Advertisement
Advertisement

Ibu menata tempat tidur untuk Ja Hyeon. Ibu menyuruh Ja Hyeon untuk tidur dan memikirkan tentang yang lainnya besok. Bagi ibu, Ja Hyeon ada di rumah itu sudah cukup. Bagi ibu, memberi Ja Hyeon makan dan memakaikan pakaian untuk Ja Hyeon dengan tangannya sendiri adalah sesuatu yang besar. 


Ibu tiba-tiba menangis terharu. Ja Hyeon memeluk ibunya dari belakang sambil memanggil ibu. Ibu menghela nafas. Ia bersyukur Ja Hyeon disini. Ibu berharap Ja Hyeon nggak akan mengalami kesulitan lagi. Tapi hidup nggak berjalan seperti yang kita inginkan. 


Ja Hyeon melepaskan pelukannya dan bilang kako dia akan jadi lebih kuat juga. Dia bukan Ja Hyeon yang tumbuh seperti bunga dalam bayang-bayang ayag dan ibu. Sekarang Ja Hyeon nggak takut. Selama mereka hidup, maka masih ada harapan. Ja Hyeon memberitahu kalo Hwi yang mengatakan itu padanya. Ibu meraih tangan Ja Hyeon dan menggenggamnya.

Kang sudah sampai di istananya. Na Gyeom yang sedari tadi menunggu langsung menyapanya. Kang menatap Na Gyeom malas. Ia lalu menghampiri Na Gyeom. Na Gyeom bertanya Kang dari mana? Kang bilang ingin mencari angin karena berdiam diri di istana membuatnya pengap. Na Gyeom heran, istana yang segini besar tapi terasa pengap? Na Gyeom mengatakan kalo ada begitu banyak tempat di istana yang masih belum ia kunjungi. Kang bertanya ada masalah apa? Na Gyeom tersenyum. Ia akan memberitahu Kang sesuatu. 


Kang berada dalam sebuah kamar bersama Na Gyeom. Ia terkejut saat Na Gyeom memberitahu tentang kehamilannya. Na Gyeom memberitahu kalo tabib sudah memeriksa denyut nadinya. Ia menamabahkan kalo nggak punya tanda kehamilan setelah 3 tahun menikah, membuatnya khawatir. Tapi bayinya pasti sudah menunggu untuk dilahirkan diistana. Na Gyeom sesumbar kalo dia akan melahirkan seorang pangeran yang akan menjadi wonja. Seorang putra yang mirip dengan Kang. Kang menatap Na Gyeom seolah nggak suka. 


Na Gyeom keluar dari kamar raja. Pelayannya menegurnya karena telah berbohong tentang kehamilannya. Gimana nanti Na Gyeom akan menghadapi konsekuensinya di masa depan? Na Gyeom menatap pelayannya. Ia hanya akan membuatnya menjadi kenyataan. Untuk saat ini, ia hanya ingin membuat raja nggak memikirkan hal lain. Na Gyeom merasa kalo dia harus menguatkan posisinya sebagai ratu. 


Para penjaga yang menjaga rumah Ja Hyeon sudah pada mengantuk. Hwi mengawasi dari kejauhan. Ia mengendap-endap lalu melompati pagar. 


Ja Hyeon sendiri nggak bisa tidur. Dia bangun lalu memakai pakaiannya. Hwi tiba-tiba masuk. Ja Hyeon terkejut dan buru-buru berbalik. Hwi memalingkan wajahnya. Dia meminta maaf. Ja Hyeon memintanya menutup mata. Hwi menurut. Ja Hyeon sudah selesai berpakaian. Dia lalu mempersilakan Hwi untuk membuka matanya. 


Mendadak Hwi menjadi gugup. Ja Hyeon mempersilakannya untuk duduk. Hwi menghampiri Ja Hyeon dan duduk di hadapannya. Ja Hyeon menanyakan keadaan mantan raja. Apa dia baik-baik saja? Hwi mengangguk. Harusnya begitu. Ja Hyeon heran dengan jawaban Hwi. Bukannya Hwi membawa raja sepanjang perjalanan pulang? Hwi mengaku nggak bisa pergi karena mengkhawatirkan Ja Hyeon. Ia mengikuti Ja Hyeon. Dan saat orang yang mengawasi jaHyeon tertidur, dia datang kesana. 


Ja Hyeon mengingatkan kalo keselamatan raja adalah yang terpenting. Hwi merasa kalo keselamatan Ja Hyeon juga sama pentingnya. Ja Hyeon meminta Hwi untuk percaya padanya lain kali. Kalo Ja Hyeon nggak percaya diri, dia nggak akan keras kepala untuk tinggal sendirian. 


