Advertisement
Advertisement

Ja Hyeon memeluk Hwi dan menangis. Gi Teuk, Roo Si Gae dan pelayan Hwi terharu melihat mereka. 


Ja Hyeon bicara berdua dengan Hwi. Ia marah. Ia melihat mayat yang mrmakai pakaian Hwi, bahkan pemakaman dilakukan di pulau itu. Ia berpikir kalo itu adalah pemakamannya. Hwi melakukan itu dengan bantuan Jenderal agar bisx bebas. Ia bertukar tubuh dengan nelayan yang sudah meninggal. Hwi berpikir kalo dua bisa melarikan diri dari pulau itu jika ia dianggap sudah meninggal. 


Ja Hyeon menghela nafas. Apa Hwi tahu apa yang ia lakukan saat tahu ia sudah meninggal? Ja Hyeon mersa kalo harusnya Hwi mengiriminya surat dan memberitahunya. Hwi nggak bisa melakukannya. Para pembunuh datang dari ibukota. Nggak ada waktu untuk memberitahu orang lain. Mereka bertindak terburu-bury agar mereka bisa melarikan diri, bertahan hidup dan untuk mendapatkan kebebasan. 


Hwi lalu menanyakan apa yang sudah kakaknya lakukan pada Ja Hyeon? Apa kakaknya benar-benar menjadikan Ja Hyeon sebagai selir? Ja Hyeon menatap Hwi. Nggak habis pikir gimana bisa Hwi menanyakan itu? Hwi melarang Ja Hyeon mengatakan apapun. Nggak papa kalo Ja Hyeon nggak bisa bilang. Hwi tahu hal itu nggak bisa dihindari. Dan pada akhirnya ini adalah salahnya. 


Ja Hyeon kesal dan membenarkan. Ja Hyeon mengingatkan kalo Hwi janji nggak akan pergi dan akan melindunginya. Ja Hyeon jalan ke istana dengan kakinya sendiri saat tahu Hwi sudah mrninggal. Ia melakukannya untuk menjadi wanita orang lain. Untuk jadi selir. Ia pergi menemui orang lain bahkan sebelum mayat Hwi membusuk.

Hwi merasa terpukul. Ja Hyeon bertanya apa Hwi puas? Apa dia merasa lebih baik sekarang? Kalo Hwi berpikir seperti itu kenapa dia menyelamatkannya? Hwi mrngaku nggak bisa membiarkan Ja Hyeon pergi ke Jeongubwon. Gimanapun caranya Hwi merasa harus ketemu sama Ja Hyeon. Ja Hyeon menanyakan apa yang Hwi ingin pastikan. Apa alasan Hwi datang setelah merobek hatinya? Hwi merasa harus melihat Ja Hyeon. Kalo enggak, dia pikir Ja Hyeon akan mati. Mata Ja Hyeon menggenang. Ia kecewa karena Hwi bahkan nggak percaya padanya. 


Ja Hyeon bangkit. Dia akan kembali ke Jeongubwon. Hwi menahannya dan melarang Ja Hyeon kesana. Hwi akan pergi dan membiarkan Ja Hyeon sendiri sehingga ia bisa menenangkan diri dan beristirahat. Hwi keluar. Ja Hyeon ingin menahannya tapi nggak bisa. 


Kang menghakimi anak buahnya yang nggak bisa mengambil Ja Hyeon dari Jeongubwon. Anak buah Kang menceritakan kejadiannya. Kang yang kecewa mengambil pedang lalu menghampirinya. Ia mengayunkan pedangnya dan...memotong rambut anak buahnya. Kang bilang ke anak buahnya yang lain agar nggak membiarkan anak buah yang gagal itu muncul di hadapannya lagi. Pengawal lalu membawanya. 


