Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 9 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 8 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 9 Part 2

Hwi berpamitan dengan letnan. Ia berbalik hendak pergi tapi salah seorang warga Joseon yang memberikan makanan pada Hwi tempo hari tiba-tiba memanggilnya, yang mulia. Kemana Hwi akan pergi? Ia akan kemana meninggalkan mereka yang mulia? Penerjemah langsung menatap tajam ke orang itu. Gi Teuk meminta mereka agar jangan seperti itu. Yang mulia akan kemdali menyelamatkan mereka. Hwi panik karena identitasnya terbongkar. Penerjemah menyuruh pasukannya untuk mengejar mereka. Letnan mengambil pedang salah seorang prajurit dan menggunakannya untuk menusuk perut penerjemah. Semua orang panik. Para prajurit Jurchen menyerang letnan secara bersamaan. Letnan melawan mereka satu per satu. Hwi juga bertarung membantu letnan. 


Pemimpin Jurchen memerintahkan prajuritnya untuk menangkap mereka. Hwi, Gi Teuk, dan letnan lari menjauh. Beberapa anak panah berterbangan diantara mereka. Sebuah anak panah melewati letnan dan menancap di punggung Hwi. Saat itu juga Hwi roboh. Letnan, Gi Teuk dan Si Gae syok. Letnan lalu menggunakan pedangnya untuk menangkis anak panah yang menyerangnya. Tapi saat ia lengah sebuah anak panah berhasil menancap di dadanya. Dua anak panah berikutnya mengikuti. Letnan roboh seketika. Pedang yang ia pegang ia gunakan sebagai penopang sehingga ia bisa duduk. 


Hwi dan Gi Teuk sama-sama memanggilnya. Hwi merangkak mendekatinya. Letnan tampak bertahan. Para prajurit datang dan mengacungkan pedang kepada mereka. Hwi menyentuh dada letnan. Letnan berpesan agar Hwi menjaga Joenha... . Jaga Wonja... . Letnan yang sudah nggak kuat lagi menghenbuskan nafas terakhirnya. Pedang yang ia pegang jatuh. Hwi menangis memanggil letnan. 


3 tahun kemudian
Para pelayan berlarian membawa nampan berisi handuk. Dayang mengambilnya dan bergegas membawanya masuk. Di dalam ibu suri sedang merawat raja bersama ratu dan putra mahkota. Ia menyuapkan ramuan obat ke mulut raja. Putra mahkota memanggil ayahnya. Ibu suri berpesan agar berita tentang penyakit raja jangan sampai tersebar. Dayang menanggapi, mereka akan berusaha agar jangan sampai tersebar. Ibu suri menoleh. Ia mengancam kalo sampai tersebar, maka semua orang yang bertanggung jawab akan dipenggal. Dayang mengangguk mengerti. 


Putra mahkota mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan raja. Ia memanggil, ayah. Ratu mengatakan kalo raja sudah bertahan selama beberapa tahun ini. Ibu suri yakin kalo raja akan siuman. Putra mahkota masih sangat muda. Raja pasti akan siuman. 


Ja Hyeon berbicara dengan ibu. Ia meminta mati sebagai gantinya. Ia sudah mengatakan pada ibu kalo dia nggak akan menikah dengan pria lain. Ibu mempersilakan Ja Hyeon untuk mati saja. Bahkan Mang Boo Seok meninggal karena berdoa selama tiga tahun. 

*Mang Boo Seok adalah istri yang setia, yang meninggal karena berdoa untuk kembalinya suaminya dan berubah menjadi batu di cerita rakyat Korea.

Ja Hyeon memalingkan wajahnya. Ibu melanjutkan jika Ja Hyeon semakin tua, tidakkah dia tahu bahwa satu-satunya kesempatan yang ia miliki adalah menikah dengan pria setelah kematian istri pertamanya? Ja Hyeon mengatakan tiga tahun telah berlalu. Ibu menanyakan apa Ja Hyeon nggak memikirkan orang tuanya? Ia patah hati karena kekasihnya yang telah tiada sebelum dirinya, tapi Ja Hyeon nggak merasa kasihan kepada ibunya sendiri yang sangat mengkhawatirkannya ini? 


