Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 10 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 10 Part 3

Na Gyeom selesai bicara dengan ibu. Ibu menyarankan agar ia menemui Ja Hyeon. Na Gyeom mengiyakan. Kebetulan Ja Hyeon datang. Ja Hyeon menemui Na Gyeom dan ibu. Ibu memberitahu kalo Na Gyeom temannya membawa berita yang sangat bahagia. Ja Hyeon tersenyum menatap Na Gyeom. Ia lalu melihat hadiah yang ia berikan pada Na Gyeom saat pernikahan Na Gyeom dahulu. 

Flashback...


Ja Hyeon memberikan hadiah ornamen pertemanan buatan tangannya pada Na Gyeom. Na Gyeom memuji benda itu dan berjanji akan menyimpannya. 

Flashback end...


Ja Hyeon berada dikamarnya bersama Na Gyeom. Ia bertanya ada perlu apa Na Gyeom kesana lagi? Na Gyeom menatap Ja Hyeon dan mengaku kecewa. Dia mengalami semua masalah itu demi Ja Hyeon. Ja Hyeon mengatakan kalo Na Gyeom sangat ingin menikahkannya dengan beberapa keluarga lain. Kenapa Na Gyeom tiba-tiba bersikap seolah-olah ada di pihaknya? Na Gyeom mengaku hanya ingin Ja Hyeon melupakan kekasihnya yang sudah mati dan bertemu seseorang yang baru (lah, bukannya biar nggak merebut suaminya?) Ja Hyeon tersenyum mengejek. Na Gyeom ingin dia percaya itu? Na Gyeom menghela nafas. Suka atau enggak, mereka ditakdirkan untuk menjadi saudara ipar. Bukankah seharusnya mereka membuat hubungan baik demi kedamaian di keluarga kerajaan ?

Na Gyeom dan Ja Hyeon sama-sama menghela nafas. Na Gyeom memberitahu kalo, ia membawa tanggal resmi untuk pernikahan mereka. Ja Hyeon langsung menatap N Gyeom. Na Gyeom merasa yakin kalk Ja Hyeon masih membencinya. Sejujurnya Na Gyeom juga nggak nyaman ada di dekat Ja Hyeon. Tapi tetap saja mereka nggak bisa meneruskan peemusuhan mereka, kan? Hubungan mereka sebagai saudara juga nggak terlalu baik. Na Gyeom menanyakan apa yang akan terjadi jika para orangtua mereka mengetahui dendam mereka? Ja Hyeon menatap Na Gyeom da  bertanya apa Na Gyeom tulus? Na Gyeom menatap Ja Hyeon dan berkata waktu yang akan menunjukkan ketulusannya. Ia meminta Ja Hyeon untuk meluangkan waktunya dan melihat sendiri apa yang ada dalam pikirannya. Tapi jika Ja Hyeon ingin menjadi anggota keluarga kerajaan, ia berharap Ja Hyeon akan rukun dengannya meskupun hanya terlihat dari luar. Ja Hyeon mengatakan jika Na Gyeom menerimanya, ia juga akan berusaha menerima Na Gyeom. Ja Hyeon juga nggak ingin membuat orangtuanya khawatir. Na Gyeom tersenyum, rencananya berhasil. 


Na Gyeom berjalan keluar dengan diantar oleh Ja Hyeon. Mereka sudah sampai di pintu. Na Gyeom menyuruh Ja Hyeon untuk kembali ke dalam. Ja Hyeon mengangguk. Mereka pun berpisah. Ja Hyeon terus menatap Na Gyeom, demikian juga dengan Kkeutdan. Kkeutdan malah tambah sinis tatapannya. Ia meminta Ja Hyeon untuk jangan percaya pada Na Gyeom karena dia seekor ular. Apa Ja Hyeon sudah lupa betapa Na Gyeom menyiksanya selama ini? Ja Hyeon balik nanya, gimana bisa dia melupakannya? Na Gyeom selalu menggosok garam di lukanya. Kkeutdan membenarkan. 


Ja Hyeon berbalik dan berjalan. Tapi mereka akan menjadi keluarga sekarang. Menurut Ja Hyeon  apapun yang asa dipikiran mereka, mereka berdua tetap harus berusaha untuk tetap akur. Kkeutdan hanya bisa menghela nafas. 


Na Gyeom sudah sampai diluar. Para pelayan keluarga Ja Hyeon menutup pintu. Na Gyeom berbalik dan kembali menatap rumah itu sebentar. Ia kembali tersenyum lalu berjalan lagi. 