Anak buah Kang yang merupakan tangan kanannya bertanya apa mungkin Daehehak yang membayar orang untuk melakukan itu? Kang menanyakan orang-orang yang melayani Eunsung. Anak buah Kang mengatakan kalo Jenderal di pulau Gyedong sudah mengurus mereka. Kang memerintahkan anak buahnya untuk melihat apa yang terjadi. Orang yang setia pada Eunsung mulai bermunculan. Anak buah Kanv menanyakan Ja Hyeon. Kang merasa kalo Ja Hyeon akan menghubungi keluarganya. Ia menyuruh anak buahnya untuk mengawasi rumah Daehehak dan memberitahu ayah Ja Hyeon kalo Ja Hyeon ada di Jeongubwon. Ia juga berlesan agar istana ratu dan istana ibu suri nggak memperhatikannya lagi. 


Hwi berada di luar kamar Ja Hyeon. Ja Hyeon sendiri nggak bisa tidur. Gi Teuk menghampiri Hwi dan bertanya apa dia sudah bicara dengan Ja Hyeon? Apa yang akan Hwi lakukan? Hwi berpikir untuk mengantar Ja Hyeon pulang. Gi Teuk memberitahu kalo tempat itu berbahaya. Lagipula masih banyak yang harus mereka lakukan. Hwi mengatakan kalo awalnya hanya ingin memberitahu Ja Hyeon kalo dia masih hidup. Ia juga ingin mendengar kesulitan yang Ja Hyeon alami. Tapi setelah melihatnya... . 


Gi Teuk menebak kalo Hwi nggak ingin mengantar Ja Hyeon setelah melihatnya. Hwi merasa kalo Ja Hyeon marah padanya. Hwi pikir Ja Hyeon mengalami banyak penderitaan di istana yang nggak bisa diceritakan. Meski Hwi mengantarnya, ia ingin memastikan kalo Ja Hyeon baik-baik saja. Gi Teuk merasa kalo ini pasti akan sulit bagi mereka. Hwi memberitahu kalo dia punya kepercayaan diri untuk membuat Ja Hyeon bahagia. Tapi akhirnya dia malah membuat Ja Hyeon jadi pengantin yang paling nggak bahagia di dunia. 


Gi Teuk memberitahu kalo inu semua karena pangeran Jin Yang. Kalo enggak mereka pasti sudah menikah dan hidup bahagia. Hwi rasa harusnya dia nggak serakah. Ia seharusnya bilang selamat tinggal saat pergi berperang. Kalo Ja Hyeon nggak ketemu dengannya, kalo mereka nggak bertunangan, Ja Hyeon akan menikah dengan keluarga yang baik. Dia juga bisa melukis apa yang dia suka. Lalu hidup dengan tenang dan bahagia. Gi Teuk memberitahu kalo ini bukan akhir. Sekarang mungkin terasa sulit. Tapi Gi Teuk yakin kelak Hwi pasti bisa kembali meyakininya. Dan saat itu Ja Hyeon akan tersenyum seperti matahari. 


Tanpa mereka sadari Si Gae melihat mereka. Si Gae memilih berbalik dan sembunyi. 


Ja Hyeon menulis surat untuk ibunya. Si Gae masuk dan bertanya kenapa Ja Hyeon ads di kamarnya? Ja Hyeon menjawab kalo hanya itu kamar untuk wanita. Si Gae menghampiri Ja Hyeon dan bertanya apa yang dia lakukan? Ja Hyeon bilang kalo dia menulis surat itu untuk keluarganya agar mereka tahu keadaannya. Si Gae bertanya kenapa Ja Hyeon nggak pulang saja? Ja Hyeon mengaku nggak bisa. Kalo dia pulang maka keluarganya akan mengalami kesulitan karena dirinya. Kalo Ja Hyeon pergi ke Jeongubwon maka dia harus mencukur rambutnya dan menjadi biarawati. Ja Hyeon nggak punya tujuan. 


Si Gae kembali bertanya apa Ja Hyeon akan tetap bersama Hwi sebagai suami istri? Ja Hyeon bilang enggak. Si Gae bertanya kenapa enggak? Bukankah mereka menikah? Ja Hyeon menjawab kalo hari pernikahan mereka jadi kacau. Nasib mereka juga berubah. Si Gae menanyakan apa yang akan Ja Hydon lakukan kalo dia bukan istrinya Hwi? Balas dendam. Ja Hyeon ingin balas dendam pada orang-orang yang telah mengacaukan hidup dan cintanya. Ja Hyeon akan mengajari mereka ada hal-hal di dunia ini yang seharusnya nggak mereka lakukan. Bahwa mereka nggak bisa naik ke posisi tertentu menggunakan keserakahan. Ambisi tanpa belas kasihan bukanlah cinta. 


