Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 6 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 5 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 6 Part 2

Tingen meminta maaf pada tamu bersama dengan Xiaobin dan Fenqing. Ia mengaku sangat menyesal atad kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya. Ia adalah manajer dan nggak mengajari karyawannya dengan baik. Tingen dan Xiaobin meminta maaf sambil membungkuk. Fenqing melihat Tingen dan akhirnya ikut membungkuk dan meminta maaf. 


Fenqing mengakui kalo itu adalah salahnya. Dia mempunyai sikap yang buruk. Dia nggak sopan. Ia berharap mereka mau memaafkannya. Tingen dan Xiaobin menatap Fenqing seolah nggak percaya dia mau mengakui kesalahannya. 


Pria yang memakai topi putih memaklumi. Ia juga menyadari kalo mereka terlalu ribut. Ia lalu menyalahkan temannya dan mengingatkan kalo mereka ada di restoran berkelas. 


Para wartawan langsung menghampiri Fenqing dan meminta wawancara. Tingen mempersilakan. Fenqing lalu pergi bersama dengan wartawan itu. Xiaobin juga meminta ijin pada Tingen. Ia juga mau diwawancara. Tingen memperbolehkan. Xiaobin lalu menyusul Fenqing untuk wawancara. 


Fenqing ditanyai gimana perasaannya? Xiaobin tiba-tiba datang dan merebut mic Fenqing. Ia mengaku sangat senang dan bahagia. Namanya adalah Peng Xiaobin. Fenqing mengatakan kalo ia berharap mereka akan datang lagi. Dan lain waktu mereka bisa menjaga kesadarannya dan dengan senang merasakan hidangan La Mure. Ia berharap semua hidangan yang telah dimasak oleh para koki dapat tersampaikan ke seluruh hati para tamu. 


Xiaobin kembali merebut mic Fenqing. Ia mengatakan kalo menjadi pria lajang sekaligus manajer ia berharap semua orang bisa datang ke restoran mereka untuk merasakan setiap hidangan yang sudah disiapkan dengan baik oleh Chef tampan mereka. Tianzhi dan Ruxi yang sedari tadi melihat wawancara berlangsung tersenyum menatap Fenqing. 


Tingen mengantar Tianzhi dan Ruxi meninggalkan  restoran. Ia pamit pada Tingen dan Ruxi dengan alasan mau mengambil mobil. Tingen mengiyakan. 


Mendadak suasana menjadi canggung. Ruxi memanggil Tingen dan memberitahu kalo dialah yang mengundang wartawan kuliner. Sebenarnya dia hanya ingin... . Tingen buru-buru memotong. Ia mengaku sudah tahu. Tapi menurutnya, apa yang ia katakan mungkin kedengaran nggak sopan. Tingen memberitahu kalo harusnya pelanggan yang menentukan apakah masakan di restorannya lezat atau enggak. Itu yang penting. Hak untuk menilai nggak seharusnya diberikan pada wartawan ataupun blogger. Ruxi mengangguk. Ia mengaku sudah tahu sekarang. Itulah alasan kenapa Tingen nggak pernah terpengaruh dengan komentar dunia luar. Tingen mengangguk mengiyakan. 


Nggak lama kemudian mobil Tianzhi sampai. Tingen mengantarkan Ruxi sampai ke mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ruxi. Ia berpesan agar mereka berhati-hati. Mereka lalu pergi. 


Fenqing memberikan kartu nama yang ia dapat pada Xiaobin. Ia memberitahu kalo orang itu harus dimasukkan ke dalam daftar hitam. Xiaobin nggak boleh menerima reservasi mereka lagi. Xiaobin meledek, Fenqing nggak bilang gitu ke wartawan tadi? Fenqing memaksa Xiaobin agar segera mengambilnya. 


Xiaobin menghampiri Fenqing dan mengambil kartu nama itu. Fenqing memberitahu kalo dia bukanlah orang yang dermawan. Tingen tahu-tahu datang dan mengambil kartu nama itu. Jadi Fenqing hanya akting tadi? Ia bertanya apa Fenqing benar-benar mendengarkan apa yang ia sampaikan sejam yang lalu? 


Tingen memberikan kartu nama itu pada Xiaobin lalu menatap Fenqing dengan tatapan tajam. Fenqing nggak terpikir kalo dia akan menghukumnya, kan? Apa dia benar-benar nggak bisa dipercaya oleh Fenqing? Fenqing memberitahu kalo dia mempercayai Tingen. Dia nggak merasa kalo Tingen menghukumnya dengan menaruhnya di depan. Tingen laku menanyakan alasannya. 

Flashback...


