Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 11 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Anysti18
All images credit and content copyright: SET TV
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 11 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 11 Part 3

Para tamu menikmati kue kacang merah. Ibu Tianzhi tampak tegang karena acara jamuan itu berjalan lancar. Sementara ibu Tingen tersenyum bangga karena anaknya bisa membuat jamuan itu menjadi nggak mengecewakan. Padahal menu pasar malam bukanlah keahlian Tingen. 


Ruxi berdiri seorang diri. Ia bertanya-tanya apakah dia harus memberitahu Tingen? Tianzhi menghampirinya dan bertanya kenapa Ruxi berdiri di situ? Ruxi tersenyum dan bilang nggak papa. Tianzhi mengatakan kalo Ruxi adalah alasan terbesar kenapa perjamuan itu berhasil. Tianzhi mengucapkan terima kasih. Ruxi menyangkal. Dia hanya melakukan apa yang dia bisa. 


Tianzhi merasa kalo Ruxi melakukan apa yang disukainya. Ia rasa jarang ada orang yang punya kemampuan untuk meminta Ruxi mengatasi media. Ia mewakili kakaknya untuk berterima kasih padanya. Ruxi hanya tersenyum. Ia memuji pacar Tianzhi yang sangat cantik. Apa Tianzhi sendiri yang mengejarnya? Atau apa seseorang mengenalkan mereka? Tianzhi memberitahu kalo itu adalah penggabungan bisnis melalui pernikahan. 


Ruxi penasaran apakah Tianzhi nggak membencinya? Tianzhi menjelaskan kalo sebuah penggabungan bisnis melalui pernikahan sama seperti kencan buta. Itu merupakan sebuah pertaruhan. Untuk melihat apakah keluarga mereka cocok dan apakah mereka benar satu sama lain. Ruxi bertanya apa Tianzhi nggak merasa dipaksa bersama dengan orang yang nggak dia kenal? Tianzhi memberitahu kalo sifatnya lebih reaktif. Yuqing lebih agresif dan proaktif. Yuqing bukanlah wanita yang akan ia kejar. Tapi karena dia dipaksa, maka sekarang dia punya seseorang yang bisa membantu di sisinya. Ia merasa kalo mereka saling melengkapi satu sama lain. Ruxi tersenyum. Ia pikir kalo itu bukan sesuatu yang menyebalkan. 


Yuqing tiba-tiba menghampiri Tianzhi dan memberitahu kalo ibunya mencarinya. Tianzhi mengiyakan. Ia lalu pamit pada Ruxi. 


Kesibukan dapur sudah mereda. Tingen mengumumkan kalo perjamuan kedutaan Brazil telah berhasil. Semua orang bertepuk tangan senang. Tingen mengucapkan terima kasih pada mereka. Kalo nggak gara-gara mereka, dan hanya mengandalkan Brian, Xiaobin dan Tingen sendiri maka mereka nggak akan berhasil. Terima kasih. Ia akan membayar tagihannya kalo mereka ingin berpesta di tempat lain setelah ini. 


Fenqing memberitahu kalo mereka pasti akan merayakannya. Tapi kalo ngomong soal uang di hadapan mereka, itu benar-benar norak. Paman Rib menambahkan kalo pasukan mereka nggak datang hanya untuk uang. Mereka melakukan itu karena kesetiaan persaudaraan. Bibi Yu menambahkan kalo selama mereka bisa membantu satu sama lain maka mereka sudah senang. 


Tingen mengangguk dan berterima kasih. Tapi yang dia maksud bukan itu. Dia tahu kalo mereka nggak melakukannya untuk uang tapi dia hanya ingin membalas mereka atas kerugian mereka karena nggak berbisnis hari ini. 


Fenqing meminta Tingen agar nggak khawatir. Ia memberitahu kalo ada yang membantu mereka di pasar malam. Tingen mengiyakan. Ah Wang meminta Tingen untuk berterima kasih pada guru Qing kalo memang dia ingin berterima kasih. Kalo nggak karena Fenqing maka mereka nggak akan ada di sini. Yang lain membenarkan. Tingen menatap Fenqing yang tersenyum padanya. Pasti. 


