Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 6 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 6 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 6 Part 4

Pangeran Yang An (paman) datang. Ia meminta kasim untuk mengumumkan kedatangannya. Kasim pun mengumumkan kedatangannya seperti yang diminta. Paman pun masuk. Semua orang menatapnya. Paman memberi hormat pada ibu suri. Ibu suri bertanya ada perlu apa paman datang kesana? Paman mengaku datang untuk berbicara mengenai konflik atas nama semua anggota keluarga kerajaan. Ibu suri memotong, jika soal penunjukan Saejae, raja sudah membuat keputusannya. 


Paman sedikit tertawa. Sebenarnya ia kesana untuk berbicara tentang memobilisasi pasukan. Karena akn sulit bagi menteri kiri yang tua untuk pergi ke garis depan. Paman ingin menjadi sukarelawan sebagai gantinya. Ibu suri tampak memikirkannya. Ia bertanya, paman menawarkan diri? Dengan percaya diri paman menjawab mereka yang memiliki banyak keinginan akan takut mati. Salah satu menteri kiri mengatakan paman telah melewati batas. Paman mengaku dirinya berbeda. Tanpa tahu cara melayani, ia telah mengembara sepanjang hidupnya. Baginya ini sebuah kehormatan dan kesenangan. Salah satu menteri kiri mengatakan mungkinkah raja bisa pulih saat tahu kalo adiknya berada di garis depan? Tolong serahkan ke bawahannya. Paman memotong, jika anggota keluarga kerajaan nggak memberikan contoh, apa bawahan akan menggormati keluarga kerajaan dan mereka akan memaatuhinya? Para menteri saling tatap.


Ayah Ja Hyeon menyampaikan mereka telah memanggil pasukan dari seluruh penjuru negeri tapi mereka akan terlambat. Jika mereka nggak mengirim pasukan dari ibu kota, rakyat akan terus menderita. Ibu suri berkata jika nggak ada orang lain yang lebih pantas, keluarga kerajaan nggak punya pilihan lain selain menerimanya. 


Paman berkata lagi, karena putra menteri kiri telah memiliki banyak pengalaman berperang dari ayahnya, paman minta ibu suri menunjuknya sebagai prajurit paman. Saejae yang baru diangkat perlu menunjukkan kemampuannya. Dan membuktikan bahwa dia memiliki apa yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawab barunya. Suasana mendadak jadi tegang. 


Anggota menteri kiri mengingatkan bukankah pangeran Jinyang lebih hebat dalam memimpin pasukan? Paman mengatakan itulah sebabnya ia berpikir untuk membawa pangeran Jinyang pada awalnya. Namun orang yang akan bertanggung jawab penuh atas keluarga kerajaan adalah Eunsung. Para menteri kanan yang pro Kang tersenyum serasa di atas angin. Sementara para menteri kiri serta ibu suri merasa geram. 


Ibu suri berjalan bersama kakaknya yang juga seorang menteri. Ibu suri bertanya-tanya apa yang harus mereka lakukan dengan pangeran Yang Ahn? Orang yang mengerikan itu telah menyudutkan anaknya. Menteri mengatakan, sebaliknya, ini bisa jadi rencana untuk mendapatkan lebih banyak waktu. Ibu suri berhenti berjalan dan menatap menteri. Menteri melanjutkan pangeran Yang Ahn meminta pangeran Eun untuk menunjukkan kemampuannya sebelum di tunjuk sebagai Saejae. Selama waktu itu, bukankah menurut ibu suri perdebatan tentang siapa raja berikutnya akan mendingin? Pada saat itu perang akan dimulai. Saat raja sembuh dari penyakitnya, maka nggak perlu lagi menunjuk adik raja sebagai pewaris tahta. Pangeran yang masih bayi akan terus tumbuh dengan cepat dan pewarisan tahta akan berjalan dengan lancar sesuai keinginan ibu suri. Provokasi mereka bisa menjadi langkah besar bagi mereka. 


Tapi menurut ibu suri, Eunsung, Hwi bisa dalam bahaya. Kakak ibu suri bertanya apa ibu suri tahu Kim Kwan? Dia adalah putera Kim Chu yang juga di kenal sebagai harimau kuat dan sepupu pangeran. Keluarga kerajaan nggak boleh ditempatkan di garis depan. Ibu suri menanyakan maksudnya, karena Kim Kwan ikut berperang, akan ada yang melindungi Hwi? Menteri meyakinkan Kim Kwan akan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Hwi. Ibu suri memikirlannya. Ia masih khawatir. 