Si Gae berkomentar kalo Ja Hyeon sudah berubah. Si Gae menanyakan apa terjadi sesuatu di istana? Ja Hyeon mengaku nggak sakit hati karena itu. Hwi nggak percays padanya. Si Gae meminta Ja Hyeon untuk mengurus dirinya sendiri kalo ingin tetap  tinggal. Ja Hyeon janji akan memasak dan mencuci pakaian. Dia nggak akan malas-malasan. Si Gae meremehkan kalo Ja Hyeon nggak bisa melakukan itu. Ja Hyeon mengingatkan kalo nggak ada yang bisa menjadi sejak awal. Orang harus berlatih dan belajar untuk jadi lebih baik. Ja Hyeon memberitahu kalo dia pintar menjahit. 


Si Gae mencontohkan gimana kalo Ja Hyeon diserang. Si Gae menganggap kalo Ja Hyeon hanya akan jadi beban. Si Gae merasa kalo Ja Hyeon harus belajar seni bela diri. Ja Hyeon merasa kalo itu ide yang bagus. Tapi sebagai gantinya Si Gae minta diajari menulis surat. Si Gae bilang nggak ingin Gi Teuk memamerkannya. Gi Teuk selalu mengejeknya karena buta huruf. Ja Hyeon memberitahu kalo Si Gae biss menyampaikan perasaan terpendamnya kalo ia mempelajari huruf. Si Gae juga bisa menyampaikan banyak hal yang nggak bisa ia sampaikan dengan kata-kata. 


Ja Hyeon mencuci pakaian di sungai. Air terasa dingin tapi Ja Hyeon nggak mau menyerah. Hwi yang habis mencari kayu bakar nggak sengaja melihatnya. Hwi menghampirinya dan mengambil alih. Ia bertanya kenapa Ja Hyeon melakukannya sendiri? Ja Hyeon bilang dia nggak punya pelayan. Dia lalu mengambilnya kembali. Hwi nggak memperbolehkannya. Ja Hyeon bertanya apa Hwi tahu cara melakukannya? Hwi mengingatkan kalo dia pernah hidup sebagai tahanan selama 3 tqhun. Ia bisa memasak, mencuci dan mencari kayu bakar. Ia dan Gi Teuk bahkan bisa membangun rumah dengan mudah. Ja Hyeon lalu bangkit dan membawa cuciannya. 


Ja hyeon menjemur pakaiannya. Lagi-lagi Hwi membantunya. Ja hyeon berterima kasih. Hwi melarang Ja Hyeon tinggal disana. Ia akan mencari tempat persembunyian kalo Ja Hyeon nggak ingin tinggal di Jeongubwon. Ia juga akan mencari pelayan yang bisa menjaganya. Ia mengingatkan kalo tempat itu berbahaya. Ja Hyeon menolak. Ia disana bukan karena ingin bersama Hwi. Ada sesuatu yang harus ia lakukan. Ia akan tetap tinggal. Ia akan melakukan apa yang mereka lakukan. 


Ja Hyeon mengingatkan kalo Hwi ingin semuanya kembali seperti semula. Untuk tujuan itu Hwi harus berpura-pura mati dan nggak peduli dengan orang yang ia cintai. Karena itu Ja Hyeon harus menanggung penderitaan yang nggak terungkapkan dengan kata-kata. Ja Hyeon memberitahu kalo dia bukan penonton. Dia dia korban saat pemberontakan dan juga korban dari kekuasaan raja. Ia bertekad memberi musuhnya apa yang layak mereka dapatkan dari tangannya sendiri. Hwi memperingatkan kalo dia nggak bisa menanggungnya kalo sampai Ja Hyeon terluka. 


Ja Hyeon nggak mau mengalah. Ia memberitahu kalo dia berada dalam masalah dan diperlakukan dengan buruk saat nggak bersama Hwi. Selama Hwi nggak ada 3 tahun, selama Hwi di pengasingan, setelah melihat Hwi dikubur dikiranya dia bisa hidup tenang? Sesaat ia merasa bahagia tapi setelah itu yang ada hanya rasa sakit yang membekas. 


