Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 11 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 11 Part 4


Kang melepas pakaiannya. Ja Hyeon berkata ia akan pergi. Kang memintanya tetap disana. Ia mengomentari pakaian pengantin Ja Hyeon yang sangat cocok dengannya. Ja Hyeon bertanya apa yang akan terjadi pada Eun Sung? Dimana dia? Apa dia baik-baik saja? Kang memberitahu kalo Hwi ada di istana. Ja Hyeon lega mendengarnya. Ia lalu menanyakan kenapa Kang membawanya kesini? Ia meminta diantarkan pulang ke rumah. Kang memberitahu kalo ayah Ja Hyeon mempercayainya untuk menjaga Ja Hyeon. Ia meyakinkan Ja Hyeon kalo tetap didekatnya akan membuatnya lebih aman. Ja Hyeon mengatakan kalo keluarganya mengkgawatirkannya. Ia harus pulang. Kang menanyakan menurut Ja Hyeon apa posisinya sekarang? Tentang bagaimana is menjadi mempelai wanita Eun Sung karena ia mengenakan pakaian pengantin. Tentang masalah ini terjadi sebelum pernikahannya. Apa Ja Hyeon merasa seperti belum menikah? Ja Hyeon mengalihkan pandangannya. Kang melanjutkan, jika satu inci hidupnya telah berubah, itu bisa berarti hudup atau mati. Ja Hyeom kembali menatap Kang. Ia menegaskan kalo ia istri dari pangeran Eun Sung. Itu sudah diputuskan sejak lama. Kang memberitahu kalo dia akan kehilangan nyawanya. Ja Hyeon memberitahu kalo ia sudah pernah merasakan bagaimana rasa sakit saat ditinggal sendirian. Jika mereka mati bersama, Ja Hyeon merasa itu pilihan yang lebih baik. 


Kang menghela nafas. Ia membenarkan kata-kata Ja Hyeon. Mati mungkin pilihan yang lebih baik. Ja Hyeon menunduk. Kang melanjutkan, haruskah putri yang berharga dari keluarga bangsawan, menjadi budak yang dihina oleh setiap orang dan melakukan kerja paksa? Itu nggak ada bedanya dengan hidup di neraka. Ja Hyeon menatap Kang dan bertanya apa Kang mengancamnya sekarang? Kang merasa hanya ingin memberi Ja Hyeon kesempatan. Ia meminta Ja Hyeon melepaskan Eun Sung. Ja Hyeon nggak mengatakan apa-apa. Kang melanjutkan dengan melepaskan Eun Sung, maka Ja Hyeon bisa tetap hidup. Ja Hyeon menolak. Dia lebih baik matu betsamanya. Kang mengingatkan kalo itu bukab sesuatu yang bisa Ja Hyeon putuskan sendiri. Apa Ja Hyeon nggak tahu kalo keluarga penghianat akan menderita selama tiga generasi? Dengan satu kata dari Ja Hyeon, ia akan memiliki kendali atas kehidupan anggota keluarganya. Ja Hyeon kekeuh dengan anggapannya bahwa pangeran Eun Sung nggak melakukan kesalahan apapun. Kang memberitahu kalo ayah dan kakak Ja Hyeon akan mati. Ibunya akan menjadi budak sepertinya. Keluarganya akan dibuang ke 8 wilayah. Sampai mereka mati, mereka akan dipisahkan sepanjang hidup mereka. Ja Hyeon mengaku nggak tahu apa yang sudah Kang lakukan, tapi Ja Hyeon yakin kalo kebenaran akan terungkap. Kang memotong, saat itu terjadi, semuanya sudah terlambat. Kang menghela nafas. Ia lalu melanjutkan ia meminta Ja Hyeon memanggilnya kapan saja jika perasaan Ja Hyeon berubah. Kang berjanji akan melindunginya dan keluarganya dengan semua yang Kang miliki. Ja Hyeon menatap Kang. Sebentar kemudian ia malah memalingkan wajahnya.

Ja Hyeon meninggalkan ruangan Kang dan dibawa ke sebuah kamar. Pelayan mempersilakannya masuk. Ja Hyeon masuk dan melihat-lihat. Pelayan kembali mengunci pintu itu. Ja Hyeon sendiri hanya bisa menghela nafas. 


