Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 10 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 11 Part 1

Ja Hyeon akan menghabiskan malam ini bersama dengan ibunya. Ibu terharu menatap hiasan kepala yang akan dipakai oleh Ja Hyeon besok. Putrinya akhirnya akan menikah. Ibu meletakkannya dan meraba baju pengantin Ja Hyeon. Ia pikir ia akan bersama Ja Hyeon di sisa hidupnya. Ja Hyeon berjanji akan sering mengunjungi ibunya. Ibu meledek, boleh juga. Ja Hyeon tersenyum. Ia mengatakan ada keuntungan menikah dengan keluarga kerajaan. Ibu mengulangi, keuntungan? Menurut ibu Ja Hyeon nggak bisa melakukan banyak hal dan banyak juga yang harus ia perhatikan. Ja Hyeon menyebutkan keuntungan yang ia maksud yaitu tinggal terpisah dari ibu mertua. Ibu langsung meboleh ke Ja Hyeon. Ja Hyeon melanjutkan kalo Ja Hyeon akan menjadi bos karena nggak hidup dengan mertua. Nggak akan ada yang mengomelinya saat ia pulang telat ke rumah. Ibu menggaris bawahi, tinggal terpisah? Menurut ibu Ja Hyeon bisa mendapat masalah dan dipanggil ke istana. Gimana kalo mereka menyuruh Ja Hyeon tinggal di istana? Ja Hyeon tertawa. Ibu menyampaikan kalo orang lain menangis pada hari pernikahan mereka karena nggak ingin meninggalkan keluarga mereka. Tapi Ja Hyeon kelihatannya sangat bahagia. Ja Hyeon membenarkan. Ibu kesal dan bercanda nggak ingin melihat Ja Hyeon lagi. Ja Hyeon balas bercanda, haruskah dia nggak usah menikah? Ibu menyuruh Ja Hyeon pergi. Ja Hyeon tersenyum. Begitu juga dengan ibu. Mereka tampak bahagia menantikan hari esok. 


Ja Hyeon tidur di samping ibu. Ibu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Ja Hyeon. Ibu memberi nasehat agar Ja Hyeon hidup dengan baik. Mereka kekasih yang ditakdirkan bersama. Sampai sekarang Ja Hyeon telah banyak menderita. Mulai besok, Ja Hyeon harus berjalan melintasi jalan bunga (hidup bahagia). Ja Hyeon tersenyum. Is meminta maaf karena sudah menyakiti hati ibunya di masa lalu. Ibu pura-pura mengeluhkan, karena Ja Hyeon, usianya jadi berkurang. Ja Hyron berjanji akan berbakti pada ibunya mulai sekarang. Ibu mengatakan, hidup dengan baik adalah bukti berbaktinya Ja Hyeom pada orang tuanya. Ja Hyeon dan ibu sama-sama terdiam. Mendadak suasana jadi haru. Ibu memberitahu ketika Ja Hyeon menikah, maka dia menjadi dewasa. Ja Hyeon melanjutkan, bahkan setelah menikah dan menjadi dewasa, ia nggak akan pernah berhenti menjadi putri ibu. Ibu menghela nafas lalu menepuk-nepuk tangan Ja Hyeon. Ja Hyeon tersenyum menatap ibu. 


Kkeutdan sedang berjalan sambil membawa sesuatu. Tiba-tiba Deuk Sik muncul di depannya. Untung bawaannya nggak jatuh. Kkeutdan kesal karena Deuk Sik sudah mengagetkannya. Deuk Sik menatap Kkeutdan dengan sedih. Kkeutdan menanyakan apa Deuk Sik kesal karena Asshi akan menikah? Deuk Sik memalingkan wajahnya karena nggak ingin Kkeutdan melihat air mukanya. Kkeutdan bertanya kenapa Deuk Sik menangis? Deuk Sik balik nanya, apa Kkeutdan pikir ia menangisi Ja Hyeon? Kkeutdan meledek, apa ada sesuatu di matanya? Deuk Sik yang khawatir menanyakan apa itu nggak masalah buat Kkeutdan? Kkeutdan mengaku akan ikut Asshi. Bagi Kkeutdan, begitu Asshi menikah, nggak ada hal besar yang akan berubah. Deuk Sik mengingatkan kalo lebih dari satu dekade Kkeutdan mengalami masa-masa bahagia dan sedih disana. Kkeutdan akan meninggalkannya? Apa itu nggak masalah buat Kkeutdan? Kkeutdan menghela nafas. Ia lalu memanggil Deuk Sik, Do-ryongnim. Ia meminta Deuk Sik untuk menyadarkan diri. Deuk Sik menghela nafas. Ia pikir akan tinggal di rumah ini dengan Kkeutdan selama sisa hidupnya. Deuk Sik merasa hatinya sakit. Kkeutdan bahkan nggak pernah melihatnya. 


