Advertisement
Advertisement

Hwi berjalan ke dermaga. Dia memandang laut dan menghela nafas. Gi Teuk menghampirinya. Ia mengingatkan Hwi kalo Ja Hyeon wanita yang kuat yang mampu melewati saat Hwi menghilang selama tiga tahun. Gi Teuk meyakinkan kalo Ja Hyeon akan baik-baik saja. Hwi menghela nafas. Ia merasa kalo kali ini beda dengan yang waktu itu. Ja Hyeon melihat makam dan memakamannya dengan mata kepalanya sendiri. Ja Hyeon pasti merasa sedih. Hwi merasa khawatir kalo-kalo Ja Hyeon bertindak nekat. 


Na Gyeom menyiapkan obat untuk Kang. Kang menyatakan kalo dia nggak papa dan nggak membutuhkan obat lagi. Na Gyeom mengingatkan kalo Kang nggak enak badan. Kang merasa itu karena alkoholnya sangat kuat. Na Gyeom merasa bukan itu masalahnya. Saat Kang mencoba memetik bunga yang seharusnya nggak dia miliki, itulah yang membuat Kang seperti sekarang. Na Gyeom menyarankan kalo Ja Hyeon harus dihukum sebagai orang yang telah melakukan kehahatan besar. Kang saja hampir mati. Kang menatap Na Gyeom dan melarangnya ikut campur. Dia akan mengurusnya sendiri. Na Gyeom mengingatkan kalo dia adalah istri Kang. Kalo dia nggak ikut campur lalu siapa lagi? Kang menyindir, apa Na Gyeom nggak tahu kalo kecemburuan adalah salah satu dari tujuh alasan yang membuatnya bisa kehilangan posisinya? Na Gyeom bertanya apa dia kelihatan seperti sedang berspekulasi? Na Gyeom memberitahu kalo itu untuk melindungi Kang. Gimana bisa Kang membawa aib dirinya setelah hari pertama dia naik tahta? Na Gyeom juga mengatakan kalo meskipun Kang memiliki semua wanita di dunia ini, tapi dia nggak akan bisa memiliki Ja Hyeon. Apa Kang ingin dianggap sebagai raja yang nggak bermoral sejak awal pemerintahannya? Kang menatap Na Gyeom dan menyuruhnya untuk tutup mulut. Kang menyatakan kalo Ja Hyeon adalah miliknya. Eunsunglah yang mencurinya darinya. Kalo Kang bilang Ja Hyeon miliknya, maka dia adalah miliknya. Na Gyeom nggak mau kalah. Dia menyatakan kalo Ja Hyeon adalah temannya. Kang memalingkan wajahnya. Ia mengatakan kalo ayah dan kakeknya jatuh karena para sibi di sekitar istana, tapi mereka membuat protokol istana untuk mengendalikan pelayan istana. 
*Sibi: pelayan wanita tingkat rendah di istana. 


Kang melarang Na Gyeom untuk menghalangi jalannya dengan alasan persahabatan masa kecil mereka. Na Gyeom menanyakan inikah alasan Kang naik tahta? Inikah alasannya Kang jadi raja? Kang mengingatkan kalo bukan karena Daejehak, maka akan sulit untuk menyingkirkan Eunsung. Kenyataannya putrinya nggak berbeda dengan ibu suri dengan bantuannya. Kang menegaskan kalo Daejehak ada di pihak mereka. Na Gyeom nggak terima karens Kang nggak membicarakannya dengannya karena menurut Na Gyeom urusan pelayan istana ada di bawah kendalinya. Kang menatap Na Gyeom. Kalo dia punya kekuasaan yang kuat, dia nggak butuh seorang selir untuk memperkuat posisinya. Raja-raja sebelumnya mengisi semua posisi 9 selir untuk memperluat tahta mereka dan memastikan masa depan yang lebih cerah. Na Gyeom bertanya apa Kang lupa dengan janji kesetiaannya? Na Gyeom menyatakan kalo dia bukanlah istri Kang tapi pelayannya. Karena kesetiaan itulah Na Gyeom bersedia hidup dengan Kang. Kang melarang Na Gyeom menurunkan harga diri posisi ratu hanya karena rasa cemburu yang nggak berguna. Kang juga nggak akan melupakan janjinya. Kang meminta Na Gyeom untuk mengabaikan apa yang terjadi semalam. Ia sendiri yang akan menanyai Ja Hyeon. Sekali lagi Kang melarang Na Gyeom untuk ikut campur. 


