Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 5 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 4 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 5 Part 2

Presdir Wang memakan ayam goreng buatan Fenqing lalu meminum anggurnya. Fenqing dan Tingen cemas menunggu hasilnya. Setelah mencicipi, presdir Wang sampai nggak bisa berkata-kata. Ia bertanya-tanya rasa apa itu? Tingen memberitahu kalo itu harum dari kulit jeruk bali. Xiaobin membenarkan kalo itu kulit jeruk bali. Presdir Wang mengaku nggak pernah berpikir kalo ayam goreng asin bisa menimbulkan rasa buah dari anggur putih. Ia menambahkan kalo rasa ayamnya sangat enak dan rasa anggurnya menakjubkan. Itu sangat cocok. 


Xiaobin bertepuk tangan. Ia mengaku ingin menangis. Orang-orang ikut bertepuk tangan. Fenqing mengatakan kalo ia pikir masakan nggak harus dipisahkan berdasarkan kelas. Mau makanan pasar malam atau makanan kelas atas, selama tekstur dan rasanya diperhatikan dengan sangat hati-hati, maka itu akan jadi pasangan yang cocok. 


Presdir Wang lalu memuji Tingen yang punya wawasan dan keberuntungan yang besar. Bahkan asistennya sangat cantik dan bekerja keras. Fenqing sangat senang mendengarnya saking senangnya dia sampai menonjok perut Tingen. Presdir Wang melanjutkan kalo La Mure benar-benar sesuai dengan harapan. Tingen berterima kasih. Presdir Wang yakin kalo Fenqing masih menyembunyikan hidangan lainnya yang nggak diberitahukan pada mereka. Ia meminta Fenqing untuk mengajarinya beberapa hidangan yang bisa menjadi pasangan anggur putihnya. Presdir wang lalu menarik Fening tanpa memberinya waktu untuk menolak. 


Tingen bertanya pada Xiaobin apakah ada yang salah dengan otaknya? Bisa nggak dia jadi sedikit normal? Xiaobin memberitahu kalo pria yang terlihat tampan pasti akan terlihat menawan sambil menunjuk pasangannya. Tingen memperjelas maksudnya dia tahu kalo Xiaobin punya kekuatan fisik yang baik tapi nggak perlu melewati batasnya sendiri. Xiaobin kesal karena Tingen nggak ngerti seleranya. Tingen mengatakan kalo dia memang nggak ngerti selera Xiaobin dari kuliah sampai sekarang. Dia bahkan selalu ingin membawanya ke dokter. Xiaobin nggak peduli. Ia mengaku nggak bisa bicara dengan Tingen sekarang. Xiaobin lalu menghampiri pasangannya dan meninggalkan Tingen. 


Tingen lalu meminta Tianzhi dan Yuqing untuk menikmati pestanya dan ia akan mencari Fenqing. Yuqing bilang ke Tianzhi kalo kakanya benar-benar punya mata yang bagus. Tianzhi membenarkan. Dia bisa bersantai karena kakaknya sangat hebat. Yuqing bertanya gimana bisa Tianzhi membiarkan kakaknya melakukan semuanya? Tianzhi adalah anggota keluarga Huo yang sebenarnya. Harusnya Tianzhi mulai mengikuti pelatihan manajemen untuk perusahaan dan La Mure. Apa ia ingin kakaknya bekerja dengan keluarga Huo selamanya? Tianzhi malah merasa nggak masalah sekalipun Tingen tetap berada di La Mure selamanya karena dia adalah seseorang yang menggunakan hidupnya untuk memasak. 


Yuqing mengatakan kalo itu adalah masalahnya sendiri kalo dia baik-baik saja dengan hal itu. Tapi harusnya Tianzhi juga punya ambisi. Kalo enggak, saat orang lain melihat dan mendengar itu, mereka akan berpikir kalo Tianzhi terlalu bermain-main dan nggak mempelajarinya dengan baik. Giman bisa Tianzhi nggak peduli dengah bisnis keluarga Huo? Tianzhi meyakinkan kalo itu nggak akan terjadi. 


