Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 10 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 10 Part 4

Si Gae mengatakan kalo dia menyelamatkan hidup Hwi. Ja Hyeon sudah berkaca-kaca mendengar semua itu. Si Gae menambahi, kalo bukan karena dirinya, Hwi ... sudah mati. Ja Hyeon terlihat makin sedih. 

Flashback...


Hwi berlatih silat dengan menggunakan tongkat seolah itu adalah pedang. Hwi berputar dan mengayunkannya. Si Gae datang membawakan baju perang dan pedang sungguhan. Hwi menghampirinya. Ia mengambil pedang itu dan menatap Si Gae. Si Gae tersenyum padanya. 


Mereka berdua mengendap-endap ke tempat penjara Jurchen. Hwi dan Si Gae memanah setiap prajurit yang sedang berjaga dan membebaskan para tahanan. Satu-per satu dari tahanan itu keluar dan berhamburan. Gi Teuk yang melihat Hwi masih hidup menangis terharu. 


Mereka dikejar oleh para prajurit Jurchen yang lain. Saat para prajurit itu makin dekat, Hwi berhenti sejenak dan berteriak memanggil Roo Si Gae. Si Gae menarik panahnya di depan Hwi sambil berlutut. Hwi mengambil anak panah yang dibawa Si Gae dan bersama-sama memanah para prajurit itu. Satu- demi satu dari prajurit itu tumbang terkena anak panah mereka. Hwi dan Si Gae pun kembali berlari. 


Orang-orang Joseon yang selama ini menjadi sandera bersujud berterima kasih pada Hwi. Hwi membanti salah-satunya untuk bangkit. Orang itu adalah orang yang peenah memberi makanan pada Hwi. Orang itu menatap Hwi dan berjanji nggak akan pernah melupakannya. Ia meminta Hwi hidup selama seribu tahun. Hwi tersenyum dan mendoakan agar mereka semua baik-baik saja. 


Hwi bangkit dan berbalik. Ia meninggalkan orang-orang itu dan melangkah ke jalannya sendiri bersama dengan Si Gae dan Gi Teuk. 

Flashback end...


Si Gae menceritakan kalo Hwi yang hidup kembali membawa semua tahanan. Semua orang kembali ke rumah mereka. Ja Hyeon sampai menangis mendengar cerita dari Si Gae. Ia bertanya, namanya Roo Si Gae, kan? Ja Hyeon mengaku iri padanya. Si Gae menghabiskan waktu lebih lama di samping pangeran daripada dirinya. Si Gae juga tahu apa yang dia nggak ketahui. Si Gae berjuang hidup bersama dengan Hwi. Bepergian jauh dengannya. Ja Hyeon menunduk dan menghela nafas dalam. Ia lalu melanjutkan, mungkin Si Gae memiliki hubungan yang lebih kuat dengan Hwi daripasa dirinya. Kkeutdan menegur Ja Hyeon, kenapa dia iri pada orang biasa yang melayani pangeran? Kkeutdan nyuruh Ja Hyeon memberikan saja apa yang Ja Hyeon bawa dan menyuruh Si Gae pergi. 


Ja Hyeon menghapus air matanya dan memberikan hadiah pada Si Gae. Ja Hyeon mengaku nggak tahu apa yang Si Gae butuhkan, jadi dia membawakannya pita, kaus kaki, dan hiasan pakaian. Jika Ja Hyeon tahu ukuran badan Si Gae, Ja Hyeon ingin memberinya jeogori (jaket tradisional) juga. Ja Hyeon berpesan agar Si Gae bilang padanya kalo dia butuh yang lain. Ja Hyeon berterima kasih karena Si Gae sudah melindungi pangeran. Kkeutdan bertanya kenapa Ja Hyeon terus menangis? Ja Hyeon menjawab, dia nggak tahu kalo pangeran sudah sangat menderita. Dia sangat senang ketika Hwi kembali. 


Hwi tiba-tiba masuk dan mengajak mereka pulang jika memang mereka sudah selesai melihat-lihat. Dia sangat terkejut saat melihat Ja Hyeon menangis. Hwi bertanya apa yang terjadi? Ja Hyeon menghapys air matanya dan berusaha tampak biasa saja. Hwi bertanya pada Kkeutdan kenapa Ja Hyeon menangis? Kkeutdan nggak menjawab dan malah menatap Si Gae. Hwi ganti menatap Si Gae dan menanyakan apa Si Gae mengatakan sesuatu yang aneh? 