Ayah Ja Hyeon akhirnya menulis sesuatu. Ia meletakkan alat tulisnya dan meletakkan suratnya di atas meja. Ayah menghela nafas lalu bangkit. Ia lalu naik di atas kursi dan mengambil sesuatu dari atas. Tali? Ayah meletakkan tali itu di lehernya, mau bunuh diri. Ayah menjatuhkan kursi segingga kini ia hanya bergantung pada tali itu. 


Salah seorang menteri kiri masuk. Ia terkejut melihat ayah gantung diri. Apa yang dia lakukan? Menteri itu mendekat dan meminta ayah segera melepaskan talinya. Ia memegangi tubuh ayah agar jangan sampai hal yang buruk terjadi. Ia berteriak memanggil seseorang. 


Hwi diadili. Menteri kiri mengatakan semua orang yang ditangkap menunjuknya sebagai tersangka utama. Hwi mengaku baru kali inu melihat mereka. Ia belum pernah bertemu mereka. Salah seorang saksi mengaku dibawa ke rumah Hwi dan menerima kompensasi. Seorang wanita yang menutupi wajahnya memberikan dafrar menteri istana yang harus disingkirkan pada hari pernikahan. Hwi menatap Kang dan mengatakan kalo kakaknya yang menyiapkan rumah itu. Ia meminta para menteri agar bertanya pada kakaknya siapa yang diijinkan masuk dan keluar dari rumah itu. Seketika para menteri mengarahkan mata mereka ke arah Kang. Hwi melanjutkan, kalo kakaknya juga menyiapkan peti hadiah yang dipenuhi dengan senjata. 


Kang bertanya pada Hwi apa ia membuat jebakan untuk menyembunyikan kesalahannya? Bukankah Hwi bilang telah menyiapkan peti hadiah, agar ia bisa memberikan yang terbaik untuk pengantin wanita? Hwi memotong, ia mengklaim kalo yang dikatakan Kang semuanya adalah bohong. Hwi menatap kakaknya dan memanggilnya, hyungnim! 


Kang mengambil surat dan memberikannya pada menteri kanan. Menteri kanan bertanya apa itu? Kang memberitahu kalo itu Gobyeonsa, yang ditulis oleh Daejehak yang nggak bisa hadir disini hari ini. 
*Gobyeonsa adalah dokumen yang membuktikan rencana kudeta. 
Menteri kanan membukanya dan membacanya. Kang mengatakan kalo dia menyadari ambisi Hwi dengan cepat. Demi melangsungkan pernikahan putrinya, dia nggak bisa menghentikan tragedi di hari yang sudah direncanakan itu. Itu adalah kesaksiannya. 


Hwi menanyakan apa yang Kang katakan? Kenapa Daejehak melakukan itu? Kang memberitahu kalo itu surat wasiat Daejehak. Karena rasa bersalahnya yang nggak bisa menghentikan menantunya, dia menulis itu dan melakukan bunuh diri. Kang menambahkan kalo bencana ini nggak hampir nggak bisa dihindari. Dia berada di ambang kematian. 


Hwi tampak terpukul mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya. Kang melangkah menghampiri Hwi. Ia bertanya apa Hwi tahu sekarang? Saat ia terus bertahan, maka orang-orang yang terluka akan terus bertambah. Hwi hanya menatap Kang tanpa bisa berkata apa-apa. Kang mengingatkan kalo saat ini baru Daejehak, tapi Ja Hyeon Nang-ja yang melarikan diri di rumahnya, gimana jika dia melakukan hal yang nggak terpikirkan, apa yang akan Hwi lakukan? 


Hwi menatap Kang dengan tatapan penuh kemarahan, ia mengingatkan untuk nggak menyentuh istrinya. Kang membantah. Ia bahkan melakukan yang terbaik untuk melindunginya. Karena kesedihannya yang sangat dalam. Apa Hwi nggak berpikir dia akan membuat pilihan yang sama seperti ayahnya? Kang mengaku khawatir tentang itu. Kang lalu berbalik dan maju beberapa langkah dari Hwi. 


