Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 7 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 7 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 7 Part 3

Fenqing menghampiri Tingen dan memberikan daging yang ia minta. Tingen meminta Fenqing untuk membantunya menyiapkan bahan-bahan. Fenqing mengiyakan sambil terus menatap Tingen. Tingen ingin Fenqing memanfaatkan kesempatan itu untuk membuatnya akrab dengan kari putih. Sebenarnya kari putih sama dengan kari biasa. Yang terpenting adalah mengurangi jumlah serai dan lengkuas dan tambahkan lebih banyak susu. Kalo di masakan barat, sedikit mirip dengan saus putih. 


Tingen menyadari kalo Fenqing terus menatapnya dari tadi. Ia pun menanyakannya. Ada apa? Fenqing mengatakan nggak ada apa-apa. Tingen lalu mengatakan akan mengiris dan menyuruh Fenqing untuk membantunya menggiling. Mereka bertukar posisi. Fenqing menggiling bumbu dengan terus menatap Tingen. 


Tingen memberitahu kalo ada banyak macam kari putih. Contohnya kari putih Hokaido dan kari putih Jawa. Kari putih Hokaido lebih banyak menambahkan produk susu, sedangkan untuk kari putih jawa lebih banyak menambahkan serai dan lengkuas. Ia menambahkan kalo itu sederhana. Tingen merasa kalo persiapannya sudah hampir selesai. Yang tersisa hanya bawang putih. 


Fenqing mengambilkan bawang putih dan memberikannya pada Tingen. Tingen melihat Fenqing yang cekatan lalu berterima kasih. Ia lalu memotongnya. Tingen melihat ayam hari ini sangat segar. Mereka akan membuat kari putih ayan Hokkaido. 


Tingen sudah selesai memotong bawang. Ia lalu menumisnya. Ia menambahkan semua bahan dan mengaduknya dan Fenqing terus memperhatikan. Tingen lalu meminta sendok pada Fenqing. Fenqing mengambilnya dan memberikannya pada Tingen. Tingen mencicipi masakannya dan tampaknya masakan itu nggak sesuai harapan. 


Tingen berbalik dan menatap semua bumbunya. Fenqing menatapnya dan bertanya apa Tingen sudah lupa apa yang pernah Tingen katakan padanya sebelumnya? Saat itu Tingen mengatakan kalo kita nggak fokus, maka makanan kita nggak akan lezat. Fenqing memberitahu kalo sekarang Tingen seperti dirinya waktu itu. Tingen lalu pamit. Ia akan keluar sebentar. 


Tingen duduk menyendiri di depan La Mure. Fenqing berjalan melewatinya. Tingen melihatnya dan bertanya-tanya apa yang Fenqing lakukan? Fenqing berjalan lagi dan baru menyadari kalo ternyata Tingen ada di sana. Fenqing bertanya apa yang terjadi? Apa Tingen merasa nggak nyaman? 


Tingen bangkit dan hendak pergi. Fenqing menahannya dan memintanya untuk kembali duduk. Fenqing memberitahu kalo Tingen sakit maka ia harus ke dokter. Tingen menatap Fenqing dan balik nanya, siapa yang bilang kalo dia sakit? Fenqing melipat tangannya dan bertanya kenapa Tingen sangat keras kepala? Ia akan memberi Tingen dua pilihan. Pertama, menunggunya mengambil obat. Kedua, ia akan membawa Tingen ke dokter sekarang. Fenqing mempersilakan Tingen untuk memilih. 


Tingen menyatakan kalo dia nggak sakit jadi nggak perlu makan obat. Fenqing menatap Tingen tajam. Tatapan itu membuat Tingen merasa nggak nyaman. Ia pun memalingkan wajahnya. Fenqing merasa kalo itu bagus kalo hati Tingen terasa sakit. 


Tingen mengangkat wajahnya dan menatap Fenqing. Ia bertanya siapa yang telah memberitahu Fenqing? Xiaobin? Fenqing nggak mau memberitahu. Ia menatap Tingen dan mengatakan kalo bukan berarti di sana nggak ada luka. Hanya saja itu nggak terasa sakit. Itu terasa sakit karena Tingen menyembunyikan perasaannya. 


Tingen terus menatap Fenqing. Fenqing memberitahu kalo yang lebih penting adalah walaupn kejadian itu sudah berlangsung lama, saat Tingen memikirkannya itu masih akan terasa sakit.


Tingen memalingkan wajahnya dan matanya tampak berkaca-kaca menahan sedih. Fenqing mengingatkan kalo saat Tingen merasa sakit, ia bisa pergi ke dokter dan ia akan diobati. Tingen menatap Fenqing dan bertanya apa yang ingin ia katakan? Tingen akan memberinya dua pilihan. Pertama, Fenqing pergi. Kedua, dia yang akan pergi. Tingen meminta Fenqing untuk menentukan pilihannya. 


Fenqing memberitahu kalo Tingen pergi, artinya ia mengakui kekalahannya. Dalam kompetisi memasak, koki yang nggak menyelesaikan masakannya, meski punya kualifikasi yang tinggi dan teknik memasak yang mengagumkan, maka itu nggak akan ada gunanya. Itu adalah kekalahan. Apa Tingen ingin kalah? Tingen menatap Fenqing dan nggak bilang apa-apa. 


