Advertisement
Advertisement

Hwi menangis memanggil kakaknya. Ja Hyeon mendekat dan menutup mata Kang yang masih terbuka. Ia berharap kalo di kehidupan selanjutnya Kang bisa hidup dengan menerima banyak cinta. Hwi sendiri masih menangis pedih dan nggak bisa bilang apa-apa. 


Sepeninggal Kang, istana berubah menjadi tenang. Bahkan istana rahasia pun telah kosong. 


Hwi termenung di jembatan. Ja Hyeon menghampirinya. Ja Hyeon meminta untuk memindahkan Roo Si Gae ke rumahnya karena mereka nggak diperbolehkan menyimpan orang mati di istana. Ia akan menyiapkan pemakamannya. Hwi berterima kasih. Hwi menyesal nggak bisa mengadakan pemakaman untuk Roo Si Gae karena dia adalah pangeran yang agung. 


Ja Hyeon bertanya kenapa Hwi berterima kasih segala? Bagi Ja Hyeon Roo Si Gae sudah seperti keluarganya sendiri. Dia lalu memanggil Hwi. Hwi termenung menanyakan apa hebatnya menjadi raja kalo kakaknya harus menginjak-injak keluarganya sendiri untuk mempertahankan tahtanya? 


Ja Hyeon menghela nafas. Ia mengaku nggak bisa memahaminya. Kang selalu menatapnya dengan mata sedih. Ja Hyeon bertanya-tanya kenapa Kang tampak seperti menangis dalam hati saat jelas-jelas kalo dia adalah orang yang jahat. Hwi hanya menghela nafas. Ja Hyeon melanjutkan kalo dia merasa bersalah untuk beberapa alasan. 


Hwi meminta Ja Hyeon agar jangan menyalahkan diri sendiri. Ia memberitahu kalo itu bukan salah Ja Hyeon. Lahir dari keluarga kerajaan bukanlah keberuntungan tapi nasib tragis. Ia memberitahu kalo ia terlalu dekat dengan kursi kekuasaan tertinggi. Jadi sangat mudah tergoda untuk memilikinya. Rasa lapar akan kekuasaan tumbuh sampai dia menghantui keluarganya dan menciptakan pertumpahan darah. 


Ja Hyeon mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Hwi. 


Na Gyeom terkejut saat dayang memberitahunya kalo Kang sudah meninggal. Na Gyeom terduduk lemas. Ia mengingat kalo Kang bilang padanya untuk ketemu lagi. Kang bilang padanya untuk berhati-hati sampai mereka bertemu lagi. Itulah yang Kang bilang padanya. 


Dayang Hong mengatakan kalo sepertinya Kang sudab siap untuk menemui ajalnya saat ia memutuskan untuk tetap tinggal di istana. Kang membuat permintaan terakhirnya pada Eo Eul Woon. Na Gyeom menangis dan bertanya-tanya gimana dengannya? Dia harus gimana? Kenapa Kang nggak membiarkannga berpikir sampai akhir? Na Gyeom merasa kalo dia mempercayai Kang dan mendedikasikan dirinya untuk tujuan besarnya. Na Gyeom ingin Kang bertanggung jawab. 


Na Gyeom menangis sedih. Ia melanjutkan kalo ia lebih suka Kang mengajaknya bersama. Dayang menasehati agar mereka segera melarikan diri. Ia merasa kalo mereka akan menemukan tempat persembunyiannya. Na Gyeom yang putus asa menanyakan kemana dia harus pergi? Apa ada tempat yang bisa ia tinggali? 


Dayang meminta Na Gyeom untuk memikirkan anaknya. Kalo Na Gyeom melahirkan seorang putra, maka sudah pasti mereka akan membunuhnya. Na Gyeom lalu memegangi perutnya. Dayang mengingatkan apa yang terjadi pada pangeran Seungpyung. Raja berusaha keras untuk membunuhnya karena dia adalah ancaman bagi kekuasaannya. Pewaris raja adalah benih perselisihan. Dan kalo dia anak perempuan maka dia akan jadi pelayan rendahan. Dayang menasehati agar Na Gyeom harus tetap hidup meski raja sudah nggak ada. Sebagai seorang ibu Na Gyeom harus melindungi anaknya. Na Gyeom makin sedih. 