Si Gae nggak suka Hwi marahinya. Dia bangkit dan pergi. Kkeutdan juga ikutan bangkit karena Si Gae meninggalkan hadiahnya. Hwi menghela nafas dan menghampiri Ja Hyeon. Hwi duduk di hadapan Ja Hyeon dan berusaha menghiburnya. Jika Ja Hyeon nggak menyukai rumah itu, mereka nggak harus tinggal di sana. Mereka punya banyak rumah, jadi mereka bisa minta ibu suri untuk memberi mereka rumah yang lain. Ja Hyeon menggeleng. Hwi menanyakan kenapa Ja Hyeon menangis? Ja Hyeon mulai mau bicara. Tiga tahun terakhir, ketika Hwi mengalami kesulitan dan penderitaan, ketika Hwi takut dan kelaparan, kenyataan bahwa Ja Hyeon nggak bisa melakukannya bersamanya, terasa sangat menyakitkan bagi Ja Hyeon. Hwi harus melalui penderitaan itu sendiri. Ja Hyeon mengaku sangat menyesal. 


Hwi tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Ja Hyeon. Ia mengatakan kalo Ja Hyeon selalu ada di sisinya. Ketika dia jatuh, Ja Hyeon berteriak padanya untuk bangkit kembali. Ketika ia menangis, Ja Hyeon menghapus air matanya. Ketika ia merasa lelah, Ja Hyeon menyemangatinya. Setiap saat, Ja Hyeon tanpa henti berdoa untuknya. Hwi mengaku merasakannya. Pelan-pelan Ja Hyeon mulai tersenyum. 


Hwi menggenggam tangan Ja Hyeon. Ia mengatakan agar Ja Hyeon jangan merasa sedih karena perpisahan di masa lalu. Sekarang, mari hidup berbahagia selama sisa hidup yang akan mereka habiskan bersama. Ja Hyeon mengangguk. Hwi tersenyum dan membelai wajah Ja Hyeon (aww.. romantis...)


Si Gae yang kesal terus berjalan menjauh. Gi Teuk mengejarnya. Ia menghentikan Si Gae dengan menarik tangannya. Ia bertanya ada  apa dengan Si Gae? Si Gae harus melayani yang mulia terlebih dahulu sebelum pergi. Si Gae menghempaskan tangan Gi Teuk dan bilang ingin pergi. Gi Teuk bertanya apa Si Gae punya tujuan jika ingin pergi? Si Gae memikirkannya dan nggak bisa menjawabnya. Gi Teuk bertanya ada apa? Si Gae mengaku nggak suka sama wanita itu (Ja Hyeon). Gi Teuk mengingatkan kalo dia akan menjadi isteri pangeran. Gi Teuk mengira karena yang mulia Hwi menerima sikapnya, Si Gae pasti berpikir untuk bermain-main. Gi Teuk kembali mengingatkan kalo ini Joseon. Adat istiadat di sini sangat ketat. Si Gae ragu-ragu bertanya bisakah mereka pulang saja? Gi Teuk mengatai Si Gae sudah g*la. 


Si Gae beralasan kalo disini terlalu banyak orang. Si Gae mengeluh karena nggak bisa pergi menemui Hwi sesukanya. Gi Teuk kembali menegur Si Gae yang masih memanggil pangeran dengan namanya. Si Gae marah. Kalo mereka nggak ingin pergi, ia akan pergi sendiri. Si Gae memalingkan wajahnya dan menghapus air matanya. Gi Teuk menyerah. Dia menyuruh Si Gae melakukan sesukanya. Jika Si Gae ingin pulang, maka dia akan mati. Jika memang itu benar-benar keinginannya, maka pergilah. Si Gae terkejut Gi Teuk benar-benar menyuruhnya pergi. Gi Teuk  berbalik dan meninggalkan Si Gae. Tapi belum sampai jauh dia berbalik lagi dan meminta agar Si Gae jangan keras kepala dan menyuruhnya cepat kesini. Si Gae masih kesal tapi pada akhirnya dia tetap mengikuti Gi Teuk juga. 