Ah wei menatap Fenqing yang tersenyum pada Tingen. Tingen lalu meminta mereka untuk berberes. Mereka lalu bubar dan akan kembali ke pasar malam. 


Tingen memanggil Fenqing. Ah Wei menarik Fenqing dan mengajaknya pulang. Fenqing seperti bingung. Ia menatap Tingen dan bertanya ada apa? Tingen ingin mengatakannya tapi nggak nyaman karena ada Ah Wei. Ia merasa penasaran apakah Fenqing bisa... . Fenqing melanjutkan, tinggal dan membantu? Tingen mengangguk mengiyakan. 


Ah Wei maju dan bertanya bantuan apa yang Tingen butuhkan? Biar dia saja. Tingen menatap Ah Wei tajam. Fenqing seperti mengerti. Ia meminta Ah Wei untuk ke pasar malam dan membantu Yang. Cepat karena dia sangat mengkhawatirkannya. Ah Wei mengiyakan. Dia berpesan agar Fenqing pulang lebih awal. Habis itu dia pergi. 


Fenqing bertanya Tingen ingin dia bantu apa? Tingen malah bingung mau bilang apa. Dia bertanya apa Fenqing ngalamin kecelakaan hari ini? Fenqing heran. Gimana Tingen bisa tahu? Tingen nunjuk Ah Wei. Fenqing langsung ngerti. Ia menyakinkan kalo ia baik-baik saja. Itu cuman kecelakaan kecil. Tingen menatap Fenqing khawatir. Apa dia terluka? Fenqing menggeleng. Dia mwngingatkan kalo Tingen yang pingin dia pergi hari ini. 


Tingen meminta maaf. Pagi ini dia sedikit g*la. Fenqing mengangguk. Tingen ragu-ragu bertanya apa Fenqing bisa tinggal buat makan malam? Fenqing malah nanya balik, makan malam? 


Xiaobin datang dan memberitahu kalo duta besar mencari Tingen. Tingen merasa berat. Dia menatap Fenqing seolah nggak mau ninggalin Fenqing. Tingen berbisik ke Xiaobin dan memintanya buat menahan Fenqing. Tingen pamit pada Fenqing dan janji akan segera kembali. 


Tingen masih saja melihat dapur. Ia melihat Ruxi dan akan menemuinya nanti. Tingen menyapa dua ibunya, Tianzhi, Yuqing dan ayah Ruxi. Ia lalu menyalami dura besar. Duta besar memuji semua makanan Tingen yang sangat enak. Tingen terkejut kalo bahasa Mandarinnya sangat bagus. Ia menyukai semuanya. 


Ruxi memperhatikan Tingen dari tempatnya berada. Ia bertanya-tanya apa harus memberitahu Tingen? 


Tingen menanyai pendapat semua orang tentang hidangan malam ini. Semua bilang enak. Kecuali ibu Tianzhi yang hanya diam saja. Akhirnya Tianzhi yang mewakili dan bilang kalo semuanya enak. Tingen memberitahu kalo itu semua adalah jajanan khas Taiwan. Ia berharap mereka semua menyukainya. 


Ruxi terus memperhatikan Tingen. Dalam hati dia membuat taruhan. Mungkin ini seperti yang ibu Tingen bilang. Secara ngfak sadar Tingen sudah memberinya tempat dihatinya. Kalo Tingen mrlihatnya dan berjalan ke arahnya, dan Tingen percaya kalo dia bisa membantu Tingen di sisinya... . Ia akan menganggap kalo Tuhan membantunya. Kalo enggak maka ia akan melepaskan Tingen dan pergi. 


Tiba-tiba Tingen melihat Ruxi dan berjalan ke arahnya. Membuat Ruxi merasa kalo dia memenangkan taruhannya. Tingen bertanya kenapa Ruxi di sana? Tingen meraaa nggak terlalu gugup saat melihat reaksi semua orang. Ia berterima kasih pada Ruxi atas bantuannya memuat berita. Ia melihat media terus mengambil gambarnya. Mendadak Ruxi merasa bangga pada dirinya sendiri karena Tingen menganggap kalo dia telah membantu kalo berada di sisi Tingen. Ruxi janji dalam hatinya kalo dia akan selalu berada di sisi Tingen. Tingen lalu membimbing Ruxi untuk duduk. 


