Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 4 BBAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 4 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 4 Part 4

Tingen minta Xiaobin untuk mengatakan berita yang ketiga. Xiaobin mengiyakan. Tapi sebelumnya dia minta Tingen agar nggak marah nantinya. Tingen mengiyakan. Dia janji nggak akan marah. Xiaobin menunjuk kalo Tingen sendiri yang bilang nggak akan marah. Gimana nanti kalo dia marah? Tingen menatap Xiaobin dan memintanya untuk segera memgatakannya. Kesanarannya juga ada batasnya. Dia akan menghitung sampai 3. Kalo Xiaobin nggak mengatakannya maka dia akan marah. Tingen mulai menghitung, 1, 2, 3. 


Xiaobin buru-buru memberitahu kalo Fenqing nggak datang hari ini. Seketika ekspresi Tingen langsung berubah. Xiaobin menangkap kalo wajah Tingen langsung jadi masam. Tingen mengaku kalo dia nggak terkejut. Tingen berbalik dan tamoak frustasi. Xiaobin mengaku ingin memberi kejutan untuk Tingen sebelum dia pergi untuk menyemangatinya. Tingen malas. Dia nggak ingin mendengarnya. 


Xiaobin menepuk tangannya dan bilang, kejutan!!! Beberapa orang teman Fenqing dari pasar malam tiba-tiba muncul dari balik meja. (Namanya siapa aja, ya?? Lupa. ^_^). Mereka melambaikan tangan dan menyapa Tingen. Tingen tampak terkejut melihat mereka. 


Bibi memberitahu Tingen kalo Fenqing hari ini sedang nggak sehat. Mereka takut kalo hal itu akan mempengaruhi operasional restoram kadi mereka datang untuk membantu. Tingen menanyakan apakah mereka datang karena Fenqing yang suruh? Paman memberitahu kalo Fenqing kena flu sejak kemarin malam. Tingen seakan nggak percaya kalo Fenqing yang kuat bisa sakit juga. 


Teman Fenqing mengatakan kalo ia ingin bertemu langsung dengan Tingen. Teman di sebelahnya menegurnya. Apa yang dia bicarakan? Pria di sebelah mereka mengingatkan kalo ini bukan waktunya untuk terpesona. Ia memberitahu kalo mereka hanya ingin bertemu dengan Tingen. Gadis yang pakai topi memberitahu kalo ada sesuatu yang ingin mereka beritahukan pada Tingen. Tingen merasa kalo dari mereka semua yang bicara nggak ada yang mengatakan intinya. Tingen menanyakan apa yang sebenarnya ingin mereka katakan? 


Mereka lalu kompak membungkuk dan meminta maaf pada Tingen. Tingen merasa nggak nyangka kalo mereka akan meminta maaf padanya. Gadis yang pakai topi mengakui kalo teknik pemasaran yang nggak masuk akal itu adalah inisiatifnya sendiri. Dia yang mengatakan hal itu dan itu nggak ada hubungannya dengan Fenqing. 


Pria yang berada di sebelah dua gadis itu menambahkan kalo foto yang dia sebutkan kemarin tentang memakai La Mure hanya bercanda. Ia dan teman-temannya kalo berkumpul sukanya membuat lelucon b*doh untuk bersenang-senang. Mereka lalu bersumpah kalo mereka nggak akan menggunakan bos Huo lagi. 


Bibi menambahkan kalo Tingen kemarin juga membantu bos pasar malam Chen. Mereka janji nggak akan merusak reputasi restoran Tingen untuk jadi terkenal. Sekali lagi mereka mengingatkan kalo itu hanya lelucon dan omong kosong. Mereka kompak membungkuk dan meminta maaf pada Tingen. 


Tingen menuduh kalo mereka semua disuruh sama Fenqing. Bibi mengatakan kalo nggak seperti itu. Ia memberitahu kalo Fenqing bilang kalo hari ini harus melakukan sesuatu. Dia sedang sakit... . Tingen bertanya lagi, Fenqing sakit apa sibuk? 


Wang menerima telpon dan bertanya kalo Fenqing ingin menutup kiosnya. Semua orang juga terkejut mendengarnya. Wang mengatakan kalo ia akan segera kesana. Teman-teman Fenqing pamit pada Tingen karena mereka akan menangani masalah Fenqing yang ingin menutup kiosnya. Saking paniknya mereka sampai salah pintu pas mau keluar. 


Ah Wei datang ke sebuah perusahaan. Ia ingin bertemu dengan presdir Wang. Karyawan  menanyakan namanya. Ah Wei meminta karyawan itu untuk mengatakan pada Presdir kalo Xiaowei mencarinya. 


Fenqing hampir selesai membereskan kiosnya. Ia mengambil papan namanya dan mengucapkan selamat tinggal. 