Sebentar kemudian dia nemilih untuk menundukkan wajahnya seolah mengakui semua perkataan Fenqing. Fenqing tersrnyim. Kalo saja dia tahu dari awal, saat pertama kali datang ke La Mure, dia akan menantang Tingen untuk memasak kari putih. Meskipun masakannya buruk, Fenqing yakin kalo dia masih akan menang karena Tingen nggak tahu cara membuatnya. Tingen seketika kembali nenatap Fenqing. Fenqing bertanya apa dia salah menilai? Tingen tersenyum, menggunakan teknik menghalau? Ia membeitahu kalo itu bekerja untuknya. Ia pun berterima kasih pada Fenqing. 


Tingen lalu mengajak Fenqing untuk masuk ke dalam. Tingen dan Fenqing hendak bangkit tapi jadinya mereka malah berbenturan. Tingen mengalah dan menyuruh Fenqing untuk duluan. Fenqing menurut. Ia pun bangkit. Tingen meminta Fenqing untuk menariknya. Kakinya kaku. Fenqing kembali menurut dan membantu Tingen bangkit. 


Tingen membuat ulang kari putihnya. Kali ini dia lebih fokus dan bersemangat. Dan hasilnya sangat memuaskan. Fenqing mencobanya dan rasanya enak. Tingen ikut mencoba. Sesaat ia nampak terharu. Akhirnya ia berani membuatnya. Tingen menatap Fenqing dan tersenyum. 


Tanpa mereka sadari Xiaobin diam-diam mengawasi dari balik pintu. Ia juga ikut tersenyum. 


Masakan Tingen disajikan pada tamu. Para tamu mulai menyantap  makanannya dan nampak puas dengan rasanya. 


Tingen sendiri malah memilih berdiam diri di dapur. Fenqing menghampirinya dan bertanya apa Tingen mencarinya? Tingen mengangkat wajahnya dan membenarkan. Dia memang mencari Fenqing. Ia mengingatkan kalo tadi pagi Fenqing bertanya padanya, apakah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Fenqing? Fenqing mengingatkan kalo Tingen bilang itu nggak penting. Ia merasa kalo Tingen nggak perlu mengatakannya. 


Tingen menyangkal. Ia memberitahu kalo itu sangat penting. Fenqing merubah posisinya menjadi posisi siap. Dia bertanya-tanya, bukan itu, kan? Apa dia akan menyatakannya sekarang? Tingen menatap Fenqing lembut. Ia mengatakan kalo nggak sekarang maka ia nggak akan punya kesempatan lagi. Fenqing bingung. Apa maksudnya nggak ada kesempatan lain? Memangnya apa yang ia inginkan? 


Tingen bertanya kenapa Fenqing nampak gugup? Fenqing membatin, bukankah biasanya orang yang akan menyatakan cinta yang lebih gugup? Kenapa Tingen malah nampak sangat tenang? Fenqing melakukan peregangan tangan dan bilang kalo dia nggak gugup. 


Tingen lalu membuka kain yang ada di depannya. Ujian mencampur bumbu. Fenqing terkejut. Ujian? Tingen melanjutkan kalo ia tiba-tiba menyadari kalo Fenqing ingin belajar gimana cara memasak kari maka ia harus mengenal bumbu dengan sangat baik. Ia memberitahu kalo ada sepuluh jenis bumbu. Ia sudah membuat 5 pengaturan berbeda dan menyuruh Fenqing untuk mencoba semuanya. Setelah mencoba, Fenqing harus menulis semua nomornya. Ia memberi waktu 2 menit dari sekarang. 


Fenqing terkejut dengar dia hanya punya waktu dua menit. Ia pun bergegas mencicipi bumbu pertama dan menulisnya. 5, 2, 0. Aku mencintaimu. Lah? Fenqing langsung melongo menatap Tingen. Tingen dengan tenang mengangguk padanya. 


Fenqing menyendok bumbu kedua. 3, 2, 0, 6, 9. Ingin mencintaimu selamanya. Ha? Tingen tersenyum manis menatapnya. Fenqing menutupi wajahnya saking malunya. 


Bumbu ketiga. 2, 6, 0. Mencintaimu diam-diam. Fenqing mulai tenang dan menatap Fenqing tajam. Dia tahu sekarang. 


Bumbu keempat. Tingen mengingatkan kalo waktu Fenqing hampir habis. 3, 7, 0. Aku ingin menciummu. Ha? Fenqing menatap Tingen yang mengetuk-ngetuk bibir. Fenqing berbalik dan makin malu. 


Ia kembali lagi dan menyendok bumbu terakhir. 7, 8, 9, 5. What? Peluklah aku dengan erat. Dan secara kebetulan Tingen jugs mengusap lengannya. Ia lalu menatap Fenqing dan mengangguk. Fenqing sendiri hanya bisa melongo nggak percaya. 