Hwi terdiam. Ia lalu bertanya apa yang Ja Hyeon sangat yakini? Apa Ja Hyeon percaya kalo kakaknya menginginkannya jadi dia nggak berbahaya? Atau apa karena Ja Hyeon berpikir kalo dia bisa nengendalikan keinginan Kang? Ja Hyeon terdiam. Hwi mengatakan kalo saat dia mengikuti Ja Hyeon dan kakaknya berjalan di jalan... . Ja Hyeon buru-buru memotong. Ia bertanya apa Hwi kesal? Apa Hwi cemburu? 


Hwi mengatakan kalo dia hanya menyadari kalo dia bukan orang baik seperti yang ia kira. Ja Hyeon memberitahu kalo dia juga cemburu pada Roo Si Gae. Hwi terkejut mendengarnya. Dia memberitahu kalo Roo Si Gae bukan wanita... dia seperti adik perempuan buat Hwi. Ja Hyeon juga mengaku iri pada Gi Teuk yang sudah bersama Hwi sejak masih kanak-kanak. Ia juga iri pada para tahanan yang telah melewati masa-masa sulir seperti itu bersama Hwi. Ja Hyeon juga iri pada cinta pertama Hwi. Pelayan istana yang punya kasih sayang yang dalam dan tulus untuk Hwi. 


Hwi heran Ja Hyeon tahu tentang Yeon Hee. Darimana dia mendengarnya? Hwi memberitahu kalo dia bukan cinta pertamanya. Ja Hyeon mengatakan kalo dia menyadari hal itu setelah bertemu dengan Hwi. Untuk membawa seseorang ke dalam hati, bisa seperti neraka sepanjang hari. Tapi juga bisa seperti surga hanya dalam beberapa saat. Kebahagiaan yang sementara itu membantu Ja Hyeon untuk melewati masa-masa yang seperti neraka. 


Ja Hyeon memberitahu kalo sekarang dia juga bisa berbohong. Dia mengatakan hal-hal yang tulus dan berpura-pura. Ja Hyeon merasa kalo dia bukan Ja Hyeon yang dulu. Hwi menghela nafas lalu mrnggenggam tangan Ja Hyeon. Ja Hyeon memberitahu kalo segalanya telah berubah dan jadi berbeda. Tapi perasaannya terhadap Hwi akan tetap sama. 


Hwi memberitahu kalo dia juga. Hari-hari yang melelahkan dimana dia bahkan ngdak tahu masa depan, hanya Ja Hyeon satu-satunya baginya. Hwi lalu memeluk Ja Hyeon. Ia bertanya apa Ja Hyeon bisa tetap tinggal di rumah? Ja Hyeon mengatakan kalo dia akan pura-pura sakit. Dia mengatakan pada merdka kalo dia meninggalkan Jeongubwon kareja sakit. Hwi bersyukur karena Ja Hyeon sekarang bisa tinggal di rumah. 


Hwi melepaskan pelukannya. Ja hyeon mengaku kalo dia lebih suka bersama Hwi. Hwi merasa dia juga begitu. Ja Hyeon mengatakan andai dia tahu kalo kebahagiaan akan berakhir dengan cepat, maka dia akan lebih sering bersama Hwi. Mereka bisa bermain bunga dan melukis pemandangan. 


Hwi tersenyum lalu membelai pipi Ja Hyeon. Lain kali kali mereka bersama, mereka akan jadi suami isteri. Ja Hyeon menyentuh tangan Hwi sambil menghela nafas. Sesaat kemudian dia tersenyum. Ia lalu berniat mengambilkan pakaian kakaknya untuk Hwi agar dia bisa meninggalkan rumahnya seolah ia adalah anggota keluarga. Menurut Ja Hyeon itu akan lebih mudah. Hwi mengangguk. 


Ja Hyeon berjalan bersama Hwi. Ja Hyeon berpesan pada Hwi kalo ingin mengirim pesan bisa memberitahy kakaknya dan bukannya Kkeutdan. Agar bisa keluar masuk dan ngfak terlihat mencurigakan, Ja Hyeon pikir meminta tolong pada seorang pria untuk melakukannya akan lebih baik. Hwi mengatakan kalo mereka bisa berkirim surat karena Roo Si Gae juga ada di sana. Ja Hyeon mengangguk. Ia berpesan agar Hwi jaga diri. Hwi harap Ja Hyeon juga begitu. Mereka lalu berpisah. 


Hwi keluar dari rumah Ja Hyeon tanpa membuat dua penjaga merasa curiga. 