Ibu suri memimpin rapat bersama dengan raja. Ibu suri bersyukur mantan raja kembali dinobatkan dan menjamin masa depan mereka. Tapi ia sebagai ibu yang berdosa nggak hanya melihat pangeran Eunsung mati dua kali dan kembali dua kali. Tapi harus menyaksikan pangeran Jin Yang mati di depan matanya. Ia sendirilah yang menyebabkan itu terjadi karena ikut campur dalam urusan pemerintahan meski ia adalah seorang wanita. Sampai raja muda tumbuh dewasa, ia akan menyerahkan perwalian pada pangeran Eunsung. 


Sekretaris kerajaan menyela mengatakan kalo biasanya saat ratu atau ibu suri masih hidup, nggak ada orang lain yang mengambil alih perwalian. Meski sulit, ibu surilah yang harus mengambil alih perwalian. Ibu suri mengatakan kalo baru-baru ini ia telah melalui banyak hal. Dia bahkan nggak punya kekuatan untuk bangun dari tempat tidur. Ia mengingatkan kalo masih ada waktu 10 tahun lebih sampai raja dewasa. Ibu suri bertanya apa dia akan tetap hidup sampai saat itu? 


Sekretaris negara hendak menyela kembali tapi ibu suri buru-buru mengatakan meski dia dikirim ke pengasingan dengan tuduhan palsu, pangeran Eunsung nggak pernah menyerah dan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi keluarga kerajaan. Ibu suri merasa kalo nggak ada yang lebuh layak untuk tugas itu selain Eunsung. Sampai keponakannya tumbuh besar, sama seperti apa yang pangeran Zhou lakukan untuk keponakannya yang menjadi raja saat masih muda di Tiongkok. Ibu suri meminta Eunsung untuk membuat sejarah yang indah. Yang akan diingat dalam sejarah. 


Eunsung mengaku tahu apa yang mereka khawatirkan. Dan di antara mereka ada yang khawatir tentang raja muda yang dinobatkan kembali dan memberitahu kakaknya tentang pemberontakan. Sekretaris kerajaan merasa tersindir dan jadi nggak tenang. Hwi melanjutkan kalo mereka yang memimpikan Joseon yang lebih kuat, dan mendukung tujuannya. Tapi kakaknya harua menanggung semua beban itu. Hwi mengumumkan kalo semua orang yang menjadi pelayan kakaknya dan mereka yang mendukung pemberontakan memiliki perspektif yang berbeda dan bertindak demi kebaikan negeri. Ia dan ibu suri memaafkan semua perbuatan mereka di masa lalu agar nggak ada lagi pertumpahan darah dan membuat keluarga kerajaan bersatu demi kepentingan rakyat. Eunsung meminta semuanya untuk membantunya. 


Gi Teuk menemui Hwi untuk berpamitan. Hwi memintanya agar jangan pergi. Ia sudah melihat begitu banyak kematian dan perpisahan. Gimana dia bisa menahannya kalo Gi Teuk juga meninggalkannya? Gi Teuk meminta maaf. Ia mengatakan kalo saat ia melihat Hwi, ia pikir bisa membantunya. Tapi saat ingat Roo Si Gae, Gi Teuk merasa membenci dirinya sendiri karena nggak bisa melindunginya. 


Hwi merasa sedih. Ia bertanya apa ini cara Gi Teuk untuk menghukumnya? Gi Teuk meminta Hwi agar memaafkannya. Rasa bersalahnya pada Roo Si Gae lebih besar dari kesstiaannya pada Hwi. Gi Teuk merasa kalo dia nggak bisa lagi melayani Hwi dengan baik. Dan terlalu sulit juga untuknya melihat Ja Hyeon. Gi Teuk janji akan kembali seiring waktu berjalan, saat ia sudah belajar untuk menekan kerinduannya,  rasa sakitnya mulai pudar dan saat ia bisa melayani Hwi dengan baik lagi. Hwi meminta Gi Teuk untuk berjanji padanya. Gi Teuk mengangguk dan tersenyum. Ia lalu pamit dan pergi. Hwi menatapnya dengan perasaan sedih. 


