Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 8 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 7 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 8 Part 2

Tingen ingat malam itu. Serelah mereka melepaskan pakaian masing-masing. Fenqing memakai bajunya dan tidur di atas ranjangnya. Fenqing mengigau mengatakan kalo tempat itu adalah kapalnya. Fenqing mendorongnya dari tempat tidur dan nggak mengijinkannya untuk naik. Fenqing bahkan mengatakan kalo tempat itu adalah miliknya. Fenqing terus memukul Tingen agar menyingkir. Tingen memhon agar Fenqing mau menyingkir dari tempat tidurnya tapi malah ditendang sama Fenqing. 


Fenqing mengambil ponselnya dan merekam Tingen. Ia menganggap kalo Tingen adalah monster laut. Tingen mengambil ponsel Fenqing lalu bangkit. Ia mengangkat kedua tangannya dan menjatuhkan diri di samping Fenqing. Fenqing ketakutan dan mau nggak mau ia terpaksa minggir. 


Tingen tersenyum ingat kalo malam itu nggak terjadi apa-apa antara mereka berdua. Ia bertepuk tangan saking girangnya. Ia yakin kalo ia bukan orang seperti itu. Ia pun membangunkan Fenqing. Ia memberitahu Fenqing kalo ia sudah ingat semuanya. Ia ingat semua yang terjadi malam itu dan semuanya hanyalah salah paham. 


Fenqing membuka matanya dan terkejut lihat Tingen ada di depan matanya. Ia mendorong Tingen dan menjauh. Tingen memberitahu kalo dia sudah ingat apa yang terjadi malam itu. Ia terlalu senang. Tingen memberitahu kalo hari itu dia bilang aku dan kamu dan bukannya aku mencintaimu. 


Tingen lalu meminta ponsel Fenqing. Ia meminta Fenqing untuk membuka videonya. Fenqing menurut san memberikannya pada Tingen. Tingen meminta Fenqing untuk melihatnya baik-baik. Tingen mengatakan kalo aku dan kamu nggak akan berakhir. Itulah yang sebenarnya Tingen katakan dan bukannya aku mencintaimu. Malam itu Fenqing terus memukulnya dan karena itulah dia marah dan mengancam Fenqing. Ngerti. Tingen menganggap kalo masalah itu sudah selesai. Itu hanya kesalahpahaman kecil. 


Fenqing sendiri masih belum ngeh. Ia menangkap kalo Tingen menganggap kalo dialah yang salah. Tingen jujur mengiyakan. Ia merasa kalo ada yang salah dengan Fenqing. Ia merasa kalo Fenqing terkena halusinasi pendengaran yang parah. Fenqing malah nggak tahu kalo da punya halusinasi pendengaran. Ia membalikkan kalo Tingenlah yang punya lidah besar. Tingen nggak merasa kalo dia punya lidah yang besar. Justru Fenqing yang keterlaluan. Tingen nggak peduli apakah video itu benar atau enggak tapi apa Fenqing perlu menginterogasinya? 


Fenqing malah jadi tersinggung. Apa maksudnya menginterogasi? Apa dia nanyain sesuatu pada Tingen? Tingen malah tersenyum dan hal itu justru membuat Fenqing jadi makin kesal. Ia pun membenarkan kalo dia menanyakan itu ke Tingen. Tapi dia menanyakannya untuk menolaknya. Dia mau menolak Tingen. Kenapa emang? Fenqing terus maju dan mendesak Tingen. Ia mengatakan kalo dia sudah menolak Tingen semalam. 


Fenqing malas lalu menjauh. Ia meminta Tingen untuk melupakannya saja. Sejak awal mereka memang nggak mungkin. Jelas-jelas kalo itu adalah sebuah kesalah pahaman. Fenqing makin frustasi dan mengacak-acak rambutnya. 


Tingen menatapnya dan bertanya gimana kalo itu bukanlah kesalahpahaman? Fenqing terdiam dan menatap Tingen. Tiba-tiba Tingen mendekatkan wajahnya dan bertanya gimana kalo semua yang terjadi malam itu adalah kenyataan? Apa yang akan Fenqing lakukan? Fenqing mundur. Ia nggak tahu apa yang akan ia katakan. Tingen memintanya untuk menjawab. Apa jawaban Fenqing? Apa Fenqing akan bilang ya atau enggak? 


