Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 9 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 9 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 9 Part 3

Kang mengatakan kalo Hwi nggak akan kembali. Dia sudah meninggal. Ja Hyeon harus mengakui itu. Ja Hyeon menatap Kang dan mengatakan kalo orang yang tega mendorong adiknya sendiri adalah Kang. Kang mengingatkan kalo Hwi pergi atas kemauannya sendiri. Dia memiliki rasa bertanggung jawab sebagai pangetan negeri ini. Mata Ja Hyeon mulai berkaca-kaca. Ia bertanya apa Kang pada akhirnya berniat untuk menghancurkan hidupnya juga? Kang tertawa. Ia memberitahu kalo Weol Yeong adalah sepupunya. Kang bertanya pada Ja Hyeon, apa menikah dengan seseorang keluarga kerajaan berarti hidupnya hancur? Gadis-gadis lain akan  terkejut mendengarnya. Ja Hyeon menegaskan kalo dia nggak ingin menikah. Dia nggak ingin menjadi istri siapapun. Kang mengerti. Ia lalu menanyakan apa Ja Hyeon sangat nggak menyukai Weol Yeong? Ja Hyeon memalingkan wajahnya. Kang mengerti. Ia meminta Ja Hyeon untuk datang padanya jika Ja Hyeon benar-benar merasa seperti itu. Ja Hyeon langsung menatap Kang. Mata Kang seperti berkaca-kaca. Kang melanjutkan kalo ia akan menerimanya sekarang. 


Ja Hyeon yang kesal lalu bangkit. Ia merasa sia-sia saja yang ia katakan. Dengan mempercayai bahwa ada secuil kebaikan dalam diri Kang, ia b*doh. Kang berpesan agar Ja Hyeon berhati-hati di luar sana saat malam hari. Ia akan segera menjadi pengantin. Ja Hyeon makin geram. Ia lalu pergi meninggalkan Kang. Kang sendiri hanya menghela nafas. 


Ja Hyeon keluar dan Kkeutdan membantunya memakai sepatu. Na Gyeom sendiri sedang menunggu Ja Hyeon selesai bicara dengan suaminya. Dia langsung berbalik dan menampar Ja Hyeon tanpa tanya-tanya dulu. Kkeutdan mendekat dan menanyakan apa yang Na Gyeom lakukan? Na Gyeom yang kepalang marah malahan mendorong Kkeutdan. Na Gyeom bertanya pada Ja Hyeon apa nggak cukup ia menghancurkan satu pangeran? Apa Ja Hyeon nggak punya rasa takut? Atau dia mengabaikan hukum? Beraninya Ja Hyeon sembarangan menemui pria dari keluarga lain? 


Ja Hyeon yang sedari tadi cuman diam, kini mulai angkat bicara. Dia bertanya apa Na Gyeom sekhawatir itu? Apa dia masih nggak percaya diri? Apa itu sebabnya Na Gyeom ingin melenyapkannya seperti itu? Na Gyeom mendekat dan menyuruh Ja Hyeon untuk berterima kasih padanya. Jika bukan karena usahanya dan suaminya, Ja Hyeon akan mati sebagai hantu perawan. Ja Hyeon nggak gentar sedikitpun. Ia bertanya apa Na Gyeom sudah melupakan semuanya ketika merela berteman? Na Gyeom membalikkan, apa Ja Hyeon nggak tahu bahwa dialah yang mengakhiri hubungan pertemanan mereka? Saat Ja Hyrom mulai menghoda para pangeran, mereka berhenti beran atau apapun lainnya. Ja Hyeon menyatakan kalo hidupnya dan takdirnya nggak akan ditentukan oleh Na Gyeom dan suaminya. Na Gyeom meledek, kalo Ja Hyeon sangat nggak ingin menikah, kenapa dia nggak bunuh diri saja? Kkeutdan menarik Ja Hyeon agar pergi saja. Pura-pura saja nggak mendengarnya. Tapi rupanya Na Gyeom sama sekali nggak ingin berhenti. Ia melanjutkan jika Ja Hyeon ingin mati, kenapa nggak mati saja tiga tahun yang lalu? Cinta hebat yang ia miliki itu, jika ia mati, ia akan dipuji atas buktinya pada satu orang. 