Hwi gemetar menatap kakaknya. Kang mengatakan pada para menteri, hanya karena dia keluarga kerajaan, mereka nggak bisa memperlakukan penghianat secara berbeda. Sampai hukumannya diberikan, Kang menyarankan agar mereka mengurungnya. Sudah lama sejak dia berpikir untuk berhianat, tapi ia merasa bersalah karena nggak menyadari hal itu sebagai kakaknya, nggak bisa menghentikannya melakukan hal jahat semacam itu. Kang mengatakan ia akan dihukum karena kesalahannya sendiri. 


Menteri kanan lalu memerintah pengawal untuk membawa penghianat-penghianat itu ke penjara. Para pengawal mengiyakan. Mereka melangkah menghampiri Hwi dan beberapa pemberontak di belakang Hwi. Hwi mencoba menolak. Ia menyampaikan kalo itu sudah direncanakan. Itu fitnah. Saat Hwi dibawa menuju penjara, ia terus berteriak kekeuh mengatakan kalo dia bukan penghianat dan minta dilepaskan. Kang sendiri hanya diam menyaksikan adiknya diseret para pengawal. 


Ibu suri terkejut mendengar dari kakaknya kalo Daejehak bunuh diri. Kakak ibu suri menceritakan kalo mereka hampir nggak bisa menyelamatkannya setelah dia mencoba gantung diri. Tapi dia meninggalkan surat tentang penghianatan sebagai keinginannya. Disana tertulis kalo pangeran Eun Sung merencanakan penghianatan. Ibu suri menjadi lemas. Ibu suri lalu menanyakan pendapat kakaknya tentang itu. Apa menurutnya Eun Sung benar-benar melakukannya? Atau apa itu rencana Jin Yang? Kakak ibu suri merasa kalo pangeran Eun Sung bukan tipe orang yang melakukan itu, tapi karena buktinya begitu jelas, ia nggak tahu harus berbuat apa. Nggak peduli berapa banyak mereka menyiksa para pemberontak, mereka nggak mengubah pernyataan mereka kalo pangeran Eun Sung yang memerintahkan mereka. Ibu suri tampak semakin resah. Kakaknya melanjutkan, pada saat hidupnya dipertaruhkan, nggak ada satu orangpun yang kata-katanya berbeda dengan yang lain. Nggak banyak yang bisa dilakukan oleh menteri negara kanan. Ibu suri menatap kakaknya sambil menghela nafas. 


Hwi dimasukkan kedalam penjara. Di sana sudah ada Gi Teuk. Gi Teuk menghampirinya dan bertanya apa Hwi baik-baik saja? Hwi malah bertanya balik, apa Gi Teuk terluka? Gimana perasaannya? Hwi meminta Gi Teuk untuk menguatkan diri. Mereka pernah mengalami yang lebih buruk dari ini. Hwi yakin mereka pasti akan bisa melaluinya. Gi Teuk menangis. Ia bertanya, pangeran Jin Yang merencanalan semua itu untuk menyakiti Hwi, kan? Hwi menjawab kalo tujuannya bukan untuk menyakiti adiknya tapi untuk menjadi raja. Hwi hanyalah bagian dari rencananya. Gi Teuk mengingatkan saat mereka berperang di Utara, mereka harus membunuh musuh, tapi sekarang, mereka nggak bisa mrmbunuh musuh meskipun mereka tahu siapa mereka. 


Hwi berkata meski ia harus melalui semua penderitaan seperti ini, karena cintanya pada rakyat, Hwi merasa nggak bisa menyerah pada keluarganya. Dia merasa b*doh. Gi Teuk menanyakan apa ada yang pernah membayangkannya? Akankah mereka membayangkan ini? Bahwa pada pernikahan adiknya, mereka akan membunuh orang-orang yang ada di rumah pengantin wanita? Bahwa mereka akan melihat saudara mereka sendiri sebagai penghianat. Gi Teuk menyatakan kalo Hwi bukan orang yang b*doh. Pangeran Jin yang lah yang jahat. Dia bulan manusia. Hwi menghela nafas putus asa. Ia merasa memiliki harapan palsu. Karena mereka keluarga, karena mereka tumbuh bersama, ia pikir Kang masih manusia. Ia pikir nggak mungkin Kang akan melakukannya. Dia nggak akan melakukannya. Bahkan setelah menderita melalui itu, Hei merasa nggak bisa membuangnya. Perasaannya pada kakaknya, telah menyebabkan Uichangseong meninggal. Gi Teuk menggeleng. Ia mengatakan kalo itu bukan salah Hwi. Hwi bertambah sedih ketika teringat istrinya, Ja Hyeon-nya, apa yang harus ia lakukan? Hwi menangis. Begitu pula dengan Gi Teuk. 