Kkeutdan mulai hilang kesabaran kayaknya. Dia bertanya lalu apa? Apa Deuk Sik mau menikah dengannya? Deuk Sik memalingkan wajahnya. Kkeutdan bertanya lagi, Deuk Sik nggak mau? Deuk Sik mengangguk pelan. Kkeutdan tertawa mengejek. Lalu apa? Apa dia harus menunggu sampai Deuk Sik menikah? Haruskah Kkeutdan menjadi selirnya. Deuk Sik mendadak jadi semangat. Ia mengira Kkeutdan sudah memikirkannya. Kkeutdan terang-terangan menjawab nggak mau. Deuk Sik serasa nggak percaya dengan apa yang Kkeutdan katakan. Kkeutdan menjelaskan, kalo gitu kemungkinan terjadi sesuatu di antara mereka bahkan nggak sebesar jari telunjuknya. Iya, kan? Deuk Sik melihat jari telunjuk Kkeutdan yang diacungkan ke wajahnya. Kkeutdan mengatakan kalo dia harus bangun pagi-pagi. Ia menyuruh Deuk Sik masuk dan tidur lebih awal. Mengerti? Dengan polosnya Deuk Sik mengangguk dengar perintah Kkeutdan. Kkeutdan menepuk lengan Deuk Sik lalu pergi meninggalkannya. Deuk Sik melihat kepergian Kkeutdan. Ia sangat kecewa. Bukan itu yang dia inginkan. 


Hwi sedang bersiap-siap dibantu oleh Gi Teuk dan beberapa pelayan. Ia tampak gugup dan menghela nafas beberapa kali. Ia sudah berpakaian rapi. Untuk sentuhan terakhir, Gi Teuk memakaikannya topi. Gi Teuk memeriksa kembali penampilan Hwi dari atas sampai bawah lalu mengajaknya pergi. Hwi menepuk pundak Gi Teuk lalu beranjak. 


Gi Teuk dan dua pelayan mengikuti Hwi di belakang. Gi Teuk melihat Si Gae tengah menyendiri. Gi Teuk menghela nafas dan menghampirinya. Si Gae yang sedang menangis menghapus air matanya karena nggak ingin Gi Teuk melihatnya. Gi Teuk bertanya apa Si Gae sungguh nggak mau pergi? Si Gae nggak menjawab. Gi Teuk memberitahu kalo mereka akan pergi. Si Gae menghela nafas. Gi Teuk memintanya untuk sadar. Ia mengingatkan kalo Hwi adalah pangeran negeri ini. Jika Si Gae memiliki perasaan yang kuat, maka dia sendiri yang akan terluka. Si Gae menyatakan kalo perasaannya adalah miliknya. 


Gi Teuk menghela nafas. Ia mendekat dan mengatakan agar Si Gae jangan menunjukkannya. Cukup Si Gae saja yang tahu perasaannya. Jangan tunjukkan pada yang lain. Aish! Si Gae kesal dengar nasehat begitu dari Gi Teuk. Gi Teuk tersenyum. Dia lalu pergi meninggalkan Si Gae. 


Sementara itu di rumah Ja Hyeon, semua orang sedang sibuk dengan persiapan pernikahan. Semuanya ditata sedemikian rupa. 


Hwi sendiri masih dalam perjalanan bersama dengan Kang. Di belakang ada Gi Teuk dan anak buah Kang. Di belakang lagi ada pelayan yang membawa kotak hadiah pernikahan. Rakyat berbaris di sepanjang jalan menyaksikan para pangeran yang melintas. 


Yoo Kyung ada diantara mereka dengan memakai cadar. Ia melihat pria yang ia temui tempo hari bersama anak buah Kang. Pria itu balas menatap Yoo Kyung sambil terus berjalan. Yoo Kyung membuka cadarnya dan melihat kotak-kotak hadiah itu. 


Kkeutdan sedang mendandani Ja Hyeon. Semuanya sudah siap dan untuk yang terakhir Kkeutdan menambahkan titik di wajah Ja Hyeon. Ja Hyeon tersenyum. Akhirnya hari yang lama ia nantikan ada di depan mata. Ibu juga tersenyum melihat putrinya. Kkeutdan membuka kotak cermin dan mempersilakan Ja Hyeon untuk melihat wajahnya. 