Ja Hyeon mengulagi kalo dia tinggal bukan buat Hwi. Ini adalah jalan yang ia ambil. Ja Hyeon lalu pergi meninggalkan Hwi yang nggak bisa bilang apa-apa. 


Si Gae dan Gi Teuk juga melihat mereka dan merasa prihatin. Gi Teuk bertanya kenapa dengan Si Gae? Si Gae mengaku merasakan sesuatu yang aneh. Gi Teuk bertanya apa Si Gae cemburu lagi? Si Gae mengaku kalo dia dulu benci sama Ja Hyeon. Hatinya sakit saat melihat Ja Hyeon tersenyum di depan Hwi. Tapi sekarang Si Gae juga benci melihat mereka bertengkar. Si Gae memegang dadanya dan bilang kalo sakitnya tu disini. 


Gi Teuk memberitahu kalo Si Gae sudah jadi dewasa. Ia memberitahu kalo cinta sejati bukanlah saat ia memiliki orang itu tapi saat ia ingin orang itu bahagia. Si Gae berkata kalo nggak ada hal seperti itu. Menurutnya orang yang jatuh cinta harus bahagia bersama. Si Gae menangis, ia menyukai Hwi meski ia menderita selama 3 tahun. Karena mereka bertiga bersama. Gi Teuk menanyakan apa Hwi juga bahagia? Hwi merasa sedih setiap saat karena meninggalkan Ja Hyeon. 


Si Gae meremehkan. Sekarang mereka bahkan bertengkar. Bukankah seharusnya mereka bahagia? Gi Teuk mengaku tahu. Dia lalu nenatap Si Gae (lah, apa Gi Teuk suka sama Si Gae? Menatapnya gitu amat?)


Ayah menemui paman. Ayah bilang ke paman kalo dia nggak bisa melakukannya. Paman bertanya apa ayah menolak perintah raja yang baru? Ayah mengungkit tentang putrinya yang pergi ke istana dan dikirim ke Jeongubwon, dan nggak bisa kembali ke keluarganya. Ayah bahkan nggak tahu dia masih hidup atau sudah mati. Ayah telah membuat pangeran Eunsung hampir mati dengan tangannya sendiri dan mrnghancurkan hidup putrinya. Dan paman memintanya menulis lagu yang memuji? 


Paman memberitahu kalo mereka harus mendapat persetujuan dari Dinasti Ming untuk menstabilkan pemerintahan. Kalo pertumpahan darah terjadi lagi berarti ayah nggak ingin raja selamat. Ayah bertanya apa paman mengancamnya lagi? Paman mengaku hanya ingun memberitahu kenyataannya. Mereka harus sependapat karena mereka sudah menyatukan pikiran mereka. 


Kang meraba singgasananya. Ia bilang ke anak buahnya kalo orang-orang tetap nggak menyukainya meski ia sudah jadi raja. Anak buah Kang memintanya mengatakan apa yang diinginkan dan ia akan menindak lanjutinya. Kang merasa kalo semua orang menyeringai padanya. Ia adalah raja yang nggak diakui oleh ibu suri. Ia adalah paman yang mencuri tahea keponakannya. Ia adalah kakak yang membunuh adiknya sendiri. 


Anak buah Kang berusaha membesarkan hati Kang. Ia adalah pemilik kerajaan. Kang adalah raja yang memerintah 8 provinsi. Kabg menatap anak buahnya. Ia merasa nggak bisa diam saja. Ia akan mengadakan pertemuan para menteri atas penolakan para pejabat untuk menulis deklarasi ke Dinasti Ming. Kang duduk di singgasananya. Ia menyuruh pengawalnya untuk memanggil Cho Yoo Kyung. Ia akan menekan para pejabat yang bertindak angkuh. Jika mereka menolak menjalankan tugas, maka Kang akan menjalankan perannya sebagai raja. 