Kkeutdan nggak tahan lagi. Ia akhirnya menarik Ja Hyeon agar mau beranjak. Na Gyeom berbalik dan mendoakan agar Ja Hyeon bahagia. Menikah dan memiliki putra dan putri dan hiduplah dengan baik. Ja Hyeon nggak mau menggubris dan kembali berjalan. 


Na Gyeom masuk ke kamarnya. Ia langsung duduk di depan meja. Na Gyeom meminta pelaran untuk menyampaikan pesannya pada keluarga Ja Hyeon. Pelayan menanyakan tentang apa? Na Gyeom melanjutkan, untuk mengawasi Ja Hyeon dengan baik sampai hari pernikahannya. Agar dia nggak bunuh diri atau melarikan diri. Dia adalah wanita yang berani pergi ke medan perang untuk mengikuti pangeran Eun sung yang telah melakukan penaklukan. Mereka nggak tahu apa yang akan dia lakukan jika mereka meninggalkannya sendiri. Pelayan itu pun mengiyakan. Ia lalu pamit pergi. 


Na Gyeom lalu membuka sebuah kotak cermin di depannya. Ia melihat wajahnnya di cermin. 


Si Gae memakai pakaian pelayan yang didapatkan oleh Gi Teuk tadi. Hwi memberinya sebuah tanda masuk. Gi Teuk ragu, akankah dia bisa melakukannya dengan baik? Dia nggak bisa berbahasa Korea dengan baik. Si Gae menyahut, nggak akan terjadi apa-apa selama ia menemukan ibu suri. Gi Teuk mengoreksi, ibu suri. Si Gae menepok jidadnya dan mengulangi, ibu suri. 


Hwi lalu maju dan mengangkat rok Si Gae. Tapi rupanya Hwi hanya ingin merobek rok dalam Si Gae. Gi Teuk dan Si Gae nggak ngerti apa yang akan dia lakukan. Hwi lalu mengambil pisau dan mengiris jari telunjuknya. Hwi menggunakan darah yang keluar itu untuk menulis namanya, Hwi. 


Malam darinya Si Gae kembali datang ke istana. Ia memberikan kartu tanda masuk pada penjaga. Penjaga menerimanya dan melihat wajah Si Gae (mungkin dia merasa asing kali, ya? Pelayan yang keluar sama yang masuk wajahnya beda). Si Gae tersenyum manis. Penjaga pintu ikutan tersenyum. Ia lalu mengembalikan kartu Si Gae dan memperbolehkannya untuk masuk. 


Si Gae berjalan masuk. Ia melihat ke arah Hwi dan Gi Teuk yang mengintipnya di tempat persembunyian. Gi Teuk melambaikan tangannya menyuruh Si Gae untuk bergegas. Si Gae mengerti dan mengangguk. Ia kembali berjalan. Hwi menatapnya khawatir. 


Sepanjang jalan Si Gae tak henti-hentinya berbicara sendiri. Ia hanya perlu berjalan lurus. Jalan lurus. Ibu suri. Ibu suri. Jalan lurus. Jalan lurus. 


Pelayan yang tadi disekap sama Gi Teuk sekarang di ikat kaki dan tangannya. Pelayan itu tampak ketakutan. Gi Teuk mengambil imbalan yang didapatkan pelayan itu dari Na Gyeom. Hwi duduk dihadapannya. Sebagai seorang pelayan yang dibayar, bisa-bisanya dia masuk ke istana pangeran karena urusan pribadi. Pelayan itu mengaku hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh majikannya. Hwi menanyakan siapa majikannya? Gi Teuk mengatakan Pada pelayan itu jika dia ingin hidup, ia harus memberitahu mereka semua tentang itu. Pelayan itu akhirnya mengaku. Ia baru saja mengirimkan surat. 


Hwi dengan tiba-tiba melayangkan tangannya ke lengan sang pelayan. Dengan tatapan bengis ia bertanya siapa yang mengirimkan surat itu? 


Ibu suri baru saja keluar dari kamar raja. Tampaknya ibu suri juga lagi nggak sehat. Dayang membimbingnya dalam melangkah. Tiba-tiba ibu suri oleng. Dayang menangkapnya. Dayang merasa ini nggak akan berhasil. Ia menyarankan agar malam ini ibu suri beristirahat di kamarya. Ibu suri menggeleng. Ia bilang nggak papa. Ibu suri akan berganti baju dan menemui raja. Dayang berpendapat jika ibu suri terus seperti ini, maka ia akan pingsan. Ibu suri mengatakan kalo ratu akan mengalami masa-masa sulit jika sendirian. 


