Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 8 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 7 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 8 Part 2

Hwi dan Gi Teuk sedang makan. Tiba-tiba terjadi keributan dan kakak permaisuri masuk. Ia memberitahu kalo mereka dalam masalah. Mereka di serang. Hwi bangkit. Gi Teuk menanyakan apa maksudnya? Yang mulia sedang bernegoisasi. Apa maksudnya. Kakak permaisuri menyampaikan kalo ini adalah jebakan. Pangeran Yang Ahn menjebak Hwi. Hwi merasa itu nggak mungkin. Ini pasti hanya kesalahpahaman. Hwi buru-buru mengambil pedangnya. Kakak permaisuri mengikuti. Gi Teuk juga keluar setelah mereka. Dan tanpa mereka sadari meninggalkan pakaian Hwi pemberian dari Ja Hyeon. 


Sampai di luar mereka dihadang oleh beberapa prajurit Jurchen yang mengarahkan pedang mereka ke Hwi, Gi Teuk, dan kakak permaisuri. Orang Jurchen yang paling depan berkata, Hwi mengajak bernegoisasi dan kemudian menyerang mereka dari belakang. Gi Teuk menanyakan apa yang mereka katakan pada kakak permaisuri. Kakak permaisuri memberitahu kalo mereka berpikir Hwi menghianati mereka. Orang tadi mengatakan akan membawa pangeran. 


Prajurit di belakangnya maju dan membawa paksa Hwi. Hwi bertanya apa yang mereka lakukan dan minta dilepaskan. Gi Teuk memanggil Hwi, yang mulia. Kakak permaisuri dan Gi Teuk berusaha melawan para prajurit Jurchen. Salah seorang prajurit Jurchen berhasil menjatuhkan Gi Teuk. Hwi menengok ke belakang dan meligat prajurit-prajurit itu mengacungkan pedang ke arah Gi Teuk. 


Hwi melawan dan menjatuhkan prajurit yang menariknya. Dia bertarung melawan mereka. Kakak permaisuri juga tengah melawan prajurit itu. Hwi melompat melawan prajurit yang hendak melukai Gi Teuk. Dia berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Gi Teuk. 


Hwi membantu Gi Teuk untuk bangun setelah berhasil melumpuhkan prajurit Jurchen. Mereka bertiga lari dari tempat itu. Tapi pasukan Jurchen datang dari arah yang berlawanan. Mereka lalu lari ke arah yang lain. Orang-orang itu terus mengejar. Mereka lalu berbelok. Tiba-tiba seseorang menjegal kaki Gi Teuk. Orang itu adalah Roo Si Gae. Tapi berkat Si Gae, orang-orang Jurchen itu nggak bisa menemukan mereka. 


Roo Si Gae meminta mereka untuk mengikutinya. Hwi melihat kakak permaisuri. Si Gae ingin mereka mengikutinya. Hwi mengangguk. Si Gae lari lebih dulu dan menyuruh mereka untuk cepat. Mereka pun lari di belakang Si Gae. Si Gae membawa mereka ke sebuah ruangan. Dia meminta mereka memakai pakaian orang-orang Jurchen. Kakak permaisuri mengatakan nggak perlu. Di tempat ramai... . Si Gae membagikan pakaian pada mereka bertiga. Dia juga membagikan topi pada mereka. Si Gae menyuruh mereka untuk segera memakainya. 


Mereka menurut dan memakainya. Hwi baru ingat kalo pakaiannya tertinggal di sana. Gi Teuk bertanya, yang diberikan nona Ja Hyeon padanya? Kakak permaisuri memberitahu kalo nggak ada waktu untuk kembali kesana. Tapi Hwi nggak peduli. Ia merasa harus mengambil pakaian itu kembali. Gi Teuk mengikuti. Demikian juga dengan kakak permaisuri dan juga Si Gae. Gi Teuk menghentikan Hwi dan melarangnya kesana. Hwi menghempaskan tangan Gi Teuk dan kembali berjalan. 


