Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 11 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 10 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 11 Part 2

Rasa asam, manis, pahit, pedas, sukacita, kemarahan, kesedihan, kebahagiaan, adalah selera kita. 


Hidangan sudah disajikan. Para tamu dan Duta Besar mulai menyantap makanan mereka. Duta Besar nengaku suka makanan pinggir jalan. Tianzhi menanyakan rasanya. Duta besar memberitahu kalo itu sangat enak. Dan itu adalah makanan Taiwan terbaik yang pernah ia makan. Ibu Tianzhi tampak nggak suka mendengarnya. 


Duta besar mengangkat gelasnya dan meminta semua orang untuk bersulang. 


Fenqing dan yang lain melihat semuanya dari dapur dan merasa tegang. 


Hidangan selanjutnya adalah ayam goreng. Nggak tahu kenapa tahu-tahu duta besar memanggil Xiaobin dan membisikkan sesuatu. Entah apa yang ia katakan. Xiaobin saja sampai tegang mendengarnya. Ibu Tianzi tersenyum melihat wajah tegang ibu Tingen. 


Xiaobin datang ke dapur. Semua orang langsung mengerubunginya dan menanyakan apa yang dikatakannya? Xiaobin meminta air terlebih dahulu. Setelah meminum air ix menyampaikan kalo duta besar mengatakan kalo supnya... . Paman Rib panik. Ada apa dengan supnya? Ayam... . Xiaobin benar-benar bertingkah aneh. Brian memintanya untuk mengatakannya dengan jelas. Xiaobin mengulangi, semuanya enak. Fenqing dan yang lain senang bukan main. Mereka melompat saking bahagianya. 


Xiaobin memotong kalo ada pesanan baru. 25 mangkuk sup iga babi, 22 porsi telur goreng kerang, 21 pesanan untuk kebab dan 30 piring ayam. Semua orang makin gembira. Brian lalu menanyakan gimana dengan sausnya? Xiaobin manatap Zhen Zhen dan Nai Nai dan meminta mereka untuk tinggal disana dengannya setelah bekerja. Hore! Xiaobin seneng banget sampai mencium pipi Tingen segala. 


Fenqing menepuk tangannya dan mengajak teman-temannya untuk kembali ke tempatnya masing-masing dan bekerja. Mereka mengiyakan lalu pergi. Fenqing menghampiri Tingen dan menyombongkan kalo orang pasar malam seperti mereka hebat, kan? Ah Wei mengawasi mereka dengan ekspresi sedih. 


Tingen mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Fenqing. Ia memuji penampilan Fenqing malam ini yang seperti koki master yang sebenarnya. Fenqing dan yang lain sudah bekerja dengan baik. Tingen pamit ke toilet. Ia serahkan semuanya pada Fenqing.


Tingen pergi. Fenqing lalu menghampiri teman-temannya dan menyemangati mereka. Ah Wei merasa nggak nyaman. Ia memaksakan senyumnya pada Fenqing. 


Ibu Tianzhi merasa nggak habis pikir. Ia menatap Tianzhi dan Yuqing. Kenapa bisa begitu lancar? Bukannya nggak ada koki di dapur? Tianzhi dan Yuqing nggak bilang apa-apa. Ibu Tianzhi makin kesal. Ia menatap ibu Tingen sebal. Ibu Tingen santai. Ia mengangkat gelas anggurnya dan mengajak ibu Tianzhi untuk bersulang. Ibu Tianzhi malas dan memalingkan wajahnya. Ibu Tingen hanya tersenyum. Menurutnya ibu Tianzhi tampak sangat kecewa. Mungkin ia akan lebih marah nanti. Ibu lalu mengajak ayah Ruxi untuk bersulang. Y


Ayah Ruxi mengingatkan kalo tadi Haiwei, ibu Tingen mengatakan kalo perwakilan akan membantu mereka memecahkan es. Ibu membenarkan. Ayah merasa kalo itu bagus. Hari ini itu adalah daerah kekuasaan ibu. Ayah akan membiarkan ibu untuk mengumumkannya nanti. Ibu mengiyakan. 