Gi Teuk memberitahu Hwi, ibu suri ingin menunjuk Hwi sebagai saejae. Semua anggota istana membuat kesepakatan besar dan menentangnya. Lalu pangeran Yang Ahn tiba-tiba muncul dan mengatakan akan membawa Hwi ke daerah utara. Menurut Gi Teuk itu masalah besar. Hwi berpikir sejenak lalu mengambil topinya. Ia keluar dengan tergesa-gesa.


Kang menemui ibu suri. Ibu suri santai menanyakan ada apa Kang menemuinya? Kang bertanya apa ia benar-benar anak ibu suri? Kenapa ibu seperti itu padanya? Ibu suri menatap Kang dan balik nanya kenapa Kang serakah? Kang mengatakan kalo serakah adalah sesuatu yang harus ia miliki. Bukankah anak seharusnya dibesarkan dalam pelukan orang tua mereka? Tapi ibu memperlakukan darah dagingnya seolah-olah ia adalah sesuatu yang mengerikan bagi raja karena Kang akan menghalangi jalannya. Ibu mengirimnya keluar dari istana. Dan sekarang ibu mengabaikan pewarisan tahta yang benar dan adil. Ibu suri menunjuk adik bungsu sebagai Saejae? Dengan mata berkaca-kaca Kang bertanya apa Kang bukan anaknya? 


Ibu suri mengaku ia juga nggak berpikir kalo menunjuk Hwi sebagai saejae adalah pilihan yang tepat. Karena sudah ada anak raja yang akan menjadi putera mahkota, itu hanya sementara. Ibu suro menawarkan jika Kang merasakan hal yang sama sepertinya, kang bisa membantunya menghentikan petisi para bangsawan yang berkerumun seperti lebah. Dengan mengurangi gangguan mereka dan menempatkan pemerintahan kembali ke jalur semula. Kang mulai geram ia menanyakan apa yang kurang darinya? Ia lebih sehat dari raja dan lebih tua dari Hwi. Orang-orang Barbar dari utara dan perampok Jepang dari selatan. Kang memberitahu kalo ia cukup percaya diri untuk membuat mereka berlutut dikakinya. Kang bertanya apa ia kurang dalam hal pelajaran? Apa ia nggak cukup pintar? Kenapa bukan dirinya? 


Ibu suri santai menghadapi anaknya. Ia menjawab karena keserakahan Kang. Alih-alih pemerintahan, keluarga kerajaan, dan adiknya. Itu karena keserakahan Kang yang membuatnya merasa lebih hebat dari orang lain. Apa Kang percaya kedudukan raja adalah suatu kehormatan? Ibu suri menjelaskan ini membutuhkan pengorbanan, pengabdian, dan kesabaran yang tiada akhir. Disanalah seseorang memimpin kerajaan. Kang menghela nafas. Matanya merah. Ia mengangkat wajahnya menatap ibunya. Air menggenang di kedua matanya.


Hwi yang mau menemui ibu suri melihat Kang keluar dari kediaman ibu suri. Ia menghampiri hyung-nya. Kang menyindir, ia sudah lupa karena Hwi bersikap seperti orang baik dan nggak serakah. Tapi Hwi akhirnya menikamnya dari belakang. Hwi menatap Kang. Tapi rupanya Kang belum selesai. Ia melanjutkan, memuji Hwi yang memang luar biasa. Ia serakah dan kejam (lah, bukannya kebalik, ya?)


Hwi berkata jika maksud Kang tentang penunjukannya sebagai Saeja, itu nggak akan pernah terjadi  keserakahan Kang yang nggak berguna telah menyebabkan masalah besar bagi keluarga kerajaan. Hwi bertanya apa sekarang Kang benar-benar ingin menyalahkan orang lain? 