Tiba-tiba para prajurit Jurchen muncul di hadapan mereka. Mereka meminta Hwi dan rekan-rekannya untuk diam di tempat. Salah seorang dari prajurit itu bertanya mereka mau pergi kemana? Roo Si Gae mau menjawab tapi keduluan sama Kakak permaisuri yang menjawab kalo mereka mau melapor ke kamp. Tapi rupanya itu adalah jawaban yang nggak tepat karena kamp bukan arah sana. Prajurit itu maju dan mengambil topi Gi Teuk. Ia menyadari kalo mereka adalah musuh. Dan terjadilah pertarungan lagi. Hwi, Gi Teuk dan Si Gae pergi lebih dulu. Kakak permausuri mrnghadapi mereka sendiri. Tapi rupanya mereka bukanlah lawan yang tangguh untuk kakak permaisuri. Dalam waktu sebentar saja ia berhasil melumpuhkan mereka. Ia lalu mengejar Hwi. 


Mereka sampai di hutan. Kakak permaisuri meminta mereka berpisah di sana. Ia akan menemui Hwi di kamp Joseon. Hwi nggak setuju. Ia merasa mereka nggak bisa pergi sendiri-sendiri. Ia mengajak mereka pergi bersama-sama. Kakak permaisuri menyuruh Gi Teuk untuk membawa pangeran pergi. Gi Teuk memegangi Hwi. 


Kakak permaisuri berlari ke arah yang berbeda. Hwi memanggilnya, Letnan! Letnan! Gi Teuk mengatakan mereka harus pergi juga. Hwi nggak mau dan ingin pergi mencegah kakak permaisuri. Ia merasa mereka nggak bisa pergi sendiri. Gi Teuk mengatakan kalo baginya mereka hanyalah beban. Dia bisa pergi dengan cepat jika dia bepergian sendiri. Gi Teuk memohon agar Hwi percaya padanya. Hwi minta Gi Teuk melepaskannya. Si Gae menaril Hwi. Dia ingin mereka berdua bergegas. Hwi dan Gi Teuk lalu mengikuti Si Gae. 


Sementara itu pasukan Jurchen terus mengejar kakak permaisuri. Kakak permaisuri melempar topinya ke arah mereka sambil terus lari. Si Gae, Hwi dan Gi Teuk mengintip nggak jauh dari sana. Setelah aman, mereka pun kembali berjalan. Mereka bertiga menyeberangi sungai. Gi Teuk hampir saja jatuh, beruntung Hwi menangkapnya. 


Mereka terus berjalan. Saat berjalan di tempat miring, Gi Teuk terjatuh dan bergulung-gulung. Hwi menghampiri Gi Teuk dan menolongnya. Si Gae menyuruh mereka agar cepat. 


Ja Hyeon dan ibu sama-sama berdoa di kuil. Kkeutdan juga ikut berdoa di belakang mereka. Dia sampai kelelahan. Ibu dan Ja Hyeon juga kelehan tapi mereka tidak kehilangan semangat mereka. Saat sedang bersujud ibu menatap Ja Hyeon. Ibu menanyakan apa Ja Hyeon hanya berdoa untuk pangeran Eun? Dia bahkan nggak memikirkan kakaknya. Ja Hyeon tersenyum membenarkan. Ibu sudah berdoa untuk oraboeni. Ibu merasa Ja Hyeon sangat kejam. Ja Hyeon lalu kembali berdoa. Ibu yang sudah lelah hanya bisa duduk dan mengatur nafasnya. 


Tentara Joseon dan tentara Jurchen berjaga di luar. Di dalam, pengawal Kang sedang berdiskusi dengan pemimpin Jurchen. Pemimpin Jurchen menyampaikan kalo mereka sudah melakukan apa yang diminta oleh paman. Sekarang pengawal Kang bisa tenang. Karena mereka sudah menang, pemimpin Jurchen ingin mereka menepati janjinya. Pengawal Kang lalu memberinya sebuah surat. Pemimpin Jurchen mengambilnya dan membacanya. 


Surat balasan dari pangeran Jin Yang kepada pimpinan Jurchen, Li Man Zhu : mereka akan mundur dari medan perang dan kembali ke Joseon. Dan mengembalikan Jenderal Choe Yun Deok sebagai imbalan atas dukungannya untuk Kang naik tahta. 


Pemimpin Jurchen itu berpesan agar mereka jangan lupa. Tahta yang akan pangeran Jin Yang dapatkan adalah hadiah darinya. Pengawal Kang menanyakan apa yang terjadi pada pangeran Eun sung? Orang itu hanya tersenyum. 