Fenqing melihat dua macam kari yang disiapkan Tingen untuknya. Kari putih dan kari kuning. Ia bertanya-tanya kenapa Tingen menyiapkan dia kari buat dia makan? Dikiranya dia nggak cukup makan satu? 


Fenqing mengambil garpu dan mencoba kari putih. Hmm! Enak. Ia lalu mencoba kari kuning. Kaya aroma. Ia lalu melihat bumbu kari. Kode rahasia dari resep kari tadi adalah 5, 8, 7 dan 6, 3, 8. Artinya apa, ya? 


Ah Wei masih di luar La Mure dan menunggu Fenqing. Ah Wang menggampirinya dan mengajaknya balik ke pasar malam. Ah Wei menyuruh mereka untuk pergi duluan. Dia mau nunggu Fenqing. Ah Wang merangkul Ah Wei dan langsung paham. Pantes tadi sore dia lihat Ah Wei ngomong sendiri. Ternyata Ah Wei mau nembak Fenqing lagi. Ah Wei nggak nyangka kalo tadi sore Ah Wang ada dan melihatnya. Ah Wang memberitahu kalo semua orang juga tahu. Ah Wei saja yang nggak menyadarinya. 


Ah Wang menasehati, meskipun Ah Wei ingin menyatakan cintanya tapi mereka harus balik ke pasar malam, membereskan toko dan nungguin Fenqing pulang. Ah Wei mengiyakan. Dia mau bilang Fenqing dulu tapi Ah Wang menariknya dan melarangnya. Kenapa Ah Wei mesti memberitahu Fenqing. Harusnya Ah Wei mencoba buat bersikap keren. Dia kan pangeran kecil. Pikirkan tentang bau asap dan minyak di tubuhnya jadi Ah Wei harus pulang dan mandi mencuci rambut dan tampil seperti pangeran maka kesempatan suksesnya akan lebih tinggi. 


Ah Wei memikirkannya dan merasa kalo apa yang Ah Wang katakan ada benarnya. Ah Wang pergi mau ngambil mobil dulu. Dia menyuruh Ah Wei untuk bergegas. Ah Wei melihat tempat Fenqing. Kalo dia tahu apa yang akan terjadi nanti, dipukul sampai matipun dia nggak akan mau pergi. Karena hanya beberapa menit saja sesuatu yang nggak bisa diperbaiki antara dirinya dan Fenqing. Ah Wei lalu pergi. 


Duta besar memukul gelas pakai sendok dan meminta perhatian dari semua orang. Dia bangkit dan meminta Chef Huo Tingen untuk maju ke depan. Tingen nggak ngerti tapi dia tetap menurut. Xiaobin juga membawa Fenqing membaur bersama para tamu. Duta besar mengucapkan terima kasih pada Tingen karena sudah memberi malam yang indah buat mereka semua. Semua orang bertepuk tangan. Tingen membungkuk dan berterima kasih. 


Duta besar mengaku baru pertama ini mengubah menu. Tadinya ia merasa sedikit khawatir. Tingen menatap Fenqing dan meminta maaf. Fenqing nggak ngeh. Maaf buat apa? Apa buat makanan tadi? 5, 8, 7? Artinya apa? Apakah Tingen yang b*doh apa dia yang b*doh? Lewat gerak bibir Tingen bilang kalo 7, 8, 5 artinya mohon bantu aku. Fenqing masih nggak ngerti. Dia malah ngiranya kalo 7, 8, 5 itu artinya b*doh. Tapi siapa yang b*doh? Dia apa Tingen? 


Duta besar sudah selesai memberikan sambutan. Tingen bilang ke Fenqing, 6, 3, 8, tinggallah di sini. Fenqing masih nggak maksud. 6, 3, 8, apa? Duta besar Brazil memanggil ibu Tingen untuk maju ke depan. Ibu maju ke depan sementara Tingen, Yuqing dan duta besar kembali ke tempatnya masing-masing. 


Tingen berdiri di antara Fenqing dan Ruxi. Dia meminta maaf pada Ruxi. Tingen mengingatkan kalo sebelumnya Fenqing bilang akan membantu kalo dia dalam kesulitan. Fenqing membenarkan. Tingen memberitahu kalo sekarang dia dalam kesulitan dan itu sangat serius. Fenqing cuman punya waktu 3 detik buat ngambil keputusan. Tingen mulai menghitung. 1, 2, 3. Fenqing mengiyakan. Dia akan membantu Tingen. 


