2/15/2019

SINOPSIS My Only One Episode 11 PART 2

SINOPSIS My Only One Episode 11 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Eunna
All images credit and content copyright: KBS2
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Only One Episode 11 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Only One Episode 11 Part 3

“Jadi, aku pulang lebih awal, dan baru selesai berbenah.” Do Ran menceritakan kejadian seharian itu kepada sahabatnya.


“Apa semua sopir Pimpinan sekeren itu? Atau itu karena dia sopir Pimpinan? Dia amat lemah lembut.” Ungkap Do Ran kepada sahabatnya.


“Ada pelanggan.” Kata sahabatnya. “Baik nanti aku telpon lagi.” Kata Do Ran kemudian menutup panggilannya.


“Misterius sekali, Bagaimana bisa pemain wanita itu ternyata putranya Pimpinan padahal Pimpinan lemah lembut dan berbudi baik.


Do Ran teringat perkataan Dae Ryook pagi tadi. “Apa dia pening karena tong sampah itu? Tidak mungkin. Bagaimana bisa?” kata Do Ran meyakinkan dirinya.


Sedangkan itu, Pak Kang  dikamarnya membeca surat lama yang dikirim Dong Chul dulu sewaktu Pak Kang masih berada di sel tahanan.


“Do Ran paling suka susu pisang, saat berusia lima tahun ia pertama kali minum itu. Ban bertepuk tangan bilang itu enak. Bahkan sekarang, dia tidak masalah dengan apapun asalkan aku membelikannya sekotak susu pisang.” Tulis Dong Chul dalam suratnya dahulu.


“Dong Chul aku amat mengkhawatirkan Do Ran. Tapi untungnya dia baik-baik saja. Dia juga mendapatkan pekerjaan. Tapi, dia terlalu dekat denganku. Ucap Pak Kang dalam hati.


“Kenapa dia melakukan in kepadaku? Memangnya aku salah apa? Yang benar saja.” Keluh Eun Yong sambill melihat bekas gigitan Nyonya Park di tangannya.


“Apa kata ibu? Apa dia ingat perbuatannya kepadaku?” tanya eun Yong kesal. “Dia sudah tidur, mari kita tidur juga.” Jawab Jin Gok.


“Bagaimana bisa kamu berniat tidur sekarang? Apa yang akan kamu lakukan dengannya? Kamu sudah melihat perlakuannya kepadaku. Dia mencubit, menggigit dan menyumpahiku. Kita harus menemukan solusi.” Ucap Eun Yong kesal.


“Jika tidak bisa apa yang kamu lakukan?” teriak Jin Gok tak kalah kesal. “Kenapa kamu meneriakiku? Aku yang paling kesal disini.” Kata Eun Yong membela diri.


“Jika kamu tidak tahan, berbuatlah sesukamu. Lakukan saja apapun itu.” Ucap Jin Gok kesal dan ia langsung keluar dari kamarnya.


“Astaga. Kenapa kamu melakukan ini, yang benar saja. Apa salahku?” ratap Eun Yong sendirian dikamarnya.


Untuk menghilangkan rasa setresnya Jin Gok akhirnya minum-minum sendirian di ruang makan.


Pagi harinya Jin Gok menceritakan hal yang terjadi semalam kepada ibunya. “Astaga Jin Gok, apa yang harus ibu lakukan ada apa dengan ibu?” ucap ibunya panik.


“Untunglah ibu pergi kerumahnya, alih-alih ke tempat lain. Serta aku sudah mengambil tindakan pencegahan agar ibu tidak keluar sendiri jadi ibu tidak usah khawatir.” Ucap Jin Gok menenangkan ibunya.


“Astaga, Ibu takut. Bagaimana bisa ibu tidak ingat dengan perbuatan ibu sendiri? Lebih baik mati saja.” Keluh ibunya.


“Astaga, kenapa ibu bilang begitu? Aku juga kadang lupa dengan perbuatanku sendiri.” Ucap Jin Gok. “Apa ibu melakukan hal lain?” tanya ibunya . “Tidak, hanya itu saja. Ibu tak usah khawatir kalau ibu rajin minum obat ibu pasti sembuh.


“Myong Hee, adik ibu satu-satunya, tewas saat berusia 20 tahun. Hanya dia yang bisa menjadi tumpuan ibu. Apa menurutmu, ibu amat merindukan adik ibu?” tanya ibunya kepada Jin Gok. “Ya ibu. Mari berpendapat saja seperti itu. Jawab Jin Gok.


“Ternyata Do Ran, dia tidak perlu terburu-buru seperti itu. Dia tidak seterlambat itu kenapa terburu-buru?” ucap Dae Ryook yang melihat Do Ran sangat terburu-buru sampai sepatunya terlepas.


“Secangkir kopi untuk anda. Sekretaris Hong bilang, anda selalu minum kopi setiap pagi. Jadi aku membuatkannya untuk anda.” Ucap Do Ran sambil menyuguhkan kopi untuk Dae Ryook.