Hwi dan rombongan sampai di rumah Ja Hyeon. Mereka berhenti sebentar. Kang menatap Hwi sambil tersenyum. Hwi balik senyum sambil terus mengatur nafas. Betapa gugupnya dia. Kang lalu mengatakan, pengantin pria sudah datang. Ia meminta pelayan memberitahu mereka kalo pangeran Eun Sung, Lee Hwi sudah datang. Pelayan mengiyakan. 


Deuk Sik masuk ke kamar Ja Hyeon dan menyampaikan ke ibu kalo pengantin pria sudah datang. Benarkah? Ibu menanyakan pada Ja Hyeon, dia sudah siap, bukan? Nggak ada yang terlupakan, kan? Kkeutdan mengiyakan. Ibu lalu bangkit dan keluar. Kkeutdan mengaku sangat bersemangat. 


Hwi dan rombongan memasuki rumah Ja Hyeon. 


Di istana, Si Gae sedang nggak bersemangat. Dia cuman jongkok sambil melempar-lempar batu. Si Gae menghela nafas berkali-kali dan akhirnya bangkit dan berlari keluar. 


Upacara pernikahan akan segera berlangsung. Hwi berdebar-debar menantikan prosesi itu. Ja Hyeon sendiri masih di dalam kamarnya. Dia sama gugupnya dengan Hwi. Ayah dan ibu berjalan menghampiri Kang. Ayah berbasa-basi mengatakan Kang sudah repot-repot untuk datang kesana. Ibu berkomentar banyak sekali kotak hadiahnya. Ia pikir mereka sepakat untuk mengadakan upacara pernikahan biasa tapi kenapa banyak hadiah pernikahan yang mereka bawa? Kang tersenyum dan menawari ibu untuk melihatnya. 


Para pelayan membuka kotak itu satu per satu. Ayah ratu mengingatkan kalo pernikahan harus dilakukan lebih dulu. Kenapa mereka membuka hadiah pernikahan lebih dulu? Semua orang tertawa. 


Kang menengok ke anak buahnya dan mengangguk. Para penjahat yang menyamar sebagai pelayan mengerti dan mulai beraksi. Mereka membuka kain-kain itu dan mengambil pedang yang ada di dalamnya. Kang pura-pura terkejut. Orang-orang itu mengacungkan pedang ke orang-orang di sekitarnya. Kang berseru menanyakan apa yang mereka lakukan? Orang-orang itu mulai maju. Anak buah Kang maju dan melawan mereka. Orang-orang itu berusaha melukai  Hwi. Hwi melawan dengan tangan kosong. Orang-orang itu juga membunuh para menteri kiri. Deuk Sik menyarankan ayah dan ibunya untuk melarikan diri. 


Di dalam kamar, Ja Hyeon bertanya-tanya suara apa itu? Kkeutdan memintanya menunggu disana. Ia akan memeriksanya. Ja Hyeon mengangguk. Kkeutdan pun keluar dan terkejut melihat keributan yang terjadi. Ia buru-buru kembali ke kamar dan memanggil-manggil Asshi. 


Seseorang berhasil melukai lengan Kang dengan pedang. Seketika darah muncrat dan mengenai wajahnya (aww..serem! TT). Orang itu mau melukai Kang lagi tapi Kang yang melihatnya segera mendorongnya. Temannya yang lain juga mengincar Kang. Hwi datang dan melawan orang itu. Anak buah Kang mengayunkan pedangnya mengenai punggung orang yang menyerang tuannya. Seketika orang itu pun mati. 


Hwi menghampiri Kang yang terluka. Apa Hyung baik-baik saja? Sambil menahan sakit, Kang memerintahkan anak buahnya untuk segera memanggil para pengawal. Anak buah Kang mengangguk dan segera beranjak. 


Ja Hyeon membuka pintu kamarnya, hendak melihat sendiri. Kkeutdan datang nggak lama setelahnya. Ia buru-buru menutup pintu. Ia memberitahu Ja Hyeon kalo ini perang. Ja Hyeon terkejut. Kkeutdan melanjutkan kalo banyak orang yang mati dan semua orang bertarung. Ja Hyeon melepaskan hiasan kepalanya dan mau keluar. Kkeutdan menghadangnya. Jika dia pergi, dia akan mati. Ja Hyeon nggak peduli dan tetap keluar. 


