Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 8 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 8 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 9 Part 1

Fenqing sedang mencatatat bahan makanan. Xiaobin dan Tingen berjalan menuruni tangga. Xiaobin mengaku sudah lama mengenal Huo Tingen. Ia tahu kalo Tingen adalah orang yang tegas. Tapi itu adalah makanan kaki lima Taiwan. Ia pikir kalo Tingen sudah mengambil resiko. Apa Tingen ingin mempertimbangkannya kembali sebelum memutuskan hal itu? Karena ia pikir makanan kaki lima Taiwan adalah... . 


Xiaobin melihat Fenqing dan mengatakan kalo ini waktunya untuk mendapatkan informasi dari ratu pasar malam mereka, Wei Fenqing. Xiaobin menyuruh Tingen untuk bertanya pada Fenqing. Fenqing langsung menoleh dengar namanya disebut-sebut. 


Ia menatap Tingen dan ingat saat tadi pagi Tingen memayunginya dengan jas. 


Saat Tingen mengelap wajahnya yang basah dengan saputangannya. 


Fenqing langsung berbalik dan pergi begitu saja. Xiaobin memanggilnya tapi Fenqing nggak mau kembali. Xioabin menyuruh Tingen untuk pergi dan menanyakannya ke Fenqing. 


Fenqing mencatat anggur. Ia celingukan takut kalo ada Tingen. Xiaobin dan Tingen memanggilnya di dekat pintu. Fenqing lalu menyuruh karyawan lain untuk menolongnya mencatat anggur-anggur itu. Ia lupa harus mengurus ikan. Fenqing pergi. Tingen menyuruh Xiaobin untuk mengejar Fenqing. Mereka berjalan ke arah yang berlawanan. 


Fenqing gugup mencari tempat untuk sembunyi. Tingen dan Xiaobin sampai disana tapi mereka nggak menemukan Fenqing. Xiaobin merasa kalo Fenqing menghindari Tingen. Tingen nggak merasa begitu. Siapa yang bilang? Fenqing memberitahu kalo itu sangat jelas. Harusnya Tingen tahu kalo ini adalah hari terakhirnya di La Mure. Tingen mengangguk membenarkan. Xiaobin meminta Tingen untuk mempertahankan Fenqing. Kalo Tingen nggak punya cara ia punya satu. Ia menyuruh Tingen untuk menggagalkan ujian Fenqing besok dan membuat Fenqing tetap di sana.


Fenqing mendengarkan dari tempat persembunyiannya. Tingen bertanya Xiaobin ngomong apa? Ujian adalah ujian dan makanan enak adalah makanan enak. Xiaobin ingin Fenqing tetap disana tapi Fenqingnya nggak mau. Orang g*la. Tingen lalu pergi. 


Fenqing mengambil beberapa paprika sambil membatin kalo setiap kali ia melihat Tingen kenapa ia merasa gugup dan bertingkah nggak normal? Sangat menyebalkan. Ia menenangkan kalo ia akan baik-baik saja kalo ia nggak bertemu dengan Tingen lagi. Ia akan baik-baik saja kalo nggak ketemu Tingen lagi. 


Xiaobin tiba-tiba memanggilnya dan menyuruhnya untuk meninggalkan barang itu. Ada yang ingin ia sampaikan pada Fenqing. Fenqing bertanya ada apa? Xiaobin menanyakan apa yang terjadi antara Fenqing dan prianya? Kenapa Fenqing terus menghindarinya hari ini? Fenqing menyangkalnya dan memberitahu kalo nggak ada yang terjadi antara mereka. Xioabin menggarisbawahi kalo barusan Fenqing mengakui kalo Tingen adalah prianya. Fenqing jadi salah tingkah. Ia menepuk pundak Xioabin. Ngomong apa, sih? 


Fenqing mau pergi tapi malah ditarik sama Xiaobin. Ia bertanya apa Fenqing pikir itu adalah pertama kalinya ia bekerja? Saat ia jatuh cinta Fenqing bahkan belum lahir. Ia meminta agar Fenqing jadi anak baik dan bilang yang sebenarnya. Xiaobin mengancam kalo Fenqing nggak mau bicara maka dia bakal nanya sama Tingen. 