Fenqing menyendiri di taman. Tingen menghampirinya dan melepas jasnya dan memakaikannya ke Fenqing? Tingen bertanya apa Fenqing mabuk? Kenapa dia di luar sendirian? Apa Fenqing nggak merasa kedinginan? Fenqing malah balik nanya, gimana dia bisa mabuk? Sudah baik dia nggak memaksakan minum dengan presdir Wang. Gimana bisa dia membiarkannya? 


Tingen bertanya gimana dengan Fenqing? Ini kan pertama kalinya dia berada di acara seperti tadi? Apa itu menyenangkan? Fenqing memberitahu kalo itu sangat menyegarkan. Ia berpikir kalo semua orang terlihat sangat bahagia. Tingen mengulangi, sangat bahagia? Tingen mengaku punya pertanyaan buat Fenqing. Apa yang terjadi kalo suatu hari Fenqing membuka restoran yang sangat besar? Dan bukan hanya itu, itu juga bisa menjadi semacam bisnis waralaba. Ada banyak cabang dan Fenqing mendapatkan banyak keuntungan. Apa yang akan Fenqing lakukan? Apa Fenqing akan bahagia seperti orang-orang itu? 


Fenqing membenarkan. Kalo ia menghasilkan banyak uang, maka ia bisa membantu ibunya hidup dengan tenang dan bisa mengurus adiknya dengan baik. Fenqing juga bisa mengembalikan nama ayahnya sebagai raja kari. Ia merasa kalo itu sudah cukup bagus. 


Tingen tersenyum dan memberitahu kalo itu nggak mungkin. Kalo itu terjadi, waktu Fenqing untuk berkumpul bersama ibunya akan berkurang. Jadwalnya akan penuh seharian. Akan ada pertemuan dan dokumen yang nggak ada habisnya. Dan juga Fenqing nggak akan bahagia karena ia akan mengkhawatirkan penjualan setiap harinya dan berapa banyak keuntungan yang ia dapatkan. Fenqing juga akan punya banyak tanggung jawab dan nggak akan punya waktu untuk mengurus keluarganya karena ada banyak pegawai yang harus menggantungkan nafkahnya pada Fenqing. 


Fenqing bertanya kenapa Tingen seperti itu? Fenqing pikir orang seperti Tingen yang lahir dengan sendok perak akan selalu bahagia dan nggak punya masalah. Gimana bisa seperti itu? Tingen tersenyum. Fenqing berterima kasih pada Tingen. Ia sangat berani dan percaya diri tadi. Ia juga percaya kalo ia bisa mempertahankan reputasi La Mure. 


Tingen kembali tersenyum. Ia menanyakan kalo Fenqing sudah memutuskan untuk kembali bekerja di La Mure? Fenqing memberitahu kalo dia nggak pernah bilang kalo ia nggak akan kembali. Ia masih ingin memenuhi janji tujuh hari dari Tingen. Tingen merasa kalo ia diberkati. Ia meminta Fenqing untuk kembali sekarang. Ia akan mengajari Fenqing dengan cepat agar dapat mengurangi kerepotannya. 


Fenqing menyindir Tingen yang jelas-jelas ingin ia kembali tapi malah mencoba menendangnya secepat itu? Tingen balas menyindir Fenqing yang seperti memaksa untuk kembali. Fenqing tersenyum mengejek. Ia mengingatkan kalo Tingen ingin ia membuat pilihan dan Fenqing bilang kalo ia nggak akan meninggalkan temannya. 


Tingen mendekat dan meminta maaf. Ia benar-benar minta maaf pada Fenqing. Hari itu ia bersikap buruk dan itu semua salahnya. Tingen janji akan mengajari Fenqing dengan baik kalo dia mau kembali ke La Mure. Dan setelah Fenqing menguasainya maka ia boleh pergi. Ngerti? 


Fenqing menyodorkan jari kelingkingnya. Tingen menolak. Fenqing tetap meminta jari krlingking Tingen tapi Tingen tetap nggak mau. Dan meski ragu Tingen menyambutnya dan mengulurkan tangannya perlahan-lahan. 


