Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 12 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 12 Part 3

Dqyang memberitahu ibu suri yang membelakanginya kalo putri Daejehak ingin bertemu dengannya. Ibu suri menghela nafas. Tangannya menggenggam saputangan erat. Geram rasanya. Dayang yang dekat ibu suri menanyakan apa ibu suri akan menemuinya? Ibu suri mengatakan kalo itu keluarga yang mendorong putranya ke jurang kematian demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Ibu suri meminta dayang untuk melupakannya. Dia nggak akan pernah lagi membiarkan Hwi bergaul dengan keluarga itu. Kedua dayang saling menatap. Mereka lalu keluar dari kamar ibu suri. 


Kedua dayang itu keluar istana menemui Ja Hyeon. Mereka memberitahu kalo ibu suri dalam suasana hati yang nggak baik sekarang. Akan sulit untuk bertemu dengannya hari ini. Ja Hyeon merasa nggak papa meski terlambat. Nggak papa meski ia harus begadang semalaman. Ja Hyeon harus bertemu ibu suri. Dayang yang satu lagi maju. Jika inu tentang menyelesaikan masalah pangeran Eun Sung, maka Ja Hyeon harus bertemu dengan pangeran Jin Yang, bukannya ibu suri. Dayang yang pertama membenarkan. Pangeran Jin Yang adalah Yeonguijdong (perdana menteri) dan kakak iparnya adalah Hyeongjo (menteri hukum). Meskipun pangeran Jin Yang ingin menyelamatkan pangeran Eun Sung, dia nggak berdaya jika para menteri menentang. Ia menambahkan kalo ini dunia pangeran Jin Yang sekarang. Ja Hyeon terdiam. 


Kedua dayang itu kembali ke istana. Ja Hyeon dan Kkeutdan menatap mereka dari kejauhan. Ja Hyeon menghela nafas. Ia lalu teringat apa yang dikatakan Kang malam itu. Kang menanyakan apa yang akan Ja Hyeon berikan padanya? Adakah hal berharga yang ingin Ja Hyeo tukarkan untuk nyawa Eun Sung? 


Ia lalu ingat perkataan Hwi saat di dalam penjara. Kareja mereka hidup, maka masih ada harapan. Apapun yang terjadi, Hwi meminta agar Ja Hyeon jangan putus asa. 


Ja Hyeon menghela nafas. Tubuhnya menjadi lemas. Pandangannya kabur. Ia lalu jatuh terkulai. Kkeutdan panik dan memanggil-manggilnya. Tapi Ja Hyeon nggak menjawab. 


Kkeutdan meletakkan kepala Ja Hyeon di pangkuannya. Ja Hyeon yang masih setengah sadar melihat Hwi berjalan ke arahnya. Makin lama makin dekat. Tapi matanya kemudian buram. Dia bukan Hwi. Dia mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Ja Hyeon. Ja Hyeon pingsan. 


Kkeutdan memeras kain dan membersihkan keringat di wajah Ja Hyeon. Di belakangnya ada Yoo Kyung. Ja Hteon membuka matanya. Kkeutdan memanggilnya. Asshi, apa dia sudah sadar? Ja Hyeon melihat Kkeutdan lalu bangkit. Yoo Kyung memberinya air minum. Ia mengatakan kalo tabib sudah datang. Tabib mengatakan kalo Ja Hyeon belum makan selama beberapa hari. Ia berdiri seharian di bawah sinar matahari dengan perut kosong, jadi ia pingsan karena kelelahan. 


Ja Hyeon meminum air dari Yoo Kyung. Kkeutdan meletakkan garam di ujung jarinya dan memberikannya pada Ja Hyeon. Ja Hyeon menatap Yoo Kyung dan bertanya dia ada dimana? Kkeutdan memberitahu kalo pangeran Jin Yang yang membawanya kesini saat dia nggak sadarkan diri. Yoo Kyung berkata kalo membawa seorang wanita bangsawan ke gibang adalah penghinaan. Menurut Ja Hyeon, ini situasi yang berbeda dari terakhir kalinya Ja Hyeom kesana. Ja Hyeon menatap Yoo Kyung. Ia terkejut karena Yoo Kyung mengenalinya. Yoo Kyung memberitahu kalo gisaeng memiliki mata yang tajam. Ja Hyeon menundukkan wajahnya. Yoo Kyung berkata akan memanggil tandu untuk Ja Hyeon. Ja Hyeon bilang ke Yoo Kyung kalo dia ingin menemui Daegam. Kkeutdan terkejut dan menegur Ja Hyeon? Asshi! Ja Hyeon menatap Yoo Kyung. Ia yakin dengan ucapannya. 


