Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 7 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 6 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 7 Part 2

Hwi berangkat ke medan perang bersama dengan paman dan kakak permaisuri Hyo dan juga banyak prajurit. Rakyat berbaris di sepanjang jalan memberi semangat padanya. Hwi melihat rakyat bersorak menyemangatinya. Ia juga melihat ikat rambut Ja Hyeon yang ia ikatkan di pergelangan tangannya. Hwi tersenyum. 


Ja Hyeon yang sedang menyamar ditanyai oleh seseorang. Dia dari keluarga mana? Orang itu mengaku dari keluarga pangeran Yang Ahn. Ja Hyeon menjawab kalo ia berasal dari keluarga Daejehak (Kepala sarjana). Orang itu melihat wajah Ja Hyeon ja Hyeon memalingkan wajahnya. Orang itu mengatakan pasti banyak pelayan di sana. Kenapa mereka mengirim pelayan yang sangat muda ke tempat yang keras? Ja Hyeon nggak menghiraukannya. Ia melihat ke depan dan tersenyum. 


Ibu masuk ke kamar Ja Hyeon. Hendak mengajaknya untuk melihat kakaknya. Tapi Ja Hyeon nggak ada di kamarnya. Ibu bertanya-tanya kemana gadis itu pergi lagi? Apa dia pergi sendiri untuk melihat kakaknya berangkat? 


Ibu sudah mau keluar tapi malah melihat selembar surat di atas meja. Penasaran ibu pun mengambilnya. Ibu bertanya-tanya apa itu? Ibu membuka amplopnya dan membacanya. 

Ja Hyeon : Ibu, aku akan melihat oraboeni dan pangeran pergi lalu segera pulang. Meskipun aku terlambat, jangan terlalu khawatir. 

Ibu berkata jika Ja Hyeon ingin melihat kakaknya pergi, dia seharusnya bersamanya. Apa yang dia rencanakan sehingga dia meninggalkan rumah sendirian? 


Ibu melipat kembali surat itu dan meletakkannya kembali ke atas meja lalu bergegas keluar. Ibu berpapasan dengan Kkeutdan yang sedang membawa air. Ya sudah, hal yang tak bisa dielakkan lagi terjadi. Baju ibu basah kena air. Kkeutdan yang panik segera mengelap wajah nyonya-nya. Ibu malah marah. Ia memperingatkan Kkeutdan kalo itu lap! Lap! Kkeutdan baru menyadarinya dan membuang kain lap itu. Dia bingung. Gimana, nih? Kkeutdan mendekat lagi. Kali ini dia mau mengelap pakai lengan bajunya. Ibu menolak. Dia nggak membutuhkan itu. Ibu menyuruh Kkeutdan untuk pergi dan memanggil Ja Hyeon. Kenapa dia pergi sendiri? Ibu menduga Kkeutdan sudah tahu itu. 


Kkeutdan malah balik nanya, dia nggak ada di rumah? Ibu memberitahu kalo Ja Hyeon pergi menemui pangeran Eunsung. Kkeutdan bertanya lagi, sendirian? Ibu berkata, itulah sebabnya kenapa ini aneh. Kkeutdan sama paniknya dengan ibu. Ibu bertanya, Ja Hyeon nggak mengemasi barang-barangnya dan pergi, kan? Ibu menyuruh Kkeutdan untuk memeriksa apakah ada yang hilang? 


Kkeutdan bingung nggak harus ngapain. Tapi habis itu dia menatap ibu dan bilang kalo dia nggak tahu apa-apa. Dia sama sekali nggak membantunya kali ini. Maksudnya dia nggak tahu kalo Asshi pergi. Ibu memperingatkan kalo Kkeutdan pura-pura nggaj tahu maka dia pantas mati. Jika dia nggak tahu sama sekali, dia pantas untuk diusir dari sana. Gimana bisa Kkeutdan jadi pelayan pribadi yang nggak tahu apa-apa? Ibu sampai memukul Kkeutdan saking kesalnya. 