Fenqing dan Tingen kembali ke pesta. Tingen mengaku harus mengurus beberapa hal dulu. Ia meminta Fenqing untuk menunggunya di sana. Fenqing mengangguk mengiyakan. Ia lalu mengembalikan jas Tingen biar nggak dikira pelayan. Tingen hanya tersenyum dan memuji Fenqing yang sangat perhatian.


Tingen menghampiri Ruxi yang sedang dipaksa minum oleh dua pria. Ia memanggil Ruxi dengan panggilan sayang. Ia mengaku sudah mencarinya kemana-mana. Kemana saja? Apa mereka saling mengenal. Dua pria itu meminta maaf pada Tingen lalu pamit. 


Ruxi menatap Tingen sambil senyum. Tingen becanda mengatakan kalo pria begitu karena terlalu banyak minum. Ruxi hanya tertawa mendengarnya. Ia berterima kasih karena Tingen sudah membantunya. Tingen menanyakan kenapa Ruxi datang terlambat? Ruxi pura-pura pasang wajah sedih. Ia mendengar kalo Tingen menolak jadi pasangannya. Dia jadi kesal dan nggak ingin datang.


Tingen senyum dan merasa nggak enak. Ia memberitahu kalo dia nggak bermaksud menolak. Hanya saja dia sudah berjanji dengan seseorang. Ruxi tersenyum dan bilang kalo dia hanya bercanda. Dia memberitahu kalo dia nggak begitu kesal. Dia terlambat karena ada urusan pribadi. 


Ruxi melangkah dan berdiri di belakang Tingen. Ia menyandarkan kepalanya di punggung Tingen. Tingen merasa khawatir dan menanyakan ada apa? Ruxi mengaku lelah dan ingin bersandar pada Tingen sebentar. Tingen memilih diam dan membiarkan Ruxi melakukan itu. Sambil memejamkan matanya, Ruxi memberitahu kalo antara keluarga Meng dan Huo sangat berharap pada mereka. 


Ruxi mengangkat kepalanya dan melanjutkan kalo para orang tua nggak membiarkan mereka hidup sesuai dengan apa yang mereka berdua inginkan. Sama seperti Tingen, karena nama keluarganya Meng, maka Tingen menolaknya. Tingen hanya senyum dan nggak bilang apa-apa. Ruxi berjalan dan Tingen mengikuti. Ia menanyakan bisakah mereka berdua lebih sederhana? Hanya pria dan wanita? ia bukan Meng Ruxi dan Tingen bukanlah Huo Tingen. Apa mereka nggak bisa saling mengenal sebagai orang asing? Apa Tingen bisa bilang kalo dia nggak menyukainya? 


Ruxi berbalik dan kembali menatap Tingen. Ia berkata kalo mungkin mereka bisa jadi pasangan yang cocok. Jarak mereka sangat dekat. Tingen hanya bisa menatap wajah Ruxi lekat-lekat dan nggak bilang apa-apa. Ia lalu mundur perlahan. 


Musik mulai mengalun. Orang mulai berdansa. Tingen pamit karena ingin mencari pasangannya. Ruxi mengangguk. Tingen berpesan agar Ruxi nggak minum terlalu banyak. Ia lalu pergi. Ruxi menatapnya seolah ingin menghentikannya tapi nggak ia lakukan. 


Tingen menggenggam tangan Fenqing dan mengajaknya berdansa. Mereka melakukannya dengan baik. Mereka bahkan saling melempar senyum satu sama lain. Fenqing tampak sangat bahagia dan begitu pula dengan Tingen. 


Ruxi tiba-tiba datang menghampiri mereka. Ia menarik Tingen dan meminta ijin pada Fenqing kalo ia ingin meminjam pasangannya. Fenqing memperbolehkan. Ia lalu pergi dengan senang hati. 


Tingen merasa nggak nyaman. Ia memanggil Fenqing tapi ia keburu pergi. Ruxi berdansa dengan sangat menggoda. Ia bahkan tampak sangat agresif dan hal itu malah membuat Tingen jadi merasa nggak nyaman. 