Ja Hyeon berdiri di hadapan Kang yang sedang menghadap meja penuh makanan. Kang meletakkan gelas minumnya dan menatap Ja Hyeon. Pasti ada satu alasan kenapa Ja Hyeon menemuinya. Tapi Kang mengaku nggak bisa mengabulkan keinginannya. Adiknya, Eun Sung, akan tunduk pada hukum negeri ini. Dengan tatapan kosong Ja Hyeon bertanya apa Kang masih menginginkannya? Kang terhenyak. Ia lalu menghela nafas. Ia mengaku nggak tahu. 


Ja Hyeon menghela nafas lalu bersujud dihadapan Kang. Kang melihat apa yang dilakukan oleh Ja Hyeon. Ja Hyeon mengatakan akan menawarkan semua yang ia punya pada Kang. Meski ia ditawari seluruh negeri atau seluruh langit, ia nggak akan menganggapnya lebih berharga dari kejidupan seseorang. Jadi, ia akan menawarkan dirinya dan hidupnya kepadanya, Yang Mulia. Kang menatap Ja Hyeon dengan mata berkaca-kaca. Sebesar itukah cintamu. Ja Hyeon meminta Kang untuk membunuhnya dan menyelamatkan pangeran Eun Sung. Ja Hyeon percaya bahwa jalan yang ditempuh ayahnya untuk menebus dosanya adalah jalan yang harus ia lalui juga. Ia mempersilakan Kang melakukan apa yang ia mau. Kang terdiam dan nggak mampu berkata-kata. Matanya merah. Ja Hyeon memintanya untuk membunuhnya? Ja Hyeon datang padanya untuk mati? 


Mata Kang menggenang. Ia tertawa sambil menangis (atau menangis sambil tertawa?) Diam-diam Yoo Kyung mendengarkan percakapan keduanya dari luar. 


Para menteri berkumpul dihadapan raja dan ibu suri. Paman mengatakan meskipun ia masih muda, menentang pengganti yang dipilih mendiang raja, dia telah melahirkan banyak pemberontak. Dia membunuh menteri dalam negeri, jadi ia memohon untuk menghukum pangeran Eun Sung, Lee Hwi yang telah menyebabkan kekacauan. Dia telah menjadi ancaman bagi keluarga kerajaan. 


Para menteri kanan menginginkan agar Hwi dipenggal. Mereka juga menginginkan pembatalan posisi pangeran Eun Sung untuk menunjukkan akibat yang diterima oleh seorang penghianat. Mereka harus memastikan nggak ada lagi anggota keluarga kerajaan yang menginginkan tahta. 


Menteri kanan yang lain juga menyuarakan agar pangeran Eun Sung di penggal. Lalu semua orang kompak meminta Hwi agar dipenggal. Ibu suri berkata sebesar apapun kesalahannya, dia nggak bisa menghukum pangeran, putranya dengan tangannya sendiri. Alih-alih memenggalnya, ibu suri merasa mereka harus mengasingkannya dan memberinya kesempatan untuk bertobat. Menteri Kanan menolak pendapat ibu suri. Menurutnya, jika ibu suri menunjukkan empati kepada seorang penghianat, maka akan membuat rakyat salah paham. Mereka meminta ibu suri untuk menunjukkan kesetiaannya pada hukum kerajaan. Pangeran Eun Sung harus dipenggal! 


Ibu suri menangis. Gimana bisa mereka begitu kejam? Bahkan belum lama mendiang raja meninggal. Apa mereka menyuruhnya untuk kehilangan putranya yang lain? Paman melarang ibu suri untuk menganggapnya sebagai anaknya. Tapi anggap dia sebagai orang yang mengancam tahta raja. Ibu suri dengan lantang mengatakan kalo dia nggak bisa. Meskipun dia telah melakukan kesalahan, mereka nggak bisa memenggal kepala seorang pangeran. Para menteri kanan memita ibu suri untuk memikirkan masa depan kerajaan. 


Ibu suri syok. Kang yang sedari tadi hanya diam, kini angkat bicara. Meskipun adiknya, pangeran Eun sung pantas mati, dengan berlanjutnya tragedi dalam keluarga kerajaan, maka hukum menjadi nggak ada artinya. Menurutnya kekhawatiran ibu suri telah mencapai langit. Akan memalukan bagi anggota keluarga kerajaan untuk dilihat oleh rakyat. Sebagai seorang putra, Kang mengaku merasa sangat malu. Karena pemberontakan itu gagal, dan raja selamat, karena ibu suri sangat menderita, jika mereka mengirimnya ke tempat dimana dia bisa bertobat, maka kemurahan hati keluarga kerajaan akan diketahui jauh san luas. 


Ibu suri memotong, meskipun para pemberontak mengaku tapi pangeran yang dituduh menyangkal semua tuduhan. Mereka harus membiarkannya tetap hidup agar mereka akan memiliki alat untuk dijadikan alasan bahwa keadilan masih ada. Kang menatap ibu suri dan menganjurkan agar mereka menerima usulan dari ibu suri. Para menteri terdiam. Apalagi para menteri kanan. Bukan itu yang mereka harapkan. Ibu suri menunduk sambil menangis sementara semua menteri menatap Kang penuh tanya. Kang sendiri menatap ke depan dengan penuh keyakinan. 