Ja Hyeon menatap ibu. Dengan hati yang mantap ia menyampaikan kalo dia nggak akan menikah. Jika bukan pangeran Eun Sung, ia nggak akan menjadi pengantin siapapun. Ibu marah dan melempari Ja Hyeon dengan barang-barang yang ada di meja. Ibu menyuruh Ja Hyeon untuk melakukan sesukanya. 


Kjeutdan masuk dan melindungi Ja Hyeon. Ia bertanya kenapa Ma-nim melakukan ini? Ibu mengatakan kalo mereka akan melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Kkeutdan mengajak Ja Hyeon untuk cepat pergi. Ja Hyeon bangkit dengan dibantu oleh Kkeutdan. Belum sampai mereka keluar ibu menegaskan kalo Ja Hyeon akan menikah meskipun meteka harus mengikatnya dan membawanya keluar. Tapi Kkeutdan dan Ja Hyeon nggak peduli. Ia menutup pintu hingga nggak bisa lagi mendengar perkataan ibu. Ibu hanya bisa menghela nafas. 


Kkeutdan membantu Ja Hyeon memakai sepatunya. Kkeutdan berjalan di belakang Ja Hyeon. Ia bertanya apa Ja Hyeon benar-benar nggak akan menikah? Ja Hyeon bertanya apa Kkeutdan akan bersikap seperti itu juga? Kenapa Kkeutdan memperlakukan pangeran Eun Sung seolah-olah dia nggak ada di dunia ini? Kkeutdan memberitahu kalo dia memang nggak ada di sini. Orang-orang melupakannya. Dia seperti  nggak ada di dunia ini. Ja Hyeon mengatakan meski dunia meluoakannya tapi dia nggak bisa melakukan itu. Kkeutdan mengingatkan Ja Hyeon bahkan belum menikah dengannya. Kenapa ia bergantung padanya dan nggak bertemu pria lain? Ja Hyeon menatap Kkeutdan dan bilang enggak. Mereka berdua sudah berjanji. Hanya mereka berdua, tapi mereka membuat janji dan saling bertukar tanda cinta di depan Buddha. Kkeutdan menyatakan kalo nggak ada yang tahu tentang itu. Ja Hyeon menyangkal, dia yahu, yang mulia tahu, dan surga juga tahu (aku juga tahu, bahkan seluruh kdrama lovers juga tahu). Ja Hyeon kesal dan berbalik meninggalkan Kkeutdan. Kkrutdan memanggil Asshi dan menyusulnya. 


Tiga orang berjalan di lautan salju. Mereka adalah Hwi, Si Gae dan Gi Teuk. Hwi melihat ke belakang dan mengepalkan tangannya. Ikat rambut Ja Hyeon bahkan masih terikat di pergelangan tangannya. Gi Teuk meniup-niup tangannya agar merasa hangat. 


Mereka bertiga duduk dan beristirahat sambil membakar daging. Hwi membagi daging itu pada Si Gae dan Gi Teuk. Mereka menerimanya. Si Gae menatap Hwi dam memberikan separuh daging miliknya pada Hwi. Hwi menerimanya dan memakannya. Gi Teuk mengatakan jika mereka terud berjalan, mereka akan sampai di ibu kota sebentar lagi. Gi Teuk merasa Hwi harus menemui Asshi lebih dulu. Hwi hanya mrnatap Gi Teuk dan nggak bilang apa-apa. 


Mereka bertiga melanjutkakan perjalanan mereka padahal matahari hampir terbenam. 