Ja Hyeon tertidur. Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Ja Hyeon teebangun. Na Gyeom masuk dan menyuruhnya keluar. Tanpa menunggu Ja Hyeon, Na Gyeom berbalik dan pergi lebih dulu. Ja Hyeon bangkit lalu keluar. 


Na Gyeom membawa Ja Hyeon bertemu dengan Kang. Kang mengatakan akan mengantar Ja Hyeon pulang. Na Gyeom berbalik dan menatap Ja Hyeon sambil tersenyum. Ia meminta Ja Hyeon agar jangan khawatir. Itu artinya dia bisa pulang sekarang. Ja Hyeon dan keluarganya akan baik-baik saja sekarang. Ja Hyeon menatap Na Gyeom dan Kang dengan tatapan penuh dengan kebencian. 


Kang menyuruh anak buahnya untuk mengantar Ja Hyeon pulang. Anak buah Kang mengiyakan. Ja Hyeon berjalan menuju pintu. Kang mempersilakannya untuk masuk ke tandu. Ja Hyeon menolak. Dia bisa berjalan. Kang mengingatkan kalo dia masih mengenakan pakaian pernikahannya. Jika ia pulang dengan memakai itu, maka semua orang akan melihatnya. Ja Hyeon mrnyatakan kalo dia nggak papa. Ia berjalan meninggalkan rumah Kang. Kang yang khawatir memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti Ja Hyeon diam-diam. Dia boleh kembali setelah ia memastikan Ja Hyeon pulang dengan selamat. Anak buah Kang mengiyakan dan segera menyusul Ja Hyeon.


Na Gyeom menghampiri Kang dan mengatakan kalo Ja Hyein selalu nggak tahu malu dan nggak kenal takut. Ia meminta Kang agar jangan khawatir. Kang menyahut agar mereka mencapai tujyan besar, maka mereka perlu menenangkan wanita itu. Na Gyeom menyindir, apa itu satu-satunya alasan? Kang tersinggung dan menatap istrinya. Meskipun bukan itu, ia melarang Na Gyeom mempertanyakan tindakan suaminya. Kang nggak akan menjelaskan atau memberikan alasan atas tindakan Kang padanya. 


Kang melangkah meninggalkan Na Gyeom. Na Gyeom buru-buru mengaku kalo dia juga. Kang berhenti melangkah. Na Gyeom berbalik dan menatap punggung suaminya. Ia melanjutkan kalo dia juga mempertaruhkan reputasinya untuk ini. Begitu pula dengan kakaknya. Kang berbalik dan menatap Na Gyeom. Na Gyeom kembali berkata, saat ia menempatkan keluarganya dalam bahaya, Kang bahkan tetap memperlakukannya dengan sembarangan. Kang menyindir, apa itu benar-benar untuknya? Na Gyeom nggak bisa menjawabnya. Kang melangkah menghampirinya. Kang memperjelas, bukankah ini demi keserakahan Na Gyeom untuk menjadi Ratu? Apa itu semata-mata demi Kang meski Na Gyeom mempertaruhkan nyawanya? Na Gyeom benar-benar nggak bisa menjawabnya. Dia hanya menatap Kang dengan tatapan sinis. Kang berjanji akan menepati janjinya. Ia nggak akan membuang satu-satunya istrinya, jadi Kang minta agar Na Gyeom mengikutinya saja tanpa membuat keributan. Kang kembali meninggalkan Na Gyeom. Na Gyeom yang kesal hanya bisa menghela nafas dan meremas roknya. 

Bersambung...

Komentar :
Kang ini pingin banget jadi raja, sampai segitu teganya sama adik sendiri. Sama istrinya aja kayak gitu. Tapi kayaknya Ja Hyeon penting banget buat dia. Kang khawatir banget sama Ja Hyeon. Bahkan menunjukkannya di depan Na Gyeom, ya jelas Na Gyeom cemburu.