Dayang ibu suri menemui ibu suri dan melaporkan kalo ada seseorang yang dikurung di paviliun rahasia. Ratu yang sebelumnya malah mengaku nggak tahu tentang paviliun rahasia. Dayang memberitahu kalo tempat itu digunakan untuk menghukum pelayan istana daripada memasukkan mereka ke penjara. Ibu suri menanyakan siapa yang dikurung disana? Dayang agak berat mengatakannya. Dia dengar rumor itu dari pelayan wanita. 


Na Gyeom dan pelayannya membawa Ja Hyeon dihalaman dan mencambuk kakinya (sampai berdarah, lho!) Na Gyeom menanyakan racun yang Ja Hyeon berikan dan apakah Ja Hyeon yang telah melukai raja? Siapa yang menyuruhnya? Istana ratu? Na Gyeom meminta Ja Hyeon untuk mengatakannya dan dia nggak akan disiksa lagi. Ja  Hyeon nggak bilang apa-apa dan hanya menatap Na Gyeom. Ia meminta Na Gyeom untuk membunuhnya. Menyiksanya hanya akan melibatkan orang yang nggak bersalah. Na Gyeom mengaku sedang mencari tahu kebenaran. Ja Hyeon memberitahu kalo nggak ada hal seperti itu. Ia meminta Na Gyeom untuk membunuhnya saja. Na Gyeom menyuruh pelayannya untuk membawa Ja Hyeon dan menyiksanya dengan cara lain. 


Kang sedang melakukan pertemuan rapat dengan para menteri kiri dan kanan. Kakak ibu suri menyarankan agar raja menunjuk sekretaris kerajaan agar bisa membahas masalah pemerintahan bersama dengan para menteri. Kang menolak. Untuk sementara waktu, dia nggak akan membuka Gyeongyeon karena para menteri nggak hadir semua. 
*Gyeongyeon: pertemuan raja dengan para sarjana dan menteri untuk membahas urusan nasional. 


Para menteri kanan menilai dengan nggak membuka Gyeongyeon artinya Kang nggak akan mendengarkan suara orang lain. Kang mengingatkan kalo mendiang raja juga nggak melakukannya. Kang menantang apa menteri ingin mengatakan kalo mendiang raja juga nggak melakukan pekerjaannya sebagai raja? Menteri sebelahnya mengatakan kalo raja sebelumnya nggak hadir karena sedang sakit tapi beliau tetap membuka Gyeongyeon dan mendengarkan pendapat para menteri sejak awal. 


Paman mengatakan kalo yang penting bukan Gyeongyeon tapi memperoleh persetujuan Ming dari China untuk kenaikan tahta Kang. Paman meminta raja untuk memerintahkan Daejehak untuk menyiapkan deklarasi. Kang nampak mempertimbangkannya sementara para menteri nampak nggak sependapat. Kang mengatakan kalo dia nggak melihat Daejehak hadir. Salah seorang menteri kanan mengatakan Daejehak nggak datang karena ada masalah di keluarganya. Paman mengatakan akan menemui Daejehak. Kang mengumumkan kalo dia akan membuat negeri menhadi kuat dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip para pendiri negara. Para menteri membungkuk berterima kasih padanya atas kemurahan hatinya. 


Raja keluar dari ruang rapat. Dayang Hong menemuinya dan mengatakan kalo ratu membawa Ja Hyeon ke paviliun rahasia dan menyiksanya. Dayang Hong mengingatkan kalo menyiksa wanita bangsawan itu nggak diperbolehkan. Kang marah dan segera menuju paviliun rahasia. 


Ja Hyeon duduk dan badannya diikat. Wajahnya dipegangi dan beberapa lembar kain basah diletakkan di wajahnya sehingga dia nggak bisa bernafas. Na Gyeom mengatakan kalo Ja Hyeon nggak bisa nafas, dia akan lemas dan akhirnya mati. 


Kang sampai nggak lama kemudian. Dia marah melihat kondisi Ja Hyeon seperti itu. Kang membuka kain yang menutupi wajah Ja Hyeon dan akhirnya dia bisa bernafas lagi. Kang menyuruh para pelayan untuk membawa Ja Hyeon kedalam dan memanggil tabib. Para pelayan membuka tali yang mengikat Ja hyeon dan segera membawanya masuk. Kang menatap istrinya geram dan mengancam akan mengusir semua orang yang menentangnya dan membuka  paviliun rahasia. Dan siapa saja yang menentang perintahnya maka akan dipenggal. 