Nggak lama kemudian, pengawal Kang sudah berada di tempat makan Hwi terakhir kali. Ia lalu melihat pakaian Hwi dari Ja Hyeon. Ia pun mengambilnya. 


Di istana
Kang menemui raja dan menanyakan bagaimana perasaannya? Permaisuri Hyo menyampaikan kalo yang mulia raja semakin kuat setiap hari, berkat tekadnya yang besar. Kang bersyukur. Ia mengatakan membawa obat yang bagus dari delapan propinsi. Kang berpesan agar Raja jangan lupa untuk menghabiskan apapun yang dibawa kesini dari tabib kerajaan. 


Raja berterima kasih. Dibandingkan dirinya, ia lebih khawatir pada Eun Sung yang pergi ke medan perang. Mengingat tempramennya yang lembut, ia ingin tahu bagaimana dia menangani situasi hidup dan mati di medan perang. Kang berkata seharusnya raja mengirimnya. Raja mengatakan bukankah itu keinginan paman? Kang mengembalikan, karena Raja ingin menunjuk Hwi sebagai saejae. Raja nggak akan mengatakan kalo itu adalah  keinginan ibu suri, kan? Permaisuri Hyo berkata kalo raja butuh istirahat. Ia meminta agar Kang mendiskusikan masalah politik lain kali saja. 


Kang nggak menghiraukan. Dengan mata berkaca-kaca ia mengatakan kalo dia adiknya juga. Ia bukan orang asing. Ia keluarga raja. Raja menanyakan apa Kang menyayanginya? Karena Kang adiknya, apa Kang mencintainya dan menganggap keponakannya berharga? Kang bertanya apa raja menginginkan tahtanya? Kang bertanya seberapa jauh ia harus menunjukkannya? Apa yang harus dia lakukan? Raja mengatakan kalo bukan tahta tapi cinta dari adiknya yang ia inginkan. Bukankah mereka keluarga? Kang mengatakan kalo ibu suri, Jeonha, dan Eun sung yang terlihat seperti keluarga. Raja memanggil Kang dan memberitahu kalo ia adalah keluarga mereka juga. Raja berpesan agar Kang jangan melupakannya. Mata Kang mulai berair mendengarnya. 


Sementara itu di kamp para prajurit sedang makan-makan merayakan kemenangan mereka. Deuk Sik menceritakan mereka datang ke sana sebagai pasukan tambahan. Jurchen mendatangi mereka seperti sarang lebah. Dan ia berteriak seperti singa. Deuk Sik berteriak dan mengagetkan orang-orang di sekitarnya. Deuk Sik mengaku nggak tahu apakah mereka takut, mereka mulai mundur ke belakang. Perlahan-lahan.  Pelayan paman merasa ada yang aneh. Saat pasukan mereka pergi ke desa, desa itu kosong. Bahkan nggak ada tikus yang terlihat. Itu yang dia dengar. Deuk Sik menanyakan siapa yang mengatakan itu? Pelayan paman menjawab, semua orang mengatakannya. Deuk Sik tertawa dan semua orang berbisik-bisik. Deuk Sik beralasan prajurit yang datang terlambat nggak melihat mereka bertarung. Pelayan paman berpikir pangeran, sekali dan selamanya menyelesaikan semuanya. Pelayan bertanya pada Deuk Sik, pangeran Eun Sung kembali dengan selamat dari kamp musuh, kan? Deuk Sik hanya menghela nafas. 


Pengawal Kang meletakkan pakaian Hwi dari Ja Hyeon di atas meja. Ia melaporkan sepertinya mereka terburu-buru melarikan diri. Mereka meninggalkan semua barang-barang mereka. Paman menyuruhnya mengirim pesan ke istana. Katakan bahwa mereka telah memenangkan pertempuran. Paman berpesan agar jangan memberitahu tentang apa yang terjadi pada Eun sung. Meskipun dia kembali hidup, itu akan terjadi setelah Jin Yang naik tahta. Paman juga menyuruh pengawal Kang untuk membawakan hewan buruan. Ia butuh darah binatang. Pengawal mengangguk. 


