Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 5 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 6 Part 1

Restoran belum buka tapi sudah mulai sibuk. Bryan memperlihatkan berita yang ditulis Ruxi tentang Fenqing pada Jake. Brian khawatir Fenqing akan memakai topi Jake di masa depan. Jake pura-pura nggak peduli karena kebetulan Fenqing sedang melintas. 


Tingen datang dan meminta semuanya untuk berhenti sekarang dan pergi ke dapur karena ada sesuatu yang ingin ia umumkan. Tingenau ke dapur tapi malah berpapasan dengan Fenqing yang mau keluar dari dapur. Ia mau ke sisi sebaliknya tapi Fenqing terus mengikuti. Ia lalu menanyakan apa yang Fenqing lakukan? Fenqing memberitahu kalo dia memindahkan barang-barang. Tingen melarangnya dan menyuruhnya ke dapur. Ada yang ingin ia umumkan. 


Tingen menyuruh semua koki untuk berbaris di depannya. Ia memberitahu kalo musim panas akan segera tiba. Tingen mengaku ingin memperbarui menu. Walaupun mereka adalah restoran tanpa menu, tapi Tingen ingin menentukan tema utama untuk musim baru. Pada musim dingin, harus lebih hangat dan pedas. Dan musim panas, ia ingin sesuatu yang menyegarkan dan menenangkan. Selanjutnta Tingen memberitahu kalo ia ingin mencoba kari Thailand. Ia berencana menggunakannya pada perjamuan Duta Besar selanjutnya. 


Jake mengangkat tangannya dan memberitahu kalo mereka nggak menggunakan kari putih lagi. Berdasarkan angket pelanggan paling menginginkan kari putih. Xiaobin memberi isyarat pada Jake agar berhenti ngomongin kari putih. 


Tingen memberitahu kalo dia nggak membuat kari putih. Raut wajah Tingen nampak berubah. Ia melanjutkan pembicaraannya tapi nampak jelas kalo ia sedang menyembunyikan kesedihannya. Tingen lalu menanyakan pada Xiaobin apa pasokannya sudah datang? Ia menyuruh Xiaobin untuk mengambilnya. Tingen lalu menatap Fenqing yang tersenyum menatapnya. 


Para koki mencampur bumbu dan menghaluskannya. Tingen memberitahu kalo bahan dasar untuk kari Thailand hampir sama dengan kari pada umumnya. Ada merah, kuning dan hijau. Kalo ingin membuat kuning, tambahkan beberapa bubuk kunyit. Tapi jangan terlalu banyak, karena nggak akan enak. 


Tingen pindah ke koki sebelahnya. Untuk kari hijau, Tingen menyarankan untuk menambahkan beberapa bahan musiman. Seperti cabai hijau. Tingen lalu pindah ke Fenqing. Ia memberitahu kalo untuk kari merah, tinggal tambahkan cabai merah saja. Fenqing menatap Tingen dan hal itu membuat Tingen jadi nggak nyaman. Ia menyuruh Fenqing untuk menambahkan cabai merah kering atau apapun. Ia mengatakan kalo Fenqing sudah melakukan hal yang benar. Fenqing tersenyum dan ia nampak bercahaya. 


Tingen lalu menyuruh Jake dan Brian untuk membantu mereka dan lakukan sesuai resep yang telah mereka diskusikan. Brian dan Jake mengiyakan. 


Tingen sedikit menjauh dari orang-orang. Ia merasa kalo dadanya sakit. Lebih-lebih saat melihat Fenqing. Tapi ia bahkan nggak bisa mengalihkan matanya dari Fenqing. Tingen menyarankan agar Fenqing menambahkan sedikit minyak canola kalo itu terlalu kering. 