Kang menghampiri istrinya. Dia menyindir, Na Gyeom ingin jadi ratu tapi nggak tahu tentang hukum itu. Na Gyeom beryanya apa Kang siap memberikan hidupnya jika ada pisau di tangan Ja Hyeon? Na Gyeom mengaku menderita tiap kali memikirkan apa yang Ja Hyeon lakukan pada Kang dan hal itu nggak membuatnya merasa lebih baik. Kang membentak istrinya. Kalopun Ja Hyeon harus mati, maka dialah yang akan membunuhnya. Na Gyeom nggak percaya gimana bisa Kang melakukan itu padanya yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk Kang. Kang bertanya apa Na Gyeom ingin berbagi otoritas kerajaan? Padahal Na Gyeom sendiri yang bilang kalo kekuatan politik ngdgak bisa dibagi bahkan antara ayah dan anak. Setiap rasa syukur harus datang dari dalam hati Kang bukan dari ekspresi menuntut. Na Gyeom bertanya kenapa Kang nggak menunjuknya sebagai ratu? Ini bukan rumah di luar istana. Kang malah mengatakan kalo dia masih belum tahu akan menjadikan Na Gyeom sebagai ratu apa enggak. Dia masih nggak yakin apa Na Gyeom bisa berperan sebagai ratu apa enggak. Hal itu membuat Na Gyeom jadi makin geram. 


Hwi bersama dengan Jungkook di dermaga. Jungkook mengatakan kalo Hwi akan tetap disana sehari lagi. Mereka akan mengantar Hwi saat kapal tiba. Jungkook menyampaikan kalo dia sudah ditunjuk sebagai pejabat istana dan sekarang dia bisa membantu Hwi di ibukota. 


Hwi berbalik dan menatap Jungkook. Dia ikut senang. Dia mengingatkan kalo jadi gubernur beda dengan jadi pejabat istana. Hari-hari Jungkook akan lebih sulit. Jungkook mengingatkan Hwi tentang kontribusi ayahnya. Jungkook yakin kalo jalan itu adalah tugasnya. Jungkook menanyakan tempat tinggal Hwi nanti saat di ibukota. Hwi menjawab akan bersembunyi di kuil di gunung. Ia akan bersembunyi disana sebagai buruh kalo dia dapat persetujuan dari kepala biksu. Jungkook menawarkan akan menemui biksu kalo Hwi ingin bertemu dengan istrinya. Hwi mengangguk lalu kembali menghadap laut. 


Kang dan Na Gyeom menemui ibu suri. Ibu suri mengaku mendengar Kang sedang sakit. Ibu suri juga dengar kalo putri Daejehak ada di istana. Na Gyeom memberitahu kalo Ja Hyeon mencoba melukai raja. Kang malah mengatakan kalo Na Gyeom salah paham. Kang melarang Na Gyeom untuk mengatakan hal-hal yang nggak perlu dan membuat ibu suri khawatir. Na Gyeom nggak sengaja mengatakan kalo Ja Hyeon memendam kebencian atas apa yang terjadi pada pangeran Eunsung yang membuat ibu suri curiga kenapa Ja Hyeon harus memendam kebencian? Ibu suri bertanya apa Eunsung meninggal dalam keadaan nggak bersalah? Apa mereka yang sudah membunuh Eunsung? Ibu suri meminta mereka untuk memulangkan Ja Hyeon sebelum rumor berubah menjadi skandal. Na gyeom mengatakan itu karena dia belum ditunjuk sebagai ratu sehngga dia belum bisa melayani orang-orang di atasnya dengan sungguh-sungguh. Dan juga menangani urusan istana. Ibu suri lalu meminta Kang untuk mempercepat prosesnya. Dia nggak ingin masalah ini jadi lebih besar. 


Kang marah pada Na Gyeom. Di luar istana ibu suri dia mengacuhkan Na Gyeom dan bersama para pelayannya dia mengunjungi Ja Hyeon. 


Ja Hyeon tergeletak di lantai sambil memegangi perutnya. Sepertinya dia kelaparan. Kang memandanginya. Entah apa yang ia pikirkan. Ia teringat saat Ja Hyeon menyerangnya. Kang melangkah menghampiri Ja Hyeon dan hendak mencekiknya. Sedetik kemudian dia malah mengurungkannya dan membelai wajah Ja Hyeon. Kang menangis menatap keadaan Ja Hyeon. 