Kang menghela nafas. Entah apa yang dia pikirkan. Ja Hyeon dan Hwi sudah selesai melihat-lihat dan mereka bersiap untuk pulang. Kang berbalik dan menghampiri mereka. Ia bertanya bagaimana pendapat mereka. Ia mengaku punya pelayan yang bisa melakukan apapun. Ia meminta Ja Hyeon memberitahunya jika ingin memperbaiki sesuatu yang lain. Ja Hyeon mengaku nggak ada. Kang mengurus semuanya dengan baik, jadi itu terlihat seperti rumah baru. Ketika ia dan Hwi mengisi rumah itu dengan anggota keluarga, itu akan lebih bagus. 


Kang menatap Ja Hyeon dan bertanya apa dia bahagia? Ja Hyeon tersenyum. Ia mengaku jadi merasa takut. Kang mengatakan dulu saat Ja Hyeon menunggu Hwi, apa Ja Hyeon nggak pernah merasa goyah? Hwi menegur Kang karena mengingatkan Ja Hyeon ke saat-saat kesedihan. Tanpa ragu Ja Hyeon menjawab nggak pernah. Siang dan malam, setiap saat, ia merindukan pangeran Eun Sung. Ja Hyeon menatap Hwi dan mengaku nggak bisa memikirkan hal lain lagi. Ja Hyeon yakin Kang lebih tahu itu daripada orang lain. Kang tersenyum getir. Ia lalu menghela nafas dan mendoakan semoga mereka hidup bahagia. Ja Hyeon mengucapkan terima kasih. Kang bercanda, ia meminta Ja Hyeon memberitahunya kapan saja jika adiknya memberikan waktu yang sulit. Kang berjanji akan memberinya pelajaran. Hwi membantahnya. Ia akan hidup bahagia sehingga kakaknya nggak perlu terlibat. Ja Hyeon tersenyum dan meminta Kang agar jangan khawatir. Hwi bukan orang yang akan mengingkari janjinya. Ja Hyeon menatap Hwi dan melanjutkan, ia bahkan menepati janjinya dan kembali. Hwi balas menatap Ja Hyeon dan tersenyum. Kang merasa nggak nyaman berada di antara mereka. 


Ja Hyeon berjalan bersama Hwi. Mereka bercanda sambil terus tersenyum. Di belakang mereka ada Si Gae (yang nggak suka sama Ja Hyeon), Gi Teuk (yang ikut tersenyum lihat mereka bahagia) dan Kkeutdan. Hwi mengulurkan tangannya dan membantu Ja Hyeon menuruni tangga. 


Hwi meminta maaf. Jika mereka menunggu lebih lama lagi, mereka bisa mengadakan upacara pernikahan yang lebih layak dan menghias rumah mereka lebih baik. Ja Hyeon mengelak. Ia mengaku suka yang seperti ini. Hwi memberitahu kalo mereka nggak bisa membuatnya menunggu lebih lama jadi mereka mengijinkannya menikah lebih cepat. Ja Hyeon mengatakan, keluarga kerajaan memiliki putra mahkota muda yang naik tahta memerlukan pelayan seperti ayahnya. 


Hwi berhenti melangkah dan bertanya, Ja Hyeon juga tahu itu? Ja Hyeon membenarkan, dia putri dari kepala sarjana. Menurut Ja Hyeon alasan itu cukup bagus, karena itu Ja Hyeon akan berada di sisinya. Ja Hyeon tersenyum lalu kembali berjalan. 


Si Gae berjalan ke arah lain meninggalkan Ja Hyeon-Hwi dan Gi Teuk-Kkeutdan. 


Mereka sampai di depan rumah Ja Hyeon. Hwi menyuruh Ja Hyeon untuk masuk. Ja Hyeon menolak. Dia menyuruh Hwi untuk pergi duluan. Si Gae menjatuhkan hadiah dari Ja Hyeon di dekat pohon. 


Hwi ingin melihat Ja Hyeon masuk lebih dulu. Tapi Ja Hyeon ingin melihat Hwi pergi dulu baru masuk. Hwi mengangguk. Ja Hyeon juga ikut mengangguk. Gi Teuk dan Kkeutdan sampai senyum-senyum sendiri melihat kemesraan mereka. Hanya Si Gae yang nggak suka. 