Fenqing menurut. Ia pun menambahkan minyak canola pada bumbunya. Tanpa sadar Tingen tersenyum melihatnya. Fenqing juga tersenyum. Xiaobin memperhatikan Tingen. Ia memberitahu kalo Tingen tampak manis saat tersenyum. Ia menanyakan apa yang Tingen pikirkan? Tingen acuh tak acuh mengatakan kalo itu bukan urusan Xiaobin. Xiaobin memberitahu kalo akan lebih mudah menggunakan kata-kata kalo memang Tingen ingin memuji Fenqing. Tingen bilang kalo Xiaobin sangat berisik. Xiaobin mengaku masih ingin bertanya sesuatu pada Tingen. Ia lalu menarik Tingen agak menjauh. 


Xiaobin meminta Tingen untuk memberitahunya, apa yang mereka lakukan selesai pesta? Tingen nggak langsung menjawabnya. Ia melihat Fenqing terlebih dahulu sampai akhirnya ia mengatakan kalo nggak ada yang terjadi. Mereka nggak melakukan apapun. 


Tingen mengalihkan dengan menanyakan apa Xiaobin merasa kurang sehat hari ini? Xiaobin mengiyakan. Ia mengaku kalo dadanya terasa sakit. Saat ia bangun pagi tadi ia merasa seperti habis ditabrak truk. Ia merasa kurang sehat. Tingen bertanya apa Xiaobin nggak ingat apapun? Xiaobin bilang enggak. Tingen tersenyum dan bilang kalo Xiaobin melakukannya dengan baik dan tindakan dermawan kemarin. 


Xiaobin meminta Tingen untuk berhenti bermain-main. Dan katakan apa yang terjadi kemarin? Tingen menyuruh Xiaobin untuk melupakannya dan minum obat pereda rasa sakit. Xiaobin mengiyakan. Ia juga mengeluh kalo punggungnya juga terasa gatal. Xiaobin mengeluh sambil berjalan pergi. 


Tingen kembali menatap Fenqing. Ia lalu merasa kalo dadanya kembali sakit. Tingen merasa kalo itu aneh. Ia bahkan nggak minum kopi pagi ini. Tapi kenapa jantungnya berdebar sangat cepat? 


Fenqing masih menghaluskan bumbu. Ia merasa ada yang kurang lalu menambahkan bumbu lain. Jake menegurnya karena nggak menggunakan sendok ukur. Jangan bilang kalo seratus gram dalam resep itu palsu. Fenqing mengatakan kalo nggak gitu. Jake menyindir apa keterampilan Fenqing sudah lebih dari koki terkenal? Jadinya dia hanya menggunakan jarinya sebagai pengukur untuk mengetahui kalo itu adalah 100 gram? Dikiranya Fenqing bisa begitu karena Chef yang telah membawanya? 


Tingen menghampiri mereka. Ia bilang ke Jake kalo ia yang akan mengajari orang yang ia bawa. Ia menyuruh Jake dan Brian untuk membantu yang lain. Jake dan Brian pun pergi. 


Tingen memberitahu Fenqing kalo mereka punya pengukuran dan sendok pengukur. Resep mereka punya pengukuran dasar. Kenapa Fenqing nggak mengikuti resep? Fenqing mengatakan kalo Tingen pernah bilang kalo masakan harus fleksibel. Fenqing berpikir kalo seratus gram bukan yang terbaik, jadi... . Tingen memperingatkan kalo Fenqing harus mempelajari yang dasar dulu sebelum mengubahnya. Kalo Fenqing kekurangan atau kelebihan satu gram maka itu akan berimbas pada rasanya. Kalo nggak ada peraturan, maka nggak akan asa yang berhasil. Apa Fenqing mengerti logikanya? 


Fenqing nggak bilang apa-apa. Tingen lalu bertanya apa Fenqing pernah memikirkan koki seperti apa yang ia inginkan di masa depan? Fenqing mau bilang sesuatu tapi Tingen melarangnya bicara. Ia merasa kalo tertalu dini menanyakan itu pada Fenqing. Ia lalu memanggil Xiaobin dan menyuruhnya untuk mengajari Fenqing melayani meja pelanggan. Fenqing nampak kecewa karena harus meninggalkan dapur. 