Hari sudah malam. Anak buah Kang berjalan bersama Yoo Kyung. Mereka berdua sama-sama memakai cadar. Yoo Kyung membuka sekotak uang dihadapan seseorang. Ia berkata jika orang itu berhasil, maka pangeran akan memberinya hadiah yang lebih besar. Uang bukanlah masalah. Itu adalah jalan keluar dari asal usulnya yang rendah ke dunia yang lebih baik. Yoo Kyung melanjutkan, nggak akan ada orang bersenjata di sekitarnya jadi semuanya akan berjalan lancar. Yoo Kyung mengaku tahu bahwa tikus nggak akan bisa keluar hidup-hidup jika anak-anak buahnya melakukannya. Orang itu menatap Yoo Kyung tajam dan meminta daftar orang-orang yang harus mereka singkirkan. 


Anak buah Kang menguping pembicaraan Yoo Kyung dengan orang itu. Ia lalu kembali memakai cadarnya. 


Kang menyerahkan Pemilihan Tanggal keberuntungan pada paman. Itu adalah tanggal tujuan besar mereka. Paman menerimanya dam membukanya. Hari pernikahan akan diadakan tanggal 3 april, 1453. Paman ingat kalo itu adalah hari pernikahan Eun Sung. Na Gyeom menyahut, itu adalah hari ketika musuh mereka akan berkumpul di satu tempat. Kakak Na Gyeom menambahkan, menteri negara kiri, Kim Chu biasanya membawa pengawalnya. Mereka nggak akan mendapatkan kesempatan lain karena pada hari itu mereka akan berpikir nggak perlu membawa pengawal. Na Gyeom meminta paman untuk memberitahu menteri yang ada dipihak mereka untuk nggak menghadiri upacara. Kakak Na Gyeom berpendapat kalo ini satu-satunya kesempatan mereka untuk menyingkirkan pangeran Eun Sung dan semua musuh mereka sekaligus. 


Paman bertanya bagaimana dengan raja? Kang menatap paman dan menjawab mereka akan menyerahkannya pada pangeran Eun Sung. Setelah pangeran Eun Sung meninggalkan raja sendirian, mereka akan membuat asap api di kediaman raja. Begitu mereka mengevaluasi raja karena mengira ada kebakaran, mereka akan menggunakannya sebagai bukti penghianatan Eun Sung. Paman mengangguk. Kang kembali melanjutkan, setelah ia mengurus semua orang yang hadir di upacara pernikahan, ia ingin paman segera pergi dan memberitahu ibu suri. Itu karena keinginannya untuk naik tahta, Eun Sung membunuh menteri kiri dan menyerang istana. Karena itulah ibu suri harus menangkap Eun Sung. Paman berpendapat kalo Eun Sung nggak akan menyerah. Bukankah dia memiliki senjata yang dapat mengancam Kang? 


Na Gyeom menjawab, karena itulah sebabnya mereka harus segera ke istana. Mereka nggak akan tahu kapan Eun Sung akan menyerang mereka dengan itu. Ia menatap Kang sambil tersenyum lalu melanjutkan, sebelum mereka diserang, mereka harus menyerangnya lebih dulu. Kang menambahi, daripada hidup dalam ketakutan karena takut ketahuan, ia akan menjadi pemenang yang mengambil semua yang dimiliki Eun Sung. Paman kembali berpendapat kalo ibu suri nggak akan percaya dengan mudah. Kang meyakinkan paman, mereka akan menyiapkan saksi. Karena ada saksi, maka ibu suri nggak akan punya pilihan selain mempercayainya. Paman kembali menanyakan, apa Eun Sung nggak akan curiga? Kang menjawab, Eun Sung terlelap dalam mimpinya sehingga dia nggak akan tahu apa-apa. Kang memberitahu, Eun Sung meragukannya sepanjang perjalanan pulang, tapi dia nggak akan berpikir kalo hari pernikahannya, akan menjadi hari kematiannya. Paman mengangguk setuju. Na Gyeom mengatakan, mereka pasti menyukai rumah baru mereka begitu mereka sudah menikah. Semua orang tersenyum.