Ayah ratu bertarung melawan salah satu dari penjahat itu. Penjahat berhasil merobohkannya dengan sabetan pedang. Habis itu ia bersiul memberi kode pada teman-temannya. Hwi menengok dan melihat ayah ratu sudah roboh. Hwi memanggilnya dan menghampirinya. Para penjahat berlarian meninggalkan lokasi. Ayah ratu menyuruh Hwi untuk pergi ke istana. Hwi mengajak untuk pergi bersama-sama. Ayah ratu memberitahu kalo mereka adalah penghianat. Ia meminta Hwi untuk melindungi yang mulia raja. Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada raja. Hwi menangis. Anaknya meninggal juga karena dirinya. Ia memohon agar menteri negara kiri jangan meninggalkannya juga. Ayah ratu meminta agar jangan sampai ia mati sia-sia. Sekali lagi ia menyuruh Hwi untuk pergi dan melindungi raja. Ayah ratu nggak kuat lagi dan menghembuskan nafas terakhirnya. Hwi menangis sedih memanggil Daegam. 


Kang dan Gi Teuk melihat Hwi. Ja Hyeon datang dan memanggil Hwi. Ia hendak menghampirinya tapi Hwi melarangnya mendekat. Hwi berlari menghampiri Ja Hyeon. Ja Hyeon menanyakan apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya? Hwi mengaku belum tahu. Ia meminta Ja Hyeon agar tetap di belakangnya. Ja Hyeon mengangguk. 


Kang menghampiri Hwi dan Ja Hyeon. Ia mengajak Hwi untuk pergi ke istana. Pasti ada hal serius yang telah terjadi. Kang berteriak agar Hwi bergegas. Bagaimana jika mereka menyerang istana? Hwi bimbang. Kang mengerang kesakitan sambil memegangi lengannya. Hwi menghampiri Kang, khawatir. Kang mengatakan kalo sebaiknya Hwi pergi. Ja Hyeon menghampirinya dan menyuruhnya pergi dan melindungi raja. Ia akan merawat kakaknya. Kang bangkit. Ia berjanji akan melindungi keluarga ini. Ia meminta Hwi cepat pergi ke istana agar mereka tahu tentang situasi ini. 


Hwi menoleh ke Ja Hyeon dan menggenggam tangannya. Hwi meyakinkan kalo semuanya akan baik-baik saja. Ja hyeon mengangguk. Hwi melepaskan tangan Ja Hyeon dan pergi. Kang tersenyum melihat Hwi pergi. Tapi sebentar kemudian ia kembali ke rasa sakitnya. 


Gi Teuk mengikuti Hwi dan menanyakan apa yang terjadi? Menurutnya mereka mengejar pangeran Jin Yang dan pengikutnya. Hwi mengajak pergi ke istana dulu dan memeriksa apakah raja baik-baik saja. Hwi menarik kudanya. Ia dan Gi Teuk menunggang kuda menuju istana. 


Si Gae datang dari arah yang berbeda. Ia menatap rumah Ja Hyeon dan masuk.


Ayah dan ibu menghampiri Ja Hyeon. Ayah bertanya apa Ja Hyeon baik-baik saja? Dia nggak terluka, kan? Ja Hyeon balik nanya, gimana dengan ayah? Ibu? Apa mereka baik-baik saja? Ibu mengangguk. Mereka melihat Kang. 


Kang berjalan menghampiri seorang penjahat yang terluka. Kang mengambil pedangnya dan mengarahkannya ke leher sang penjahat. Kang bertanya siapa itu? Siapa yang memerintahkan mereka? Orang itu nggak mau menhawab. Kang menusuk dadanya. Ja Hyeon memalungkan wajahnya, nggak mau lihat. Sekali lagi Kang bertanya siapa yang memerintahkan mereka untuk melakukan itu? Orang itu mengaku nggak tahu. Kang mencabut pedang itu dan kembali mengarahkannya ke leher orang itu. Pelan-pelan Kang mengiris lehernya. Orang itu akhirnya menjawab. Eun sung. Ja Hyeon dan keluarganya sangat terkejut dengan jawabannya. Orang itu menegaskan kalo itu adalah perintah dari pangeran Eun Sung. Kang langsung menatap Ja Hyeon. 

Bersambung...

Komentar :
Tepuk tangan buat pangeran Lee Kang yang sudah berhasil menjalankan rencananya di hari bahagia adiknya sendiri. 

Kasihan Hwi dan Ja Hyeon. Impian untuk menikah harus gagal ditangan kakak sendiri. 

Eh, iya, udah sampai lagi di 5 episode ke dua, ya? Masih lama TT. Masih separuh perjalanan lagi. Semangat!!! ^_^