Kkeutdan menghela nafas. Ia mengingatkan ibu, tahu sendiri, kan betapa nekatnya Asshi itu? Ibu juga menghela nafas. Ia jadi khawatir jika dia pergi ke medan perang. Gimana mereka bisa membawanya pulang? Kkeutdan bertanya haruskah mereka memberitahu Daegam (tuan pejabat)? Gimana, nih? Gimana? Yang lucu  Kkeutdan malah memeras tali pakaian ibu yang tadi basah. 


Kang menemui ayah Ja Hyeon. Ia bertanya apa ayah Ja Hyeon akan meninggalkan istana? Ayah Ja Hyeon menanyakan Kang yang belum pergi. Ia mengira Kang sudah pergi setelah melihat mereka berangkat. Kang mengaku sudah melihat mereka pergi tapi ia merasa malu karena nggak ikut pergi bersama mereka. Ayah mengatakan melindungi ibu kota sama pentingnya, jadi jangan memalsakan diri. Kang berkata melihat puteranya pergi ke medan perang pasti membuatnta merasa sedih. Kang ingin tahu apakah mereka bisa minum teh bersama di rumahnya? Kang bertanya bolehkah ia bertamu? Ayah tampak menghela nafas. 


Para prajurit sudah mendirikan tenda. Kini mereka sedang beristirahat. Para pelayan sedang menghangatkan diri di depan api. Nggak jauh dari mereka Ja Hyeon sedang menjahit. Pelayan yang tadi bertanya pada Ja Hyeon di jalan, bertanya apa yang Ja Hyeon lakukan? Ja Hyeon mengatakan nggak melakukan apapun. Orang itu bicara lagi. Kenapa Ja Hyeon nggak atang kesini dan menghangatkan tubuh? Ja Hyeon hanya tersenyum. 


Dua orang prajurit sedang berjaga di luar tenda. Di dalam, kakak permaisuri Hyo sedang menjelaskan langkah-langkah mereka. Sambil menunjuk peta ia mengatakan cara tercepat adalah mengambil jalan pintas melalui desa ini. Jika mereka mengambil jalur pantai, maka akan memakan waktu beberapa hari lagi. Paman menyahut, ia berpendapat jika mereka melewati pegunungan di cuaca dingin ini, akan terlalu sulit bagi pasukan. Ia menyarankan agar mereka mengambil jalur kanan agar mereka bisa beristirahat, di rumah milik kerajaan daripada di desa. Hwi tampak terkejut mendengar saran dari pamannya. Ia berkata bukankah rakyat mereka di utara sudah menderita sekian lama? Meskipun itu sulit, Hwi merasa mereka harus melakukan perjalanan secepat mungkin. Paman memotong. Jika mereka melakukan perjalanan lebih dari 30 li (15 km) dalam sehari, para prajurit akan kelelahan. Mereka nggak bisa memenangkan pertempuran melawan Jurchens yang kejam jika tentara mereka kelelahan. Sekali lagi paman menyarankan agar lewat jalan itu. 


Seorang prajurit masuk. Ia memberitahu makanan akan disajikan sekarang. Beberapa pelayan masuk membawakan makanan bagi tuan masing-masing. Gi Teuk juga membawakan makanan bagi Hwi. Sepiring ayam dan sepiring daging. Hwi melihat makanan itu dan makanan yang lain juga. Ia bertanya pada kakak permaisuri Hyo apakah biasanya mereka makan makanan lezat di medan perang? Kakak permaisuri nggak menjawab. Hwi menunduk menatap makanan itu. 


Hwi keluar dari tenda. Kakak permaisuri Hyo menyusulnya dan memintanya makan sedikit saja. Hwi mrnatapnya. Ia ingin tahu gimana kondisi makanan untuk prajurit. Hwi berkata akan berkeliling sebentar. Suhu udara akan turun saat matahari tenggelam. Hwi bertanya-tanda gimana mereka memprrsiapkan diri malam ini? Kakak permaisuri bilang kalo ia akan memandu Hwi. Ia berjalan lebih dulu dan Hwi mengikuti. 


Para prajurit termasuk kakak Ja Hyeon sedang makan di depan api. Makanan mereka sangat keras. Kakak Ja Hyeon sampai memukulkannya ke batu saking kerasnya dan nggak bisa digigit. 