Hwi kembali diadili. Menteri kanan membacakan keputusan. Karena keinginannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi, dia mengobarkan pemberontakan. Pangeran Eun Sung, Lee Hwi, akan kehilangan gelarnya sebagai Byeongjo (menteri urusan militer) dan semua haknya. Dia pantas mati karena kejahatan yang dia lakukan. Hwi mendengarkannya dengan sangat tenang. Menteri kanan melanjutkan, tapi mengingat kontribusinya di Utara dan memiliki hubungan yang dekat dengan raja, maka dia akan diasingkan ke pulau Gyodong. Jalani seluruh hidupnya untuk bertobat dan merenungkan diri. Menteri kanan yang memihak Kang tampak kurang puas dengan keputusan itu. Tapi kakak ibu suri merasa lega seenggaknya Hwi dibiarkan tetap hidup. 


Gi Teuk menatap Hwi dan memanggilnya, yang mulia, ... . Hwi menatapnya dan menenangkannya. Mereka bisa tetap hidup. Mereka harus berterima kasih pada ibu suri dan raja. Hwi lalu bangkit dan menghadap ke kiri. Mereka bersujud sebanyak tiga kali. 


Ja Hyeon, Roo Si Gae dan Kkeutdan berlari melewati orang-orang di jalanan. Hwi dan Gi Teuk berjalan menuju sungai Han dengan dikawal oleh beberapa pengawal. Sebuah perahu menghampiri mereka. Hwi dan Gi Teuk merasa berat untuk naik perahu itu. Pengawal dan Gi Teuk sudah naik perahu. Hwi menghela nafas lalu melangkahkan kakinya ke perahu. Ia melihat sekitar (mungkin menghapkan kedatangan Ja Hyeon). 


Ja Hyeon, Kkeutdan dan Si Gae sudah sampai tapi Hwi sudah ada di atas perahu. Ja Hyeon memanggilnya tapi Hwi nggak dengar. Si Gae bersiul menggunakan jarinya. Hwi langsung berpaling melihat ke arah Ja Hyeon. Ia meninggalkan perahu dan berlari menuju Ja Hyeon. Ja Hyeon juga berlari menghampiri Hwi. Ja Hyeon langsung memeluk Hwi erat. Ia memanggilnya, yang mulia. 


Ja Hyeon melepaskan pelukannya. Hwi menatap matanya dan bertanya kenapa Ja Hyeon datang kesana? Angin sangat kencang disini. Ja Hyeon mengatakan setidaknya dia bisa melihat wajah Hwi sekali lagi. Hwi meyakinkan Ja Hyeon kalo ini bukan yang terakhir. Ini bukan akhir bagi mereka. Ja Hyeon mengangguk. Hwi memintanya bersabar lebih lama. Ia berjanji akan kembali pada Ja Hyeon. Pasti. 


Roo Si Gae maju. Dia meminta Hwi untuk membawanya. Ia juga ingin pergi. Hwi menyuruh Si Gae untuk melindungi Asshi. Ro Si Gae menggeleng. Dia nggak mau. Hwi meminta tolong padanya. 


Ja Hyeon merasa sedikit tenang. Nggak seperti dulu, ia tahu Hwi ada dimana. Ia tahu kalo Hwi masih hidup. Nggak seperti saat Hwi pergi berperang. Ja Hyeon nggak akan terlalu menderita. Hwi mengatakan akan mengirimi Ja Hyeon surat. Ia bisa mengirim surat dari sana. Ja Hyeon mengangguk. Ia akan membalas surat Hwi. 


Pengawal maju dan memberitahu kalo Hwi harus naik perahu. Meski Hwi pergi sekarang, diperlukan waktu dua hari untuk sampai kesana. Dengan berat hati Hwi melepaskan genggamannya. Ia menatap Si Gae. Ia akan mempercayakan Ja Hyeon padanya. 


Hwi berbalik dan kembali ke perahu. Ja Hyeon, Si Gae dan Kkeutdan menatap kepergiannya dengan sedih. Ja Hyeon memanggil Hwi, yang mulia. Hwi berbalik dan menoleh ke arahnya. Ia meminta Ja Hyeon agar jangan khawatir. Ia mengangguk menatap Ja Hyeon. 

Bersambung...

Komentar:
Berkat Ja Hyeon Hwi terbebas dari hukum penggal. Nggak peduli seberapa kerasnya Kang dan seberapa serakahnya dia kalo udah Ja Hyeon yang minta sulit buat Kang untuk menolak. Tahu sendiri seberapa pentingnya Ja Hyeon buat dia. 

2 komentar

Sedih nyimak ceritanya,berharap kisah mereka happy ending nantinya

Lanjut mba makin penasaran sma ceritanya.....tetp semangat mba