Teman-teman Fenqing datang dan bertanya kenapa Fenqing menutup kiosnya? Fenqing memberitahu kalo dia nggak akan menjual burger kari udang lagi. Itulah kenapa dia harus menutupnya. Gadis yang memakai topi mengingatkan kalo bukannya Fenqing dulu bilang akan menjualnya lagi setelah belajar selama 7 hari? Kenapa sekarang malah berhenti? 


Fenqing memberitahu kalo setelah belajar memasak, ia ingin memperkenalkan makanan baru. Ia mengatakan kalo burger kari udang adalah kreasinya dan nggak ada hubungannya dengan plagiarisme, tapi ada banyak orang yang memberikan komentarnya di internet. Fenqing merasa nggak adil dengan Huo Tingen. 


Bibi bertanya jadi Fenqing takut kalo Huo Tingen nggak akan senang? Fenqing mengatakan kalo dia nggak takut Tingen marah. Walaupun dia berhak marah. 

Tingen tahu-tahu datang dan mendengar pembicaraan Fenqing dengan teman-temannya. Fenqing berpendapat kalo Tingen nggak sejahat itu. Alasannya ingin menutup kiosnya adalah karena ia nggak ingin jadi Huo Tingen pasar malam. Fenqing menyatakan kalo burger kari udang mini karyanya dan nggak ada hubungannya dengan Tingen. Tapi nggak bisa dibantah juga kalo burger mininya laris karena orang-orang menghubungkannya dengan Huo Tingen. 


Tingen mendengar apa yang Fenqing bilang dari tempatnya berada. 


Fenqing mengaku belajar banyak di La Mure di hari terakhirnya. Dan apa yang ia pelajari adalah tentang kepedulian Huo Tingen pada masakan. Menurut Fenqing, Huo Tingen selalu menciptakan makanan yang sesuai dengannya. Hal itu membuat Fenqing juga ingin menciptakan makanan yang sesuai dengannya, Wei Fenqing. Fenqing melanjutkan kalo di masa depan ia ingin semua orang memanggilnya sebagai Wei Fenqing versi bangsawan. Teman-teman Fenqing bertepuk tangan untuknya. Paman bahkan mengacungkan jempolnya pada Fenqing. 


Tingen menghampiri mereka sambil tepuk tangan. Ia menanyakan itu kesibukan Fenqing? Fenqing mengangguk. Tingen mengatakan kalo Fenqibg bahkan nggak merasa segan padanya. Tingen bertanya apa Fenqing sudah selesai beres-beres? Fenqing mengangguk. Ia hanya perlu membersihkan sampah. 


Tingen mengangguk. Kalo hanya itu, ia merasa kalo Fenqing bisa merepotkan teman-temannya sebentar untuk membereskan srmua itu. Teman-teman Fenqing mendekat dan mereka merasa nggak masalah. 


Teman-teman Fenqing langsung beraksi membereskan semuanya. Tingen mengingatkan kalo Fenqing melewatkan sesuatu hari ini. Hadiah istimewa. Fenqing nggak bisa memakai itu untuk menghadiri perjamuan dengannya. Fenqing bertanya Tingen akan mengajaknya ke pesta gudang anggur? Tingen seperti salah tingkah. Dengan siapa lagi dia akan datang kalo nggak sama Fenqing? Tingen mengajak Fenqing untuk bergegas. 


Fenqing berjalan bersama dengan Tingen. Ah Wei menghampiri mereka dan bertanya kenapa Tingen ada disana? Tingen malah memuji pakaian merah muda Ah Wei yang cocok dengannya. 


Ah Wei menghela nafas lalu menarik Fenqing. Ia mengingatkan Fenqing yang ingin pergi ke gudang anggur. Ia memberitahu kalo dia punya dua undangan. Ia akan mengajak Fenqing karena Tingen nggak jadi mengajaknya. 


Tingen menghampiri mereka. Fenqing memberitahu Ah Wei kalo dia sudah janji pada Chef kalo dia akan pergi dengannya. Fenqing meminta maaf. Ah Wei tersenyum dan bilang nggak papa. Kalo gitu dia akan mengantar Fenqing untuk memilih gaun. Ia tahu dress code untuk acara itu. Ia akan membuat semua orang terpesona oleh penampilan Fenqing. 


Ah Wei meraih tangan Fenqing dan menariknya pergi dari hadapan Tingen. Tingen menghela nafas kesal melihat Fenqing dibawa pergi begitu saja. 