Tubuh Fenqing makin condong gara-gara Tingen terus mendekat. Fenqing mengedip-ngedipkan matanya dan jadi gugup. Ia mendorong tubuh Tingen. Kenapa dia harus menjawab pertanyaan hipotesis seperti itu? Ia mengatakan kalo itu nggak berarti. Fenqing mengambil jaketnya berniat pulang. Ia memberitahu kalo ponsel Tingen bunyi. Fenqing keluar tanpa mau mendengar omongan Tingen lagi. Tingen bertanya Fenqing mau kemana? Ia lalu mengambil ponselnya. 


Fenqing memakai sepatunya sambil menggerutu. Orang yang menelpon adalah Tianzhi. Fenqing bangkit dan melangkah. Ia bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan? Apa sebenarnya maksud Tingen? Ia merasa kalo itu sangat menakutkan. Ia lalu memakai jaketnya. 


Tingen membuka tenda dan memanggil Fenqing. Ia melempar tas dan menyuruh Fenqing untuk menangkapnya. Tingen memakai sepatunya sambil menceritakan kalo adik laki-lakinya menelpon dan mengabarkan kalo neneknya masuk rumah sakit. Ia harus bergegas ke rumah sakit. Nggak papa kalo Fenqing nggak membereskan tendanya. Fenqing mengiyakan. 


Tingen menghampiri Fenqing dan mencari kunci mobilnya di saku celananya. Nggak ada. Ia lalu kembali ke renda untuk mencari kunci mobilnya tapi tetap nggak ketemu. Fenqing mendekat dan mengambil kunci mobil Tingen yang sebenarnya ada di dekat Tingen. Ia meraih tangan Tingen dan menyerahkannya. Ia melarang tingen untum panik. Ia akan ikut ke rumah sakit. Tingen mengiyakan dan berterima kasih. Mereka pun segera bangkit dan pergi. 


Tingen menjalankan mobilnya dengan perasaan nggak karuan. Fenqing menatapnya khawatir dan bertanya apa dia baik-baik saja? Tingen mengangguk mengiyakan tapi jelas-jelas tampak kalo dia nggak baik-baik saja. Fenqing melarangnya khawatir. Ia yakin kalo nenek Tingen pasti akan baik-baik saja. Ia menceritakan kalo saat ibunya sakit, ia juga sangat khawatir. Tapi akhirnya ibunya membaik. Itulah sebabnya Fenqing yakin kalo nenek Tingen juga akan baik-baik saja. Mungkin saja sekarang dia sudah membaik di rumah sakit. Saat neneknya melihat Tingen khawatir, dia akan merasa kalo itu adalah hal yang lucu dan menyenangkan. 


Tingen mengangguk dan berterima kasih. Ia merasakan niat baik Fenqing. Tapi bisa nggak Fenqing diam sedikit saja? Fenqing tersenyum. Ia bertanya kalo bicara tanpa henti benar-benar mengganggu Tingen? Tingen nggak menjawab. Fenqing mengatakan kalo ibunya terbiasa bicara padanya. Kalo dia menikah, itu akan memenuhi harapan ibunya. Tapi Fenqing mengaku ingin ibunya tetap di sisinya. Jadi dia harus menikah apa enggak? 


Tingen menatap Fenqing heran. Memangnya berapa umur Fenqing sekarang? Apa nggak terlalu cepat untuk mengkhawatirkan pernikahan? Tingen memberitahu kalo semua orang tua di dunia akan mengharapkan anaknya untuk cepat berkarir dan berkeluarga, menikah dan punya anak. Ia merasa kalo itu adalah hal yang normal. Ia memberitahu kalo ibunya juga sama. Ia sering ditekan untuk segera menikah. Tapi ibunya beda. Ibunya mengharapakan pernikahan yang menguntungkan bisnis. 


Tingen mengatakan kalo neneknya beda. Walaupun neneknya nggak benar-benar mengatakannya, tapi Tingen tahu kalo nenek berharap untuk segera menimang cucu. Nenek nggak bisa menahan untuk memberitahunya. Tiap kali ia melihat Tingen, ia akan ... . Mendadak Tingen jadi sedih dan nggak bisa menyelesaikan kalmatnya. Ia bertanya kenapa mereka harus ngomongin tentang pernikahan? 


Fenqing tersenyum. Ia berkata kalo cuman omong kosong buat mengganggu Tingen. Bukanksh sangat manjur? Ia mengulurkan tangannya dan meminta Tingen untuk mengumpulkan energi positif. Tingen menatap Fenqing seolah bilang, nggak lihat kalo dia sedang menyetir? Fenqing menyadari tatapan Tingen dan membatalkannya. 