Hwi, Gi Teuk dan Si Gae sampai di depan rumah Ja Hyeon. Hwi menatap pintu pagar rumah Ja Hyeon. Si Gae bertanya apa itu istana Joseon? Gi Teuk menjawab bukan, dasar b*doh! Si Gae marah dan mengaum seperti binatang. Hwi maju dan meraba pintu itu. Gi Teuk bertanya haruskah ia memberitahu mereka? Hwi menjawab enggak. Jika ia muncul seperti ini, itu akan mengejutkan mereka. Gi Teuk menyangkal, menurutnya mereka akan senang. Dalam tiga tahun terakhir, dia mungkin nggak pernah berhenti menunggunya. Jika memungkinkan, Hwi harus melihatnya dan pergi. Si Gae bertanya siapa? Hwi menghela nafas lalu berbalik. Ia ngajak pergi ke istana. Ia harus menemui ibunya dan memberi salam kepada raja. Ia akan menemui Asshi saat ia terlihat seperti manusia. Si Gae menatap Hwi seolah ingin memahami apa yang ia katakan. Gi Teuk tersenyum dan mengangguk. Mereka bertiga pun pergi dari rumah Ja Hyeon. 


Dayang ibu suri berjalan dengan terburu-buru. Ia menemui seorang pelayan dan melihat kesana-kesini. Setelah merasa aman, ia memberikan sebuah surat pada pelayan itu. Dayang mengatakan istana Myeong Rae. Pelayan itu mengerti. Ia memberi hormat lalu pergi. Dayang itu lalu pergi juga. 


Hwi, Gi Teuk dan Si Gae sudah sampai di istana. Hwi menatap istana. Gi Teuk menghela nafas dan Si Gae tersenyum. Mereka bertiga berjalan mendekat. Penjaga menghentikan mereka. Gi Teuk maju dan menyuruh penjaga itu untuk mundur. Itu pangeran Eun Sung yang telah kembali dari utara. Penjaga itu tertawa mengejek. Ia menggerutu, hari ini sangat dingin dan bedebah gila ini keluyuran seperti ini. Gi Teuk menegur penjaga itu. Dasar nggak sopan. Jaga sikapnya di depan yang mulia. Penjaga itu menasehati jika Gi Teuk ingin terus berbicara, tunjukkan tanda identitasnya atau tanda masuk ke dalam istana. Penjaga memberitahu kalo dia sudah lama meninggal di medan perang dan langsung dimakamkan. Beraninya mereka bicara tentang pangeran Eun sung sekarang. Gi Teuk menyuruh penjaga untuk melapor ke istana bahwa pangetan Eun Sung selamat. Hwi menghentikan Gi Teuk. Gi Teuk memanggil, yang mulia. Hwi menggeleng. 


Hwi berbalik dan pergi. Gi Teuk berusaha meyakinkannya bahwa mereka hanya perlu memberitahu kepala kasim atau pelayannya. Begitu meteka keluar dan melihatnya ... . Penjaga menyuruh anak buahnya untuk menghentikan mereka bertiga. Mereka bertiga kembali dihadang. Penjaga merasa nggak bisa membiarkan mereka seperti ini. Beraninya mereka menyuruhnya minggir sambil memegang senjata. Untuk mencari tahu dari golongan mana mereka para pengemis yang merencanakan pemberontakan, ia harus membawa mereka pergi dan melakukan Go Shin (penyiksaan selama masa interogasi). 


Penjaga itu menyuruh anak buahnya untuk membawa mereka. Terpaksa Hwi dan Gi Teuk serta Si Gae bertarung dengan para penjaga. Para penjaga itu bukanlah lawan mereka. Satu per satu dari penjaga itu berhasil mereka kalahkan. 


Si Gae yang sedang bertarung dengan seorang penjaga hampir saja menusuknya dengan pedang. Hwi menggeleng dan Si Gae mengurungkannya. Seorang pelayan keluar dari istana. Dia adalah pelayan suruhan dayang. Hwi melihat pelayan itu. Dari dalam istana keluar banyak pengawal mereka bertiga lalu melarikan diri. 


Kakak Na Gyeom keluar dari istana Kang dan mempersilakan pelayan itu untuk masuk. Dia melihat sekitar lalu menyusul pelayan itu masuk.


Kang membuka surat itu dan membacanya. Raja sedang nggak sadarkan diri dan hampir meninggal. Ratu sedang mencari kemana-mana. Keberadaannya nggak diketahui. Na Gyeom memberikan imbalan pada pelayan itu. Ia memujinya bagus dan berpesan agar ia hati-hati di jalan. Pelayan itu pun keluar.Kang meletakkan kembali surat itu. 