Xiaobin mengejar Tingen. Apa dia g*la? Ia mengingatkan kalo Fenqing datang untuk belajar tentang kari tapi Tingen malah ingin belajar mengenai pelayanan meja. Ia merasa kalo Tingen akan membuatnya makin buruk. Tingen tersinggung, apa Xiaobin nggak mau mengajarinya? Kalo memang Xiaobin nggak mau maka dia yang akan mengajarinya sendiri. Xiaobin mengalah. Ia mau. Tingen menyuruh Xiaobin untuk mengajarinya menata meja dengan baik dan benar. 


Ruxi tiba-tiba datang. Xiaobin dan Tingen jadi panik melihatnya. Ruxi menawari Tingen minum sup. 


Xiaobin mengajari Fenqing di meja tamu sementara Tingen bicara dengan Ruxi. Ruxi memberitahu kalo itu adalah sup untuk menghilangkan mabuk. Tingen tampak ragu mau meminumnya. Ruxi memberitahu kalo saat ia mengirim pesan tadi pagi, ia bertanya apa Tingen sakit kepala setelah mabuk, Tingen menjawab iya. Tingen tersenyum. Ia mengingatkan kalo itu tadi pagi dan sekarang sudah sore. Kalopun ia benar-benar mabuk, sekarang sudah mereda. Ruxi mengingatkan kalo saat ia menanyakan dalam pesannya, Tingen pilih A atau B, Tingen memilih G. Bukankah G untuk Gina? Jadi dia membuatnya sendiri dari pagi. Tingen menyimpulkan jadi maksudnya A atau B adalah tentang itu? Ruxi mengiyakan. 


Tingen tertawa. Ruxi bertanya kenapa Tingen tertawa? Tingen harusnya melihatnya saat ia memasak. Kenapa Tingen membuatnya mengatakan itu? Tingen memberitahu kalo ia nggak menertawakan Ruxi. Ia hanya berpikir kalo Ruxi sangat lucu. Ruxi meminta Tingen untuk meminum supnya. Tingen mengiyakan. Ia akan meminumnya nanti. Ruxi juga menanyakan Fenqing yang juga mabuk tadi malam. Apa dia baik-baik saja? Tingen mengiyakan sambil menatap Fenqing. Ia memberitahu kalo Fenqing tidur di atas ranjang yang nyaman. Dia datang dengan semangat padahal ia sudah menyuruhnya untuk cuti tapi Fenqing nggak mau. 


Ruxi memyimpulkan kalo mereka melewati malam bersama. Tingen merasa nggak nyaman. Ruxi menangkap perubahan sikap Tingen. Ia lalu memberitahu kalo artikel penilai makanan yang ia pernah bicarakan, ... . Ia sudah mengundang beberapa wartawan untuk makan malam di La Mure malam ini. Mereka juga akan membantu mempromosikan Yanis. 


Koki memanggil Xiaobin selaku manager dan memberitahu kalo makanan dan karyawan sudah siap. Xiaobin mengangguk. Ia lalu bangkit dan menepuk tangannya meminta perhatian dari semuanya kalo malam ini akan ada banyak reservasi. Saat mereka sudah selesai makan, maka siapkan semua bahan untuk makan malam. 


Tingen menatap semua itu sambil senyum. Ia lalu kembali pada Ruxi dan memintanya untuk mengatur hal itu bersama dengan Tianzhi. Ruxi mengiyakan dan meminta Tingen untuk meminum sup buatannya. 