Para pelayan juga memakan makanan yanh sama. Ja Hyeon sendiri juga bingung gimana cara makannya. Keras banget. Pelayan yang disampingnya mau minum tapi air minumnya nggak mau keluar. Ja Hyeon melihatnya dan memberikan miliknya. Orang itu menerimanya dan meminumnya. Ia bertanya kenapa airnya nggak beku? Ja Hyeon memberitahu kalo ia memasukkan garam di botolnya. Air asin nggak akan membeku. Orang itu tertawa dan memuji Ja Hyeon sebagai pria  yang cukup pintar. Ia menyuruh Ja Hyeon cepat makan. Meskipun itu adalah nasi beku. Ia harus memaksakan diri untuk memakannya. Ja Hyeon mengiyakan dan memakannya. Tapi lagi-lagi nggak bisa. 


Ja Hyeon melihat kakaknya di depannya yang nggak bisa minum. Dia hampir jatuh dan mengenai orang di belakangnya. Ja Hyeon memalingkan wajahnya agar nggak ketahuan. 


Semua orang bangkit karena melihat kedatangan Hwi. Para perajufit berbaris. Ja Hyeon meligat Hwi dan segera bangkit. Saat Hwi melintas, tiba-tiba seorang prajurit jatuh pingsan. Hwi bertanya apa prajurit mereka sudah ada yang terluka? 


Deuk Sik bangkit. Ia memberitahu kalo punggung para prajurit sudah terluka karena membawa barang. Dan yang lainnya tampak kedinginan. Hwi langsung menghadap kakak permaisuri, apa merek membiarkan para prajurit tidur di luar? Kakak permaisuri menyampaikan kalo mereka nggak punya banyak tenda untuk prajurit biasa. Deuk Sik menamvahkan, bahkan anak-anak dari keluarga bangsawan harus tidur di luar karena kekurangan tenda. Hwi menghela nafas. Ia tampak prihatin melihat keadaan ini. Hwi lalu memperhatikan sekitarnya. Ia lalu meminta kakak permaisuri untuk menyuruh prajurit yang sakit dan terluka untuk menggunakan tendanya. Ja Hyeon agak kaget dengar Hwi berkata begitu. 


Kakak permaisuri berkata untuk pergi sejauh itu... . Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Hwi sudah keburu memotong. Menurut  Hwi, perjalanan mereka bisa tertunda karena penyakit dan cedera mereka. Ia minta tolong agar ia melakukan seperti apa yang Hwi suruh. Itu perintah. Kakak permaisuri mengangguk. Ja Hyeon tersenyum. Ia merasa bangga pada Hwi. Ia nggak salah pilih. 


Kakak permaisuri menyampaikan pada Deuk Sik agar mencari prajurit yang sakit dan terluka yang paling parah dan memindahkam mereka ke tenda. Deuk Sik mengiyakan. Hwi melihat prajurit yang sakit dan dia juga nyuruh semua orang untuk duduk. 


Ja Hyeon dan para pelayan kembali duduk. Deuk Sik bertanya-tanya kenapa Hwi nggak bisa memperhatikannya sebanyak dia memperhatikan prajurit lainnya? Apa dia orang asing? Ia akan menjadi segera menjadi kakak iparnya. Diam-diam Ka Hyeon tersenyum mendengarnya. Deuk Sik jadi kesal sendiri. Dia menegur para prajurit. Apa? Dia bertanya apa yang mereka lakukan? Mereka semua sakit dan terluka, cepat masuk tenda sana! Beberapa prajurit bangkit. Deuk Sik membantu mereka. 


Ja Hyeon bangkit dan membawa tasnya. Dia pergi ke belakang tenda. Hwi melihatnya. Entah dia tahu itu Ja Hyeon apa enggak, tapi dis melihatnya dengan tatapan curiga. 


Ibu menunggu dengan cemas. Kkeutdan berlari sambil memanggilnya, Ma-nim! Kkeutdan memberitahu kalo Daegam sudah pupang dari istana. Ibu langsung  bergegas mau menemui ayah. 