Pelayan itu keluar dengan terburu-buru. Ia berpapasan dengan Ja Hyeon dan juga Kkeutdan yang juga menuju istana Kang. Ja Hyeon menyuruh Kkeutdan untuk berjalan lebih dulu. 


Pelayan itu sudah berjalan agak jauh. Ia melihat sekeliling lalu membuka imbalan yang diberikan oleh Na Gyeom. Tiba-tiba Gi Teuk muncul di belakangnya dan membekap mulutnya. Gi Teuk menariknya pergi meninggalkan pakaian yang tadi ia gunakan untuk menutup diri. 


Kang membakar surat tadi. Na Gyeom mengatakan kalo mereka ada di tingkat yang sama. Sebagian rakyat ada di pihak raja dan ibunya dan sebagian lagi ada di pihak mereka. Kakak Na Gyeom menanyakan apa yang akan Kang lakukan? Raja sedang sakit keras. Ibu suri nggak menemuinya atau para menteri. Jika Kang kehilangan kesempatan ini sebelum raja meninggal...  . Na Gyeom memotong, sebelum peristiwa buruk terjadi, mereka harus mendapatkan gomyeong (wasiat raja termasuk pewarisaan tahta). Karena pangeran Eun Sung nggak ada di sini, jika Kang menerima gomyeong, maka tahta akan menjadi miliknya. Kang mengatakan akan masuk ke istana. Na Gyeom memyuruh oraboeni-nya untuk mencoba minta perdana menteri dan semua menteri lainnya untuk memasuki istana. Kakak Na Gyeom mengiyakan. Na Gyeom lalu menatap suaminya dan akan membawakan seragam istananya. 


Pelayan di luar menyampaikan pada Na Gyeom kalo ada tamu yang datang. Na Gyeom bangkit dan melihat siapa yang datang. Mereka adalah Ja Hyeon dan Kkeutdan. Ja Hyeon membuka pakaian yang menutupi dirinya dan menatap Na Gyeom. Na Gyeom terkejut. Ja Hyeon mengatakan kalo ia datang untuk menemui pangeran Jin Yang. Na Gyeom menypaikan kalo pangeran nggak punya waktu luang untuk berbicara dengannya. Kang di dalam mendengarkan apa yang di katakan oleh Na Gyeom. Kkeutdan bertanya apa yang harus mereka lakukan? Na Gyeom menyuruh Ja Hyeon untuk pulang. 


Ja Hyeon nggak percaya. Ia maju dan memanggil Kang, Daegam, ini Ja Hyeon. Ada yang ingin ia bicarakan dengannya. Kakak Na Gyeom keluar dan menyuruh Ja Hyeon untuk masuk. Ja Hyeon lalu masuk.


Ja Hyeon sudah menghadap Kang. Ja Hyeon menyampaikan kalo anggota keluarga kerajaan Weol Yeong mengirimkan lamaran pernikahan ke rumahnya. Ja Hyeon memohon agar Kang minta padanya untuk membatalkan lamarannya. Dia adalah pejabat Kang. Jadi Ja Hyeon mohon agar Kang menyelesaikan masalah ini. Kang bertanya apa Ja Hyeon nggak ingin mempertimbangkan pengantin pria lain? Ja Hyeon menanyakan apa maksud Kang? Kang berkata, Ja Hyeon menolak menjadi wanitanya selama tiga tahun. Kang memberinya pilihan yang berbeda dengan kemurahan hati yang besar. Ja Hyeon menatap Kang dan bertanya apa Kang memintanya untuk menjadi penggali emas? Kang mengatakan kalo Hwi nggak akan kembali. Dia sudah meninggal. 

Bersambung...

Komentar :
Seperti deja-vu, ya. Kita kembali ke episode pertama. Tepatnya ini lanjutan dari episode 1. Jadi selama 8 episode kemarin kita flashback. Lama amat, ya flashbacknya?