Hwi menurut dan pergi lebih dulu. Ja Hyeon menatap kepergiam Hwi. Ia bilang sama Kkeutdan kalo ia merasa aneh. Roo Si Gae sepertinya lebih dekat dengan pangeran Eun daripada dirinya. Kkeutdan mengusulkan kalo Js Hyeon bisa menyuruhnya pergi. Dia bahkan bukan pelayan istana, kenapa Si Gae menempel di sisinya? Ja Hyeon mengingatkan kalo Si Gae bilang dia menyelamatkan nyawa Hwi. Mereka bersama-sama selama 3 tahun seolah-olah mereka satu tubuh. Ja Hyeon merasa harus berterima kasih kepada orang seperti itu. Gimana bisa Ja Hyeon menyuruhnya melakukan ini dan itu? Kkeutdan sependapat. Dia juga merasa seperti itu. Kkeutdan mungkin nggak tahu apa yang Ja Hyeon rasakan, tapi... . Kkeutdan menatap Ja Hyeon lalu melanjutkan, dalam sisa umurvJa Hyeon, ia akan bersama pangeran. Jadi jangan khawatir. Ja Hyeon tersenyum dipeluk sama Kkeutdan. Hwi tiba-tiba berbalik dan tersenyum pada Ja Hyeon. Mereka saling melambaikan tangan. Kkeutdan lalu menarik Ja Hyeon dan mengajaknya masuk. 


Ja Hyeon masuk lebih dulu. Kkeutdan melihat sesuatu di bawah pohon dan menghampirinya. Itu adalah hadiah Si Gae dari Ja Hyeon. Kkeutdan mengambilnya dan jadi sangat kesal. Yang bener aja. Bisa-bisanta Si Gae menyepelekan niat baik seseorang. Kkeutdan jadi bertanya-tanya, Roo Si Gae atau siapapun itu, gimana kalo dia punya rencana yang lain? 


Orang yang ditemui Yoo Kyung tempo hari, sedang mengatur kotak-kotak besar bersama dengan anak buahnya. Dalam kotak itu dimasukkan beberapa pedang kemudian di atasnya diletakkan beberapa kain dan pakaian mewah. Di dekat mereka Yoo Kyung bersama anak buah Kang sedang mengawasi. Semua kotak peti sudah diisi dan mereka pun menutupnya. 


Anak buah Kang melapor pada Kang. Kang bertanya apakah mereka sudah mengisi kotak hadiah? Anak buah Kang mengiyakan. Paman bertanya pada Kang apa nggak papa jika Kang melakukannya sendiri? Mereka bisa melakukannya bersama jika Kang mau. Kang berpesan kalo paman harus menjaga ibu suri. Ketika Kang mengirim pesan, ia ingin paman segera pergi ke istana ratu. Paman mengiyakan. 


Kang lalu menatap kakak iparnya. Kang bertanya apa ia sudah mengurus penjaga keamanan untuk kediaman raja? Dengan percaya diri kakak Na Gyeom memberitahu kalo mereka nggak akan menghianatinya meskipun ia bukan kepala keamanan istana lagi. Mereka hidup dari uang yang berasal dari rumah ini selama bertahun-tahun. Ia akan melakukan apa yang Kang perintahkan. 


Kang lalu menatap istrinya. Ia menugaskan Na Gyeom untuk menjaga Ja Hyeon. Na Gyeom terkejut. Ia menanyakan apa Kang memintanya untuk membawa Ja Hyeon? Kang menjelaskan, jika mereka benar-benar ingin membuat kesepakatan dengan Daejegak, maka istri penghianat harus menjadi sandera. Na Gyeom mengerti. Ia akan melindunginya. Kang berpesan agar Na Gyeom nggak membiarkan Ja Hyeon terluka. Na Gyeom menatap suaminya dengan curiga. 


Kang menghela nafas. Ia melanjutkan kalo mereka akan menyingkirkan semua orang yang mengacaukan politik dengan bayi raja. Dengan begitu, nggak akan ada yang bisa menghalangi mereka. Kang tersenyum dan melanjutkan, besok, dunia akan berubah. Semua orang tersenyum penuh keyakinan. 

Bersambung...

Komentar :
Rencana yang disusun Kang sudah sangat matang semenrara Hwi dan Ja Hyeon tenggelam dalam kebahagiaan yang dibangun oleh Kang.