Tingen memutuskan untuk mengejar mereka. Fenqing bertanya kemana Ah Wei akan membawanya? Ah Wei meminta Fenqing untuk ikut saja dengannya. Tingen menghentikam mereka dan memanggil Ah Wei sebagai pangeran pasar malam. Ia berpikir kalo Ah Wei nggak mendengarkan apa yang mereka bicarakan dengan baik. Fenqing mengingatkan kalo Fenqing bilang akan pergi dengan Chef-nya ke acara itu. Dan Chefnya adalah Tingen. Artinya Fenqing adalah pasangannya. Jadi Ah Wei nggak perlu mengkhawatirkannya. 


Tingen melepaskan tangan Ah Wei dari Fenqing dan menyuruhnya untuk masuk ke mobil dan memakai sabuk pengaman. Tingen kembali pada Ah Wei. Ia meminta Ah Wei agar mggak usah khawatir. Fenqing adalah pasangannya dan dia yang akan mengurus keselamatannya. Ia juga akan mengantar Fenqing pulang dengan selamat. Tingen hendak pergi tapi balik lagi. Ia meledek kalo merah muda sangat cocok untuk Ah Wei. 


Tingen meninggalkan Ah Wei dan masuk ke mobil. Fenqing memanggil Ah Wei dari dalam mobil dan berterima kasih atas undangannya. Tapi ia sudah kadung janji pada Chef. Ah Wei mengangguk pedih. Ia meminta Fenqing untuk menrlponnya kako perlu sesuatu. Fenqing mengangguk sambil memakai sabuk pengamannya. 


Mobil Tingen mulai melaju. Ah Wei menatapnya sambil senyum perih. Ia merasa kalo sepertinya identitas dan status punya kegunaan. 


Fenqing melihat jalan yang mereka lalui dan bertanya pada Tingen, dimana mereka? Tingen tersenyum dan memberitahu kalo mereka sudah sampai. Ia menyuruh Fenqing untuk turun. Fenqing malah bertanya kenapa mereka ada disana? Tingen menatap Fenqing dan bertanya apa Fenqing masih ingin pergi ke pesta gudang anggur? Fenqing mau bilang kalo dia... . 


Tingen menatap Fenqing tajam dan bertanya kalo Fenqing ingin pergi, kenapa dia nggak merebut kesempatan itu? Ia memberitahu kalo ada kesempatan maka Fenqing harus merebutnya karena makna dibalik srni memasak dan pesta malam ini adalah sama. Dan ada kemungkinan kalo Fenqing nggak akan mendapatkan kesempatan lain dalam hidupnya. 


Fenqing terdiam mendengarkannya. Tingen menyuruh Fenqing untuk turun. Fenqing memanggil Tingen dan bertanya apa Tingen bisa mempercayainya? Tingen menatap Fenqing. Fenqing melanjutkan kalo bukannya Tingen pernah salah paham dan berpikir kalo dia menggunakan buku catatan ayshnya untuk memasak? Tingen juga salah paham pada orang-orang pasar malam yang menggunakannya untuk meningkatkan popularitas mereka. Fenqing memberitahu kalo itu semua nggak benar. Fenqing bertanya sekali lagi, karena Huo Tingen akan mengajarinya, bisakah dia percaya padanya? 


Tingen mengaku percaya pada Fenqing dan menyuruhnya untuk segera keluar dari mobil. Sedetik kemudian Tingen malah melarang Fenqing keluar. Dia menyuruh Fenqing untuk tetap disana dan menunggunya. 


Tingen keluar dari mobil. Rupanya ia mau membukakan pintu mobil untuk Fenqing. Tingen bahkan melepaskan sabuk pengaman Fenqing segala. Tingen berharap kalo Fenqing bisa mempercayainya. Fenqing adalah pasangannya malam ini. Ia berharap Fenqing mau mempercayakan dirinya padanya. Fenqing saja sampai heran. Mempercayakan dirinya pada Tingen??? 


Tingen tersenyum. Ia berharap Fenqing bisa keluar dari rumah dengan senang dan kembali dengan selamat. Percaya kalo Tingen akan melindunginya. Dan juga percaya kalo Tingen nggak akan menyakitinya. 


Tingen mengulurkan tangannya dan membantu Fenqing turun dari mobil. 


Mereka masuk. Dua wanita membungkuk dan menyapa Tingen sopan. Tingen meminta mereka agar nggak usah terlalu formal padanya. Mereka menanyakan orang yang ada di sebelah Tingen. Tingen memberitahu kalo Fenqing adalah orang yang akan menemaninya ke pesta gudang anggur malam ini. 


Fenqing menyapa mereka. Tingen mengatakan kalo dia nggak tahu dan meminta mereka untuk melakukan yang terbaik. Tingen meninggalkan Fenqing bersama mereka. 


Fenqing mencoba beberapa gaun. Tingen duduk dan memberikan penilaiannya. Gaun pertama nggak cocok karena belahan dadanya terlalu terbuka. Gaun kedua, juga Tingen nggak suka. Dia malah meledek, apa itu pakaian untuk berdoa? Gaun yang ketiga, malah membuat Fenqing hampir jatuh. 