Ayah lalu meminta Ruxi untuk berdiri di sampingnya nanti. Ayah menyuruh Ruxi untuk naik ke panggung saat ibu Tingen memanggiknya. Ruxi nggak ngerti. Kenapa mesti naik ke panggung? Ibu memberitahu kalo nanti mereka akan mengumumkan pernikahan antara Ruxi dan Tingen. Ruxi terkejut dan nenanyakannya ke ayah. Ayah mengingatkan kalo ia pernah mengatakannya sebelumnya. Setelah mereka memutuskan, mereka harus bertindak cepat, tegas dan kejam. Ayah mengaku sudah menganggap Tingen sebagai calon menantunya. Ia akan menjadikan Tingen sebagai menantunya hari ini dengan disaksikan oleh para perwakilan dan teman media mereka. Mereka harus membuat pengumuman sekarang. Ayah merasa kalo nggak ada waktu yang lebih baik lagi. 


Ruxi merasa kalo ayahnya akan memojokkan Tingen. Ia memberitahu kalo hubungannya dan Tingen nggak seperti yang mereka kira. Ibu memanggil Ruxi dan mengingatkan kalo saat di lobi tadi ia menanggapi pertanyaan media. Apa Tingen mengetahui hal itu? Ruxi mengangguk. Ibu merasa kalo itu bagus. Ibu lalu kembali bertanya, di perjamuan La Mure hari ini, siapa yang berhak untuk mewakili Tingen dan menjawab pertanyaan media? Ibu menilai kalo tanpa Tingen sadari ia sudah membuat Ruxi menjadi nyonya rumah. Mereka hanya tinggak mewujudkan rencana mereka menjadi kenyataan. 


Ruxi tampak memikirkannya. Ia tetap merasa kalo kebih baik ibu memberitahu Tingen lebih dulu. Ayah menyimpulkan dari omongan Ruxi kalo ia menerima pernikahan antara dua keluarga mereka. Waktu hanya masalah cepat atau lambat. Ayah bukannya nggak peduli dengan perasaan Tingen tapi kalo pernikahan mereka bisa memberikan kebahagian untuk Ruxi, dan menyatukan dua perusahaan dan membesarkan saham kenapa harus menunda kesempatan sebagus itu? Ayah menanyakan kalo sekarang muncul pesaing dan merebut Tingen dari Ruxi, apa yang akan Ruxi lakukan? 


Ruxi menatap ayah. Ayah memberitahu kalo ayah jadi Ruxi, ia akan bertindak lebih awal. Ruxi tampak memikirkannya. Ibu Tingen membenarkan apa yang dikatakan oleh ayah. Mereka lalu mengangkat gelas masing-masing dan bersulang sebagai besan. 


Xiaobin nggak sengaja mendengarnya. Ruxi sendiri juga merasa berat. 


Ah Wei sedang ada di toilet. Tingen keluar dari salah satu bilik sambil memegangi perutnya. Ah Wei sengaja menempel pada Tingen. Ia bahkan merebut wastafel yang mau dipakai oleh Tingen. Tingen memberitahu kalo ada dua wastafel di samping Ah Wei. Ah Wei santai dan sesumbar kalo dia datang duluan. 


Tingen mengalah. Ia pindah ke sebelah kiri Ah Wei. Dan lagi-lagi Ah wei merebutnya. Tingen pindah ke wastafel yang sebelahnya lagi dan lagi-lagi !Ah Wei merebutnya juga. Tingen mau kembali ke wastafel sebelumnya tapi Ah Wei malah menghadangnya. Sebenarnya Ah Wei mau apa? Ah Wei memberitahu kalo ada yang ingin dia bicarakan dengan Tingen. Tingen mengiyakan. Tapi seenggaknya biarkan dia mencuci tangan dulu. Ah Wei mempersilakan. Ia mengeringkan tangannya sementara Tingen mencuci tangannya. 


Ah Wei meminta Tingen agar jangan sombong. Kalo nggak karena dia yang meminta Fenqing hari ini untuk membantu Tingen maka Fenqing nggak akan datang. Tingen mengulangi, Ah Wei meminta Fenqing untuk datang membantunya? Ah Wei mengangguk membenarkan. Tingen menatap Ah Wei nggak percaya. 