Na Gyeom menemui ratu sebelumnya. Ratu lama menanyakan apa Na Gyeom sudah terbiasa tinggal di istana? Na Gyeom mengiyakan. Semua berkat ratu dan ibu suri. Ratu lama menceritakan kalo awalnya ia tinggal di istana sebagai seorang selir. Ia adalah putri dari menteri tingkt tinggi tapi ketika raja meminta selir untuk menggantikan ratu yang nggak memiliki anak, ia menjadi ratu. Raja nggak bisa tanpa wanita. Peran ratu bukan hanya pasangan seorang pria. Ratu punya banyak tugas, harus sabar dan kompeten. 


Na Gyeom langsung mrnangkap kalo dia ditegur atas apa yang terjadi dengan Ja Hyeon. Ratu lama merasa seharusnya hal itu ngdak perlu terjadi. Tapi kalo hal itu terjadi lagi, ia berharap Na Gyeom lebih bermurah hati. Dengan begitu dia ngsak akan terluka. Na Gyeom mengatakan akan bermurah hati pada orang lain saat ia melahirkan pewaris tahta. Ia khawatir kalo para selir bermunculan dan salah satunya memiliki seorang putra. Na Gyeom menyindir ratu lama yang nggak bisa mempertahankan posisinya. Ratu lama mengaku khawatir Na Gyeom akan kehilangan kasih sayang raja kalo dia terlalu mengkhawatirkan posisinya. 


Yoo Kyung menari di tengah-tengah perjamuan. Para menteri mengeluhkan apa yang dilakukan oleh Kang. Ayah mengadakan kalo nggak ada raja yang mempermalukan para sarjana dengan cara mengadakan acara minum-minum di protokol dan kantor budaya. Menteri yang di depan ayah menilai ayah keras kepala. Raja mengungkapkan ketidaksenangannya dengan cara ini. Menteri di sebelahnya menyarankan ayah untuk menutup mata dan minum sedikit saja. Raja melakukannya untuk menghibur para pejabatnya. (Lah, menghibur para pejabat pakai para gisaeng? Tak patut!) Diam-diam Jungkook memperhatikan ayah. 


Jungkook menemui ayah. Ia bertanya kenapa ayah menolak? Ayah mengatakan kalo ada orang lain yang akan menulis deklarasi ke Dinasti Ming. Jungkook mendesak kalo ayah yang harus menulisnya. Ayah geram, apa ia mengancamnya juga? Berani-beraninya dia melakukan itu padahal ayah dekat dengan almarhum ayahnya. 


Jungkook menanyakan ayah ingin tahu keberadaan putrinya, kan? Ia lalu  memberikan sebuah surat pada ayah. Ia berpesan agar ayah membakarnya setelah selesai membacanya. Ayah yang nggak sabar membukanya dan membacanya (lah, itu kan surat yang ditulis sama Ja Hyeon? Ayah bertanya apa Ja Hyeon baik-baik saja? Ja Hyeon masih hidup? Jungkook menyuruh ayah untuk tunduk pada raja. Jadilah bawahannya, orang kepercayaan yang paling dekat dengan raja. Agar mereka punya waktu untuk mempersiapkan diri saat raja sebelumnya merebut kembali tahtanya. 


Ayah malah marah. Ia menarik kerah baju Jungkook dan bertanya apa Jungkook telah membunuh Eunsung saat di pengasingan? Ayah menanyakan jebakan yang sedang Jungkook rencanakan. Jungkook nggak menjawab. Ia hanya menyuruh ayah untuk menulis seperti yang mereka minta. Ayah akan jadi Joomoonsa (utusan yang menyampaikan deklarasi) ke Ming. Kalo Kang mendapat persetujuan dari China, maka akan sulit melawannya. Jungkook meyakinkan kalo hanya ayah yanv bisa melakukannya. 


Para gisaeng bersiap pulang. Tiba-tiba beberapa pelayan menahan Yoo Kyung dan menutup kepalanya dengan kain hitam. 


Para pelayan itu adalah utusan Na Gyeom. Yoo Kyung diikat di kursi. Na Gyeom marah. Beraninya Yoo Kyung keluar masuk di istana. Yoo Kyung memberitahu kalo raja yang memerintahkan mereka untuk masuk istana ia jadi tuan rumah perjamuan. Na Gyeom mengingatkan kalo ini bukan rumah pribadi Kang. Bukan tempat yang bebas Yoo Kyung datangi saat ia dipanggil. 


