Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 10 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 10 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 10 Part 3

Ibu datang ke kantor Tingen. Tingen merasa gugup lalu membangunkan Xiaobin yang tengah tidur di sofa. Xiaobin bangun dan bangkit. Ia menyapa ibu Tingen selaku wakil pimpinan. Ibu mengaku ingin memberitahu sesuatu pada Tingen. Tingen menatap Xiaobin dan menyuruhnya pergi. Xiaobin  pamit dan pergi. 


Tingen bertanya ada apa? Ibu duduk di sofa. Ibu mengaku nggak percaya kalo Tingen nggak tahu kalo ia memilih Ruxi sebagai pasangan yang ia pilih untuk Tingen. Kenapa Tingen nggak mengambilnya? Demi membuat Meng Xingda setuju untuk kencan buta, berapa banyak tenaga yang harus ia habiskan. Tingen sebenarnya nggak tahu apa pura-pura b*doh? Kenapa Tingen belum juga memacarinya? 


Tingen mengingatkan kalo malam ini ada acara makan malam besar kedutaan. Apa ibu mau membahasnya sekarang. Ibu seketika bangkit. Ibu marah dan melarang Tingen mengungkit tentang hal itu. Ibu merasa Tingen bisa menunjukkan kemampuannya sejak dulu dengan bakat yang ia miliki. Tapi hanya karena silsilahnya yang nggak begitu bagus, ia harus tunduk pada kendali orang lain. Seperti saat ini. Mereka seenaknya merubah menu di menit terakhir. 


Tingen malas. Ia menundukkan wajahnya. Ibu lalu mengungkit tentang pasangan yang telah ia pilih. Dan hal itu makin membuat Tingen malas. Ia bangkit dan menjauh dari ibu. Tingen merapikan mejanya dan ibu terus bicara tentang ibu Tianzhi. Tingen menanyakan maksud ibunya. Ibu memarahi Tingen yang nggak mau mengambil kesempatan padahal ia mampu untuk menjadi direktur. Ia bahkan mendapat dukungan dari nenek tapi Tingen malah nggak mau. Akhirnya Tianzhi yang menjadi direktur dan Tingen enggak. 


Tingen makin malas. Ia kembali menundukkan wajahnya. Ibu mengatakan kalo Tingen seorang manajer tapi ia dengar dari sekretaris Tingen kalo ia harus menyetujui apapun yang Tianzhi usulkan demi proyeknya. Ibu menanyakan alasannya. Tingen memberitahu kalo Tianzhi bekerja sangat keras dan dia nggak punya alasan untuk melawannya. Ibu tersenyum. Ia memberitahu kalo dia nggak ingin Tingen sengaja melawan Tianzhi. Ia hanya ingin Tingen sedikit berusaha untuk dirinya sendiri. Kalo enggak maka Tingen nggak akan punya apa-apa di masa depan. Apa Tingen nggak peduli? Atau Tingen sengaja ingin membuatnya marah? 


Tingen menatap ibu tapi nggak bilang apa-apa. Ibu tiba-tiba menyinggung tentang Tingli. Berapa lama lagi Tingen akan marah padanya? Tingen melarang ibu mengungkit tentang Tingli. Ibu bertanya apa Tingen menyalahkannya karena ia bergabung dengan keluarga Huo dan menjadi istri kedua? Tingen menatap ibu tajam seolah membenarkan. 


Ibu tersenyum perih. Ia merasa sudah bekerja keras untuk membuat mereka bertahan hidup di keluarga Huo. Tingen memberitahu kalo sebenarnya dia ingin menyalahkan ibu agar ia bisa sedikit lebih santai sebagai kakak. Kalo nggak karena ibu maka mereka nggak akan ditindas di keluarga Huo. Kalo nggak karena keluarga Huo kaya, maka Tingli nggak akan memberontak dan pergi. Tapi Tingen nggak bisa kelakukannya karena dia adalah ibunya. Tingen tahu dengan baik gimana susahnya ibu membesarkan mereka dari kecil. Ibu takut mereka nggak cukup makan dan nggak cukup pakaian. 


Ibu dan Tingen seperti dipaksa untuk mengingat masa lalu mereka. Keduanya sama-sama ingin nangis. Tingen tahu kalo semua yang ibu lakukan adalah demi mereka. Tingen mengingatkan kalo Tingli sudah pergi dan dia sudah dewasa. Mereka juga nggak kekurangan apapun sekarang. Jadi berhenti bertengkar kalo enggak maka ibu sendiri yang akan susah. 