Flashback...


Fenqing mengelap meja sambil melamun. Ah Wei menghampirinya dan memanggilnya. Fenqing tersadar dan bertanya ada apa? Ah Wei mengaku tahu kalo Fenqing sedang memikirkan masalah La Mure. Ia melanjutkan kalo Fenqing nggak khawatir, ia nggak seperti dirinya. 


Fenqing hanya tersenyum. Ah Wei tahu kalo Huo Tingen sudah banyak mengajari Fenqing dan melakukan banyak hal untuknya selama 7 hari belakangan ini. Ia mengerti kalo Fenqing nggak bisa meninggalkannya sendirian. Fenqing menatap Ah Wei. Ah Wei mengingatkan kalo orang pasar malam selalu membantu satu sama lain. Tingen dulu pernah membantu mereka dan sekarang saatnya untuk membalas budi karena mereka adalah orang yang nggak bisa mengabaikan orang lain. Bukankah begitu? 


Fenqing memalingkan wajahnya. Dalam hati Ah Wei bertekad akan membuat Fenqing melepaskan Tingen agar Fenqing bisa kembali ke sisinya dengan tenang. Ia lalu mengajak Fenqing untuk pergi membantu Huo Tingen. Fenqing menatap Ah Wei dan mau mengatakan sesuatu. Ah Wei menyela. Ia tahu kalo Fenqing ingin membantu Tingen. Ia akan membantu Fenqing selama Fenqing ingin melakukannya. Ah Wei ingin agar Fenqing mengingatnya. Saat Fenqing merasa lelah di luar sana, atau mengalami masa sulit, maks ingatlah untuk kembali. Ia akan selalu ada untuk Fenqing. Fenqing mengangguk. 

Flashback end...


Tingen dan Ah Wei duduk bersama. Tingen menatap Ah Wei dan bertanya kenapa Ah Wei ingin agar Fenqing membantunya? Ah Wei menjawab karena dia nggak ingin Fenqing berhutang pada Tingen. Tingen bertanya, hutang apa? Ah Wei mengaku tahu kalo dalam hati Fenqing merasa berhutang banyak pada Tingen. Karena selama 7 hari kemarin Tingen berusaha keras untuk mengajarinya membuat kari. Walaupun begitu, semua orang ada di sana hari inu untuk membantu Tingen dan bisa dianggap sebagai imbalannya. Tapi Ah Wei merasa belum bisa membuat perhitungan dengannya. 


Tingen memberitahu kalo dia nggak merasa berhutang apa-apa pada Ah Wei. Ah Wei membenarkan kalo Tingen nggak berhutang padanya tapi pada Fenqing. Apa Tingen masih ingat kalo hari ini dia bertengkar dengan Fenqing? Apa Tingen tahu kalo setelah pertengkaran itu Fenqing nggak mengendarai motornya dengan benar? Ah Wei memberitahu kalo Fenqing mengalami kecelakaan parah saat kembali dari La Mure. Fenqing hampir saja kehilangan nyawanya karena Tingen. 


Tingen nampak syok. Ia memberitahu Ah Wei kalo Fenqing nggak bilang mengalami kecelakaan. Ah Wei tersenyum mengejek. Kenapa Fenqing harus bilang ke Tingen? Gimana Fenqing memperlakukan Tingen dan gimana Tingen memperlakukannya? Tingen nampak menyesal. Lalu? Ah Wei bertanya apa Tingen tahu kalo sebelum dia muncul, Fenqing adalah seseorang yang periang dan bahagia? Tiap hari Fenqing memakan senyuman hangat dan memberitahu pelanggan agar bahagia setiap hari dan ada hari baik kedepannya. 


Tapi nggak tahu kenapa semenjak Tingen muncul, Fenqing nggak pernah bahagia lagi. Tiap kali Fenqing pulang dia selalu melihat suasana hatinya nggak senang. Ah Wei nggak tahu dan nggak peduli apa yang sudah terjadi pada mereka berdua. Dia juga tahu kalo Tingen nggak menyukainya. Tingen merendahkannya. Nggak papa karena dia hanyalah seseorang yang menjual ayam di pasar malam. Ah Wei memohon agar Tingen berhenti melukai Fenqing. Berhenti mengganggunya seperti itu. Kembalikan Fenqing yang periang. Bisa? 