Na Gyeom menilai kalo Yoo Kyung sudah menodai tempat terhormat para pelajar, dan membuat marah para menteri. Yoo Kyung bersikukuh kalo itu perintah raja. Apa yang terjadi kalo orang rendahan sepertinya menolak perintah raja? Ia akan mati. 


Na Gyeom makin marah. Ia menghampiri Yoo Kyung dan memegang wajahnya. Keberadaan Yoo Kyung telah menurunkan kehormatan raja. Sebagai ratu Na Gyeom nggak bisa diam saja. Yoo Kyung sesumbar kalo raja masih membutuhkannya. Na Gyeom makin emosi. Apa Yoo Kyung satu-satunya gisaeng? Na Gyeom mengaku tahu kalo Yoo Kyung mengincar posisi selir. Yoo Kyung mengatakan kalo raja menjanjikan sesuatu padanya. 


Na Gyeom berbalik. Ia meyakini kalo Yoo Kyung nggak bisa jadi selir kalo dia punya bekas luka. Yoo Kyung memberitahu kalo dia punya tubuh yang bersih dan nggak punya bekas luka. 


Na Gyeom kembali menatap Yoo Kyung sambil senyum. Ia menyuruh pelayannya untuk meneruskan. Pelayan mengambil semangkuk merkuri dan menyiramkannya ke mata Yoo Kyung. Yoo Kyung minta diampuni. Na Gyeom menolak. Yoo Kyung tetap bisa menjual tubuhnya tapi nggak bisa jadi selir. 


Ibu membaca surat Ja Hyeon. Ayah merasa Ja Hyeon kesulitan tapi berpura-pura kuat. Ibu merasa kalo ini nggak akan berhasil. Ia berencana mengirim Kkeutdan untuk menjaga Ja Hyeon. Ayah setuju dan berpesan agar Kkeutdan berhati-hati dalam perjalanan dan segera kembali. Jangan sampai mereka dianggap sebagai penghianat. Ibu mengaku sudah tahu. 


Ibu merasa sekarang Ja Hyeon sepeti itu lalu apa yang akan terjadi pada putranya yang belum melewati ujian penerimaan. Ayah meminta ibu untuk percaya apapun yang ia akan putuskan. Ibu percaya ayah melakukannya demi keluarga. Ibu mendukung ayah. 


Kang sudah membaca deklarasi yang ditulis oleh ayah. Kang menyuruh kakak iparnya untuk menunjuk utusan yang akan menyampaikan deklarasi. Paman mengingatkan kalo sebelumnya Kang harus mengurus mantan raja. Kang nengingatkan paman kalo orang-orang nggak akan senang kalo dia menggaanggu anak itu. Kakak ipar Kang memberitahu kalo orang-orang masih membicarakan tentang kematian Eunsung di pengasingan. Kalo mereka menyentuh mantan raja, maka itu akan sulit untuk ditangani. 


Paman mengatakan kalo mantan raja harus menikah saat sudah besar. Dan kalo dia memikiki anak, maka orang-orang akan mempercayainya untuk menjadikan anak-anaknya sebagai pewaris tahta. Paman khawatir kalo Kang akan menderita selama sisa hidupnya kalo nggak menyingkirkannya sekarang. Kang merasa kalo sekarang nggak punya alasan untuk mengganggu seorang anak yang menyerahkan tahtanya dengan damai. 

Bersambung...

Komentar:
Hhh... nggak tahu mesti ngomong apa lagi. Keadaan makin nggak karuan. Hwi sudah ketemu sama Ja Hyeon tapi malah marahan. 

Na Gyeom yang pingin jadi satu-satunya wanita Kang sampai menyakiti Yoo Kyung gara-gara takut Yoo Kyung akan jadi selir. 

Kang sendiri bikin perjamuan buat para menteri malah nanggap gisaeng? Hadeuh, tepok jidad!

1 komentar:

Setuju sama komentarnya kakak,,
Si na gyeom udah gila apa ya, ngeri banget...