Hwi datang ke rumah keluarga Ja Hyeon. Ja Hyeon menunggunya di luar. Hwi bertanya apa Ja Hyeon memintanya datang untuk tinggal di rumahnya? Ja Hyeon hanya tersenyum seolah membenarkan. Dia mengaku nggak ingin upacara pernikahan lagi. Dan Ja Hyeon juga nggak ingin tinggal di istana. Ja Hyeon mengaku teringat pada hari-hari saat begitu banyak orang meninggal dan Hwi difitnah kalo dia memakai gaun pengantin. Dan Ja Hyeon juga merasa sedih saat tinggal di istana yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan. Karena rumah itu mengingatkannya pada pangeran Jin Yang. 


Ja Hyeon tersenyum malu-malu. Ia merasa aneh kalo mengadakan pernikahan lagi padahal mereka sudah menyempurnakan pernikahan mereka. Hwi terkejut Ja Hyeon menyebutkannya di luar rumah. Sstt! Ia meminta Ja Hyeon untuk memperhatikan apa yang dia katakam di siang bolong. Ja Hyeon hanya tersenyum. Ia mengatakan kalo Hwi yang harus datang menemuinya karena dia nggak bisa datang ke istana. Ja Hyeon ingin menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya yang telah melalui banyak masalah karenanya. 


Hwi tertunduk. Ia merasa tersindir. Ja Hyeon pura-pura ngambek. Ia mempersilakan Hwi untuk tinggal sendirian di istana kalo memang dia lebih suka berpisah dengan Ja Hyeon. Hwi hanya bisa menghela nafas. Ia lalu meraih tangan Ja Hyeon dan menariknya untuk masuk. Ja Hyeon tersenyum karena Hwi mau ke rumahnya. 


Hwi dan Ja Hyeon menemui ayah dan ibu Ja Hyeon. Mereka sama-sama membungkuk memberi hormat pada ayah dan ibu. Ayah dan ibu hanya senyum-senyum melihat mereka. Ayah mengatakan kalo ia khawatir Hwi akan merasa nggak nyaman kalo tinggal sama mertua. Ibu acuh tak acuh, kenapa memang kalo Hwi nggak nyaman? Seenggaknya dia harus menanggung semua penderitaan yang dia berikan pada putrinya. 


Ayah menegur ibu. Ibu tersinggaung. Memangnya dia salah bicara? Ja Hyeon memanggil ibunya. Hwi menatap ibu dan mengatakan kalo dia akan menggunakan hidupnya untuk menebus semua penderitaan ayah dan ibu karena dirinya. Hwi memberitahu kalo mereka akan saling menghargai di bawah pengawasan ayah dan ibu. Ja Hyeon tersenyum menatap Hwi. Ibu menyindir dengan mengatakan tunggu dan lihat saja nanti. 


Ja Hyeon memanggil ibu dan mengancam akan pergi kalo ibu terus bersikap kasar. Ibu nggak terima. Siapa yang bersikap kasar? Ja Hyeon langsung terdiam. Ayah tertawa melihat tingkah anak dan istrinya. Hwi juga ikut tertawa. 


Ja Hyeon membawa Hwi ke kamar yang sudah disiapkan. Ja Hyeon menambahkan kalo kamar itu khusus untuk Hwi. Hwi menatap kamar itu. Ja Hyeon mengatakan kalo itu memang nggak sebesar istana, tapi masih cukup bagus. Hwi mengiyakan. Tapi dia nggak terlalu peduli karena dia nggak akan tinggal di sana. Ja Hyeon nggak ngerti, kalo nggak tinggal di kamar itu mau tinggal dimana lagi? 