Fenqing lalu bertanya gimana kalo mereka membayangkan? Apa Tingen tahu hukum dari atraksi? Ia memberitahu kalo hukum dari atraksi sangat berguna. Selama Tingen memikirkan segala sesuatu yang positif dalam hati maka ia akan menarik banyak hal positif. Ia lalu mengajak Tingen untuk berkonsentrasi. 


Tingen mengaku nggak tahan lagi. Ia memberitahu kalo sekarang ia hanya mengkhawatirkan neneknya. Ia hanya ingin segera sampai di rumah sakit jadi tolong Fenqing diam saja. Fenqing tersenyum menatap Tingen. 


Tingen dan Fenqing sampai di rumah sakit. Seorang perawat menemani mereka menuju kamar nenek. Sepanjang naik lift Tingen tampak sangat cemas. 


Perawat menunjukkan kamar nenek. Tingen membuka pintu kamar nenek dan meminta Fenqing untuk menunggunya di luar. Fenqing mengangguk mengiyakan. 


Tingen masuk dan menyapa ibunya juga Tianzhi. Ibu bangkit dan menghampiri Tingen. Ia memberitahu kalo nenek baik-baik saja tapi dia masih harus diperiksa beberapa hari lagi. Ibu memberitahu kalo nenek baru saja tidur. Ibu menyuruh Tingen untuk melihatnya. 


Tingen menurut dan menghampiri nenek yang terbaring. Tingen memanggil nenek dan memberitahu kalo dia datang untuk melihat nenek. Nenek hanya bilang hmm tanpa membuka matanya. Tingen bertanya apa nenek baik-baik saja? Apa jatuh sangat menyakitkan? Tingen mengaku sangat mengkhawatirkan neneknya. 


Nenek membuka matanya dan bertanya seberapa buruknya itu? Nenek menatap Tingen dan bertanya apa lagi yang bisa ia lakukan? Nenek mencium Tingen dan memberitahu kalo dia hanya jatuh. 


Nenek bangun dan duduk. Ia memberitahu kalo ia sudah melarang Tianzhi dan Haiwei agar jangan mengatakan apapun. Tapi mereka mencari dokter dan kamar yang besar dan mengatakan kalo ia perlu diperiksa untuk satu hari. Nenek memarahi Tianzhi yang menurutnya sangat mengganggu. Tianzhi sendiri hanya tersenyum. 


Ibu memberitahu nenek kalo mereka harus berhati-hati. Nenek malah menuduh kalo mereka sengaja mengatur semua itu agar ia nggak bisa menghadiri rapat direksi. Ibu mengatakan kalo itu nggak benar. Tianzhi juga mengatakan kalo itu nggak benar. 


Nenek menatap Tianzhi dan bertanya apa Meili sudah kembali? Tianzhi mengatakan akan segera menjemputnya. Tingen menatap neneknya dan menyindir kalo semangat nenek tampak sangat baik. Nenek mengangguk manja. Tingen bertanya kenapa? Nenek mengatakan kalo bertemu dengan Tingen adalah hal yang paling berharga dari jatuhnya hari ini. 


Tingen merasa nggak enak. Kenapa nenek ngomong begitu? Ia memberitahu kalo ia akan datang dan makan dengan nenek kalo nenek menelponnya. Ibu seolah membenarkan kalo nenek hanya merindukan Tingen. Nenek berharap agar Tingen bisa segera pulang ke rumah. 


Tingen memberitahu kalo bukannya dia nggak mau. Tapi dia terbiasa hidup sendiri. Kalo nenek menginginkannya untuk kembali maka ia akan merasa nggak bebas. Nenek merajuk dan memalingkan wajahnta. Tianzhi mengingatkan kalo sekarang nenek sudah tua dan juga kakinya sedang terluka. Ia menyarankan gimana kalo Tingen pulang sampai nenek sembuh? 


Tingen tetap merasa kalo dia nggak bisa. Ia memberitahu nenek kalo dia biasanya sangat sibuk. Dia selalu pergi pagi dan pulang malam. Dan lagi ia masih harus jadi tuan rumah acara makan malam Paraguay. Nenek malah menangis dan meminta Tingen untuk memberitahu Paraguay agar nggak datang. Tingen mengatakan kalo nggak bisa begitu. Nenek mengancam gimana kalo dia sendirian di rumah maka nggak akan ada yang menolongnya kalo dia jatuh? Setelah jatuh dia masuk rumah sakit dan tetap nggak ada yang menemaninya. 