Kang tersenyum. Ia berkata Hwi akhirnya mendapatkan tahta.ia menyindir, apa Hwi nggak berterima kasih padanya? Hwi menyatakan kalo ia berbeda dari Kang. Bukan itu yang ia inginkan. Kalo gitu Kang meminta Hwi untuk melupakannya saja. Jangan ikut campur. Menurutnya Hwi nggak berhak menerima tahta (lah, emangnya situ berhak?) Hwi menyela, jika Kang serakah, itu membuatnya terjebak di dalamnya. Kang harus membuang keserakahannya. Jika mereka bersikap serakah, mereka bisa dianggap sebagai penghianat. Hwi meminta Kang sadar diri. Ia lalu masuk ke kediaman ibu suri dan meninggalkan Kang. Kang sendiri tersenyum selepas Hwi pergi. 


Ibu suri tampak sedang berpikir. Hwi memintanya menarik kembali perintahnya. Jika itu terjadi, Hwi akan merasa diasingkan. Bahkan oleh kakaknya. Ia mengingatkan mereka adalah keluarga sebelum menjadi keluarga kerajaan. Hwi bertanya apa ibunya ingin melihat anggota keluarganya saling membenci dan bermusuhan? 


Ibu suri menghela nafas. Ia bercerita permaisuri Dinasti Han menyuruh anaknya dikurung. Wu Zetian dari Dinasti Tang membunuh anak-anaknya secara berurutan. Mereka mengatakan keluarga kerajaan membesarkan anak-anak seolah-olah mereka adalah musuh. Di depan kekuasaan, orang tua, anak-anak dan saudara kandung bisa saling bermusuhan. Ibu suri mengaku nggak bisa hidup sebagai ibu. Ia mengatakan pada Hwi selalu menangis setiap malam. Tapi saat matahari terbit, ia membersihkan sarung bantal yang basah karena air mata. Karena takdirnya ia terpaksa membuang anaknya sendiri. Itulah tanggung jawab seseorang yang menikah dengan keluarga kerajaan. 


Hwi menghela nafas mendengar penjelasan ibunya yang panjang lebar. Ibu meminta Hwi berhenti berbicara tentang memiliki cinta dan menerima takdirnya. Seperti bagaimana ia terlahir sebagai pangeran. Ia nggak bisa memilih. Hwi mengatakan karena ia bukan putera mahkota, tapi seorang pangeran, ia harus hidup dengan tenang. Tapi, sekarang, karena ia lahir sebagai pangeran, apa ibu suri ingin ia terjerat dalam masalah? Mata ibu suri mulai menggenang dengan air mata. Ia mengatakan masib Hwi adalah milik bangsa ini. Bahkan hidupnya bukan miliknya. Hwi menunduk. Dalam hatinya masih berat menerima semua itu. 


Kang berbicara dengan paman dan Na Gyeom. Kang menyampaikan kalo ibunyavnggak mau menunjuknya sebagai Saeja ataupun orang lain. Tapi dia berencana menunjuk Hwi sebagai saeja, meslipun dia anak bungsu. Paman mengatakan akan membawa Eunsung ke medan perang. Jika dia bisa membahayakan masa depan Kang, mereka harus menyingkirkannya. Meskipun dia adiknya. Na Gyeom menambahkan bahkan ayah dan anak laki-laki nggak bisa berbagi kekuasaan. Apa itu akan berbeda dengan saudara kandung? Kang berkata paman akan menghadapi bahaya. Ia bertanya gimana dia bisa menjadi sukarelawan untuk kesulitan seperti itu anas nama Kang? Paman menyampaikan kalo itu bukan untuk kepentingan Kang. Itu untuk mimpi paman sendiri. Mimpinya untuk membuat Kang duduk di tahta itu dan pemerintah atas langit dan bumi. Kang tertunduk sementara Na Gyeom terus menatap paman. Paman melanjutkan kalo ia sudah berjanji akan segera membawakan tahta itu. Meski harus mengorbankan nyawanya. Paman berjanji akan mewujudkan impian itu. Kang terdiam. Ia seolah sudah menemukan kembali kepercayaan dirinya. 


Seol Hwa terkejut mendengar bahwa Ja Hyeon akan menikah dengan pangeran Eunsung. Ia memastikan adik bungsu raja? Yang dia suka? Ka Hyeon mengambil kue yang dijatuhkan oleh Seol Hwa. Ja Hyeon nggak bilang apa-apa. Na Gyeom membenarkan berita itu. Seol Hwa marah. Ia melempari Ja Hyeon dengan kue. Seol Hwa menangis menanyakan apa Ja Hyeon bukan temannya? Seol Hwa sudah pernah bilang akan menikah dengannya karena ia menyukainya. Ja Hyeon menyahut, mengaku kalo ia juga sangat menyukainya. Seol Hwa mulai emosi. Ia mendesak, sejak kapan? Ja Hyeon nggak pernah mengucapkan sepatah kata pun selama ini. Ja Hyeon mau menjelaskan, ia mengaku nggak tahu kalo dia adalah pangeran Eunsung. 


