Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Twelve Nights Episode 1 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: Channel A
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Twelve Nights
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Twelve Nights Episode 1 Part 2

Lampu untuk menyeberang jalan sudah hijau. Beberapa orang sudah mulai menyeberang. Seorang wanita tetap di tempatnya. Ia melihat sekeliling seolah sedang mencari seseorang. 


Di tempat lain, seorang pria sedang berlari kencang. Tiba-tiba ia berhenti dan mengatur nafas. Matanya menatap jauh ke depan, tepat ke wanita tadi. Wanita itu juga menatapnya. Ia membatin, akhirnya ia... itulah yang ia lakukan. 


Mereka melangkah saling menghampiri dan bertemu tepat di tengah jalan. Laki-laki itu membatin, ia nggak akan berpegang padamu. Wanita itu juga membatin kalo ia nggak akan membiarkannya pergi. 

Flashback...


2010, New York
Yoo Kyung menyajikan makanan ke tamu lalu mengambil beberapa piring dari mrja yang lain. Ia membawanya kedapur. Seorang pria bertanya padanya, berapa hari? Yoo Kyung memberitahu sekitar dua minggu. Tepatnya 12 malam. Laki-laki itu melarang Yoo Kyung untuk berpikur tentang mengendur saat ia kembali nanti. Yoo Kyung mengembalikan nampan ke atas rak dan memberitahu kalo dia nggak pernah jadi pemalas. Itu juga nggak liburan yang sebenarnya. Yoo Kyung mengambil tasnya lalu pamit pada pria itu. 


Yoo Kyung keluar sambil menelpon seseorang. Ia memberitahukan namanya, Jenny. Yoo Kyung mengaku nggak dapat SMS dari orang itu. Sudah terlambat? Sampai kapan? Orang yang diseberang memberitahu kalo belum ada yang diputuskan. Mungkin dalam beberapa hari. Yoo Kyung bertanya apa dia boleh nggak langsung menjawab? Ia akan mulai besok. Ia mengiyakan akan menghubunginya sesegera mungkin. Yoo Kyung melihat lampu untuk pejalan kaki sudah menyala. Ia pun menutup telponnya dan berterima kasih. Ia menyeberang jalan bersama banyak orang. 


Yoo Kyung keluar dari studio foto, habis itu dia naik kereta. Habis naik kereta ia berjalan pulang. Yoo Kyung membuka kunci rumahnya lalu masuk. Yoo Kyung masuk ke dan meletakkan barang bawaannya. Di sofa ada seorang gadis yang tertidur saat melihat film. Yoo Kyung menyelimutinya lalu masuk ke kamarnya. 


Ia lalu mengambil sebuah buku di atas meja. Ia duduk di pinggir tempat tidur membuka buku itu dan mengecek apa-apa saja yang akan ia bawa. Jeans, kemeja, paspor. Yoo Kyung meletakkan bukunya dan mencari paspor di dalam tasnya. 


Teman Yoo Kyung tadi bangun dan bertanya kapan Yoo Kyung pulang? Yoo Kyung memberitahu, barusan. Apa dia membangunkannya? Teman Yoo Kyung memberitahu SMS dari Yoo Kyung sambil mengangkat ponselnya. Ia lalu menanyakan apa yang sedang Yoo Kyung cari? 


Yoo Kyung memberitahu kalo dia sedang mencari paspornya. Harusnya sih ada disana. Yoo Kyung bangkit dan mencari di tempat lain. Teman Yoo Kyung masuk dan bertanya, maksudnya? Yoo Kyung memberitahu maksudnya di suatu tempat. Teman Yoo Kyung meledek, nggak tahu kalo dia bergerak. 


Yoo Kyung hanya tersenyum. Ia mengambil dompet dari laci dan membukanya. Ketemu. Paspor Korea. Yoo Kyung membukanya dan terdiam. Teman Yoo Kyung juga menemukannya. 


Yoo Kyung menghampiri temannya dan duduk di sampingnya. Ia bertanya, gugup? Sama seperti Yoo Kyung biasanya. Yoo Kyung nggak ngeh. Maksudnya? Teman Yoo Kyung menunjukkan wajah Yoo Kyung di dua paspor itu. Keduanya sama-sama mrnunjukkan wajah gugup. Bahkan yang duduk di sebelahnya juga gugup. 


Sontak Yoo Kyung tersenyum dan menyuruh temannya untuk pergi. Teman Yoo Kyung memintanya untuk tenang. Itu hanya perjalanan dan bukannya bengkel. Yoo Kyung hanya mengangkat pundaknya. 


Teman Yoo Kyung mengangkat telponnya. Ia memberitahu kalo ia sudah melakukannya. Ia sedang mengerjakannya. Iya. Tiga kali. Ia bangkit lalu pergi meninggalkan Yoo Kyung. 


Yoo Kyung menatapnya sambil senyum. Tapi saat melihat fotonya di paspor, senyum itu tiba-tiba hilang. Ia lalu menatap wajahnya di cermin. Apa itu benar? 