Tingen menatap Ah Wei. Dia merasa nggak tenang. Apa Ah Wei sudah selesai bicara? Kalo sudah ia akan pergi. Tingen bangkit. Ah Wei ikutan bangkit dan menahan Tingen. Tingen belum menjawab pertanyaannya. Lagian Tingen mau kemana? Tingen nggak peduli. Dia berbalik dan mau meninggalkan Ah Wei. Ah Wei menarik Tingen agar nggak pergi. Kalo Tingen nggak menjawabnya maka dia nggak... . Tingen minta dibiarkan ke kamar mandi lagi. Tingen melangkah meninggalkan Ah Wei. Ah Wei mengejar Tingen. Tingen sudah ke kamar mandi lama sekali sebelumnya. Kenapa dia mau masuk lagi? 


Tingen menutup pintu dan Ah Wei masih nggak mau pergi. Apa Tingen mau menghindarinya dengan cara itu? Tingen diam saja. Ah Wei meminta agar kedepannya Tingen jaga jarak dengan Fenqing. Ia akan membuat Fenqing bahagia dan melindunginya. Ia akan membantu Fenqing mewujudkan mimpinya. Tingen hanya diam sambil menahan perutnya yang sakit. Ah Wei pergi meninggalkan Tingen dan meminta Tingen untuk menjauhi Fenqing. Tingen hanya diam. 


Dapur masih sibuk. Tingen berterima kasih pada semuanya. Ibu dan Ah Wei tiba-tiba datang membawa alat untuk membuat kue kacang merah. Fenqing menghampiri ibunya dan merangkulnya. Mereka sudah selesai menyajikan makanan pasar malam. Yang kurang hanyalah makanan penutup lokal yang khas. Tingen hanya bisa menatap Fenqing. Fenqing mengumumkan kalo layanan meja samping akan dimulai. Semua orang bertepuk tangan. Xiaobin merasa kalo kue kacang merah sebagai pencuci mulut? Xiaobin meminta ibu Fenqing untuk segera membuatnya. 


Fenqing dan yang lain keluar bersama ibu Fenqing. Xiaobin menghalangi Tingen. Tingen mau kemana? Tingen memberitahu kalo dia mau keluar. Xiaobin melarangnya. Tingen tetap ingin keluar dan ingin melihat proses pembuatannya. Xiaobin tetap melarang. Ia mengingatkan kalo perutnya kurang enak. Tingen memberitahu kalo dia sudah minum obat. Dia ingin melihat gimana mereka membuatnya. Xiaobin menggeleng. Jangan pergi. 


Ah Wei keluar bersama ibu Fenqing. Ia terkejut melihat ayahnya ada di sana. Ah Wei sembunyi lalu memakai masker agar nggak ketahuan. Xiaobin memberitahu para tamu kalo mereka akan mulai menyajikan makanan pencuci mulut sebagai penutup. Itu adalah kue kacang merah. Semua orang bertepuk tangan. 


Xiaobin menjelaskan kalo kue kacang merah sangat terkenal di Taiwan. Ibu mulai membuatnya dan Xiaobin menjelaskannya pada para tamu. Pertama-tama mereka harus memanaskannya di kuali lalu menyebarkan sedikit mentega. Selanjutnya mereka memasukkan adonan yang sudah disiapkan. Agar bisa memanggang makanan yang enak maka langkahnya sangat penting. Xioabin bercerita kalo saat ia kecil, ibunya sering membelikan itu untuknya. Itu membawa kenangan manis untuknya. 

Bersambung...

Komentar:
Terharu lihat Ah Wei yang  sayang banget sama Fenqing. Dia bahkan mau membantu Tingen padahal Tingen adalah rivalnya. Tapi Ah Wei tetap melakukannya. Dia ngakunya hanya penjual ayam. Tapi sebenarnya dia sedang menyamar. Nggak ada yang tahu kalo dia memang pangeran. 

Salam
Anysti18