“Sungguh? Terimakasih. Ini bukan seleraku tapi aku akan minum yang ada. Aku tidak sepemilih itu.” Unggap dae Ryok mencaci dengan halus.


“Apa katanya? Rasanya tidak enak, tapi dia tetap meminumnya? Serta apa? Dia tidak pemilih? Baik. Akan kubiarkan demi kebaikan ayahmu yang hebat.” Ucap Do Ran dalam hati dengan tatapan penuh  kebencian.


“Kamu memelototi apa? “ tanya dae Ryok. “Bukan apa-apa. Permisi.” Do Ran izin keluar namun dipanggil kembali oleh Dae Ryook.


“Sekretaris Kim. Kudengar nenekku pergi kerumahmu lagi. Terimakasih banyak telah mengurusnya.” Ucap Dae Ryok sebelum Do Ran pergi. “Tidak apa-apa. Dia juga bukan orang asing dan sakit. Tidak masalah.” Jawab Do Ran.


“Bagaimana kondisinya sekarang?” tanya Do Ran. “Berkat kamu dia sudah tenang dan baik-baik saja sekarang.” Jawab Dae Ryook. “Syukurlah . permisi aku keluar dulu.” Ucap Do Ran sambil membungkukkan badannya.


Dae Ryook kembali berulah. Dia berpura-pura sakit kepala lagi, sontak Do Ran yang dari kemarin  mengkhawatirkan hal demikian langsung panik dan menawarkan membawakan obat untuk Dae Ryok. “Tidak usah, aku tidak separah itu. Kembalilah bekerja.” Ucap Dae Ryook.


“Apa dia memikirkan ucapanku kali terakhir? Tidak mungkin.” Kata Dae Ryook tertawa.


Sedangkan itu, Do Ran yang sudah kepalang panik langsung pergi keapotek dan membeli aspirin untuk Dae Ryook.


Rasa khawatir Do Ran semakin menjadi karena Apoteker disana mengatakan kalau rasa sakit yang dirasakan Dae Ryook bisa jadi cedera parah akibat pukulan tersebut.


“sakitku tidak terlalu parah.”ucap Dae Ryook melihat obat aspirin yang dibawa Do Ran. “Direktur, jika sakit kepala dan pening anda tidak hilang juga, anda harus menemui dokter.” Ucap Do Ran 


“Kenapa harus ke Dokter?” tanya Dae Ryok. “Maafkan aku soal insiden toilet itu, Anda mulai merasa pening setelah aku menyerang anda. Aku akan membayar biaya pemeriksaannya. Anda harus diperiksa. Jadi...” kata Do Ran namun Dae Ryook malah tertawa mendengarnya.


“Ini tidak terlalu sakit, aku akan menahannya.” Ucap Dae Ryook. “Beberapa hal tidak boleh disepelekan. Siapa tahu rasa sakit anda merupaka cedera kepala yang parah.” Ucap Do Ran khawatir.


“Maksudmu gagar otak atau sebagainya? Tidak mungkin, aku akan menelpon dokter jika memerlukannya. Jangan khawatir dan kembalilah bekerja.” Kata Dae Ryook dengan tersenyum.


“Dia naif atau bodoh?   Seseorang yang amat naif menghadapiku dengan amat kejam?” ucap Dae Ryook setelah Do Ran keluar dari ruangannya.


“Sekarang bagaimana? Tidak mungkin gagar otak bukan? Tidak mungkin, dia akan baik-baik saja.” Ucap Do Ran saat kembali lagi ke dapur kantor.


“Kamu kemari untuk bilang apa? Tapi aku belum siap untuk bicara denganmu. Jadi tolong pergi.” Kata Hong Shil kepada Eun Yong yang berkunjung ke rumahnya.


“Apa yang harus kulakukan Hong Shil? Ibu mertuaku mengidap demensia akut..” kata Eun Yong, sontak hal tersebut membuat Hong Shil prihatin dan luntur rasa marahnya saat itu.


“Memar ini karena dicubitnya. Dan ini bekas gigitannya.” Kata Eun Yong sambil menunjukkan memar di tangannya.”Benarkah? ibu mertuamu menyerangmu?” tanya Hong Shil prihatin.


“setiap wanita itu kehilangan akal. Dia pasti berpikir kalau aku selingkuhan yang merampas ayahnya darinya. Tapi suamiku hanya memperdulikan ibunya. Apa yang harus kulakukan Hong Shil?” ucap Eun Yong dengan menangis.


“Maaf Hong Sil, kurasa aku dihukum karena membuatmu kesal, tapi aku tidak punya tujuan lain selain kesini. Suamiku tidak membelaku. Apa yang harus kulakukan?” ucap Eun Yong, sedangkan itu Hong Shil juga bersedih melihat sahabatnya menangis.


Penulis Sinopsis: Eunna
All images credit and content copyright: KBS2
Follow TABLOID SINOPSIS on: TWITTER

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS My Only One Episode 11 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Only One Episode 11 Part 3

Comments


EmoticonEmoticon