Tingen menunggu Fenqing di luar mobil sambil meminta Fenqing untuk percaya padanya karena ia akan melindungi Fenqing. Dan percaya kalo Tingen nggak akan menyakitinya. 

Flashback end...


Fenqing memberitahu kalo Tingen pernah bilang nggak akan pernah menyakitinya. Itulah sebabnya Fenqing mempercayainya. Fenqing lalu pamit. Dia akan masuk dulu. 


Fenqing lalu berbalik. Dan belum juga dia mulai melangkah, dia sudah kembali berbalik. Tingen sendiri kembali meraba dadanya yang terasa sakit. Tapi ia segera menyembunyikannya ketika ia melihat Fenqing kembali. 


Fenqing menanyakan apa Tingen tahu kari Thailand yang paling terkenal? Tingen tersenyum. Ia memberitahu kalo ada banyak. Misalnya kari kepiting tumis dan sebagainya. Fenqing tersenyum. Ia lalu kembali bertanya apa Tingen tahu dari mana asalnya? Tingen npak memikirkannya. Ia dengar kokinya mengira kalo bubuk kari adalah bubuk cabai. Ia kemudian memasaknya dengan kepiting dan menyajikannya pada pelanggan. Ternyata pelanggan itu menyukainya dan mulailah dikenal dengan nama itu. 


Fenqing tersenyum membenarkan. Ia melangkah mendekati Tingen dan mengatakan kalo meski koki berbakat dan hidangannya yang lezat terus bergerak menuju kesempurnaan, tapi bukankah sesekali mengalami kemalangan adalah sesuatu yang indah? 


Tingen sampai nggak bisa berkata-kata menghadapi muridnya sendiri. Fenqing maju lagi. Ia berbisik kalo dia ngak keberatan jadi kesalahannya Tingen. Fenqing tersenyum manja menatap Tingen. Dan Tingen sendiri hanya bisa mematung. Fenqing lalu berbalim dan meninggalkan Tingen. 


Tingen baru bisa kembali bernafas setelah Fenqing pergi. Ia meremas dadanya yang kembali sakit. Tiba-tiba Tingen tersenyum. Ia merasa sedikit tahu apa yang terjadi pada dirinya. Fenqing adalah kesalahan itu. 

Flashback...


Fenqing marah-marah pada Tingen di pasar malam. Siapa yang memberi Tingen hak untuk mengatakan kalo karinya salah? Dikiranya dia siapa? Tingen memgingatkan kalo dunia kari nggak semudah yang Fenqing pikirkan. 


Fenqing datang ke La Mure dan meminta Tingen untuk mengajarinya. Ia yakin kalo dalam tujuh hari dia pasti bisa mempelajarinya. Tingen sendiri hanya menatapnya sambil senyum seolah nggak yakin. 


Setelah menjadi muridnya, Fenqing sesumbar kalo keahlian memasak ayahnya dan indera peeasanya ada dalam darahnya. Fenqing nggak percaya kalo dia nggak bisa melakukannya. Fenqing berani memberitahu Tingen kalo daging yang ia gunakan itu salah. 


Dan saat turun gunung untuk mencari telur. Fenqing menahannya meski kakinya tengah terluka. Tingen menyuruhnya untuk naik ke punggungnya. 


Saat di dapur Presdir Wang, Fenqing merasa berat hati karena dia membawa nama besar La Mure dan Tingen. 


Dan dengan berbangga ia mempersembahkan ayam goreng kemangi tanpa tulang dengan paprika untuk disandingkan dengan anggur presdir Wang. 

Flashback end...


Tingen tersenyum teringat semua kenangan itu. Ia bahkan merasa nggak sabar untuk melihat pertunjukan Fenqing selanjutnya. 


Xiaobin tiba-tiba datang. Ia mengaku sudah lama mengenal Tingen tapi nggak pernah tahu kalo Tingen sangat peduli pada seseorang. Tingen malas dan berbalik membelakangi Xiaobin. Xiaobin mencontohkan saat Tingen ikut campur saat menangani tamu tadi. Tingen membiarkan Fenqing mengurusnya dan menemaninya minta maaf setelahnya. Tingen duduk dan Xiaobin mengikuti. Xiaobin bertanya kenapa? 


Tingen malah balik nanya. Kapan Xiaobin pernah melihatnya menerima pegawai magang? Xiaobin menjawab nggak pernah. Tingen membenarkan. Ia memberitahu kalo Fenqing adalah pegawai magang pertamanya. Meski hanya tujuh hari, tapi ia adalah gurunya. Ia merasa bagus kalo Fenqing ingin membuka restorannya sendiri. Tingen ingin Fenqing tahu saat ia membuka restorannya, bahwa ada bermacam-macam pelanggan. Karena yang paling penting dari sebuah restoran adalah... . 