Seol Hwa bangkit. Menurutnya ini nggak masuk akal. Ja Hyeon nggak bisa melakukan ini. Beraninya Ja Hyeon merebut laki-laki darinya? Seol Hwa melarang Ja Hyeon menikah dengan Hwi. Ja Hyeon nggak bisa menikah dengannya. Seol Hwa mengatakan nggak akan membiarkannya. Seol Hwa pergi meninggalkan Ja Hyeon dan Na Gyeom. Ja Hyeon bangkit dan menyusul Seol Hwa. Kejadian tadi malah membuat Na Gyeom senang. Ia tersenyum sambil memakan kue. 


Ja Hyeon mengejar Seol Hwa. Ia terus memanggilnya meski Seol Hwa nggak peduli. Ja Hyeon meraih lengan Seol Hwa. Kalo ia pergi seperti ini, ... . Ja Hyeon nggak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia melihat air mata Seol Hwa mengalir. Ja Hyeon bertanya kenapa Seol Hwa menangis? Ja Hyeon meminta maaf karena nggak memberitahu lebih awal. Tapi Ja Hyeon mengaku punya alasan untuk itu. Seol Hwa menduga pasti lucu bagi Ja Hyeon. Saat ia senang dan berbicara tentang dia, nggak tahu apa-apa, Ja Hyeon pasti sudah mencemoohnya dalam hatinya. Ja Hyeon mengaku bukan seperti itu. Seol Hwa memaksa Ja Hyeon untuk memilih ia atau laki-laki itu (ya pasti Hwi, lah. Orang ibu suri pas nanya orang tua apa Hwi, Ja Hyeon dengan tegas memilih Hwi. Apalagi kamu?) Ja Hyeon menunduk. Ia mengatakan ini bukan waktunya untuk itu. Seol Hwa marah, kenapa enggak? Jika Ja Hyeon  tahu Seol Hwa menyukainya dan ingin menikah dengannya, itu adalah akhir dari persahabatan mereka. 


Ja Hyeon sudah nggak bisa bersabar lagi. Ia memanggil Seol Hwa. Pernahkah Seol Hwa melihat wajah pangeran? Pernahkah Seol Hwa berbicara dengannya sebelumnya? Apa Seol Hwa pernah membuat janji dengannya? Kenapa Seol Hwa memperlakukannya seperti kekasihnya? Seol Hwa mengembalikan. Bagaimana dengan Ja Hyeon sendiri? Apa Ja Hyeon pernah berkencan dengan pangeran? Bukankah dia orang asing bagi mereka berdua? Ja Hyeon kesal sampai menggigit bibirnya sendiri. Seol Hwa meminta Ja Hyeon untuk jujur saja. Seandainya mereka berdiri berdampingan dan meminta pangeran untuk memilih, siapa yang akan dia pilih? Ja Hyeon menatap Seol Hwa dalam-dalam dan mengatakan kalo mereka berdua saling mencintai. Mereka bertemu secara kebetulan saat ia nggak tahu kalo dia pangeran. Dan hasrat mereka semakin dalam. Dengan tegas Ja Hyeon bilang Seol Hwa jangan mengganggu hubungan mereka. 


Seol Hwa mendidih dan mendorong Ja Hyeon. Ja Hyeon menghela nafas. Seol Hwa berkata mereka mengatakan bahwa kucing yang tenang bisa sampai ke puncak tungku pembakaran kayu terlebih dahulu. Tapi Seol Hwa merasa Ja Hyeon enggak. Dia bahkan nggak bisa tenang. Ja Hyeon langsung naik kesana. 


Ja Hyeon bangkit. Dia meminta Seol Hwa untuk tenang. Dan juga Ja Hyeon meminta Seol Hwa memberinya ucapan selamat sebagai teman. Seol Hwa menghela nafas. Dia mulai muak. Ia meledek, ja Hyeon suka diberi ucapan selamat? Seol Hwa memberitahu ini adalah akhir persahabatan mereka. Seol Hwa pergi meninggalkan Ja Hyeon yang nggak bisa berkata-kata lagi.