Ja Hyeon berjalan bersama Hwi. Ia tampak sangat bahagia. Kkeutdan, Gi Teuk dan Si Gae mengikuti mereka di belakang. Mereka berhenti di sebuah rumah. Ja Hyeon bertanya itu rumah siapa? Hwi mengaku nggak tahu. Ibu suri menyuruhnya untuk mengunjunginnya bersama Ja Hyeon. Ja Hyeon mengangguk paham. Gi Teuk mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam. Hwi tersenyum dan mempersilakan Ja Hyeon untuk duluan. 


Gi Teuk membukakan pintu untuk mereka bisa masuk. Hwi masuk bersama dengan Ja Hyeon. Kkeutdan menyenggol Si Gae bermaksud bercanda tapi rupanya Si Gae nggak maksud. Dia malah mendorong Kkeutdan sampai menghantam pintu. Kkeutdan kesal jadinya. Si Gae yang memintanya, kan? 


Ja Hyeon terus tersenyum melihat rumah itu. Tapi senyum mereka langsung hilang begitu mereka melihat Kang. Mereka berdua jadi merasa nggak nyaman. Kang mengucapkan selamat datang. Hwi dan Ja Hyeon menghampiri Kang. Ja Hyeon memberi hormat pada calon kakak iparnya. Hwi bertanya kenapa Hyung ada disana? Kang memberitahu kalo ibu suri memintanya untuk menunjukkan rumah baru mereka. Karena mengurus istana adalah tugas Kang, ia juga mengurus rumah itu. Ja Hyeon memalingkan wajahnya, malas. Kang mengajak mereka untuk melihat-lihat. 


Kang berjalan lebih dulu diikuti anak buahnya. Hwi menoleh ke Ja Hyeon. Kang berbalik karena mereka sama sekali nggak beranjak. Hwi dan Ja Hyeon sama-sama malas. Tapi mereka nggak punya pilihan untuk menghindar. Mereka berjalan mendekat. Kang ingat Hwi bilang nggak menginginkan rumah baru. Ja Hyeon langsung menatap Hwi. Hwi menjelaskan alasannya, ia pikir mereka nggak harus membangun rumah baru saat ada banyak rumah kosong. Hwi menatap Ja Hyeon. Apa nggak masalah meski ini bukan rumah baru? Ja Hyeon tersenyum dan balik nanya. Kenapa itu penting? Jika ia bersama Hwi, ia bahkan bisa tinggal di rumah dengan atap jerami. Kang menghela nafas dan meledek, Ja Hyeon seperti wanita yang mengikutinya ke medan perang. Kang lalu berjalan duluan. Hwi menatap Ja Hyeon dan Ja Hyeon tersenyum. Mereka lalu berjalan mengikuti Kang. 


Kang membimbing mereka untuk melihat-lihat. Hwi dan Ja Hyeon tampak menyukai rumah itu. Mereka tak henti-hentinya tersenyum satu sama lain. 


Kang memperlihatkan tempat tinggal Ja Hyeon. Hwi mempersilakannya masuk dan melihatnya. Ja Hyeon tersenyum lalu melangkah masuk. Kkeutdan dan Si Gae mengikuti. 


Kang berbalik dan menanyakan pada Hwi, gimana rasanya? Bersama kekasihnya setelah berkeliling sejauh ini? Hwi mengaku selalu takut setiap malam. Ia takut saat ia bangun dari tidurnya, ia nggak berada di Joseon. Tapi ia akan berada di penjara yang mengerikan itu. Tempat tidur nyaman yang bukan miliknya. Pakaian sutra lembut yang ia kenakan ini seperti milik orang lain. Wanita yang ia cintai ada di depannta... . Hwi mengaku nggak tahu apalah ini mimpi atau kenyataan. Kang menghela nafas. Ia berkata, setelah pulang dengan selamat dan bertemu dengan wanita yang ia inginkan, Hwi harus hidup bahagia dengannya. Ia berpesan agar Hwi jangan mempertaruhkan hidupnya dalam politik yang nggak pernah ia pedulikan sebelumnya. 


Hwi menatap Kang. Ia mengerti. Rakyat mereka yang disandera di kerajaan lain. Dan mengalami kehidupan yang sama dengan hewan. Menjalani hidup yang sama dengan budak. Mereka nggak bersalah dan menderira karens kesakitan. Hwi telah mengalaminya sendiri. Yang mulia masih muda dan masih harus menempuh jalan panjang sebelum dia dapat mengurus dirinya sendiri. Tapi karena keserakahan Kang, ia menjual bangsa ini. Tapi Kang yang membiarkan rakyatnya menderita, nggak berhak untuk menjadi raja. Kang langsung menatap Hwi. Hwi berpesan agar Kang jangan melupakam tentang peringatannya. Kang menatap Hwi tajam. Ia bertanya, Hwi nggak tahu perasaan ingon memiliki sesuatu yang diambil darinya, kan? Hwi menjawab itu karena ia nggak pernah menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Kang berkata suatu hari Hwi akan menyadarinya juga. Betapa menyakitkan rasa frustasi itu. Dua pangeran itu saling menatap tajam. 