Yoo Kyung sudah mengemasi semuanya. Ia menulis sesuatu di bukunya. Menandai hari dimana ia akan pergi. 

Flashback..


Yoo Kyung berlari lalu memotret sebuah tempat. 


Nggak lama kemudian ia duduk dan menatap beberapa lembar foto. Senyumnya mengembang saat itu. 

Flashback end...


Yoo Kyung membalik bukunya dan menulis. 

9 Juni 2010
Besok aku akan berada di Nepal. Tempat yang beda, zona waktu yang beda. Apa yang menungguku di tempat asing di mana semuanya sangat beda? 


Yoo Kyung bangun pagi-pagi dan berjalan dengan senyuman ke bandara. 


Yoo Kyung naik ke pesawat. Ia meletakkan tasnya ke atas. Tiba-tiba seorang pria membantunya meletakkan tasnya. Pria itu lalu menatapnya. Yoo Kyung memberitahu kalo dia bisa melakukannya. 


Yoo Kyung lalu duduk. Pria itu menghela nafas lalu duduk di tempatnya. Nggak lama kemudian seorang wanita datang. Ia meletakkan kopornya di atas sambil melihat sekitar. Nggak sengaja ia melihat pria yang tadi menolong Yoo Kyung sedang menatap Yoo Kyung dengan tatapan kesal. Wanita itu memberitahu kalo Yoo Kyung tertalu jelas tentang putusnya hubungannya. Syukur deh. Wanita itu lalu duduk disamping Yoo Kyung. Yoo Kyung menatapnya nggak ngerti maksudnya. 


Wanita itu mengambil bedaknya dan melihat pria itu dari kaca bedaknya. Ia bertanya pada Yoo Kyung apa dia bisa memilikinya sekarang?  Yoo Kyung menatapnya nggak paham. Wanita itu menanyakan apa yang Yoo Kyung lihat? Yoo Kyung kembali melihat kedepan dan mempersilakannya untuk melakukan apa saja. Yoo Kyung lalu melihat ke jendela. Hari sudah malam. Yoo Kyung memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur. 

Flashback...


Yoo kyung sedang melakukan wawancara. Ia ditanyai, apa hanya itu yang ia miliki? Yoo Kyung jadi tegang. Orang itu bertanya lagi, gimana Yoo Kyung akan membuktikan diri pada mereka? Ia lalu diminta untuk memberitahu mereka apa bagian penting dari menjadi fotografer yang baik. Gimana dengan pengalaman tersulit yang Yoo Kyung miliki untuk mendapatkan bidikan yang bagus itu? Mengapa mereka harus memilihnya? Apa ada yang ingin Yoo Kyung bilang sebelum mereka menutup wawancara itu? 


Yoo Kyung tetap diam. Nggak bilang apa-apa. Ia melihat pewawancara yang lain. 

Flashback end...


Yoo Kyung membuka matanya. Ia melihat wanita di sampingnya sudah nggak ada. Begitu juga dengan pria yang membantunya. 


Ia lalu menyalakan ponselnya. Ada pesan untulnya yang memintanya untuk tetap disana karena hasilnya akan keluar besok. Yoo Kyung mematikan ponselnya lalu kembali tidur. 


Hari sudah pagi. Pesawat yang ditumpangi Yoo Kyung pun mendarat. Mereka sampai di Bandara Internasional Incheon. Orang-orang bangkit dan turun. Yoo Kyung merenggangkan tubuhnya. 


Yoo Kyung, wanita yang duduk di sebelahnya tadi dan beberapa orang berdiri di sekitar pria yang tadi membantu Yoo Kyung. Pria itu memberi mereka waktu jam 7 sampai jam 10. Ia berpesan agar mereka tetap dekat dan jangan terlambat. Ngerti? Merrka mengiyakan. Habis itu mereka bubar. Pria itu menatap Yoo Kyung dan seperti berharap sesuatu. 


Yoo Kyung duduk dan menyalakan ponselnya. Ada pesan dari temannya. 

Maaf, bramu ada di aku. Aku kehabisan stok. 

Nggak! Buruan lepas. 

Tentu saja. Kamu merindukan hal yang negatif. Sudah sampai?

Belum. Sekarang aku di Korea. Transfering. 

Wow, Korea yang dinamis. Gimana dengan ibu pertiwi? 


Yoo Kyung melihat sekeliling. 

Dia bilang hai. 


Yoo Kyung lalu melihat pesan lain. Mereka kecewa pada Yoo Kyung. Ia baru saja mendengar apa yang Yoo Kyung lakukan dan merasa nggak adil. 


Yoo Kyung mengulangi. Adil? Apa maksudnya? Orang itu meminta agar Yoo Kyung berhenti bersikap bak Cinderella. Ia memberitahu kalo Yoo Kyung gagal. 

Flashback...


Yoo Kyung berjalan dan nggak sengaja melihat pria yang menolongnya bersama seorang wanita. 

Flashback end...