Si Gae tiba-tiba muncul dan berdiri di depan ibu suri. Dayang memarahinya. Lancang sekali. Berani-beraninya dia menghalangi jalan ibu suri. Si Gae mengulangi. Ibu suri? Dayang bertanya pada para pelayan. Apa yang sedang mereka lakukan? Dayang menyuruh para pelayan untuk membawa Si Gae pergi. 


Dua pelayan maju dan menarik Si Gae. Tapi mereka bukanlah lawan Si Gae. Dengan mudahnya Si Gae melumpuhkan mereka. Si Gae mendorong mereka secara bersamaan. Dayang bertanya-tanya apa nggak ada orang di sana? Dayang melindungi ibu suri dan meminta para pelayan untuk memanggil pengawal kerajaan. 


Si Gae maju dan membekap mulut dayang ibu suri agar nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Si Gae lalu mengambil sesuatu dari dalam pakaiannya dan memperlihatkannya pada ibu suri. Itu adalah tulisan nama Hwi dengan darah Hwi sendiri. Ibu suri terkejut melihatnya. Ibu lalu mengambilnya dan membacanya lagi. Hwi. Itu adalah darah Hwi. Puteranya Hwi? Si Gae mengangguk mengiyakan. Ibu suri matanya udah penuh dengan air mata. 


Kang datang ke istana bersama pengawal dan para menteri pendukungnya. Ia menaiki tandu dengan santainya. 


Hwi dan Gi Teuk masuk ke istana dengan di jemput oleh pengawal istana. Ibu suri sendiri sudah menunggu di dalam istana. Hwi berjalan dengan memakai caping. Mereka berdiri saling berhadapan. Hwi melepas capingnya dan menatap ibunda tercinta. Ibu suri menangis terharu. 

Hwi bersujud di depan ibunya. Si Gae dan Gi Teuk merasa terharu menyaksikan pertemuan ibu dan anak itu. Ibu suri mendekat. Dengan berat Hwi berkata, puteranya yang nggak berbakti sekarang sudah kembali dan memberi hormat pada ibu suri. Hwi menundukkan wajahnya dan menangis. Ibu suri juga menangis. Pelan-pelan ia melangkah menghampiri putera kesayangannya. 


Ibu suri duduk di depan Hwi dan memeluknya. Mereka menangis bersama. Ibu suri memukul-mukul punggung Hwi. Ia bertanya, Hwi masih hidup? Ibu suri melepaskan pelukannya dan melihat wajah puteranya. Ia bertanya ke mana perginya wajahnya yang seperti giok itu? Ibu suri lalu membelai pipi Hwi. Kasar sekali. Betapa sulitnya itu untuk Hwi. Ibu suri memberitahu kalo raja sedang di ambang kematian. Langit pasti kasihan pada ibu...karena mereka mengembalikan Hwi padanya. Hwi menanyakan seberapa parah penyakit  yang mulia? Ibu suri menghela nafas. Disaat seperti ini, ibu suri mengaku nggak tahu apa yang ada di depan mereka. Ibu suri kembali menatap Hwi. Karena keserakahan Jin Yang, paea menteri istana dan anggota keluarga kerajaan belum diberitahu. Hwi mengira kalo kakaknya mungkin sudah tahu semuanya. Ibu suri terkejut mendengarnya. Hwi melanjutkan kalo ia menemukan seorang pelayan istana yang keluar dari istana Myeong Rye. Ibu suri membelalakkan matanya saking terkejutnya. 


Kang dan para menteri sampai di istana. Mereka berjalan dengan terburu-buru. 