Ibu menghela nafas panjang. Ibu mengaku sama sekali nggak menyesal. Sekalipun ia mulai lagi dari awal, ibu tetap akan melakukan hal yang sama. Tingen terkejut mendengarnya. Ibu melanjutkan kalo Tingen harus bertahan sampai akhir karena ia sudah menjadi bagian dari keluarga Huo. Tingen mematung di tempatnya. 


Ibu lalu keluar dan berpapasan dengan Fenqing yang baru datang. Fenqing tersenyum pada ibu Tingen dan memberi salam tapi ibu Tingen sama sekali nggak mengubrisnya dan terus melangkah. Fenqing menatapnya sebentar lalu masuk. 


Fenqing bertanya apa Tingen sibuk? Tingen kemaksakan senyumnya dan bertanya kenapa Fenqing datang? Fenqing menanyakan apa yang terjadi? Apa suasana hati Tingen kurang baik? Tingen menyangkal. Fenqing menangkap kalo senyum Tingen terlihat begitu pahit. Tingen kembali tersenyum.


Fenqing memberitahu kalo dia menemukan mafia yang membawa adik Tingen pergi. Namanya David. Seketika senyum Tingen hilang. Kenapa Fenqing mencarinya? Kenapa Fenqing sangat suka ikut campur? Fenqing mengaku melakukannya demi kebaikan Fenqing. 


Tingen nggak percaya ada satu orang lagi yang melakukan sesuatu demi kebaikannya. Ia merasa kalo mereka benar-benar aneh. Kenapa mereka memaksanya melakukan sesuatu yang nggak ingin dia lakukan? Apa Fenqing tahu apa yang terbaik untuknya sekarang? Tingen meminta agar Fenqing pergi karena ia nggak ingin bertemu dan bicara dengan siapapun. Ia lalu berbalik dan membelakangi Fenqing. 


Fenqing seperti nggak percaya dengan penolakan Tingen. Ia menanyakan maksud Tingen nggak ingin melakukan dan memikirkan apapun? Ia mengingatkan kalo ada banyak hal yang akan hilang kalo Tingen nggak tahu dan nggak mendengar atau melihatnya. Tingen makin nggak bisa sabar. Dia memohon agar Fenqing diam dan pergi. 


Fenqing nggak mau menurut. Ia ingin membantu Tingen mengatasi rasa sakit hatinya terhadap pasar malam karena Tingen sudah membantunya dan mengajarinya membuat kari. Dia nggak nyangka kalo Tingen ternyata nggak berani menghadapinya. Tingen bahkan nggak berani menghadapi kalo adiknya sudah nggak ada dan melarikan diri. 


Tingen tersulut. Ia berbalik dan menarik kerah baju Fenqing. Ia membentak Fenqing untuk diam dan pergi. Fenqing syok. Beberapa detik kemudian Tingen seolah tampak menyesal atas sikapnya pada Fenqing. Ia melepaskan tangannya dan meminta maaf. 


Fenqing memberitahu kalo melarikan diri nggak ada gunanya. Ia mengakui kalo hari ini dia terlalu ikut campur. Ia janji kalo mulai sekarang dia nggak akan datang lagi ke La Mure. Tingen seperti nggak mau Fenqing bilang begitu. Fenqing bilang sampai jumpa lalu pergi. 


Tingen nggak bisa menahannya. Ia seperti marah pada diri sendiri. Dia nggak bermaksud begitu ada Fenqing. Tingen menghela nafas dan mencoba untuk tenang. 


Fenqing kesal. Ia bahkan menendangi dinding beberapa kali. 


Ah Wei mengumpulkan beberapa orang pasar malam dan memberitahu kalo ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Bibi Yu meminta Ah Wei untuk segera mengatakannya dan nggak usah bertele-tele. Ah Wei tersenyum. Apa yang ingin ia sampaikan adalah tentang keluarga mereka Fenqing. 


Ibu malah khawatir. Apa yang terjadi dengan Qingqing? Ah Wei memberitahu kalo Fenqing baik-baik saja. Ia mengingatkan kalo hal yang paling Fenqing inginkan adalah mengambil kembali nama ayahnya sebagai raja kari. Ia merasa kalo Fenqing nggak akan bisa melakukannya kalo hanya di pasar malam. Ia ingin mereka membantu Fenqing membuka restoran. Tapi Fenqing ingin mengandalkan kekuatannya sendiri dan menabung pelan-pelan. Ah Wei rasa itu terlalu lambat jadi ia memohon pada semuanya untuk menyumbangkan uang mereka untuk membantu Fenqing dan mewujudkan mimpinya. Apa mereka setuju? 