Ja Hyeon kembali pada Na Gyeo. Ia memberitahu kalo Seol Hwa pergi. Bagaimana ia menyelesaikan kesalahpahaman ini? Na Gyeom menyahut, untuk menghentikannya menjadi janda muda, Seol Hwa harusnya bersyukur. Ja Hyeon juga harus berhenti bermimpi menikah dengan Hwi. Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ja Hyeon jika ia menikah dengan seseorang yang akan mati? Ja Hyeon nggak ngerti maksud Na Gyeom dan menanyakannya. Na Gyeom menjelaskan maksudnya, pangeran Eunsung. Dia pergi ke utara untuk melaqan orang Barbar. Dia nggak bisa berjanji untuk kembalu dengan selamat, kan? Na Gyeom mengaku mengatakan ini semua demi Ja Hyeon. Meskipun itu adalah pernikahan kerajaan, jika Ja Hyeon nggak hati-hati, ia bisa saja jadi janda. Kalo Na Gyeom jadi Ja Hyeon maka ia akan memikirkannya kembali. Ja Hyeon menatap Na Gyeom dan bertanya apa Na Gyeom yakin? Pangeran Eunsung pergi ke medan perang? Na Gyeom menanyakan apa Hwi nggak mengatakan apa-apa padanya? Ja Hyeon seperti disambar petir. Mendadak ia jadi sangat sedih. 


Hwi merawat raja. Ia mengelap keringat hyung-nya. Hwi bertanya pada raja yang sedang sakit. Kenapa ia meminta Hwi untuk melakukan sesuatu yang sangat berbahaya? Dengan lemas raja mengatakan karena ia percaya pada Hwi. Hwi bertanya lagi, apa yang akan raja lakukan kalo ia menjadi serakah? Gimana jika Hwi. Gimana jika Hwi mengabaikan perintah dan menginginkan tahta keponakannya? Raja mengaku sudah tahu Hwi nggak memiliki keserakahan akan kekuasaan. Tapi Hwi punya keserakahan untuk bahagia. Bagi Hwi, satu bunga atau satu serangga yang dibuang dan diinjak nggak bisa ia biarkan karena ia memiliki hati yang lembut. Raja mengaku juga tahu Hwi adalah seseorang yang nggak bisa menyakiti orang lain. Hwi mengatakan nggak bisa melakukan itu. Mwskipun untuk melindungi tahta keluarga kerajaan. Ia merasa nggak bisa menerima perintah raja. 


Raja  menangis, begitu pula dengan Hwi. Hwi menyampaikan akan pergi ke medan perang. Ia menolak kekuaaaan tapi ia akan menerima tugas yang di berikan. Untuk nggak mengabaikan penderitaan rakyat mereka adalah tanggung jawab keluarga kerajaan dan pangeran. Raja memejamkan matanya. 


Hwi menghela nafas lalu bangkit. Ia mundur beberapa langkah. Sambil menangis Hwi mendoakan semoga raja menjadi sehat dan kuat kembali saat ia kembali menemuinya. Hwi bersujud menghadap raja sambil menitikan air mata. Raja sendiri juga menangis. Hwi bangkit setelahnya. Kedua pipinya basah oleh air mata. 


Ja Hyeon melangkah dengan lunglai. Dia nggak tahu lagi mesti ngapain. Kkeutdan yang berjalan di sampingnya juga jadi merasa khawatir. Kang tiba-tiba muncul di hadapan Ja Hyeon. Ia bertanya apa Ja Hyeon akan pergi? Ja Hyeon menatap Kang dengan mata berkaca-kaca. Ia bertanya, benarkah? Pangeran Eunsung mengajukan diri? Kang menatap Ja Hyeon dan menanyakan apa Ja Hyeon belum tahu? Kang menghela nafas dan memalingkan wajahnya. Ia memberitahu kalo Hwi mengajukan diri. Sebagai pria yang akan menikah, dia sangat berbeda dengan orang lain, bukan? 