Hwi menemui raja bersama dengan ibu suri. Dayang dan kasim membantu raja untuk bangun agar bisa melihat Hwi. Hwi bersujud di hadapan raja. Raja yang memang telah lemah keadaannya mengangkat tangannya dan meminta Hwi untuk mendekat. Hwi menurut dan menghampiri raja. Ia menggenggam tangan raja. Raja berkata sekarang ia bisa menutup mata dengan tenang. Hwi bertanya apa maksud raja? Hwi bilang dirinya telah kembali. Adik bungsungnya, Hwi, telah kembali. Hwi ingin raja segera sembuh, agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama sebagai saudara yang telah hilang. Raja mengaku telah memikirkannya. Apa pilihan yang tepat untuk memberikan tahta pada Jin Yang. Apa itu adalah jalan yang benar untuk kerajaan ini. Ibu suri menghela nafas memanggil yang mulia. Raja melanjutkan kalo ia pikir Jin Yang nggak akan membiarkan putra mahkota tetap hidup. Hwi meneteskan air mata mendengarnya. Jin yang nggak akan membiarkan Hwi tetap hidup juga. Raja berpesan agar Hwi melindungi putra mahkota. Hwi harus melindungi keluarga mereka. Jika ada perebutan tahta antara pangeran, mereka nggak akan bisa mendapatkan kepercayaan rakyat. 


Raja yang udah nggak kuat akhirnya jatuh dalam pangkuan Hwi. Raja kembali berpesan pada Hwi agar jangan membiarkan satu orang pun mati. Hwi harus menyelamatkan keluarga mereka. Raja akhirnya menutup mata untuk selama-lamanya. Hwi sendiri hanya bisa menangis sambil memanggil raja, Jeonha! 


Sementara itu Kang yang hendak masuk ke kamar raja dihadang sama kepala kasim. Kepala kasim menyampaikan kalo Kang nggak bisa masuk hari ini. Kang mengatakan karena yang mulia sedang sakit, ia membawakan obat penenang. Kang mengaku ingin memberikannya kepada yang mulia. Ia meminta tolong pada kepala kasim agar memberitahu mereka kalo ia ada di sini. Kepala kasim menyampaikan kalo ibu suri memberikan perintah yang tegas untuk nggak membiarkan seorang pun masuk ke dalam malam ini. Pengawal Kang mulai hilang kesabaran. Ia bertanya apa kepala kasim memperlakukan adik raja seperti pengunjung biasa? Kasim terdiam. Ia lalu meminta Kang agar kembali besok pagi. 


Kang maju dan berbisik pada kepala kasim. Ia bilang ia akan memberi yang mulia obat penenang. Jika sesuatu yang buruk terjadi kepada yang mulia malam ini, apa kepala kasim akan bisa menerima konsekuensinya nanti? Kepala kasim hanya diam. Pengawal Kang membentaknya agar minggir. 


Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari dalam memanggil-manggil yang mulia. Semua orang menatap kesana. Kang lalu maju dan mendekat. Kepala kasim mengikutinya. Ibu suri keluar dari kamar raja. Kang memanggilnya. Ibu suri memalingkan wajahnya dan menatap Kang. Kang bertanya ada apa? Gimana dengan raja? Ibu suri menyampaikan kalo raja sudah meninggal dunia. Mata Kang jadi berkaca-kaca mendengarnya. Ibu suri lalu memanggil kepala kasim. Kang bertanya pada ibu suri, gimana bisa ibu suri membiarkan ini terjadi seperti ini? Gimana bisa ibu suri membiarkan yang mulia meninggal sendirian tanpanya, keluarga terdekatnya di sisinya? Siapa di dunia ini yang akan menerima wasiat terakhirnya? 


Suara Hwi terdengar dan meminta kakaknya agar jangan khawatir. Hwi melangkah keluar dari kamar raja. Kang menatap Hwi. Para menteri yang datang bersama dengan Kang terkejut menyaksikan kehadiran Hwi. Mereka bertanya-tanya, pangeran Eun Sung? 


Kang sendiri tampak nggak terkejut atas kemunculan Hwi. Hwi mengatakan kalo ia yang menerima wasiatnya. Sampai putra mahkota dewasa, ibu suri akan memerintah dan para pangeran akan memberikan janji setianya pada putera mahkota. Itu adalah wasiat almarhum raja. Kang dan ibu suri mendengarkannya dengan mata berkaca-kaca. Kang bertanya, Hwi yang menerima wasiat terakhirnya? 

Bersambung...

Komentar :
Akhirnya setelah tiga tahun Hwi bisa ketemu lagi sama ibunya. Akhirnya Hwi juga mau menerima wasiat dari raja. Yang bikin nggak habis pikir adalah reaksi Kang pas denger raja meninggal. Bukannya gimana-gimana tapi malah nanyain wasiat. Hadeuh, tepok jidad!

1 komentar:

Semangat ya unnie. . 😄😄😄😍😍