Ayah sendiri sedang minum teh bersama Kang. Kang meminum teh yang ayah tuangkan. Habis itu Kang berkomentar kalo itu teh terlezat yang pernah ia minum baru-baru ini. Ayah mengingatkan Kang, bukankah ada yang ia ingin katakan? Kang bilang kalo ia tahu kalo adiknya melamar putri ayah. Ayah mengatakan kalo istri dan putrinya sudah bertemu dengan ibu suri  kang mengaku nggak tahu kalo ayah ingin menjadi Gukgu (ayah mertua raja). Ayah menatap Kang. Ia berkata meskipun suatu kehormatan bisa menjadi keluarga dengan raja, tapi  itu bukanlah sesuatu yang diinginkan keluarganya. Kang santai mengatakan ibunya ingin menunjuk anak itu sebagai saeja. Itu bukanlah sesuatu yang bisa ayah hindari. Ayah menghela nafas. Ia merasa mereka harus menunggu putra raja tumbuh dewasa. Tapi mereka harus mengambil tindakan. Sementara karena situasi di utara. Kang lalu mengatakan jika pangeran Eunsung ditunjuk sebagai Saeja nanti, apa daegam pikir masa depannya akan aman? Ayah menatap Kang tajam. Sepertinya Kang sedang mengancamnya. Kang melanjutkan, putera mahkota Jae dari Dinasti Mying membantai pamannya nggak lama setelah naik tahta. Hal yang normal untuk menyingkirkan rintangan berbahaya saat seseorang mengambil alih kekuasaan. Kang melarang ayah menempatkan putrinya satu-satunya di jalan masa depan yang nggak jelas dari satu hari ke hari berikutnya. Kang berkata jika ayah berada di belakang adiknya, maka kekuatan Eunsung akan bertambah. Saat dia menjadi dewasa, Wonja akan marah pada paman seperti itu. Ayah menatap Kang dengan mata merah. Ayah bertanya apa Kang takut? Kang tersenyum sambil mengangguk. Andaikan saja. Kang mengaku ingin mencoba untuk hidup sesuai keinginan raja sebelumnya. Ayahnya yang bijaksana memberinya jalan yang menyenangkan. Kang menanyakan menurut ayah, kenapa ayahnya melakukan itu? Kang berpesan agar jangan melihatnya seolah itu urusan orang lain. Ayah tahu bagaimana dinginnya ibu suri Kadang-kadang? Ayah sudah tahu itu dengan baik. 


Ibu masuk dan memanggil ayah. Ibu nyuruh ayah untuk pergi dan membawa pulang Ja Hyeon. Tanpa sedikitpun rasa takut dia pergi ke medan perang. Ibu baru menyadari kalo disana ada Kang juga. Ibu menutup mulutnya saking kagetnya  ayah menanyakan maksud ibu. Apa yang dilakukan Ja Hyeon? Ibu yang sudah sedikit tenang mengatakan maksudnya, Ja Hyeon pergi untuk melihat kakaknya berangkat. Ayah terkejut, apa? Dia pikir dimana itu? Dengan percaya diri Kang mengatakan akan mrmbawanya pulang. Ayah dan ibu terkejut mendengarnya. Sementara Kang hanya tersenyum. Kang lalu meminum tehnya lagi. Ayah dan ibu saling pandang. 


Kang bangkit setelahnya. Ayah juga ikut bangkit. Kang mengatakan ia mencari alasan untuk pergi ke sana karena ia harus menyampaikan sesuatu. Berhubung ia pergi, ia akan membawa putri ayah pulang. Ayah mengatakan kalo mereka akan mengurusnya sendiri. Ayah meminta Kang agar jangan khawatir ... . Kang memotong, tindakan nggak kenal takut puterinya bisa menimbulkan kesalahpahaman, bukan? Ibu berkata jika pangeran bisa membantu, mereka akan merasa tenang. Kang tersenyum. 