Xiaobin memotong kalimat Tingen. Ia tahu kenana arahnya. Restoran yang baik harus punya keahlian memasak dan pelayanan yang baik. Saat Tingen memintanya untuk mengurus La Mure, ia sudah memberitahunya berulang kali. Dia sudah tahu semuanya. Xiaobin menggaris bawahi bagian yang penting adalah apakah Tingen hanya ingin melihat Fenqing sebagai pegawai magang? 
Tingen terdiam dan nggak bisa menjawabnya. Xiaobin melanjutkan kalo dia sudah lama mengenal Tingen. Ia mengingatkan kalo 7 hari akan segera berakhir. Kalo memang Tingen nggak hanya ingin melihat Fenqing sebagai pegawai magang, maka pikirkan cara untuk menahannya. 


Xiaobin lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Tingen. Tingen sendiri tampak memikirkannya dalam-dalam. 


Ah Wei berjalan bersama dengan Yang. Ia menanyakan kabar Yang. Gimana hubungannya dengan pacarnya? Apa merrka berdua baik-baik saja? Yang menanyakan apa yang Ah Wei bicarakan? Ah Wei sampai tersedak saat sedang minum. Yang tersenyim dan mengaku kalo dia hanya bercanda. 


Mereka berdua lalu duduk bersama. Ah Wei bertanya apa Yang sudah memberitahu kakanya kalo dia nggak mau belajar memasak? Yang memberitahu kalo raaanya dia ingin keluar dari sekolah. Ah wei mengingatkan kalo Yang adalah orang yang paling dicintai kakaknya. Fenqing seperti ibunya yang ingin Yang belajar memasak. 


Yang mengaku sudah tahu. Itu untuk mengembalikan gelar raja kari ayahnya. Ah Wei mengangguk mengiyakan. Yang lalu meminta Ah Wei agar mendukungnya. Yang mengamcam akan kabur kalo dia mendengar kata-kata itu lagi. 


Tianzhi dan Ruxi masih di perjalanan. Tianzhi mengaku ingin bertanya sesuatu pada Ruxi tadi. Apa yang kakaknya katakan saat Ru i membawakannya sup penghilang mabuk tadi? Ruxi tampak ragu menjawabnya. 

Flashback...


Tingen sama sekali nggak memandang Ruxi yang ada di depamnya. Ia terus memperhatikan Fenqing yang jauh. 

Flashback end...


Ruxi memberitahu kalo kakaknya nggak bilang apa-apa. Dia nggak peduli seberapa datarnya rasa itu, makin hari makin kuat. Dan akan berakhir sebagai bentuk kebiasaan menjadi rasa ibu dan kampung halaman. Tianzhi nggak tahu apa yang Ruxi bicarakan. 


Ruxi berharap kalo Tingen adalah Bole dan bukan Neruda. Tianzhi tersenyum. Dia makin nggak ngerti maksudnya. Ruxi memberitahu kalo Bole bisa meligat bakat saat ia menguji kuda, sementara Neruda tahu gimana caranya mencintai dan menghargai. Ruxi tampak sedih. Tianzhi sepertinta menyadarinya. 


Fenqing berjalan sambil jinjit menghampiri Ah Wei. Ia menepuk pundak kanan Ah Wei dari kiri. Ah Wei menengok ke kanan lalu menemukan Fenqing di sebelah kirinya. Fenqing bertanya Ah Wei nggak tinggal dirumahnya selama menjaga adiknya, kan? Ah Wei bahkan nggak membuka bisnisnya. Ah Wei hanya tersenyum. 


Fenqing merangkul Ah Wei dan memujinya sebagai saudara yang benar-benar setia. Gimana Fenqing harus membalasnya? Fenqing lalu menawarkan akan memasak sesuatu untuk Ah Wei. Fenqing sudah mau pergi tapi Ah Wei malah menariknya. Ah Wei bertanya apa Fenqing tahu kalo Yang benar-benar nggak suka memasak dan berpikir untuk meninggalkan rumah? 


Fenqing mengaku sudah tahu. Karena itulah dia minta bantuan Ah Wei. Ah Wei mengatakan kalo dia jadi Fenqing, ia akan membiarkan Yang pergi. Fenqing terkejut mendengarnya. Kenapa? Ah Wei jelas-jelas tahu kalo ia dan ibunya sangat mengkhawatirkan Yang. Fenqing bahkan menelpon Ah Wei dan minta agar mengawasi Yang. Kenapa Ah Wei membiarkannya pergi? 