Mata Ja Hyeon mulai menggenang. Kang menlangkah menghampirinya. Ia berbisik menyampaikan Ja Hyeon bukan siapa-siapa baginya. Bahwa ia adalah kekasih yang ditakdirkan dari surga. Itu memang takdir yang mengerikan. Kang lalu meninggalkan Ja Hyeon. Ja Hyeon terdiam menahan marah. Berkali-kali ia menghela nafas tapi perasaannya nggak juga membaik. 


Dari arah yang berlawanan Hwi sedang berjalan bersama dengan Gi Teuk. Mereka melihat Ja Hyeon sedang berjalan bersama Kkeutdan. Hwi tersenyum dan menyapa Ja Hyeon dan menghampirinya. Ja Hyeon nampak muram. Hwi bertanya dengan lembut, ada masalah apa? Ja Hyeon membuka pakaian yang menutupi kepalanya. Ia berkata kalo Hwi telah membohonginya lagi. Ia mendengar Hwi akan pergi ke medan perang. Ja Hyeon mengatakan pasukan yang akan menghadapi Jurchens, nggak bisa bertani atau memelihara hewan. Mereka hanya bisa membunuh dan menangkap dalam peperangan. Hwi memanggi Ja Hyeon, Nang-ja. Ia mengulurkan tangannya hendak menggenggam tangan Ja Hyeon. Tapi yang terjadi adalah Ja Hyeon menarik tangannya. Ia nggak mau Hwi menggenggam tangannya. Ja Hyeon mengatakan ia juga mendengar mereka memenggal kepala dan mengambil otaknya. Yang ia dengar sepanjang hari ini adalah betapa menyeramkan dan kejamnya orang-orang itu. 


Hwi bertanya siapa itu? Siapa yang membuat Ja Hyeon gemetar ketakutan seperti itu? Ja Hyeon mrnjawab Hwi. Pada awalnya Hwi nggak memberitahunya siapa dia sebenarnya. Kemudian Hwi memintanya untuk menjadi istrinya. Dan di belakang Ja Hyeon, apakah Hwi berencana untuk meninggalkannya dan pergi ke medan perang? Hwi menghela nafas dan mengatakan bukan seperti itu. Ja Hyeon memotong, kalo begitu apa Hwi nggak akan pergi? Hwi diam. Ja Hyeon bertanya sekali lagi apa Hwi nggak akan pergi berperang? Hwi menunduk. Dia nggak bisa mengabulkan permintaan Ja Hyeon. Diamnya Hwi membuat Ja Hyeon tahu. Ia tahu kalo dirinsa nggak berarti apa-apa bagi Hwi. Pangeran. Ja Hyeon pergi. Hwi memanggilnya. Tapi Ja Hyeon bahkan nggak mau berbalik. Gi Teuk mengira Ja Hyeon pasti sudah mendengar kabar itu dari orang lain. Seharusnya Ja Hyeon mendengarnya dari Hwi lebih dulu.


Ja Hyeon sampai di rumahnya. Dia berhenti dan menghela nafas panjang. Ia lalu menjatuhkan pakaian penutup kepalanya dan berbalik pergi. Kkeutdan memanggilnya dan hendak mengejar tapi akhirnya ia membiarkannya  


Ja Hyeon kembali pada Hwi. Sekali lagi ia menanyakan apa a sungguh nggak ada artinya bagi Hwi? Hwi tetap bilang bukan begitu. Ja Hyeon bertanya apa Hwi akan tetap pergi jika ia melarang? Hwi diam. Ja Hyeon meminta Hwi menikahinya duly sebelum ia pergi. Hwi tetap diam. Ja Hyeon mengatakan akan menunggu Hwi sebagai istrinya. Hwi meraih lengan Ja Hyeon dan mengajaknya menikah saat ia kembali. 

Bersambung.. 

Komentar :
Kayaknya semua orang nggak menyetujui Hwi dan Ja Hyeon menikah. Dari pihak Hwi ada kakak (yang justru suka sama calon istrinya) dan ibunya (yang ngasih syarat supaya Hwi bersedia menjadi putera mahkota dulu kalo mau menikahi Ja Hyeon), dari pihak Ja Hyeon ada temannya Seol Hwa yang juga suka sama Hwi. 

Agak kecewa juga sih sama Hwi. Dalam sebuah hubungan itu kan yang paling penting adalah komunikasi. Tapi Hwi nggak mengkomunikasikan semuanya pada Ja Hyeon. Apa-apa Ja Hyeon selalu dengar dari orang lain. Wajar dia kecewa.