Ibu membujuk Tingen agar menuruti permuntaan nenek. Begitu juga dengan Tianzhi. Hanya beberapa hari setelah Tingen selesai dengan pekerjaannya. Ibu juga mengatakan hal yang sama. Gimana kalo Tingen pindah hanya untuk beberapa hari saja? 


Tingen nggak punya pilihan lain. Ia mengiyakan. Setelah selesai bekerja ia akan tinggal di rumah untuk beberapa hari. Nenek langsung semangat dengar Tingen mau pulang. Nenek lalu meminta ponsel Tianzhi untuk merekam pernyataan Tingen agar kedepannya Tingen nggak bisa mengingkari janji. Tingen menurut dan merekam janjinya kalo ia akan pulang ke rumah. Nenek senang bukan main. Ia juga meminta Tingen untuk bilang rindu dan cinta padanya. 


Nenek sampai malu dapat pernyataan cinta dari cucunya. Tingen mengembalikan ponsel Tianzhi dan memintanya untuk menghapusnya. Tianzhi mengangguk mengiyakan. Nenek memeluk Tingen. Tingen menanyakan apa yang ingin nenek makan. Ia akan memasak untuk nenek. 


Fenqing langsung bangkit saat lihat Tingen keluar. Ia bertanya apa nenek baik-baik saja? Tingen mengiyakan. Neneknya baik. Tingen memberitahu kalo dia nggak bisa mengantar Fenqing karena ia harus menjaga neneknya. Fenqing bilang nggak papa. Ia menyuruh Tingen untuk melakukan apa yang harus ia lakukan. Tingen mengiyakan dan berterima kasih. Mereka lalu berpisah. 


Tingen betbalik dan memanggil Fenqing. Ia berterima kasih karena Fenqing sudah membicarakan hal itu di mobil. Walaupun Tingen nggak ngerti apa itu hukum atraksi tapi itu sangat menghiburnya. Fenqing mengatakan kalo itu hanya hal kecil. Tingen bertanya gimana Fenqing pulang? Fenqing memberitahu kalo dia akan menelpon Ah Wei untuk menjemputnya. 


Tingen menyuruh Fenqing untuk menunggu sebentar. Tingen membuka pintu dan pamit pada neneknya kalo dia akan kembali lagi setelah 30 menit. Ia lalu bilang akan mengantar Fenqing. 


Nggak lama kemudian mereka sampai. Fenqing keluar dari mobil Tingen dan mau masuk ke rumah. Tingen memanggilnya dan berterima kasih untuk hari ini, Fenqing sudah mengunjungi neneknya bersamanya. Fenqing tersenyum santai. Ia menyuruh Tingen untuk cepat pulang dan beristirahat. Tingen mengangguk lalu pergi dengan mobilnya. 


Fenqing membuka pintunya dan terkejut melihat Ah Wei tertidur di depan pintu. Ah Wei membuka mata dan langsung bangkit lihat Fenqing sudah pulang. Fenqing berbalik dan berniat pergi. Ah Wei menghampirinya dan menahannya. Ia menatap Fenqing lalu menguap. 


Fenqing melihat wajah Ah wei dan merasa kalo lingkaran hitam matanya sangat parah. Dia pasti butuj istirahat. Fenqing hendak berbalil tapi Ah Wei kembali menariknya. Ia membenarkan kalo dia punya lingkaran mata hitam. Srmalaman dia duduk dan menunggu fenqing pulang. Tapi kenapa semalam Fenqing nggak pulang? Apa Fenqing nggak tahu kalo berbahaya seorang wanita berada di luar sendirian? Apa Fenqing nggak nonton berita? Fenqing mengangguk. 


Ah Wei melanjutkan kalo Fenqing hanya bekerja di La Mure untuk beberapa hari tapi dia sudah nggak pulang selama 3 hari. Ah Wei meminta Fenqing untuk memberitahunya apakah semalam ia bersama Huo Tingen lagi? 

Bersambung...

Komentar: 
Tingen dekat banget ya sama neneknya padahal itu bukan nenek kandungnya. Dan nenek juga kelihatannya sayang banget sama Tingen. Dia bahkan seneng banget pas denger kalo Tingen mau pulang. 

Salam
Anysti18