Dan di saat genting Xiaobin tiba-tiba datang dan mengajak menari cha cha. Tingen merasa tersrlamatkan. Xiaobin datang tepat waktu. Xiaobin mengaku mabuk. Tingen dan Ruxi bertepuk tangan untuknya. Tingen bahkan memintanya untuk terus menari. 


Xiaobin lalu memanggil Fenqing dan menariknya untuk menari bersama. Fenqing merasa akrab dengan lagu itu. Ia memanggil orang-orang untuk menari bersamanya. Itu adalah lagu pasar pembukaan pasar malam. Fenqing mengajari semua orang untuk menari bersamanya. 


Setelah selesai menari Fenqing ditarik oleh beberapa orang dan mengajaknya untuk tos. Fenqing menerimanya dan meminumnya satu persatu. Tingen menghampirinya dan memberitahu kalo toleransi Fenqing terhadap alkohol nggak begitu baik. Ia akan mewakilinya dan meminumnya karens ia punya toleransi alkohol yang baik. Ia yang akan meminumnya. Tingen mengambil beberapa gelas dan meminumnya. Tapi rupanya Fenqing juga nggak mau berhenti. Ia juga terus minum. 


Malam itu mereka minum habis-habisan dan hasilnya keduanya mabuk berat. Presdir Wang menghampiri mereka dan memberitahu kalo hari ini adalah hari yang benar-benar indah untuknya. Ia mengaku sangat senang. Presdir Wang lalu memberi mereka sebotol anggur. Tingen menerimanya dan berterima kasih. Ia mengundang Tingen ke istananya kalo ia ada waktu dan mereka bisa bersenang-senang. Tingen mengangguk mengiyakan. Presdir Wang mengancam kalo Tingen dan Fenqing nggak datang maka dia yang akan mengunjungi mereka. Ia mengaku sangat menyukai nona Wei. Presdir Wang lalu pamit. Fenqing malah bertanya tadi itu siapa? 


Xiaobin keluar bersama pasangannya. Wajahnya penuh dengan lipstik. Ia membanggakannya pada Tingen dan Fenqing. Tingen menyelamati pasangan Xiaobin. Xiaobin hendak memperkenalkan pasangannya tapi Tingen melarangnya. Ia melarang Xiaobin untuk bicara lagi kalo memang mereka adalah saudara. Ia mengaku sangat tersentuh hari ini. Xiaobin sudah menemukan pasangannya dan ia harus menghargainya. Xiaobin sampai menangis mendengar nasehat dari Tingen. Pasangan Xiaobin lalu menarik Xiaobin dan membawanya pergi. 


Tianzhi keluar bersama dengan Yuqing. Ia menanyakan kondisi Tingen karena tadi minum banyak. Tingen mengaku baik-baik saja dan sedang mencari sopir penggantinya. Fenqing juga memberitahu kalo mereka baik-baik saja dan ia adalah sopir penggantinya. Ia yang akan mengantar Tingen pulang. Tingen menyangkalnya. Ia punya sopir yang lain. 


Tingen melihat Ruxi dan memanggilnya. Ia menanyakan Ruxi dari mana saja? Ia sudah mencarinya dari tadi. Tianzhi menyuruh Tianzhi untuk mengantar Ruxi pulang. Tianzhi mengiyakan. Ia akan mengurusnya. Mobil Tingen datang. Ia lalu pamit. Fenqing memberikan sekeranjang permen yang ia bawa pada Yuqing. Ia juga pamit dan masuk ke mobil Tingen. 


Tianzhi menatap Ruxi dan memberitahu kalo kakaknya sangat peduli padanya bahkan saat ia mabuk. Ruxi hanya tersenyum. Ia mengatakan kalo Tingen mengantar pulang orang lain dan menyuruhnya pulang sendiri. Tianzhi tetap merasa kalo kakaknya peduli pada Ruxi. Itu sebabnya ia melakukan itu. Ruxi terdiam dan merasa sedih. 

Bersambung...

Komentar:
Sebenarnya memang nggak ada yang salah sama Ruxi. Tapi yang namanya hati kan nggak bisa dipaksa. 

Salam
Anysti18