Selanjutnya giliran Tingen yang mencoba pakaian dan Fenqing yang memberikan penilaian. Setelan jas yang pertama nggak oke. Setelan jas yang kedua sukses membuat Fenqing tertawa. Yang ketiga malah lebih parah lagi. Tingen bahkan merasa kalo dirinya seekor kalkun untuk Thanksgiving. 


Tingen sudah menemukan jasnya. Demikian juga dengan Fenqing. Untuk sesaat, mereka saling terpesona satu sama lain. Tingen menghampiri Fenqing dan mengatakan kalo itu cantik. (Agak rancu, ya? Antara gaun apa orangnya yang cantik). Fenqing tersenyum menatap Tingen. Tingen mengulurkan tangannya. Fenqing memberikan tangannya dan Tingen membantunya turun. Tiba-tiba Fenqing mengatakan kalo dia mencintai Tingen. Kalimat itu sukses membuat Tingen jadi membeku. Dia menatap Fenqing tanpa berkedip. 


Tingen melepaskan tangannya. Apa? Fenqing mengulangi kata-katanya. Ia membuat Tingen mengelarkan banyak uang. Rupanya Tingen hanya salah dengar. Fenqing melanjutkan kalo dia merasa gaun yang ia pakai sangat mahal. Cincin dan gelang yang ia pakai bahkan tampak sangat berkilau. Ia merasa nggak akan bisa membelinya sendiri. 


Fenqing menatap Tingen dan berterima kasih. Tingen mengangguk sambil tersenyum garing. Ia mengatakan kalo Fenqing nggak perlu berterima kasih karena gaun itu nggak terlalu mahal. 


Tingen mengajak Fenqing untuk jalan. Dan baru aja mau melangkah, Fenqing sudah mau jatuh gara-gara nggak terbiasa memakai heels. Untung dia sempat berpegangan pada Tingen. Tingen menatap Fenqing dan bertanya apa dia tahu cara menggunakan sepatu hak? Fenqing malah balik nanya apa dia terlihat bisa memakainya? Tingen menyimpulkan kalo Fenqing nggak pernah memakai heels sepanjang hidupnya. Fenqing beralasan kalo dia nggak peenah punya waktu untuk memakainya. 


Tingen kembali membawa Fenqing ke suatu tempat. Seperti tadi, Tingen juga membukakan pintu mobil untuk Fenqing. Fenqing bertanya kemana mereka akan pergi? Tingen mengatakan kalo mereka masih punya waktu untuk memyingkirkan masalah Fenqing. Fenqing malah nggak ngerti. Memangnya apa masalahnya? 


Tingen berjalan lebih dulu dan Fenqing mengikuti di belakang. Ia merasa kesulitan karena hak sepatunya sangat tinggi. Tingen menyuruh Fenqing untuk brrgegas karena mereka sedang terburu-buru dan melarang Fenqing banyak bertanya. 


Tingen menemui Bela. Mereka tampak akrab. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing, Tingen mengatakan kalo ia ingin meminta bantuan Bela untuk seseorang. Dan orang itu adalah Fenqing. Fenqing melambaikan tangannya dan menyapa Bela. Tingen memberitahu Bela kalo Fenqing nggak terbiasa memakai sepatu hak. Apa dia masih punya harapan? Bela menjawab kalo nggak ada masalah. Tapi dia butuh bantuan Tingen. Tingen agak heranendengarnya. Bantuannya? Bela mengangguk mengiyakan. 


Tingen melangkah menghampiri Fenqing. Ia meraih tangan Fenqing dan mengajaknya berdansa. Tingen meminta Fenqing untuk membiarkan tubuhnya mengikutinya. Awalnya Fenqing merasa kesilitan. Ia bahkan sampai menginjak kaki Tingen. Fenqing meminta maaf dan Tingen bilang nggak papa. 


Bela memberitahu kalo saat wanita menggunakan sepatu hak, dia harus membayangkan kalo ada benang yang menarik bagian atas kepalanya. Dan pada saat bersamaan, ada seseorang yang mendukungnya dari belakang jadi dia nggak akan jatuh ke belakang. Sama seperti berdansa dengan irama wals. Bela berpesan agar ingat untuk memakai sepatu hak sama sepeti berdansa dengan sepatu dansanya. Setiap langkahnya stabil dan ringan. 

Bersambung...


Komentar:
Berasa merinding pas dengar Tingen bilang kalo Fenqing adalah pasangannya malam ini. Dia ingin Fenqing mempercayakan diri padanya. Dia akan melindungi dan nggak akan menyakiti Fenqing. Hadeuh, tepok jidad!

Salam
Anysti18