Ibu memperkenalkan tunangan Tingen dan menunjuk Ruxi. Tingen tahu-tahu nengangkat tangan Fenqing dan menyebutkan namanya. Ibu dan ayah Ruxi sampai terkejut. Ruxi bahkan sampai nangis. 


Tingen membawa Fenqing maju ke depan. Dia membenarkan kalo mereka akan segera menikah. Tingen mengenalkan kalo gadis di sampingnya adalah tunangannya. Namanya Wei Fenqing. Tingen lalu meminta Fenqing buat ngomong sesuatu. Fenqing bilang kalo dia tunangannya, namanya Wei Fenqing. Tingen merasa senang bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka semua. Ia berterima kasih lalu membungkuk. Dia menarik Fenqing untuk membungkuk juga. 


Semua orang bertepuk tangan. Yuqing, Tianzhi dan ibunya sama sekali nggak nyangka dengan kejadian itu. Para wartawan maju. Mereka menanyakan kapan tanggal pernikahannya? Kenapa Tingen milih buat mengumumkannya hari ini? 


Xiaobin berdiri di hadapan Tingen dan menghalangi para wartawan. Tingen menarik Fenqing pergi dari sana. Ayah Ruxi merangkul putrinya yang menangis. Ia tampak sangat marah. Ibu menatap ayah Ruxi dan seolah bilang kalo itu bukan tujuannya. 


Tingen dan Fenqing lari ninggalin La Mure. Fenqing menanyakan apa yang barusan terjadi? Tingen menyampaikan kalo dia akan menjelaskannya nanti. Ia lalu mengatur nafasnya. Tingen mengingatkan kalo tadi pagi saat Fenqing mencarinya, Fenqing bilang kalo sudah menemukan orang itu. Tingen mengaku tertarik. Apa Fenqing bisa mempertemukan mereka? Fenqing mengiyakan dan ngajak Tingen pergi. 


Ruxi meninggalkan La Mure tanpa semangat. Tianzhi menyusulnya dan bertanya apa dia baik-baik saja? Ruxi menghempaskan tangan Tianzhi dan bilang kalo dia baik-baik saja. Jangan pedulikan dia. 


Ruxi berjalan meninggalkan Tianzhi. Tianzhi mengaku tahu kalo Ruxi butuh sendirian dan juga sangat egois. Seketika Ruxi terhenti. Tiamzhi melarang Ruxi menanggungnya sendiri. Ia memberitahu kalo ayahnya sangat khawatir. Ia menyarankan agar Ruxi kembali. 


Ruxi berbalik dan menatap Tianzhi. Ia bertanya apa Tianzhi tahu kalo selain jadi temannya Tianzhi juga adalah pacar orang lain? Tianzhi ninggalin Yuqing sendirian di dalam. Apa itu benar? Tianzhi tersenyum dan memberitahu kalo Yuqing nggak keberatan. Ruxi menekankan kalo sudah kewajiban Tianzhi buat menemani Yuqing. 


Tianzhi memberitahu kalo sebuah hubungan murni karena kewajiban, maka hubungan itu nggak ada artinya. Ruxi menatap Tianzhi dan memberitahu kalo dia sangat menyebalkan. Tianzhi hanya tersenyum. Ruxi bertanya apa Tianzhi nggak akan pergi kalo dia nggak kembali? Tianzhi mengiyakan. Dia meminta Ruxi untuk membantunya jadi dia bisa kembali pada Yuqing sebagai pacar yang baik. Dia menyuruh Ruxi untuk kembali ke ayahnya dan pulang. Ruxi mengiyakan. 

Bersambung...

Komentar:
Apa? Tunangan? Wah Tingen nekat banget ngakuin Fenqing sebagai tunangannya. Kasihan Ruxi sampai nangis gitu. Gimana nanti kalo ibu Tingen sampai tahu kalo Fenqing nggak sepadan dengan anaknya. Apakah akan ada adegan ibu Tingen meneror Fenqing biar menjauhi putranya? 

Salam
Anysti18