Na Gyeom menemui ibu suri dan mantan ratu. Ibu suri bertanya apa Na Gyeom benar-benar hamil? Na Gyeom menatap mantan ratu lalu membenarkan. Ia berencana akan memberitahu nanti. Ibu suri akan meminta tabib untuk mulai membuat tonik. Ia mengingatkan kalo putra raja itu berharga. Na Gyeom harus berhati-hati. Na Gyeom tersenyum. Ia mengaku sangat senang karena akan memiliki seorang putera terutama setelah memasuki istana. Ia merasa seperti telah memberikan kabar baik kepada keluatga kerajaan yang telah banyak berkabung. Jadi itu membuatnya sangat bahagia. 


Mantan ratu mengucapkan selamat pada ibu suri. Ia merasa kali itu adalah kabar yang membahagiakan bagi keluarga kerajaan dalam waktu yang sangat lama. Ia lalu menatap Na Gyeom dan mengatakan kalo ratu sudah bekerja keras. Na Gyeom menatapnya sinis. 


Na Gyeom menatap ibu suri dan menanyakan berapa lama lagi dia harus menunjukkan sopan santunnya pada wanita yang susah digulingkan itu? Ibu suri yang nggak suka mendengarnya menegur ratu. Mantan ratu mengatakan kalo dia nggak papa. Dia mengaku nggak memikirkannya. Dia bersyukur masih bisa tinggal di istana bahkan setelah digulingkan. Menurutnya ratu telah menunjukkan sopan santunnya. 


Ibu suri mengingatkan Na Gyeom kalo mantan ratu adalah istri raja dan kakak iparnya. Nggak peduli seperti apa situasinya, dia bukan orang yang berbicara tanpa alasan. Na Gyeom mengaku nggak punya maksud lain di balik itu. Dia hanya ingin tahu tentang adat istiadat keluarga kerajaan. Karena itu Na Gyeom merasa harus melindungi mereka. 


Hwi memperlihatkan surat balasan pangeran Jin Yang pada kepala suku Huligai kepada para pelayannya. Mereka bertanya apa itu membuktikan kalo pangeran Jin Yang menyerahkan wilayah Yongto pada Jurchens? Hwi mengangguk membenarkan. Gi Teuk menanyakan apa yang akan Hwi lakukan menyangkut hal itu sekarang? Si Gae menyarankan agar mereka mengumumkannya di suatu tempat dimana banyak orang yang bisa melihatnya. Gi Teuk malah bertanya apa Si Gae b*doh? Itu akan segera dilepaskan oleh penjaga. 


Jungkook menilai kalo Si Gae punya ide yang bagus. Biarkan orang-orang dan para menteri mengetahuinya. Si Gae menepuk lengan Gi Teuk. Menunjukkan kalo Jungkook mrnilai kalo idenya bagus. Hwi mengatakan meski pamannya kehilangan posisinya, tapi banyak menteri yang jadi pengikutnya. Ketika kemarahan kakaknya mereda, mereka yakin kalo paman akan kembali ke istana. Daejehak nggak ada untuk membantu mereka untuk meyakinkan para menteri, jadi itu nggak akan menguntungkan untuk mereka. 


Jungkook bertanya apa mereka harus menunggu sampai daejehak kembali? Hwi mrngatakan kalo mereka nggak punya banyak waktu. Mereka harus segera melakukannya. Alasan Kang bisa menyingkirkan raja adalah karena dia memutus wali raja, jwachanseong (menteri negara Kiri) dan Hwi. Hwi berencana untuk menggunakan surat itu sebagai senjata dan mereka harus memotong kaki busuk kakaknya. 


Para pelayan Hwi bertanya-tanya kenapa yang mulia Hwi berbicara tentang hal-hal penting? Mereka pasti membicarakannya secara diam-diam diantara mereka  sendiri. Salah satu dari mereka menyatakan kalo itu karena mereka adalah orang penting juga. Orang di sebelahnya mengatakan kalo ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti itu sebelumnya sepanjang hidupnya. Ho Chi mengaku kalo dia nggak ngerti apa yang mereka katakan. Mereka lebih memilih untuk melakukan apa yang diperintahkan saja. 

Bersambung....

Komentar:
Hadeuh, Na Gyeom ini memang... hhh. Belum apa-apa dia sudah mengarang cerita tentang kehamilan. Bahkan koar-koar sampai ke ibu suri segala??!! Gimana nanti kalo Kang dan ibu suri sampai tahu kalo Na Gyeom nggak benar-benar hamil? Hadeuh, tepok jidad!

Salam
Anysti18