Hwi, Gi Teuk dan Si Gae masih berada di hutan. Gi Teuk bertanya-tanya mereka dimana? Si Gae mengaku nggak tahu. Hwi menyarankan untuk istirahat sebentar. Mereka lalu duduk sambil mengatur nafas. Gi Teuk bertanya pada Hwi, bisakah mereka mempercayai gadis itu? Hwi mengangguk dan memberitahu kalo ibu Si Gae berasal dari Joseon. Gi Teuk merasa letnan mungkin berhasil kembali ke kamp. Mereka ditipu oleh gadis Jurchen itu. 


Si Gae bangkit mau menghampiri Gi Teuk. Hwi memegang tangan Si Gae dan melarangnya. Gi Teuk mengeluh. Mereka kedinginan, kelaparan dan tersesat. Ini masalah besar. Si Gae kembali duduk di tempatnya. 


Seseorang lalu datang. Dia adalah letnan, kakak permaisuri. Gi Teuk menanyainya gimana dia bisa  menemukan mereka? Mereka bahkan nggak tahu dimana ini. Kakak permaisuri menjelaskan kalo jejak kaki dan ranting patah merdka meninggalkan jejak yang jelas. Hwi menanyakan apa dia baik-baik saja? Kakak permaisuri mengaku baik-baik saja. Ia memberitahu pasukan sjku Huli sudah mengosongkan desa. Menurutnya ini nggak seperti mereka. Kenapa mereka meninggalkan desa tanpa melawan? Gi Teuk menduga mereka hanya takut pada tentara Joseon. Tapi entah kenapa Hwi malah merasa khawatir.


Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan. Gi Teuk mengingatkan kalo matahari akan segera terbenam. Bulankah seharusnya mereka mencari tempat menginap? Hwi memberitahu kalo mereka nggak bisa menyalakan api. Mereka harus bergerak cepat jika nggak ingin kedinginan. Si Gae berhenti saat melihat jebakan. Gi Teuk bertanya kenapa mereka nggak jalan? Si Gae melarang Gi Teuk kesana. Tapi karens Gi Teuk nggak ngerti sama apa yang Si Gae katakan jadi dia terus melangkah. Si Gae terpaksa mendorongnya. Si Gae bingung mesti ngapain. Mereka adalah suku paling brutal dan ganas dari semua Jurchen. Mereka hidup dalam perburuan dan apa yang mereka curi. 


Tiba-tiba anak panak berterbangan menancap di pohon dekat mereka. Dan orang-orang Jurchen muncul di mana-mana. Mereka mengepung Hwi dan rekan-rekannya. Pimpinan mereka bertanya siapa diantara mereka yang pangeran Joseon? Kakak permaisuri bangkit. Dan mengaku dialah pangeran Joseon. Si Gae langsung menatapnya. Letnan mengangguk pada Si Gae agar ia mengiyakan saja. Hwi dan Gi Teuk juga pelan-pelan bangkit. 


Si Gae memberitahu kalo orang ini adalah pangeran Joseon. Orang yang tadi meledek, tuan putri dari klan Huli adalah pemandu mereka? Si Gae bangkit dan tertawa. Tuan puteri apanya? Banyak anak yatim dalam perang. Si Gae maju dan memberitahu kalo dia dipaksa dibawa kesini oleh orang-orang ini. Kakak permaisuri yang mengerti bahasa mereka langsung menatap Si Gae seolah nggak membenarkan. Sementara Hwi dan Gi Teuk diam saja karena nggak ngerti. 


Na Gyeom bertemu dengan Yoo Kyung. Yoo Kyung mengaku nggak ngerti kenapa Na Gyeom memanggilnya. Na Gyeom mengerti Yoo Kyung membantu pangeran mereka dengan berbagai cara. Na Gyeom lalu memberi Yoo Kyung sebuah kotak. Na Gyeom bilang dia nggak dekat dengan seorang gisaeng tapi dia nggak bisa mengabaikan seseorang yang membantu suaminya. Ia ingin memberikan ini padanya agar ia melayani pangeran dengan tulus. Layani dia hanya dengan makanan dan minuman terbaik. Dan menjamu semua tamunya dengan baik agar pekerjaannya berjalan dengan lancar. 