Kang berdiri di tepi sungai tempat Yeon Hee tenggelam dulu. Anak buahnya menanyakan apa yang akan ia lakukan pada Ja Hyeon? Kang mengaku nggak bisa membiarkannya hidup setelah dia memegang pisau di tenggorokannya dan meracuninya bahkan saat ia berdarah. Kang nggak ngerti perasaan apa itu. Kang ingin Ja Hyeon ada di tangannya. Anak buah Kang mengingatkan kalo ia akan kehilangan banyak hal hanya demi satu hal saja. Kang berpikir kalo Eunsung menghilang maka semua yang ada di dunia akan jadi miliknya. Tapi sekarang ia malah harus bertempur dengan roh tanpa tubuh. 


Hwi dan rombongan sampai di ibukota. Hwi memakai caping yang hampir menutupi wajahnya agar nggak ada yang mengenali. Mereka turun dari perahu. Si Gae marah pada Gi Teuk. Dia bahkan mengacuhkan Gi Teuk saat hendak membantunya turun dari perahu. 


Di jalan Hwi dan rombongan melihat sebuah pengumuman dan membacanya. Itu adalah pengumuman tentang Kang yang telah menjadi raja. Jungkook memberitahu Hwi kalo ibu suri nggak bisa mencegahnya. Demikian pula dengan ratu yang takut kalo putranya yang masih kecil akan mati karena racun. Hwi sendiri hanya diam. Jungkook akan membawa para pelayan Hwi ke pegunungan. Hwi sendiri bukannya ingin pergi ke suatu tempat. Hwi mempercayakan semuanya pada Jungkook. 


Orang-orang berkerumun di depan rumah keluarga Ja Hyeon. Hwi datang bersama Gi Teuk dan Si Gae. Seorang ahjumma mengatakan kalo Ja Hyeon membunuh suaminya dan pergi ke istana. Hwi terkejut. Orang-orang itu lalu melempari rumah Ja Hyeon dengan batu. Deuk Sik yang baru saja keluar sampai terkena lemparan batu. Deuk Sik marah dan meneriaki mereka. 


Orang-orang itu pergi termasuk Gi Teuk dan Hwi. Si Gae menghampiri Deuk Sik. Deuk Sik bertanya kapan Si Gae datang? Dikiranya Si Gae pulang ke kampung halamannya. Si Gae menanyakan Ja Hyeon. Dia di rumah? Deuk Sik tersinggung Si Gae ngomong pakai banmal padanya. Si Gae membalikkan. Deuk Sik juga bicara banmal padanya. Deuk Sik mengingatkan kalo dia pria terhormat. Si Gae sesumbar kalo dia juga seorang putri. Dia putri dari Jurchen. Deuk Sik tertawa. Dikiranya Si Gae menipunya. Si Gae menghela nafas. Dia bilang ke Deuk Sik kalo dia harus ketemu Ja Hyeon. Ada yang harus dia bicarakan. Deuk Sik memberitahu kalo Ja Hyeon nggak bisa lagi menemui orang seperti Si Gae. Ja Hyeon pergi ke istana setelah ada raja baru. Dia akan menjadi selir kerajaan. 


Hwi dan Gi Teuk terkejut mendengarnya. Si Gae apalagi. Menurutnya itu nggak masuk akal. Deuk Sik mengatakan meski Ja Hyeon orang yang ceroboh, tapi disaat seperti ini dia cukup pintar. Itu juga sulit untuknya. Karena dia sudah pernah menikah maka nggak ada keluarga bangsawan yang mau menjadikanya menantu. Ja Hyeon membuat keputusan yang berani dan menawarkan diri. Si Gae nggak percaya. Menurutnya Deuk Sik nggak waras dan nggak tahu apa-apa. Dengan bahasanya dia bilang agar Deuk Sik jangan sok tahu. Dasar b*doh. Deuk Sik marah karena Si Gae barusan mengumpatnya. Deuk Sik mengaku bisa banyak bahasa. Si Gae nggak peduli dan pergi begitu saja. Deuk Sik tambah marah. Beraninya Si Gae pergi begitu saja saat pria bangsawan sedang bicara. 

Bersambung...

Komentar:
Kasihan Ja Hyeon. Dia melakukannya karena dia nggak tahu kalo Hwi masih hidup. Dia bahkan nggak peduli dengan hidupnya sendiri. 

Tapi biarpun Ja Hyeon sudah mau membunuh Kang, Kang sendiri nggak bisa membunuh Ja Hyeon. Dia malah nangis lihat Ja Hyeon. Ah, segitu cintanya dia sama Ja Hyeon. Dikiranya semuanya bakal berjalan lancar saat dia jadi raja. Ja Hyeon akan jadi miliknya. Dia nggak tahu kalo hati itu nggak bisa dibeli. Hadeuh, tepok jidad!