Ja Hyeon menyendiri dan masih menjahit. Akhirnya pakaian yang ia jahit jadi. Ja Hyeon mengangkatnya ke atas. Ia lalu melipatnya. Tiba-tibx seseorang mengacungkan pedang ke lehernya sambil menanyakan dia siapa? Orang itu adalsh Hwi. Hwi melanjutkan, tanpa izin dia meninggalkan pekerjaannya. Apa ia seorang mata-mata dari Jurchens atau seseorang pelarian yang menghianati rekan-rekannya? Ja Hyeon tersenyum. Hwi membentaknya, memintanya untuk mengatakannya. 


Ja Hyeon mrnghela nafas lalu berbalik. Ia tersenyum menatap Hwi. Hwi terkejut melihat itu adalah Ja Hyeon. Ia pun menurunkan pedangnya. Nang-ja! Hwi mendekat dan memegang kedua pipi Ja Hyeon. Ia bertanya gimana Ja Hyeon bisa disini? Hwi lalu beralih ke pakaian yang Ja Hyeon kenakan. Hwi nanya kenapa Ja Hyeon menyamar seperti ini? Ja Hyeon tersenyum. Enggak, dia hanya... . Hwi bertanya kapan Ja Hyeon datang ke sini? Apa dia nggak terluka? Ja Hyeon mengangguk. Hwi terus bertanya, kenapa Ja hyeon mengikutinya ke sini dan menyamar sebagai pria? Apa dia nggak kenal takut? Apa yang dia pikirkan untuk datang ke sini? 


Ja Hyeon menyerahkan baju yang ia jahit pada Hwi. Ia ingat Hwi bilang kalo utara lebih dingin. Hwi mengeluhkan, hanya untuk ini? Ja Hyeon datang ke sini untuk ini? apa dia nggak waras? Ja Hyeon bilang sekali saja, ia ingin melihat Hwi sekali saja. Ja Hyeon ingin Hwi memakai pakaian yang ia buat sendiri. Ja Hyeon ingin membuatnya merasa lebih hangat di jalan yang dingin dan jauh ini. Hwi hanya bisa menghela nafas melihat tingkah kekasihnya. 


Ja Hyeon mengaku ingin menyelesaikannya tadi malam agar ia bisa memberikannya pada Hwi sebelum ia pergi, tapi ia belum selesai membuatnya jadi... . Ja Hyeon menatap Hwi sambil tersenyum. Hwi menarik Ja Hyeon dan memeluknya. Hwi menanyakan apa yang harus ia lakukan dengannya? 


Hwi melepaskan pelukannya dan menatap Ja Hyeon. Ja Hyeon merasa lega, yang penting ia berhasil memberikan itu. Sekarang ia akan pergi. Hwi bertanya apa Ja Hyeon nggak tahu hari-hari terasa lebih singkat di musim dingin? Matahari akan segera terbenam. Ja Hyeon malah bilang kalo ia bisa berjalan sepanjang malam. Hwi menatap Ja Hyeon dengan tatapan teduh. Apa menurut Ja Hyeon ia bisa membiarkannya pergi seperti itu? Hwi nyuruh Ja Hyeon untuk menginap di tenda malam ini. Besok pagi ia bisa pergi bersama pengawal. Hwi jadi menyesal. Seandainya dia tahu, dia akan mengosongkan tenda itu. Ja Hyeon mengatakan ia memakai pakaian seperti pria. Ia bisa tidur di luar. Hwi menatap Ja Hyeon lalu menghela nafas. Ja Hyeon menundukkan kepalanya ditatap seperti itu. 

Bersambung...

Komentar :
Dari kecil Hwi emang sudah bijaksana dan penyayang. Dia juga sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. 
Sedang ja Hyeon itu suka nekat, bandel, suka nggak mau nurut, berbuat sesuka hatinya. 
Agak timpang, ya? Tapi nggak papa juga, sih selama mereka saling suka.
Paling  nggak bisa berhenti ketawa pas lihat Hwi memergoki Ja Hyeon. Tapi berubah jadi baper pas Hwi melarang Ja Hyeon pergi karena bentar lagi malam. Aww...so sweet ^_*

2 komentar

Sumpah unnie, ja hyeon sama hwi itu serasi banget, bikin baper...

Aku juga ngerasanya gitu. Pas nulis aja suka senyum-senyum sendiri, berasa kelainan jiwa ^_* hadeuh, tepok jidad!!!