Tingen melihat Fenqing bangkit dan pergi. Ia pun pamit pada Ruxi dengan alasan mau kembali kerja. Tingen mengikuti Fenqing yang keluar. Fenqing menelpon Ah Wei dan menanyakan apa yang ia lakukan? Fenqing mengaku mengkhawatirkan Yang. Ia meminta Ah Wei untuk memperhatikan Yang. Tingen diam-diam mendengarkannya di belakang Fenqing. Fenqing berterima kasih. Ia tahu kalo Ah Wei adalah teman yang bisa diandalkan. Fenqing lalu menutup telponnya dan menyufuh Ah Wei untuk kembali kerja. Fenqing menghela nafas memikirkan adiknya. 


Tingen kembali ke dapur dan merasa kacau. Ia mengelilingi meja dapur sambil makan mentimun. Fenqing menghampirinya dan menanyakan apa yang ia lakukan? Kenapa berputar-putar sambil makan mentimun? Kenapa nggak makan kari ayam Thailand? Tingen memberitahu Fenqing kalo dia punya banyak waktu tapi dibuang begitu saja. Fenqing bahkan punya waktu untuk nelpon. 


Fenqing nggak ngerti maksudnya. Tingen menuntut kenapa Fenqing nggak mencarinya saat ada masalah? Fenqing malah makin bingung. Masalah apa? Tingen nggak bisa bilang apa-apa lagi. Ia lalu menanyakan apa Fenqing sudah belajar menata meja? Fenqing mengaku sudah. Tingen lalu mengetes dengan menanyakan berapa banyak tempat duduk yang restoran mereka miliki? Fenqing menjawab 50. Tingen menanyakan berapa banyak macam anggur merah? 73. Botol mana yang merupakan botol anggur mereka? 


Fenqing nggak bisa menjawabnya. Tingen menyuruh Fenqing untuk menanyakannya pada Xiaobin. Jangan buat kesalahan. Makanlah setelah selesai bertanya. Fenqing menatap Tingen yang pergi meninggalkannya. Ia merasa kalo Tingen aneh. 


Restoran mulai buka dan para tamu mulai berdatangan untuk makan malam. Ada beberapa tamu yang belum melakukan pemesanan sebelumnya. Xiaobin menyuruh Fenqing untuk menyiapkan meja C8 untuk mereka agar nggak mempengaruhi tamu yang lainnya. Fenqing mengerti. Ia lalu mengantar tamu itu ke meja yang dimaksud. 


Mereka lalu memanggil Fenqing dan minta diberikan anggur yang berumur 25 tahun. Pria yang bertopi putih mengenali Fenqing sebagai koki pasar malam. Ia menawari Fenqing untuk masuk TV. Fenqing menolak dengan sopan. Pria itu lalu memberi Fenqing sebuah kartu nama miliknya. 


Pria di depannya menyinggung tentang sebuah artikel tentang Fenqing. Dari yang ia baca, ayam goreng Fenqing sangat enak. Pria yang memakai topi lalu memesan sepiring. Ia juga ingin yang sedikit pedas. Fenqing meminta maaf dengan sopan ia memberitahu kalo restoran mereka nggak punya menu itu jadi mereka nggak bisa menerima pesanannya. 


Pria itu kecewa. Ia meledek kalo sikap Fenqing membuatnya takut. Pria itu meminta temannya untuk memotretnya. Fenqing mulai hilang kesabaran. Ia meminta tamu itu untuk mengecilkan suara mereka karena masih ada tamu lain yang sedang makan. Pria itu nggak peduli dan bernyanyi dengan suara keras. Para tamu melihat mereka. 


Fenqing berseru menyuruh mereka untuk diam. Fenqing menyuruh mereka untuk keluar karena mereka nggak diterima di sana. Tianzhi dan Ruxi melihat apa yang dilakukan oleh Fenqing dari meja sebelah. 


Pria bertopi marah. Ia menggebrak meja lalu bangkit. Situasi macam apa itu? Tingen tiba-tiba datang dan meminta maaf. Ia menawarkan mereka untuk melihat daftar anggur. Fenqing melarangnya tapi Tingen nggak mau. Ia memanggil Xiaobin untuk melayani para tamu itu sementara ia membawa Fenqing keluar. 