Tingen mengambil kertas jawaban Fenqing. Fenqing refleks mundur agar Tingen nggak bisa menyentuhnya. Ia berbalik dan panik sendiri. 


Tingen memeriksa jawabannya. Yang pertama, 5, 2, 0. Tingen membenarkan. Ia mengaku sangat suka group itu. Fenqing melotot. Suka? Apa maksudnya suka? Ia lalu bilang, oh. Tingen malah bertanya apa maksudnya oh? Apa Fenqing nggak menyukainya? 


Kedua, 3, 2, 0, 6, 9. Ia merasa kalo Fenqing pasti mengingat nomor group itu. Fenqing bertanya kenapa? Tingen mengingatkan kalo itu adalah yang terbaik dan yang paling sering digunakan. Fenqing mulai malas. 


Group ketiga. Tingen terkejut lihat jawaban Fenqing benar. Dia pikir Fenqing bakal salah. Fenqing kembali bertanya, kenapa? Tingen balik nanya, apa Fenqing lupa? Bumbu yang digunakan pada Burger Kari Udang Mini Fenqing di pasar malam ada di group itu. Fenqing malah merasa nggak yakin, benarkah? Tingen mengiyakan. Ia hanya mengubahnya sedikit. 


Group 4 & 5, 3, 7, 0 dan 7, 8, 9, 5. Tingen memberitahu kalo sebrnarnya dia sedang mempertimbangkan dari kedua kelompok itu yang harus ia gunakan lebih dulu. Tingen bertanya mana yang paling Fenqing sukai? Fenqing melongo menatap Tingen. Ia membatin kalo nggak masalah  Tingen menyatakan cinta padanya. Tapi Tingen ingin mencium atau memeluknya? 


Fenqing menunjuk Tingen dan memintanya berhenti bermain-main. Nggak ada siapapun disana. Ia memberitahu kalo apa yang Tingen lakukan adalah melanggar hukum. Fenqing berjalan menjauh. Ia memperingatkan agar Tingen jangan membuatnya marah. Ia akan melakukan sesuatu yang tegas saat ia gugup. Tingen nggak ngeh. Apanya yang melanggar hukum? Ia memanggil Fenqing yang sudah pergi. Kenapa kabur? 


Fenqing frustasi di kamarnya. Ia sedang menulis resep tapi sama sekali nggak bisa fokus. Ia selalu teringat dengan Huo Tingen. Ujian ya ujian. Apa itu 521 dan 261? 


Fenqing mengambil ponselnya dan melihat video Tingen. Ia merasa kalo Tingen pasti lupa kalo dia akan menyatakan cinta. Tingen bahkan serius dan mondar-mandir di depannya. Sekarang apa? Tingen akan menyatakan cinta, harusnya Tingen yang tampak aneh. Kenapa mesti dia? 


Fenqing merasa kesal dan pindah ke tempat tidur. Sesaat kemudian ia malah membenarkan. Ia ingat kalo saat itu Huo Tingen sedang mabuk. Dan saat orang mabuk, biasanya kata-katanya nggak bisa dipercaya. Fenqing yakin. Tapi sesaat kemudian dia juga menyesal. Kenapa dia mesti mabuk? Kenapa juga dia merekam video itu? Gini kan akhirnya? Cuman dia yang tahu. 


Mendadak Fenqing jadi bertanya-tanya. Setelah semuanya apakah Tingen ingin mengetahuinya? Atau malah enggak? Fenqing kembali mengambil ponselnya dan jadi sebel sendiri. Ia berniat menghapus video itu tapi... . Nggak tahu kenapa Fenqing malah merasa sayang. Apa dia harus menyimpannya saja? Ia akhirnya melepaskan ponselnya dan berusaha jadi lebih tenang. 


Tingen berganti pakaian sambil menelpon Xiaobin. Tingen memintanya untuk mencari nomor telpon adiknya Fenqing. Bisa? Xiaobin mengaku sudah menemukannya. Tingen mengiyakam. Ia lalu meminta Xiaobin untuk menghubunginya dan bilang kalo dia memiliki kesempatan magang di grup Yanis. Xiaobin malah merasa nggak yakin. Apa Tingen harus begitu gara-gara dia adiknya Wei Fenqing? Tingen mulai kesal. Kenapa Xiaobin banyak tanya? Dia kan cuman ngasih kesempatan kalo dia nggak bisa bekerja dengan baik ya pecat saja. Tingen menutup telponnya lalu memakai rompinya. 


Mendadak Tingen jadi terdiam saat melihat foto adiknya, Tingli. Apa lagi? Ia memberitahu kalo dia nggak ingin orang yang ia perhatikan dan anggota keluarganya menjadi gelisah dan meninggalkan penyesalan. Jangan seperti adiknya. 

Bersambung...

Komentar:
Aww...jadi ketawa sendiri pas sesi ujian campur bumbu. Chef memang punya caranya sendiri buat nunjukin perasaannya ke orang yang dia suka. 
Dan memang Tingen perhatian banget sama Fenqing. Sampai mau kasih pekerjaan ke adiknya Fenqing segala. 

Salam
Anysti18