Xiaobin berseru manggil Tingen. Fenqing buru-buru menutup mulutnya. Xiaobin bertanya lagi, Fenqing mau ngomong apa enggak? Fenqing menghela nafas. Mencoba untuk bersabar. Ia mengiyakan dan akan mengatakannya. Apa Xiaobin tahu kalo Huo Tingen terlalu banyak menuntut, penuh kebencian dan sangat egois? Saat penjual ikan mengatakan kalo Tingen adalah pacarnya, Tingen mengatakan kalo ia nggak memenuhi syarat untuk menjadi pacarnya. Tingenlah yang nggak berhak jadi pacarnya. Ngerti? 


Tanpa Fenqing sadari Tingen sudah ada dibelakangnya tapi Fenqing masih saja nggak mau berhenti bicara. Kalo enggak karena kari lobster dan pelatihan selama 7 hari, dia nggak ingin berada di sana bahkan semenit aja. Ngerti? Xiaobin mengingatkan kalo waktunya hanya tersisa satu menit. Xiaobin nggak bisa menyelamatkannya. 


Xiaobin melihat Tingen dan memanggilnya Anata! Fenqing mengikuti arah mata Xiaobin dan menemukan Tingen sudah tegak dibelakangnya, menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. Xiaobin aja sampai takut melihatnya. 


Tingen menanyakan Fenqing nggak mau berada di La Mure bahkan selama semenit? Tingen maju selangkah. Ia memberitahu kalo itu salah paham. Tingen bertanya lagi, Fenqing sangat membencinya? Xiaobin memutar tubuh Fenqing dan mengatakan kalo Fenqing nggak membencinya tapi mengaguminya. 


Tingen menatap Fenqing tajam dan bertanya apa bagi Fenqing ia adalah orang jahat? Xiaobin menjawab kalo baginua Tingen adalah orang baik. Ia pikir... . Tingen maju dan menutup mulut Xiaobin pakai tangan dan menatap Fenqing. Ia akan memenuhi permintaan Fenqing. Tingen menyuruh Fenqing untuk ikut dengannya. 


Fenqing menyusul Tingen yang pergi lebih dulu. Xiaobin bertanya-tanya seperti itukah menjadi batasan terhadap dinding? Rasanya hebat. 


Tingen membawa Fenqing ke dapur. Ia menyuruh seorang koki wanita untuk pergi dan ia menempati tempatnya. Ia menyuruh Fenqing untuk memperhatikan baik-baik karena ia nggak akan mengulanginya. Aps yang akan ia ajarkan adalah tahap terakhir untuk memasak kari lobster. Tingen mencacah bawang sambil memberitahu bahan-bahannya. Risotto. Risotto Safron. 


Tingen membawa bawang itu ke meja yang lain. Fenqing mengikutinya di belakang. Safron adalah bunga air ungu yang cukup bagus. Mereka hanya mengambil putiknya. Tingen mengambil minyak dan menumis bawangnya. Ia melanjutkan kalo hanya ada 3 kepala putik di setiap bunganya. Sambii menumis Tingen menerangkan kalo saat bunga safron mekar, Fenqing harus memetiknya sebelum matahari terbit supaya mereka bisa digunakan. Itulah sebabnya safron adalah bumbu paling mahal di dunia. 


Tingen sepertinya marah banget. Ia bahkan membuang mangkuknya dengan kasar saat selesai menggunakan isinya. Ia melemparkan safron pada Fenqing dan menyuruhnya untuk melihatnya. Tingen menginstruksikan untuk menumis nasi risotto sampai kuning keemasan sebelum ditambahkan 3 mangkuk kaldu. 


Tingen mengambil mangkuk pertama dan menuangkannya pada nasi. Masak sampai kaldunya habis. Tingen lalu mengambil mangkuk kedua dan menuangnya. Tingen memberitahu kalo sebelum kaldu ketiga ditambahkan, harus ditambahkan safron terlebih dahulu. Kalo terlalu banyak nasinya akan rusak. Kalo terlalu sedikit rasanya akan hambar. 


Setelah semua bahan ditambahkan, masak nasinya sampai kering. Fenqing menatap Tingen dengan seksama. Tingen juga menatanya. 


Beberapa saat kemudian nasi safron ala Huo Tingen sudah jadi. Sangat sederhana. Tingen menatap Fenqing dan berkata, Fenqing sudah belajar cara membuatnya? Ia membanting celemeknya dengan kasar lalu pergi. 