Sampai di luar Fenqing memberitahu Tingen kalo orang-orang itu nggak cocok makan di La Mure. Sebagai kepala koki, apa Tingen nggak marah? Dengan tenang Tingen menanyakan siapa yang cocok makan di La Mure menurut Fenqing? Fenqing, Tingen, atau orang-orang yang duduk di meja itu? Ia memberitahu kalo gimanapun juga sebuah restoran nggak boleh menolak tamu sejak awal. 


Fenqing memberitahu kalo restorannya bisa. Tingen menanyakan maksudnya restoran Fenqing punya sistem perbedaan kelas? Selama Fenqing nggak suka, maka ia bisa mengusir mereka? Apa perlu seperti itu? Saat Fenqing punya restoran sendiri apa ia perlu punya sikap sombong seperti itu? Fenqing mengatakan kalo dia nggak begitu. Tingen lalu kembali bertanya kenapa Fenqing mengganti resepnya? Fenqing nggak suka dengan cara membuatnya dan ingin mengubahnya menjadi kesukaannya. Kalo itu bukan kesombongan terus apa namanya? 


Tingen melanjutkan kalo sejak Fenqing datang untuk belajar di La Mure, kenapa nggak pernah mengikuti caranya? Apa perbedaan dari sikap Fenqing saat ini dengan mereka tadi? Fenqing nggak bisa bilang apa-apa lagi. Tingen memberitahu maksudnya menjadikan Fenqing sebagai pelayan restoran hari ini karena yang paling adalah ia berharap agar Fenqing belajar melayani. Dan dari proses melayani itu, Fenqing bisa mengerti dan berpikir tentang koki seperti apa yang ia kehendaki kelak. Dan restoran seperti apa yang akan ia buka kedepannya. Hanya itu. 


Menurut Tingen, menjadi koki sebenarnya sangat membosankan. Setiap hari melakukan hal yang sama. Masakan yang sama dan rasa yang sama. Tingen duduk. Ia memberitahu kalo ada yang berbeda. Yaitu, menjadi koki yang baik akan selalu mengasah kemampuannya. Mengulanginya setiap hari sampai jadi sangat mahir. Kalo Fenqing bisa mencapai level itu, maka Fenqing bisa memberitahunya kalo ingin berinovasi. Intinya adalah nggak akan ada kesuksesan kalo Fenqing mengikuti aturan. Tingen menegaskan kalo restorannya, La Mure-nya, memperlakukan semua tamu dengan sama. Semua orang bisa makan di sana. 


Fenqing mengiyakan kalo mereka bisa datang dan makan. Tapi gimana dengan tamu yang lain? Tingen menarik Fenqing agar ia duduk seperti dirinya. Ia bertanya apa tamu yang lain mendatangi Fenqing dan mengeluh padanya? Belum, kan? Kalo tamu yang lain mengadu kalo tamu dari meja itu mengganggu selera makanku, baru saat itulah ia menanganinya. Tingen akan menyelesaikannya karena ialah bosnya. Gimanapun juga Fenqing nggak boleh mengusir tamu. 


Fenqing kembali ke meja itu bersama dengan Tingen. Tingen menyampaikan permintaan maafnya atas kesalah pahaman kecil sebelumnya. Itu adalah kesalahannya karena nggak mengajari karyawannya dengan baik. Tingen dan Xiaobin membungkuk meminta maaf. Fenqing melihat mereka dan akhirnya ikutan membungkuk dan meminta maaf. Tingen dan Xiaobin menatapnya. 

Bersambung...


Komentar:
Kali ini kita dapat satu pelajaran lagi, kalo gimanapun juga kita nggak boleh sombong dan harus selalu rendah hati. 

Salam
Anysti18