukup. Paman dan kakak ipar Kang menatap Kang. Kang menatap kakak iparnya. Ia mengatakan jika waktunya tiba, bahkan ribuan pun nggak akan cukup. Kakak ipar Kang mengangguk, begitu juga dengan paman. 


Di luar Na Gyeom menyampaikan kalo ia akan mengunjungi istana. Kang keluar dan menemui Na Gyeom. Na Gyeom mengatakan jika Kang nggak memerlukan hal lain, ia akan pergi sekarang. Kang menanyakan ada perlu apa Na Gyeom mengunjungi istana? Na Gyeom menjelaskan kalo ibu suri ingin ia melihat calon istri pangeran Eun. Kang terdiam. Ia lalu bertanya siapa calon istrinya? Na Gyeom memberitahu dia adalah temannya, putri kepala sekretaris. Kang terkejut. Ia menanyakan apa ibunya yang memilihnya? Na Gyeom berkata kalo ia dengar pangeran Eunsung yang mengusulkannya. Kang menghela nafas. Ia akan mengantar Na Gyeom ke sana. Ia juga ada urusan di istana. Na Gyeom tersenyum. Ia senang (dikiranya Kang peduli padanya). 

Bersambung...

Komentar :
Ah, nggak tahu kenapa kali ini kok aku mendadak jadi kesal sama semuanya. Kesal sama Kang dan paman sudah pasti. Selain itu juga kesal sama para menteri kanan yang terus mendesak menteri kanan untuk setuju menunjuk putera mahkota dari adik raja, kesal sama ibu suri karena bersikeras mengirim ayah permaisuri ke medan perang, bahkan juga kesal sama Hwi karena menolak permintaan ibu suri untuk menjadi putera mahkota. Hadeuh, tepok jidad!