Fenqing menatapnya pergi seperti merasa menyesal. Xiaobin menatapnya dan memberitahu kalo mulut Tingen sangat pedas tapi masih saja romantis. Tingen punya alasan untuk menggunakan safron untuk memasak risotto. 


Xiaobin menghampiri Fenqing dan memberitahu kalo ada legenda yang mengatakan kalo saat senja di musim gugur, seorang pemilik perkebunan nggak bisa menahan untuk mengucapkan selamat tinggal pada bunga yang hampir gugur. Ia lalu berdoa kepada Dewa Bunga. Dewi bunga nggak tahan dengan permohonannya dan berjanji kalo saat terakhir musim gugur, bunga itu akan mekar. Xiaobin mendengar kalo bunga itu adalah bunga safron. Dengan begitu, bahasa bunga itu adalah cinta sejati dan keterikatan. 

Aku akan selalu menunggumu di tempat yang sama. 


Fenqing mematung sambil menggenggam safron pemberian Tingen. Xiaobin mendekat dan mengatakan kalo nggak ada yang sanggup melihat kepergian Fenqing. Begitu juga dengan Tingen. Ia menepuk pundak Fenqing lalu pergi. 


Fenqing nampak memikirkan semuanya. Dari perkataan Tingen sampai cerita yang panjang dari Xiaobin. Mendadak matanya jadi berkaca-kaca. 


Tingen berdiam diri di ruangannya. Ia menulis sesuatu tapi sama sekali nggak berkonsentrasi. 


Fenqing sendiri belajar membuat nasi safron seperti yang tadi dicontohkan oleh Tingen. 


Tingen makin frustasi. Ia meremas kertas-kertasnya dan membuangnya. 


Masakan Fenqing sudah jadi. Ia mencicipinya dan terdiam dan terngiang lagi apa yang dikatakan oleh Xiaobin padanya. 


Aku akan menunggumu di tempat yang sama. 


Tingen berputar-putar di kursinya. Bola-bola kertas berserakan dimana-mana. Xiaobin mengetuk pintu lalu masuk dengan senyum ceria. Ia bertanya ada apa dengan wajah Tingen? Ia menghampiri Tingen dan memberitahu kalo kedubes menelpon untuk mengkonfirmasi tentang perubahan menu. Karena keterbatasan waktu, ia akan mengirim penasehat untuk memastikan agar semuanya berjalan dengan baik. 


Tingen yang sok sibuk mengaku mengerti. Xiaobin menghela nafas. Ia memberitahu kalo Fenqing sudah selesai memasak nasi safron. Ia tadi mencobanya dan rasanya sangat enak. Tingen nggak menanggapi. Xiaobin mengulangi kalo rasanya enak. Tingen tetap nggak bilang apa-apa. Xiaobin memberitahu kalo nggak ada pekerjaan lagi. Ia akan menyuruh Fenqing untuk bersih-bersih dan pulang. Ia pikir malam ini Tingen akan sibuk memikirkan menu untuk duta besar dan nggak akan ada waktu untuk mengganggu Fenqing. 


Tingen masih asik menulis tanpa menggubris kata-kata Xiaobin. Ia akan membiarkan Fenqing pulang lebih awal untuk memeriksa catatannya untuk persiapan ujian besok. Tingen mengiyakan. Selama penjadwalan tugas di restoran lancar ia rasa nggak masalah. Xiaobin mengingatkan kalo Fenqing itu bukan pegawai mereka. Gimana bisa ada masalah dengan penjadwalan? Masalah utamanya adalah Fenqing nggak akan ada di sana besok. 


Tingen menatap Xiaobin lalu mengangguk. Ia lalu kembali menulis. Xiaobin mendekat dan mengatakan kalo keputusan berada di tangan Tingen. Apakah Fenqing akan lulus atau enggak. Kalo Tingen nggak ingin dia lulus maka jangan diluluskan. Maka Fenqing akan tetap disana. Tingen mengangguk. Xiaobin kesal. Ia mengatakan akan menyuruh Fenqing pulang. Tingen kembali mengangguk. Xiaobin mengulangi kalo Fenqing akan pulang. Tingen mengangguk lagi. Xiaobin tiduran di depan Tingen dan mengingatkan kalo Fenqing nggak akan balik lagi. Tingen bercanda mengatakan kalo rambut Xiaobin bau. Xiaobin kesal. Ia meninggalkan Tingen lalu berseru menyuruh Fenqing pulang. 