Yoo Kyung tersenyum dan mengembalikan kotak itu pada Na Gyeom. Na Gyeom menilai Yoo Kyung sangat serakah. Apa dia meminta lebih banyak tanpa memeriksanya dulu? Yoo Kyung mengatakan Na Gyeom nggak perlu mencemaskannya. Na Gyeom tersenyum dan memberitahu kalo itu berisi bongkahan perak dan mempersilakan Yoo Kyung untuk mengambilnya. Yoo Kyung mengingatkan kalo tuannya adalah pangeran bukan Na Gyeom, Ma-nim. Na Gyeom bertanya apa Yoo Kyung nggak tahu kalo ia harus melayani istrinya seperti ia melayani pangeran? Yoo Kyung tersenyum mengejek. Apa Na Gyeom mengatakan ia harus berbagi tempat tidur dengan Na Gyeom juga? Na Gyeom udah nggak bisa sabar lagi. Ia naik pitam. Beraninya Yoo Kyung mengatakan hal seperti itu. Yoo Kyung nggak mau ngalah. Dia balas membentak Na Gyeom. Kenapa Na Gyeom nggak melampiaskan kecemburuannya saja? Jika Na Gyeom tulus, Yoo Kyung bisa bersimpati padanya. Na Gyeom menghina Yoo Kyung, gisaeng rendahan sepertinya berani mengajarinya? Yoo Kyung membalas, mungkin Na Gyeom ingin memperlakukannya dengan hormat, tapi Yoo Kyung sadar diri dengan status rendahnya. Tapi Na Gyeom keliru. Perasaan pangeran bukan untuknya. Yoo Kyung menasehati agar jangan menyia-nyiakan kekayaannya pada orang yang salah. Pada saat seperti ini, cobalah mencari saingannya yang sebenarnya. Na Gyeom terlihat sudah sangat geram. Yoo Kyung melanjutkan jika Na Gyeom nggak ingin minum dan memintanya memainkan alat musik, ia mohon undur diri. Yoo Kyung memberi hormat  lalu bangkit. Na Gyeom menatapnya dengan pandangan berapi-api. 


Yoo Kyung keluar dari kediaman Na Gyeom. Yoo Kyung tersenyum mengingat apa yang dikatakan oleh Na Gyeom tadi. Tiba-tiba Na Gyeom keluar dan mendorong Yoo Kyung sampai ia jatuh bergulung-gulung. Na Gyeom lalu menyuruh pelayan untuk memanggil semua wanita kesini dan mengambilkan beberapa tongkat. Pelayan mengiyakan. Na Gyeom berkata mereka harus mengingatnya. 


Na Gyeom menghampiri Yoo Kyung yang belum bisa bangkit. Yoo Kyung menatap Na Gyeom dan menyampaikan kalo dia membuat kesalahan. Apa yang akan ia lakukan jika pangeran tahu? Na Gyeom mengakuvmengenal suaminya. Dia nggak akan peduli apakah ia mendisiplinkan seorang gisaeng rendahan. Dan Yoo Kyung sendiri yang bilang kalo dia bukan kekasihnya. Karena Yoo Kyung tinggal bersama pria bangsawan, apa dia pikir ia bisa bersikap sesukanya dengan siapapun? 


Na Gyeom mendekati Yoo Kyung dan membelai wajahnya. Ia mengatakan bahwa hanya wajah Yoo Kyung yang ia andalkan. Jika ada bekas luka di wajahnya, ... . Yoo Kyung memalingkan wajahnya. Na Gyeom kembali mengarahkan wajah Yoo Kyung menghadapnya. Na Gyeom ingin tahu bagaimana ia bisa menjual senyumnya. Yoo Kyung marah dan menghempaskan tangan Na Gyeom. Tapi Na Gyeom malah menampar Yoo Kyung. Beraninya Yoo Kyung menyentuh wanita bangsawan. Belum puas dengan menampar, Na Gyeom malah menambah dengan menendang Yoo Kyung.

Bersambung...

Komentar : 
Wooo... Na Gyeom serem amat, ya?? Diawali dengan rasa cemburu, dia melakukan hal yang nggak pantas sebagai seorang bangsawan. Atau karena Yoo Kyung nggak mempan pakai cara halus jadi terpaksa dia pakai cara kasar?