Yoo Kyung bangkit lalu mengambil tasnya. Pria yang menolongnya menanyakan apa hasilnya sudah keluar? Yoo Kyung menggela nafas sambil menata rambutnya. Ia menatap pria itu lalu bertanya apa ia yang meminta bantuan dari studio? Meminta mereka untuk mempertimbangkannya? 


Pria itu malah tersenyum. Ia mengatakan pada mereka untuk merahasiakannya. Menurutnya selama hadilnta bagus maka itu penting. Yoo Kyung memperingatkannya untuk nggak melakukannya lagi. Pria itu bertanya apa Yoo Kyung yang membuatnya? Kenapa Yoo Kyung nggak menerima penawaran sebelumnya? Melakukan sesuatu yang suci jadi nggak perlu...


Yoo Kyung menanyakan maksudnya. Pria itu mengatakannta karena ia frustasi. Apa Yoo Kyung nggak ingin melihat hasilnya? Yoo Kyung menatapnya tajam dan memintanya untuk minta maaf. Pria itu bertanya, untuk apa? Yoo Kyung memintanya untuk minta maaf atas apa yang ia lakukan. 


Pria itu santai. Apa Yoo Kyung memintanya minta maaf karena telah membantunya? Yoo Kyung mulai malas. Ia mengambil tasnya lalu pergi. Pria itu hanya menghela nafas. 


Yoo Kyung membasuh wajahnya di toilet. Setelah merasa segar, ia pun mengambil ponselnya. Yoo Kyung menelpon seseorang. Memberitahu kalo itu dia. Yoo Kyung mengaku nggak tahu kalo dia melakukan hal seperti itu. Yoo Kyung meminta satu kesempatan lagi kalo memang dia alasannya. 


Orang yang di seberang meremehkannya. Kesempatan? Beraninya Yoo Kyung minta kesempatan. Hampir saja mereka tertipu untuk memilih Yoo Kyung bukannya pelamar berbakat lainnya. Yoo Kyung menatap wajahnya di cermin. Orang itu meminta Yoo Kyung agar nggak salah paham. Yoo Kyung tetap akan gagal sekalipun ia nggak tertangkap curang. Yoo Kyung sama sekali nggak punya bakat. Malu pada diri sendiri. Yoo Kyung memejamkan matanya, mencoba untuk nggak nangis. 


Yoo Kyung datang ke tempat ngumpul. Mereka mencarinya yang belum datang juga padahal mereka harus segera naik pesawat. Yoo Kyung melihat pria yang membantunya hampir menatapnya. Ia memutuskan untuk sembunyi. Akhirnya mereka pergi. Begitu pula dengan Yoo Kyung. Yoo Kyung kembali teringat perkataan tadi. Ia sama sekali nggak punya bakat. Malu pada diri sendiri. Yoo Kyung rasanya mau nangis. 

Flashback...


Yoo Kyung bingung memilih foto. Pria yang menolong Yoo kyung menyuruhnya untuk mengirim apa saja. Menurutnya mereka semua sama. Yoo Kyung nggak mendengarkannya dan sibuk memilih. Pria itu meminta Yoo Kyung untuk berhenti mencoba menjadi seorang fotografer kalo sampai gagal kali ini. Oke? 


Yoo Kyung menatapnya. Nggak nyangka kalo dia ngomong seperti itu. Pria itu melanjutkan kalo itu adalah hal terjauh yang bisa Yoo Kyung lakukan. Itulah jawaban yang sebenarnya. Semua foto sangat umum. 


Yoo Kyung nggak bilang apa-apa dan kembali memilih. Pria itu memberitahu kalo dia sudah melihat karya fotografer profesional sepanjang waktu. Ia hanya memberi saran pada Yoo Kyung karena Yoo Kyung ingin melakukannya sendirian. Agar Yoo Kyung bisa sukses. 

Flashback end...

Bersambung...

Komentar:
Mendadak muncul lagi semangat buat nulis Kdrama ongoing. Awalnya sih nggak mau buru-buru. Sebenarnya ada satu drama yang sudah mencuri hati. Nunggu dari September. Kabarnya akan tayang Oktober. Oke, nunggu lagi. Eh, ternyata mundur jadi November. Drama dari Oksusu. Tahu kan yang dimaksud apa? Belajar dari pengalaman kalo drama Oksusu suka susah subindonya. Semangat mulai turun. Apalagi webdrama yang aku tulis, Dokgo Rewind. Ah, nggak tahu gimana nasibnya sekarang. Bahkan nama besar Sehun nggak mampu menarik subber untuk ngesubnya. Nggak harus subindo, deh. Engsub juga nggak papa. Hadeuh tepok jidad! 
Terus pilihannya jatuh ke ini. Tapi ya itu, karena dramanya tayang seminggu sekali bisa santai, sih. Meskipun bakal lama selesainya. Kurang lebih 3 bulan. Hhh, semoga bisa sampai tamat, ya!!! ^_^

Salam 
Anysti18

1 komentar:

Ditunggu episod berikutnya ya....semangat