Tingen mengangkat wajahnya. Pulpen yang ia pegang terjatuh. Ia kembali menunduk seolah nggak ingin orang tahu kesedihannya. 


Fenqing mau pulang. Dia baru sadar kalo motornya masih digunung. Ia menghela nafas lalu melangkah. 


Mobil Tingen berhenti di depan Fenqing. Tingen turun dari mobil dan menghampirinya. Fenqing melambaikan tangannya dan menyapa Tingen. Ia memberitahu kalo dia sudah selesai bekerja. Tingen menghampirinya dan menawarkan untuk mengantarnya mengambil motor. Fenqing menolaknya dan mengatakan kalo ia bisa naik taksi. 


Fenqing melangkah. Tingen memanggilnya dan mengatakan kalo itu mungkin yang terakhir kalinya Tingen mengantarnya. Mereka saling menatap lama. Tingen tersenyum perih. 


Nggak lama kemudian mereka sampai. Mobil Tingen sampai di depan motor Fenqing. Fenqing berterima kasih. Ia melepas sabuk pengamannya sambil menatap Tingen dan menyampaikan kalo apa yang ia katakan di La Mure hari ini ...ia nggak bermaksud mengatakannya. Jangan disimpan di dalam hati.


Tingen tersenyum. Nggak akan. Ia tahu kalo Fenqing nggak bermaksud seperti itu. Fenqing mengatakannya dari hati. Fenqing bilang enggak begitu. Tadi ia salah bicara. Ah, Fenqing bingung mesti gimana bilangnya. Dalam hati ia membatin kalo ia nggak pernah membenci Tingen. Apa terlalu sulit mengatakannya dengan suara keras? Tingen menatap Fenqing dan menebak kalo sebenarnya Fenqing nggak terlalu membencinya. 


Fenqing menatap Tingen dan membenarkan. Ia kembali membatin kalo sebenarnya nggak sulit mengatakannya dengan suara lantang. Jadi itu nggak akan terasa canggung setelah ia meminta maaf langsung pada Chef. Tingen kembali menebak kalo sebenarnya Fenqing mau minta maaf. Fenqing menatap Tingen dan kembali membenarkan. Tingen mengiyakan. Ia akan melihat gimana Fenqing akan meminta maaf padanya. 


Mereka sama-sama keluar dari mobil. Fenqing menghadap Tingen dan meminta maaf. Ia sedikit gugup karena besok adalah ujian terakhir. Dan lagi tiap kali ia ketemu Tingen, ia merasa sedikit nggak normal. Tingen menatap Fenqing dan mengulangi, nggak normal? Fenqing mengangguk membenarkan. 


Tingen tersenyum. Ia menyimpulkan apakah Fenqing mengatakannya karena ia gugup dengan ujiannya besok? 


Fenqing membenarkan. Gimana kalo dia  lulus ujian besok? Tingen menyuruh Fenqing untuk pergi. Wajah Fenqing langsung berubah mendengarnya. Ia kembali bertanya gimana kalo dia nggak lulus? Tingen bertanya apa Fenqing ingin tetap disana? Fenqing menebak kalo Tingen ingin ia tetap disana. Tingen bertanya apa Fenqing berharap kalo ia akan menanyakan hal itu? 


Fenqing nggak bisa berkata-kata. Ia menatap langit dan melihat bintang jatuh. Fenqing maju beberapa langkah dan mengucapkan pengharapannya sambil memejamkan mata. Ia berharap La Mure; Huo Tingen, orqng-orang di pasar malam, ibunya, adiknya dan juga dirinya akan selalu sehat bahagia dan selamat. Yang penting semua orang bahagia. Tingen tersenyum menatap Fenqing yang sedang berdoa. 


Fenqing membuka matanya. Mendadak ia jadi ketakutan karena tiba-tiba di depannya jadi gelap. Ia memanggil-manggil Huo Tingen seolah meminta perlindungan. Tingen maju dan menggenggam tangan Fenqing. Fenqing menatap Tingen. Tingen melarangnya untuk takut. Ia ada disana. 

Bersambung...

Komentar:
Bunga safron? Chef emang unik. Nggak perlu bergombal-gombal buat merayu. Hanya dengan nyebutin bahan masakan aja udah bisa membuat Fenqing jadi galau gitu. 
Apalagi pas dia menggenggam tangan Fenqing dan bilang ada dia di sana. 

Salam
Anysti18