Fenqing hendak pergi mencari Yang. Ah Wei menariknya dan minta agar Fenqing mendengarkannya dulu. Fenqing bertanya kenapa Ah Wei begitu padanya. Padahal ia sangat mempercayainya. Fenqing menghempaskan tangan Ah Wei tapi Ah Wei kembali meraihnya. Ah Wei memberitahu kalo Fenqing dan ibunya terus memaksa Yang maka mereka hanya akan membuat Yang pergi. Fenqing nggak ngerti. Siapa yang memaksa Yang? Ah Wei bertanya apa Fenqing ingat saat pertama kali ketemu dia? 

Flashback...


Fenqing tengah berjualan di pasar malam. Ah Wei sedang bersama pacarnya. Ah Wei memberitahu Qiqi pacarnya kalo dia punya berita bagus. Qiqi bertanya apa ayah Ah Wei menerima mereka? Ah Wei bilang kalo mulai sekarang mereka bebas. Ayah Ah Wei mengatakan kalo Qiqi bersama dengannya hanya karena dia kaya. Ah Wei nggak mau ayahnya menghina Qiqi. Jadi ia memutuskan hubungan dengan ayahnya. 


Qiqi terkejut mendengarnya. Ah Wei mengaku sudah memikirkannya. Ia akan mencari kerja besok. Ah wei siap menghidupinya. Qiqi melepaskan tangan Ah Wei dan nggak mau lagi bersamanya. Ah Wei mengatakan kalo ayahnya memberinya syarat. Kalo ia mau bersama Qiqi maka ia harus meninggalkan rumah. Ah Wei memutuskan memilih Qiqi. Apa Qiqi nggak senang? 


Qiqi malah tersenyum. Ia mengaku nggak ingin bersama pria yang meninggalkan rumah dan nggak punya uang, nggak punya latar bekakang dan nggak punya status. Nggak seharusnya masa mudanya ia habiskan dengan seorang pecundang. Qiqi berbalik dan siap untuk pergi tapi Ah Wei malah menarik tangannya. Qiqi memberitahu kalo mulai sekarang mereka nggak punya hubungan apa-apa. Qiqi menarik tangannya  dan pergi begitu saja. 


Mata Ah Wei tampak merah. Fenqing melihatnya. Sedetik kemudian Ah Wei malah tertawa menyadari kalo apa yang ayahnya bilang adalah benar. Qiqi ingin bersamanya hanya karena keluarganya kaya. Ah Wei bahkan meninggalkan rumah demi Qiqi. 


Fenqing memanggil Ah Wei, anak sekolah. Apa dia lapar? Fenqing memberikan makanan pada Ah Wei. Dia traktir. Ah Wei menatap Fenqing tanpa bilang apa-apa. Fenqing memberitahu kalo dia sedang mencari pekerja. Meski kehilangan cinta, seenggaknya Ah Wei masih butuh makan, kan? Ah wei tersenyum lalu mengambil makanan itu. Fenqing berharap Ah Wei akqn bahagia setiap harinya dab berharap kalo setiap hari adalah hari yang baik. Ah wei tersenyum dan berterima kasih. Fenqing mengingatkan agar Ah Wei datang bekerja besok. 


Ah Wei menangis di dekat tangga sambil membenturkan kepalanya ke tembok. Fenqing menghampirinya dan bertanya ada apa dengannya? Fenqing meminta agar Ah Wei sadar dan mengajaknya pergi. Fenqing mendorong Ah Wei dan menyiramnya pakai air. Fenqing meminta agar Ah Wei sadar. Apa dia tahu sedang ngelakuin apa? Ah Wei cuman patah hati tapi kenapa dia malah jadi gini? Dia masih muda dan nggak ngerti apapun. 


Ah Wei mengatur nafasnya yang nggak beraturan lalu menatap Fenqing. Fenqing bertanya apa Ah Wei pantas melakukannya demi wanita yang nggak mencintainya? Ah Wei hanya bisa menangis.


Fenqing panik mendapatkan ibu yang jatuh pingsan. Ia merawat ibu yang nggak sadarkan diri. Ibu mengigau mengatakan kalo Yang harus belajar memasak. Dia harus menunaikan harapan ayahnya. 


Mendadak Fenqing menjadi sedih. Ia menangis di balik pintu. Ah Wei menghampirinya dan duduk di sampingnya. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Fenqing dan menyemangati agar Fenqing jangan takut. Nggak papa. 


Fenqing malah jadi makin sedih. Ia lalu meletakkan kepalanya di pundak Ah Wei. 

Flashback end...

Bersambung...


Komentar:
Tingen akhirnya menyadari kalo ia mulai ada rasa ke Fenqing. Jatuh cinta ternyata membuat dadanya sakit. Tapi apa dia akan melakukan sesuatu secara 7 hari akan segera berakhir. 

Salam
Anysti18