Hwi menatap Ja Hyeon dan bilang kalo dia akan tinggal di kamar Ja Hyeon. Ja Hyeon agak keberatan. Mereka kan bisa saling mengunjungi. Ia merasa kalo pasangan lebih baik punya kamar terpisah. Hwi menghadap Ja Hyeon dan menanyakan sudah berapa lama mereka berpisah? Ia menegaskan kalo mulai sekarang ia akan selalu berada di samping Ja Hyeon. Dan selama ia hidup, nggak akan ada yang namanya kamar terpisah. 


Ja Hyeon tersipu malu. Ia memberitahu kalo keluarganya akan bicara buruk tentang mereka. Hwi nggak peduli. Kenapa emang? Apa mereka tipe orang yang takut dengan hal semacam itu? Ja Hyeon mengingatkan kalo Hwi punya tugas sebagai wali. Kalo memang Hwi nggak bisa pisah dengannya, gimana Hwi akan menjalankan pemerintahan? 


Hwi nggak bisa berkutik lagi. Ja Hyeon meminta Hwi untuk berjanji tentang sesuatu yang bisa ia tepati mulai sekarang. Hwi meyakinkan kalo ia akan meninggalkan istana dan tinggal di rumah keluarga Ja Hyeon saat perwalian sudah selesai. Dan mulai saat itu, Hwi hanya akan hidup bersama Ja Hyeon. 


Ja Hyeon meyakinkan kalo dia baik-baik saja. Hwi hanya perlu melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dan Hwi juga nggak perlu tinggal bersamanya setelah perwalian selesai. Ia meminta Hwi untuk berjalan di jalan yang membuatnya bahagia dan Ja Hyeon akan berada di samping Hwi. Hwi tersenyum menatap Ja Hyeon. 

10 TAHUN KEMUDIAN


Raja sudah tumbuh dewasa. Ia duduk di singgasananya untuk memimpin rapat. Ia mengatakan kalo 10 tahun adalah waktu yang lama untuk menahan diri. Ia bertanya sampai kapan mereka harus menerima tuntutan Jurchen yang tanpa akhir dan tanpa dasar. 


Daejehak mengatakan pada raja kalo kondisi itu terjadi semenjak pemerintahan pangeran singkat pangeran Jin Yang beberapa waktu yang lalu. Pangeran Jin Yang telah menandatangani perjanjian yang sangat nggak menguntungkan bagi mereka. Mereka sudah berusaha menjalin kerja sama demgan mereka. 


Raja menanyakan apa yang mereka dapatkan? Orang-orang Jurchenlah yang mendapat keuntungan dalam semua urusan mereka. Bukannya bersyukur, tuntutan mereka malah semakin besar setiap tahunnya. 


Hwi menyarankan agar raja menaklukkan mereka. Para menteri terkejut dengar saran dari Hwi. Sekretaris kerajaan menegur Hwi atas apa yang baru saja dia katakan. Hwi membenarkan kalo telah terjadi perjanjian yang nggak adil 10 tahun lalu. Kalo raja berpikir berhubungan dengan mereka nggak menguntungkan, maka raja dapat menyingkirkannya dengan menghadapi merrka dengan berani. 


Raja tersinggung. Apa pamannya menganggapnya masih kecil dan nggak berpengalaman dalam urusan militer? Hwi meyakinkan kalo raja merasa ragu, maka dia nggak akan bisa mengakhirinya. Raja harus membuat keputusan. Kalo memang raja ingin menaklukkan Jurchen, maka mereka akan melakukannya. Raja menatap Hwi tajam. 

Bersambung...

Komentar:
Setuju sama Ja Hyeon. Dari awal aku memang merasa kalo Kang nggak seperti orang jahat pada umumnya. Dari matanya yang selalu berkaca-kaca dan selalu mau nangis kalo ngomong sama ibu suri. 
Dan nggak kerasa ada lompatan waktu lagi. 10 tahun berlalu. Raja juga sudah dewasa dan sudah bisa mengambil keputusan sendiri. 

Salam
Anysti18