Mereka merasa nggak masalah. Masalah Fenqing adalah masalah mereka juga. Ibu berterima kasih pada mereka karena mau membantu anaknya. Paman Rib mengingatkan kalo mereka adalah keluarga. Ah Wei mengajak semuanya untuk merencanakan bersama-sama. Mereka semua bangkit. Ah Wang kerasa kalo pertama-tama mereka harus mencari lokasi dulu. 


Fenqing mengendarai motornya sambil ngebut. Pikirannya kacau. Dia masih memikirkan Tingen dan perlakuan Tingen padanya. Tingen bahkan membentaknya dan menarik bajunya. 


Fenqing menangis. Ia menghapus air matanya dan menambah kecepatannya. Ia melewati sepasang pasangan yang sedang bertengkar dan terciprat minuman. Fenqing membersihkan wajahnya dan melihat ada sebuah truk di depannya. Fenqing berusaha untuk belok tapi nggak keburu. Ia melepaskan motornya dan jatuh. Motor Fenqing masuk ke bawah truk. 


Ah Wei sedang bermain basket dengan Ah Wang. Bolanya menggelinding mendekati tasnya. Ponsel Ah Wei bunyi. Ia pun mengangkatnya. Entah siapa yang nelpon. Wajah Ah Wei berubah. Ia lalu berlari dan pergi. 


Ah Wei ke rumah sakit. Ia menanyakan Fenqing pada seorang perawat. Perawat itu menyuruh Ah wei untuk masuk ke dalam dan mencari. Ah Wei kembali berlari. Ia bahkan sampai menabrak pasien. Ah Wei jatuh. Ia meminta maaf lalu kembali berlari. 


Ah Wei menemukan Fenqing sedang duduk dengan tatapan kosong. Ah Wei menghampirinya dan menggenggam tangannya. Apa yang terjadi? Apa Fenqing terluka? Fenqing memberitahu kalo dia baik-baik saja. Ah Wei bertanya kenapa Fenqing mengendarai motor seperti itu? Fenqing menceritakan kejadiannya dengan terbata-bata. 


Ah Wei lalu duduk di sampingnya. Ia merangkul Fenqing dan menenangkan kalo semua baik-baik saja. Ia sudah datang. Fenqing mengangguk tapi matanya masih kosong. Mendadak tangannya gemetar dan dia mengaku takut. Fenqing mulai menangis. Ia takut pada sikap Huo Tingen tadi pagi. Fenqing merasa kalo Huo Tinhen adalah orang yang aneh. Tingen selalu membantunya dan baik padanya. Ia juga ingin membantu Tingen saat Tingen dalam kesulitan. Tapi siapa yang tahu kalo Tingen akan bersikap begitu padanya pagi ini? 


Fenqing mengulangi kalo Tingen benar-benar aneh. Dia membuatnya kacau. Fenqing mengaku nggak ingin memperhatikannya tapi ia terus memperhatikannya. Dia harus gimana? Tangis Fenqing makin menjadi. Ia meraba dadanya dan mengaku kalo hatinya sakit. Fenqing nggak tahu harus gimana. Dia ingin bertemu Tingen tapi juga nggak ingin. 


Ah Wei menarik Fenqing agar bersandar padanya. Ia menepuk-nepuk Fenqing dan menenangkan. Nggak papa. Ia ada di sana. Bagus kalo Fenqing baik-baik saja. Fenqing bilang peduli pada Tingen dan berkorban untuknya. Tapi Tingen bahkan nggak menghargainya. Ah Wei janji nggak akan membiarkan Tingen melukai Fenqing seperti ini lagi. 


Ah Wei melepaskan Fenqing dan memintanya untuk nggak usah memperdulikan Huo Tingen lagi. Fenqing mengiyakan. Ia nggak akan peduli lagi pada Huo Tingen. Nggak lagi. Ah Wei lalu kembali menarik Fenqing dan menenangkan. Jangan nangis. 

Bersambung...

Komentar:
Tingen keterlaluan! Sebel deh, kok dia bisa kayak gitu ke Fenqing. Gimana kalo Fenqing sampai luka parah pas ngalamin kecelakaan. Pasti bakal menyesal seumur hidup. 
Tapi memang suasana hati Tingen sedang nggak baik sih. Intinya sih Fenqing datang pada waktu yang nggak tepat. 

Salam
Anysti18

2 komentar

Kak lanjut trus ya sama drama ini,, suka deh❤️❤️❤️

Terima kasih atas komentarnya. Dah ada lanjutannya, kok. Ditunggu aja.

Salam
Anysti18