Ja Hyeon tersenyum melihat kamar yang akan menjadi miliknya. Si Gae berdiri di pintu melihat bagian dalam kamar. Ja Hyeon melihatnya dan memintanya untuk masuk dan melihat bersamanya. Si Gae enggan dan berpaling. Ja Hyeon menghampirinya dan menariknya. Ja Hyeon memintanya untuk duduk. Si gae menurut dan duduk bersama dengan Ja Hyeon dan Kkeutdan. 


Ja  Hyeon tersenyum ramah pada Si Gae sedangkan Kkeutdan malah menatapnya sinis. Ja Hyeon menyampaikan kalo dia dengar Si Gae sudah lama membantu pangeran Eun Sung untuk waktu yang lama. Ja Hyeon mengaku ingin membalas kebaikannya. Ia menanyakan apa yang Si Gae butuhkan? Si Gae nggak menjawab apa-apa dan asik melihat sekeliling. Kkeutdan menegur, meminta Si Gae mengatakan sesuatu. Apa Si Gae nggak tahu bahasanya? Si Gae menatap Kkeutdan dan bilang kalo dia tahu. Ja Hyeon kembali bertanya, Si Gae tahu bagaimana pangeran Eun Sung menjalani hidupnya dalam 3 tahun terakhir, kan? Bagaimana dia melalui semua penderitaan dan apa yang dia lakukan? Si Gae menatap Ja Hyeon dan menanyakan, Ja Hyeon penasaran? Kkeutdan kembali menegur Si Gae karena dia berbicara banmal. Ja Hyeon memotong dan merasa nggak papa. Mungkin karena Si Gae nggak pandai berbahasa Korea. Nggak papa selama Si Gae mengerti apa yang ia katakan. Si Gae menjelaskan kalo mereka selalu bersama siang dan malam. Senyum Ja Hyeon langsung hilang begitu dengar kata bersama siang dan malam. Kkeutdan kesal dan rasanya mau nimpuk Si Gae. 


Si Gae menjelaskan, Hwi, Gi Teuk dan ia selalu bersama. Cacar terjadi di musim dingin di wilayah utara. Tahanan Joseon bahkan nggak bisa mendapatkan perawatan. Mereka mati. 

Flashback...


Hwi dan Gi Teuk membawa gerobak yang berisi orang-orang yang telah meninggal karens terserang cacar. Mayat-mayat itu mereka masukkan kedalam sebuah lubang yang didalamnya sudah ada banyak mayat sebelumnya. 


Tiba-tiba Hwi merasa lemas dan akhirnya pingsan. Gi Teuk menghampirinya dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Gi Teuk menangis memanggil Hwi. Para tentara Jurchen menarik Gi Teuk agar menjauh dari Hwi. Dan prajurit Jurchen yang lain menendang Hwi sehingga  jatuh ke lubang bersama mayat. Gi Teuk berteriak menyampaikan kalo Hwi masih hidup. Hwi yang separuh sadar, melihat Gi Teuk pergi keninggalkannya. 


Malam harinya Si Gae mengendap-endap menuju lubang mayat. Ia melihat mayat-mayat itu sambil terus menutup hidungnya. Mungkin karena mayat-mayat itu sebagian sudah membusuk. Si Gae masuk dan melihat Hwi ada diantara mereka. Si Gae memeriksa detak jantung Hwi dengan meletakkan kepalanya di dada Hwi. Ia pun mengeluarkan Hwi setelah tahu Hwi masih hidup. 


Si Gae merawat Hwi. Menyuapkan obat dan mengelap keringatnya. Dia dengan setia menunggui Hwi sepanjang malam. Sampai akhirnya Hwi terbangun dan meraih tangannya. Si Gae terbangun dan tersenyum melihat Hwi sudah sadar. 

Flashback end...

Bersambung...

Komentar :
Di depan Hwi, Kang berpura-pura menjadi kakak yang baik tapi dibelakang dia merencanakan kejutan besar yang menyakitkan byat Hwi.